Rabu, 16 Januari 2013

Kini
Kau mungkin sudah bosan aku terus datang ke sini. Benar saja, hampir tiap hari aku mengunjungimu. Seperti biasa, ada ritual yang harus aku lakukan ketika bertemu denganmu. Pertama-tama, aku akan melihatmu bermain dari jauh. Bermain dengan kupu-kupu, tidur di rerumputan, atau sekadar mandi cahaya matahari. Setelah itu, aku akan datang, membawa satu tangkai tulip ungu, kesukaanmu. Selanjutnya, aku akan menekuri setiap inci tubuhmu. Kakimu, badanmu, tanganmu, hingga mengusap-usap kepalamu.

Tapi kini, tampaknya itu tidak bisa aku lakukan lagi. Saat ini, aku akan memilih berbaring di sampingmu. Hidup bersama denganmu. Aku sudah lelah menunggu. Tiga puluh tujuh tahun sejak ketiadaanmu. Aku sudah lelah menunggu.

Kini, sambutlah aku.
Menunggumu membunuhku.

Rabu, 02 Januari 2013

Terbang
"Yang kamu perluin cuma tutup mata kamu." Anak laki-laki itu berkata pada perempuan mungil di sebelahnya.

"Yakin bisa terbang?" Perempuan itu ragu bertanya. 

Anak laki-laki itu mengangguk mantap. "Pastinya dong. Kamu tinggal tutup mata kamu lalu biarin udara menyentuh kulitmu. Rasakan lembutnya, halusnya..."

Perempuan itu lantas mengikuti instruksi dari temannya itu. Ia menutup matanya perlahan. Angin dari gedung lantai 13 itu langsung menerpa wajahnya.

"Lembutnya..."

Perempuan itu merasakan kulit-kulit wajahnya digelitik oleh angin senja itu. Dia terkikik sebentar.

"Hus. Gak boleh ketawa. Kamu harus bisa rasain..."

Perempuan itu langsung terdiam.

"Sekarang, kamu bentangin tangan kamu. Terus mulai hitung. Satu..."

Perempuan itu membentangkan tangannya lebar-lebar. Sebentar lagi aku terbang.

"Dua."

Anak perempuan itu mulai berjinjit.

"Tiga."

Perempuan itu merasakan kakinya melayang ke udara, tidak menampak pada benda padat di bawahnya. Ia membuka mata lalu melihat gumpalan awan bertemu wajahnya.

"Apa kubilang! Kematian bisa buat kamu terbang!" Anak laki-laki itu lantas tersenyum senang.


Di bawah, dua orang anak jalanan ditemukan meninggal terjun dari lantai 13.






Sekali Saja
"APA-APAAN LO! BRENGSEK!" Dino melayangkan tangannya sehingga menyentuh keras pipi wanita di hadapannya.

"Aku bisa jelasin ini, Din." Wanita itu mengambil tangan Dino lalu mendekapnya erat sambil menangis terisak.

"GAK ADA YANG PERLU LO JELASIN! GUE UDAH LIAT DENGAN MATA KEPALA GUE SENDIRI! ANJING LO! WANITA MURAHAN!"

"DINO! JAGA OMONGAN KAMU! TENANG!" Suara tak kalah keras terdengar. Kali ini berasal dari seorang pria yang berada di samping wanita itu. Pria itu lantas bangun, walau masih dengan keadaan setengah telanjang, dia melepaskan pegangan wanita itu dengan Dino.

"HAHA LUCU! LUCU KALIAN BERDUA!" Dino terkekeh pahit. "YAYAYA. GUE TAHU. SAHABAT GUE SAMA PACAR GUE SELINGKUH DEPAN MATA GUE! DAN LO NYURUH GUE TENANG? OTAK LO DI MANA, HAH?" 

Isak tangis dari wanita itu semaki keras terdengar.

"Aku cuma pengin jadi normal, Din." Pria itu menggenggam tangan Dino. "Maaf, aku cinta Kirana. Aku udah selingkuh di belakang kamu. Tapi, aku memang cinta Kirana." 

Dino hanya bisa terpaku melihat pria itu, Andi, kekasihnya berkata demikian.

"Maaf, izinkan aku selingkuh sekali ini aja." Pria itu memeluk tubuh Dino.

Dino melepaskan pelukan itu kasar lalu berjalan cepat ke luar hotel tempat kekasih dan sahabatnya menginap. Sambil membanting pintu, ia lantas teriak, "Kita Putus!"