[Blogtour] #3CeritaCinta - Bunuh Diri Paling Parah


Pernahkah kau membunuh dirimu sendiri saat sedang jatuh cinta? 

Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Kau mungkin lebih sering mendengar tentang orang-orang yang patah hati dan memutuskan untuk bunuh diri. Tapi jatuh cinta? Pernahkah kau mendengarnya? Pernahkah kau mengalaminya?
 
Jika kau tanyakan padaku tentang pertanyaan itu, aku akan menjawabmu dengan satu jawaban tegas: pernah. Bahkan mungkin setiap kali aku memutuskan untuk jatuh cinta, setiap kali juga aku siap untuk membunuh diriku sendiri. Dan tentu saja, aku berani bertaruh, kau pernah mengalaminya—bunuh diri itu. Entah sadar atau tidak. Entah kau anggap atau tidak.
 
Bunuh diriku yang paling parah terjadi baru-baru ini. Tentang seorang gadis yang memiliki tawa seriang lonceng angin. Kenangan itu menyeruak seperti aroma tanah setelah dibuahi hujan. Gadis itu, orang yang membuatku jatuh cinta untuk kali pertama. Aku jatuh cinta dari caranya memandangku, gayanya saat berbicara padaku, bahkan saat tawa riangnya mengalir bak sakura musim semi. Akan tetapi, satu hal yang kusesali, ia belum sempat kumiliki karena telah menjadi milik yang lain.
 
Aku bertemu dengannya saat hari pertama masuk kuliah.Dan semenjak hari itu, aku dan dia menjadi dekat. Kami sering berbagi. Apapun itu. Makanan, sontekkan, tawa, atau kesedihan--kalau ini dia yang lebih sering. Bahkan orang-orang di sekitar kami pun melihat kami sudah sangat dekat.
 
Aku ingat, suatu hari, ia pernah menanyakan sesuatu padaku. Hari itu, hari yang biasa. Kami duduk berdua di sudut kelas.

“Bagaimana rasanya jatuh cinta?” ia bertanya.
 
Saat itu, aku hanya menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung. Asal kau tahu, dadaku sudah bergemuruh sejak ia mengeluarkan kata-kata.
 
“Tampaknya aku sedang jatuh cinta,” ucapnya lagi. Kali ini ia memandangiku lekat dengan manik mata yang berbinar.
 
Sungguh, aku gugup bukan kepalang. “Jatuh cinta, ya?” tanyaku balik sembari menenangkan debaran jantung yang semakin lama semakin memburu. “Rasanya seperti dunia milik berdua.”
 
Klise. Tapi begitulah yang kurasakan. Saat bersamanya, aku tak butuh apa-apa lagi. Aku tak butuh siapa-siapa lagi.
 
Aku mengembuskan napasku cepat. “Ngomong-ngomong, dengan siapa kau jatuh cinta?” tanyaku lagi. Penasaran dan ingin tahu. Aku?
 
“Yang jelas bukan denganmu,” ia menukas lalu tertawa kembali. Jantungku mendadak berhenti. Tawa loncengnya tak terdengar lagi.
 
Aku mati. Bunuh diri karena mencintai. Patah hati. Sesederhana itu.
 
Dan bagaimana rasanya patah hati? Bagiku, rasanya seperti tenggelam ke dalam lautan yang dalam, yang entah seberapa dalam dasarnya. Rasanya sakit, sesak, kehabisan napas. Seperti bunuh diri, bukan? Mungkin. Akan tetapi, ajaibnya, saat telah sampai di dasar, kita masih dapat selamat dan memutuskan kembali berenang di lautan,
 
Karena, setiap yang jatuh cinta pasti akan merasakan hati yang patah. Cepat atau lambat. Jatuh cinta tak ubahnya seperti permainan waktu tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Pertemuan dan perpisahan. Semua itu berujung pada satu hal pasti: patah hati.

Pernahkah kau sadar bahwa saat sedang jatuh cinta, kau telah membuka hati  luas-luas untuk luka? Luka-luka yang menjelma wujud tentang rindu menjadi sendu. Tentang kesenangan berubah jadi kenangan. Atau tentang setia yang berujung penantian. Tentang perubahan. Tentang penyesalan.
 
Tiga hari lalu, aku membaca buku terbaru Bara ‘Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.” Di dalam buku ini, aku merasakan aroma yang familier dengan kisahku tentang patah hati. Buku ini membuat kita melihat bagaimana cinta dapat membunuhmu pelan-pelan. Bagaimana rasa yang kau anggap penuh warna ternyata bermuara kepada satu warna hitam yang pekat: patah hati. Bagaimana rasa itu menggerogotimu lalu kau akan berpikir semua hal yang kau lakukan ternyata sia-sia belaka. 

 
Bara meramu cerita-cerita yang membicarakan soal cinta namun tidak seindah yang kau bayangkan. Kau akan lihat saat ketika kita jatuh cinta, kita akan membunuh identitas kita sendiri. Sang malaikat yang membunuh dirinya untuk menjadi manusia. Perempuan-perempuan patah hati yang lebih memilih jadi meriam di pinggir sungai atau  pohon di pinggir jalan. Bara menuliskannya dengan analogi yang seolah-olah bicara bahwa ‘jika kau sudah jatuh cinta, bersiaplah, kapan pun waktunya, kau akan tetap berujung dengan membunuh dirimu sendiri karena patah hati’. Tentu bunuh diri di sini adalah analogi yang menegaskan bahwa tak selamanya jatuh cinta itu manis. Pasti ada pahit. 

Ketika menutup buku itu, saat itulah aku sadar. Ketika aku mencintai, aku harus siap untuk patah hati.

Jadi, pertanyaannya adalah:

Masih beranikah aku—dan kau—jatuh cinta?

***
Kau sudah tahu rasanya patah hati bagiku. Sekarang, menurutmu, bagaimana rasanya patah hati?

Tulis di kolom komentar beserta akun twitter kalian. Dan akan ada satu eksemplar buku terbaru Bara ‘Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri’ untuk kalian bagi yang beruntung.

Jawaban paling lama ditunggu hingga pukul 21.00. Selamat #BunuhDiri.

***

 *diikutkan dalam #Blogtour #3CeritaCinta Gagasmedia 


64 komentar:

  1. Bagaimana rasanya patah hati?
    Ini pertanyaan yang paling ingin ku jawab.

    Tiga tahun lalu, saat memasuki sekolah menengah pertama. Aku memutuskan untuk berani jatuh cinta. Mungkin aku terlalu percaya diri melakukannya tanpa mau tau resikonya.
    Dia sangat berbeda, membuat hidupku lebih hidup dengan semua yang ia lakukan. Bersama dengannya rasanya mustahil. Kau tau? kami seperti cerita si cantik dan si buruk rupa atau pungguk merindukan bulan. sangat tidak mungkin.
    Tapi tuhan menginginkan kami untuk bertemu. Aku sangat bersyukur mendapatkannya.
    Banyak hal yang kita lalui. kita terus berjalan beriringan bersama. Tanpa memikirkan hal lain.
    Kami tidak memikirkan hal konyol seperti perpisahan?
    Kami terus mengukir, mengukir dan mengukir.
    Kami terus bahagia dan bahagia.
    Semuanya seperti mimpi indah jangka panjang.
    Kau pernah berpikir bisa memiliki seseorang yang sebelumnya hanya bisa kau lihat dari kejauhan? bayangkan saja. Itu sulit sekali kujelaskan!
    Intinya. AKU BAHAGIA. KAMI BAHAGIA:)

    Sampai pada akhirnya, aku terbangun dari mimpi indahku. Kulihat sekeliling dia tak ada di sampingku.
    Kau tau rasanya kehilangan, yang selalu bersamamu setiap waktu?
    Aku menangis, meminta, memohon. agar semuanya kembali seperti semula.
    Badanku panas dingin, bergetar, rasa tak nyaman menyelimuti pikiran.
    Resah, tak tenang, menginginkan sesuatu tapi tak bisa melakukan apa apa.
    Sedih. Terus kepikiran. Marah. Benci. Kecewa. Takut. Membayangkan hal yang selalu membuat air mata terus mengalir. Hingga aku lelah menangis. Dadaku sesak. Air mataku mengering. Mataku lebam. Badanku lemas. Hanya isakan dan harapan tak pasti yg membuatku ingin bertahan. Derasnya hujan menambah dinginnya hatiku. Aku merasa beku. Aku merasa tak berharga. Aku merasa hancur sehancur hancurnya. Aku merasa asing dengan keadaan seperti ini. Semuanya terasa aneh.
    Saat tak lagi bersamanya aku merasa separuh bahkan semua jiwaku hilang.
    Aku benar benar PATAH.
    Hatilu sakit, sakit sekali. seperti ada lubang hitam yang terus melubang.
    Aku seperti berada pada titik keterpurukan dalam hidupku. Aku melupakan harga diriku dan terus memohon padanya tapi selalu pengabaian yang makin menambah kesakitan di lubuk hatiku.
    Semua yg melihatku sangat iba. dan itu membuatku merasa benar bensr tak berharga. sungguh. Ini mimpi buruk yang tiba tiba saja mengacaukan semuanya.
    Apa dunia sudah berakhir? apa jatuh cinta padanya sudah membunuhku?
    Mungkin .Iya.
    Perlahan, rasa kecewa yang amat dalam merubah hidupku. semuanya.
    Dia yang selalu ada . sekarang tak ada.
    Aku melakukan apa saja yang ku benci, yang dia tak suka. membuatnya semakin membenciku. membuatnya melakukan hal yang sama sepertiku atau lebih parah dan itu lebih menyakitiku.
    Kita impas. Tapi aku yang lebih dalam terluka dan menderita.

    Jatuh cinta padanya telah membuatku mati.
    Mati rasa.
    Jatuh cinta padanya telah membunuhku, membunuh diriku yang dulu.
    Hingga aku menjadi bukan aku.
    Sampai saat ini, hatiku masih nyeri jika melihatnya dengan orang lain.


    @nindyefem

    BalasHapus
  2. Bagaimana rasanya patah hati?

    Rumit...
    Sedih, sepi, marah, tidak percaya bercampur menjadi satu. Mengapa orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita? Mengapa yang katanya juga mencintai kita membiarkan kita seorang diri?
    Apakah semua ini ternyata hanya ada dalam khayalan kita saja?
    Hanya kita yang mencintai?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana rasanya Patah Hati?

      Aku rasa semua pernah mengalaminya, dan aku rasa semua tak mampu di ungkapan oleh kata-kata.

      Cukup kau renungkan.

      Ingat, patah hati tak selalu menceritakan kisah sedih, kecewa, marah, dll emosi negatif.

      Patah hati mampu mendewasakanku, itu yang aku rasakan.

      Mendewasakan dalam hal menerima rasa patah hati dengan emosi positif.

      Bagaimana caranya? BERSYUKUR karena kamu pernah merasakan PATAH HATI.

      @reginacintem

      Hapus
  3. Yang klise aja deh... Sakit hati kaya :

    Di gigit lebah. Awalnya biasa aja, lama kelamaan bengkak deh :D

    azizkerenbanget.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Bagiku, patah hati sama rasanya seperti aku mengkonsumsi Americano berliter-liter. Terlalu pahit dan membuat dadaku sakit. Rasanya, dada ini sangat sesak. Saat kutinju keras-keras bermaksud sesak di dada ini hilang, yang kudapatkan adalah rasa perih yang teramat dalam.

    Mungkin, patah hati bisa membuat seseorang tak karuan, dan membuat semuanya menjadi kelam.

    @_nikmal

    BalasHapus
  5. Bagaimana rasanya patah hati?

    Seperti menyesap candu. Layaknya narkotika yang membuatku tak dapat beranjak dari sakit sekaligus nikmatnya. Membuatku mengudara di titik tertinggi lalu menghempaskanku hingga aku terjerembab di tempat yang paling dasar. Aku tahu, ganjarannya adalah rasa sakit, tetapi selalu membuatku ingin mengambil dosis yang lebih lagi. Semakin aku patah hati, semakin ingin pula aku merasakannya lagi. Oleh sebab itulah, meski aku tahu yang kudapat hanya sebuah euforia, aku tetap ingin merasakannya, patah hati lagi, jatuh cinta lagi.

    @AniLilinKecil

    BalasHapus
  6. Bagaimana rasanya patah hati?
    Saya tidak tahu. Saya mempunyai self mechanism yang cukup bagus untuk menghindarinya. Jatuh cinta memang hal yang sulit dielakkan, tetapi untuk bertahan atau tidak pada cinta tersebut itu adalah pilihan. Dan saya, tidak pernah memilih untuk tinggal.
    Polanya selalu sama, berulang-ulang terjadi. Dari pandangan, candaan, atau obrolan panjang akan terbentuk rasa ketertarikan. Belum pernah ada yang menolak. Ketertarikan saya selalu terbalas. Lalu saya akan membuka diri saya lebar-lebar, memberi waktu untuk orang-orang itu menumbuhkan rasa. Lalu untuk waktu yang saya rasa cukup, ketika ketertarikan berubah menjadi jantung yang berdebar terlalu kencang atau kepompong di perut tumbuh menjadi kupu-kupu yang berkeliaran, saya akan pergi. Semudah itu. Saya akan pergi, tak peduli bagaimana cara-caranya. Terpuji, atau harus menyakiti. Dengan cara seperti itu, saya terhindar dari patah hati, selama bertahun-tahun.
    Yang saya tidak tahu, pada suatu saat, akan datang seseorang. Yang ketika Ia tidak melakukan apapun, tetap menyakitkan. Yang Ia lakukan hanya diam. Bukan acuh. Tapi diam.
    Saya mencintai laki-laki ini. Dan cinta ini aneh, karena tidak ada mulanya saya tertarik pada Ia. Saya hanya ... jatuh cinta. Dan saya tahu, saya harus pergi. Secepatnya.
    Tetapi kemudian saya sadar, bagaimana saya mau pergi? Ketika dari awal dia bahkan tidak membukakan gerbang. Selama ini saya hanya berdiri dari depan hatinya. Berimaji bagaimana rasanya dipeluknya. Dia hanya diam. Sekali lagi. Diam.
    Dia tahu saya disampingnya, menunggu untuk direngkuh ke dalam pelukannya. Menunggu saya di depan pintu, sembari mengetok pintu berulang-ulang tanpa tahu malu, tidak peduli harga diri. Tetapi dia hanya melihat dari dalam rumah. Lewat jendela. Dengan diam.
    Ketika saya sadar ini tidak ada gunanya. Saya hanya bisa ikut diam. Menonton dari luar rumah. Memandangi setiap pergerakan dari dalam. Bagaimana Ia selalu mencium kening perempuannya setiap pagi sebelum tidur, berdansa di bawah terang bulan mereka dengan penuh cinta, bercinta setiap waktu setiap saat karena mereka mau dan bisa. Karena mereka memilih untuk bertahan. Merawat cinta yang setiap hari tumbuh di dalam rumah mereka yang kecil namun nyaman.
    Tinggalah kini saya di luar, dengan hati yang terpatah. Bukan oleh siapa-siapa, tetapi oleh tangan saya sendiri. Dan terus bertanya-tanya, bagaimana jika dulu, diantara salah satu laki-laki itu, saya memilih tinggal?

    .
    @desyprm

    BalasHapus
  7. Menapaki kembali jejak kenangan di masa lalu membuatku terpekur lama.
    'Memangnya kamu pernah patah?', tanyaku pada hati.

    Sepertinya tidak. Sepertinya.

    ***

    Tujuh tahun lalu, aku masih bocah ingusan. Setidaknya begitulah orang-orang menyebut remaja seusiaku.

    Sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kelasku. Menimpa wajah lugunya. Dia? Siapa?

    Entah dia siapa. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi kehadirannya cukup menjengkelkan. Beberapa soal matematika ini seharusnya mudah untuk kuselesaikan, jika konsentrasiku tidak buyar karena dia.

    Lagipula, siapa yang tahu hati akan condong ke mana?

    Hari berganti tahun. Perasaan ini menjadi raksasa di dalam hati dan siap meledak kapan saja. Namun cinta harus menempuh bungkamnya, sebab si pemilik urung malu.
    ‘Biar saja perasaan ini di sini. Tak perlu diungkapkan. Ada waktunya..’

    Gelisah. Gundah.

    Hingga suatu hari, waktunya datang. Dia pergi selamanya. Sebelum ada pengakuan di ujung tenggorokan. Sebelum ada jalinan kenangan yang kubuat dengannya. Sebelum ada apa-apa di antara aku dan dia. Ini patah hatiku yang pertama. Dan hatiku tidak utuh lagi.

    Mungkin kamu akan tertawa. Sebab malah dia yang ter'bunuh' dalam kisah ini. Bukan aku. Harus kuberitahu padamu bahwa jatuh cinta diam-diam lebih sakit daripada menusuk belati ke jantungmu. Hei, aku serius!

    Aku kehilangannya, dengan rasa kesal luar biasa. Sebab aku belum berjuang sama sekali. Untuk membuatnya merasakan hal yang kurasakan. Lebih miris, aku belum mengesankan apa-apa untuknya.

    Di sinilah aku, melepaskan angan-anganku tentang dia. Sebab dia sudah bahagia.

    ***

    ‘Sekarang, dia masih di hatimu?’
    ‘Sepertinya tidak. Sepertinya..’

    - @evizaid

    BalasHapus
  8. Patah hati?
    Rasanya seperti waktu mendadak berhenti, meninggalkan kamu yang meratap karena perih. Rasanya seperti sekalipun dunia terang benderang, kamu justru terpuruk di jurang gelap dan dalam. Rasanya seperti--sekalipun kamu tidak percaya ada hati yang lain selain organ tubuh pemisah racun--ada yang tertusuk nyeri di dalam dada. Rasanya seperti kamu seakan ingin menyingkirkan benda tajam bernama apapun di sekitarmu agar kamu tidak meraihnya untuk melampiaskan rasa sakit. Karena kata kak Bara, "Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri".

    @orion____

    BalasHapus
  9. Patah hati membuatku takut untuk jatuh cinta lagi.

    Begitu takutnya hingga aku tidak menyadari bahwa ada seorang yang telah dengan tulus menyayangiku tanpa cela, hingga detik ini.

    Patah hati membuatku mengerti, bahwa setiap kali kita menaruh harapan, kita harus bersiap untuk merasa kecewa. Patah hati pernah membuatku mati, dalam hal ini, mati rasa. Selama berbulan-bulan aku tidak mampu menikmati hidupku sendiri, aku tidak mampu tertawa, aku tidak bisa merasa bahagia.
    Aku pernah (nyaris) mati karena jatuh cinta pada orang yang salah.

    Tapi kini aku lebih berhati-hati.

    Aku berhati-hati dalam meletakkan hati, hingga aku tahu aku berlebihan menjaga hatiku sendiri.

    Dan bagiku,
    Patah hati adalah bagian dari fase hidup. Seperti jatuh dan bangun, gelap dan terang.
    Ketika kamu jatuh cinta, kamu harus siap untuk patah hati.

    Yang diperlukan hanyalah hati yang lebih kokoh dan kuat untuk kembali bertemu patah hati.

    Kini aku tahu, sudah saatnya aku berani jatuh cinta lagi.

    BalasHapus
  10. Patah hati sulit dijelaskan dengan kata-kata nyeri di dalam dada, rasa kecewa,sedih,marah, jadi satu..
    Semata-mata bukan secara fisik namun sakit hati berdampak sama sakit fisik..
    @dela_res99

    BalasHapus
  11. Patah hati? Menurut saya? Itu sangat sederhana.
    Patah hati tak akan terjadi jika tak dinikmati. Jika saya patah, berarti saya sedang menikmati keresahanku, bukan menyelesaikannya.
    Dan saya selalu berpikir dengan logis, patah hati bukan karena dirinya, tetapi penilaianku sendiri yang berlebihan tentang dirinya.
    70kali Hatam membaca obat ramuan pengobatan, tidak akan menyembuhkan lukamu sampai engkau mem-praktekkannya.

    @MeilandMayer

    BalasHapus
  12. Patah hati? Rasa itu sepertinya tak asing lagi olehku. Berkali aku telah menemui rasa getir itu. Patah hati. Mungkinkah itu berarti aku telah mati berulang kali? Sejauh ini aku hanya mengenal cinta semanis kisah yang disajikan dalam film-film, novel-novel, atau sekadar cerita dari teman-temanku. Cinta hanya sebatas kesetiaan tak berujung dan kebahagiaan sebagai akhir dari segalanya.

    Namun segala hal punya dua sisi, bukan? Begitu pun cinta. Aku baru menyadari saat aku masuk kuliah semester awal. Namanya Alvian, seorang anggota BEM di fakultasku yang agak pendiam dan sedikit introvert. Aku tak pernah melewatkan hariku sejak awal masuk kuliah sebelum melihatnya. Wajar saja, tempat kos-nya ada di belakang kampus. Aku sering melewatinya.

    Doaku tak pernah luput dari namanya, ia bukan hanya nama yang kusebut dalam doaku, melainkan nama yang selalu melintas dalam pikirku. Kami hanya berhubungan melalui pesan digital(sms), biasa saja, tapi aku begitu bahagia. Meskipun sekadar sapaan ‘hai’ darinya.

    Pada sebuah event, aku memberanikan diri untuk mendekatinya setelah berminggu-minggu diam-diam mencintainya. Saat itu tangannya tengah sakit, usai menjalani operasi. Seperti biasa, ia selalu ramah. Jantungku berdebar hebat saat melangkahkan kakiku mendekatinya.

    “Tangannya masih sakit, kak?” ucapku mencairkan suasana yang hening sejak beberapa menit lalu. Ia tersenyum.

    “Iya, tapi sebentar lagi sembuh kok dik.. jangan khawatir.”

    Ya Tuhan, mendengar suaranya membuat tubuhku bergetar. Aku tak percaya kami benar-benar mengobrol berdua. BERDUA!

    Tiba-tiba smartphone-nya berdering. Ia melirikku sejenak. Mungkin suatu kode bahwa dia hendak mengangkat telepon dari seseorang. Aku hanya berjalan pergi, berusaha memberinya ruang privasi. Tak peduli siapa yang menelponnya tadi. Aku tak peduli. Namun langkahku berbalik memutar, berusaha mencari sosoknya lagi. Dari kejauhan aku melihatnya berjalan cepat entah menuju mana. Aku mengikutinya. Tepatnya menguntit diam-diam.

    Di sebuah gazebo kecil di samping kampus FE yang agak sepi, Alvian menghentikan langkahnya. Seorang gadis di depannya dengan senyum mengembang di wajahnya berhambur memeluk Alvian.

    Deg.

    Alvian mendaratkan ciuman di kening gadis itu.

    Jantungku seolah berhenti. Aku tak lagi merasakan desir darah di tubuhku. Tubuhku gemetar hebat. Tatapanku tak sedikitpun bergeser dari pemandangan pahit di depanku. Alvian berpelukan dengan kekasihnya.

    Aku telah mati. Terbunuh oleh diriku sendiri.

    Rasa cinta yang kusirami doa-doa berubah jadi senjata yang menusukku begitu dalam. Kini yang tersisa tinggal tanya yang terus menggaung di dadaku. Benarkah aku masih punya nyali untuk jatuh cinta? Siapkah aku terbunuh untuk kesekian kalinya?!


    @Zackiaefron

    BalasHapus
  13. Rafandha:

    "Dan tentu saja, aku berani bertaruh, kau pernah mengalaminya (patah hati)."

    Apakah patah hati itu hanya melulu soal perasaan kepada seseorang? Jika ya, maka jujur, aku sama sekali belum pernah merasakannya. Bukan. Bukan karena aku tak pernah jatuh cinta. Melainkan, seumur-umur, aku tak pernah menjalin hubungan. Kecuali dua tahun belakangan ini.

    Aku hidup di keluarga yang (boleh dibilang) pendidikan agamanya cukup kuat. Ayahku, seorang pemuka agama yang bahkan telah mendirikan pesantren dari tahun 80’an. Ribuan santri tercatat sudah pernah hinggap dan pergi di pesantren kami. Bergantian. Ibuku, meski pekerjaan utamanya seorang PNS, namun hampir setiap hari juga rutin mengelola pesantren. Begitu pun anak-anaknya—termasuk aku—yang sejak kecil diajarkan untuk membagi ilmu, sekaligus membantu mereka.

    Otomatis, semua anak beliau menjadi percontohan semua santri dan warga masyarakat sekitar. Sedikit saja ada hal yang buruk (atau dianggap kurang pantas) dari kami, beritanya dengan mudah menyebar kemana-mana. Menjadi buah bibir dan trending topic (mungkin se-kecamatan) selama beberapa pekan.

    Dua tahun lalu, aku memutuskan untuk melakukan hal yang tak pernah dilakukan oleh anggota keluargaku maupun keluarga besar kami: jatuh cinta. Karena biasanya tradisi di keluarga kami adalah ta’aruf, lalu menikah.

    Satu-satunya alasan kenapa aku melakukannya, karena aku tak ingin menghabiskan sisa hidup bersama wanita yang aku sendiri tak begitu mengenalnya. Apakah ta’aruf salah? Tidak. Bahkan, menurutku itu adalah cara yang baik. Cara paling tepat yang dianjurkan Islam. Hanya saja, aku butuh waktu yang sedikit lebih panjang dari ta’aruf. Aku ingin betul-betul mengenalnya.

    Sejak awal, aku dan dia memang telah meniatkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius: pernikahan. Kini, kami telah sangat mengenal satu sama lain. Kami pun sepakat untuk melangsungkan pernikahan ketika studinya nanti telah selesai, karena ia sedang ingin fokus.

    Namun, jujur, di saat-saat tertentu aku seringkali menggelisahkan resiko (yang hampir pasti) dari jatuh cinta: patah hati. Semoga buku Benzbara ini bisa membuatku paham akan rasanya, tanpa harus mengalaminya. Apalagi, hingga bunuh diri.



    Twitter: @ahmadmufid

    Email: ahmadmufidcom@gmail.com

    BalasHapus
  14. Rasanya patah hati? pahit seperti kopi tanpa gula.

    Aku sontak teringat kelakuan bodohku ketika engkau bercerita. Kelakuan bodoh yang hingga sekarang memenjarakan aku dalam jeruji besi bernama: sakit.

    Aku menyukai seorang lelaki teman sekelasku saat kelas XI SMA, secara diam-diam. Tingkahnya, pedulinya perlahan menyadarkan hatiku bahwa aku jatuh cinta. Padanya, pasti.

    Hingga kelulusan SMA kami hanya sebatas teman. Tanpa tahu perasaanku padanya, tanpa tahu pedih hatiku mendengar ia bercerita tentang gadis lain.

    Pertengahan kuliah semester 3, yang entah darimana ia tahu perasaanku. Aku tak bisa mengelak, aku mengaku. Namun, pengakuanku berbalas sakit.

    Kau pasti tahu sakit seperti apa yang ku maksud.

    Ingin membenci tapi dada sesak ketika tak bertemu. Ingin menjauh tapi serasa mati jika tak menyapa. Ingin berpaling tapi apalagi.. aku sudah terlalu jauh terkurung dalam penjara hati yang ku buat sendiri.

    Padamu, aku masih mencintaimu meski ku sadar perlahan hatiku hancur berkeping-keping digerogoti sakit.

    Aku siap bunuh diri demimu. Oh bukan, aku sedang bunuh diri karena jatuh cinta.

    @iszzme

    BalasHapus
  15. Bagaimana rasanya patah hati?
    Patah hati ya? Hmm..
    Seperti #JatuhCinta kepada seseorang yang tidak mengenal kita? Ini bodoh. Terlalu bodoh. Bagaimana bisa orang tidak kita kenal dapat memikat hati? Tapi inilah yg terjadi. Aku melakukan hal bodoh itu. Seorang santri sebuah pesantren telah mengubah hidupku. Siapa yg tidak tertarik dengan mereka yang sedang memperdalam ilmu agama? Siapa yg tidak tertarik pada mereka yg berbudi baik? Siapa yg tidak tertarik pada mereka yg lebih mengutamakan Tuhan nya? Aku jatuh cinta padanya. Andai jatuh cinta itu selalu indah. Tapi ini Jatuh, tetap saja sakit. Karna saat aku benar-benar merasa ini Jatuh-Cinta, saat itu pula aku harus merasakan sakitnya. Sakit karna temanku--Hera lebih dulu berkenalan dengannya. Jika kau fikir ini hanya berkenalan biasa, kau salah. Ternyata Hera lebih dulu bercerita padaku, bahwa ia jatuh cinta pada santri itu. Aku patah hati. Hatiku beku, lalu patah. Baru saja aku mengetahui namanya dari cerita Hera, tapi pada percakapan kami terakhir Hera mengatakannya, Jatuh Cinta. Hatiku seperti sedang naik ke atap gedung, tapi kini terpaksa terjun bebas untuk menuju dasar. Senyumku menjawab pernyataan yg Hera berikan. Menutup rapat betapa sakitnya terpaksa terjun bebas dari atap gedung. Apakah seharusnya Jatuh Cinta itu diceritakan kepada semua orang? Agar tak ada lagi yang namanya patah hati? Tapi jika tak ada patah hati, aku tak akan belajar. Tak akan tahu, bagaimana rasanya terbang dan terhempas. Tidak tahu bagaimana memilih berbahagia atau membahagiakan. Lamaku berfikir, aku memilih untuk membahagiakan. Aku memilih untuk tetap 'tidak mengenal'. Kisahku memang klise. Sering terjadi untuk saat ini. Tapi apakah ada yg pernah Jatuh Cinta kepada orang belum kalian kenal seperti Jatuh-Cinta ini? Jatuh Cinta saat tak kenal, dan harus Patah Hati setelah mengenal. Semoga kalian tidak mengalaminya.
    @dwiodie21

    BalasHapus
  16. Masih beranikah aku-dan-kau jatuh cinta ? Aku- masih berani :)

    Lalu, bagaimana rasanya patah hati ?

    Menurutku, rasanya patah hati itu seperti rasa saat meminum ramuan herbal perasaan daun pepaya. Pahit ! Gak enak ! Pengen nangis setiap dipaksa untuk meneguknya ! Tapi sebenarnya bermanfaat.
    Iya, bermanfaat. Karena menurutku, selain sebagai konsekuensi dari memilih untuk jatuh cinta. Patah hati juga menjadi pengalaman untuk kita. Pengalaman untuk memilih yang benar-benar baik untuk kita sekarang dan kedepannya. Pengalaman untuk tidak membuat orang pilihan kita selanjutnya merasakan pahitnya patah hati itu.

    Untuk saya pribadi, ramuan herbal daun pepaya tersebut terpaksa aku teguk. Orang yang aku suka sejak SMP sampai sekarang (terhitung sudah 8 tahun) kini sudah menikah. Bahkan, terakhir kali stalking ke sosmednya dia udah punya baby mungil yang mirip dia.

    Pahitnya sih bukan karena melihat dia sudah menikah dan memiliki baby. Tapi, karena pilihan aku untuk menyukai dia selama itu tanpa berani mencari tahu perasaannya ke aku juga seperti apa. Terlalu bodoh ! Terlalu penakut ! Dan aku rasakan sekarang akibat pilihanku jatuh cinta dengannya.

    Tapi, ngomong-ngomong tentang ramuan perasaan daun pepaya. Itu benar-benar pahit >_<

    @Sofhy_Haisyah

    BalasHapus
  17. rasanya patah hati?

    simple, SAKIT pastinya. dan membuat kita merasa tertekan..
    patah hati membuat seseorang bisa kehilangan nafsu makannya, gairah untuk melakukan apapaun yang tadinya ias sukai.. kehilangan hasratnya untuk mencapai sesuatu ..

    patah hati? disakiti oleh orang yang kita suka? dilukai? disakiti? dibohongi?

    suka tidak suka, mau tidak mau, semua orang pasti , akan, dan pernah merasakan yang namanya ptah hati.

    bagaimana denganku?
    ya, aku juga pernah patah hati. malah, sering. terlalu sering. :"
    patah hati membuat ku kehilangan semnagat hidup, kehilangan semangat untuk melakukan semua hal yang aku suka..

    sampai pada akhirnya, aku menyadari, keseringanku patah hati, membuatku banyak belajar berbagai hal ..
    patah hati mengajarkanku bagaimana itu rasa sakit.. bagaimana itu rasa kecewa, dan berbagai duka yang ku alami..
    dengan merasakan semua duka lara itu aku menjadi wanita yang tahan banting.. terkadang aku menjadi terbiasa dengan rasa sakit itu sendiri ..

    tak peduli bagaimana, dan apa yang membuatku patah hati, aku masih mencoba untuk jatuh cinta (lagi) dan selalu.
    ketika hati ku dipatahkan, aku berusaha bangkit dan merangkainya lagi keping demi keping.. sekalipun belum utuh sekali.
    dan aku mulai berusaha untuk jatuh cinta lagi, berusaha untuk kembali menghancurkan kepingan hati yang baru saja aku susun tadi.
    tak peduli berapa kali aku mesti, harus, dan selalu patah hati..
    tapi aku selalu mencoba untuk abngkit dari patah hati itu, dari keterpurukan itu, dan kembali mencoba untuk jatuh cinta lagi..

    karena yang aku tahu, aku hidup di dunia ini untuk mencintai, bukan untuk patah hati.
    kalau aku siap mencintai, berarti aku harus siap untuk patah hati..

    karena setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung.
    apapun yang kita pilih, bersiaplah dengan resikonya.

    jatuh cinta memang sakit, tetapi ingatlah untuk selalu jatuh di tempat yang tepat :)
    selamat jatuh cinta, semoga tidak jatuh di tempat yang salah ..

    jikalau patah hati?
    jawabannya satu, COBA LAGI.
    bukankah dulu juga kita semua pernah patah hati, dan mampu melewati semua itu? jadi, kenapa harus takut dengan patah hati? :)

    akun twitter: @pastephanie20
    email: putristephanie20@gmail.com

    BalasHapus
  18. Bagaimana rasanya patah hati?
    Rasanya patah hati? Patah hati, ya? untuk menjawab pertanyaan seperti ini pun aku harus mengulangnya berkali-kali. Seperti orang bodoh. Rasanya aku jadi bodoh saat patah hati. Seperti orang kelaparan yang mendadak tak bisa berpikir karena tak ada asupan nutrisi ke otak. Seperti orang gila yang jiwanya sakit.
    Patah hatiku tak sederhana. Bukan hanya hati yang sakit tapi jiwa dan cara berpikirku pun sakit. Karena aku berani jatuh cinta, jatuh terlalu dalam hingga tak bisa mengendalikannya.
    @ayuikayu

    BalasHapus
  19. Dalam hidupku, aku baru dua kali mengalami patah hati. Dua-duanya karena diputusin cewek. Dan yang terakhir paling parah. Pengalaman yang nggak terlalu mengenakkan. Memang aku sadar itu adalah resiko yang harus dijalani karena sudah memutuskan untuk jatuh cinta, tapi tetap saja, rasanya aku ingin mati.

    Seminggu pertama setelah patah hati, dunia di sekitarku masih tetap sama. Masih ada teman-teman untuk diajak main futsal, masih ada siaran langsung bola untuk ditonton, dan masih ada playstation untuk dimainkan seharian. Namun, saat dia nggak menjadi pacarku lagi, semuanya tiba-tiba terasa hambar. Rasanya ada awan hitam yang menggantung di atas kepalaku, membuatku murung seperti kambing yang akan segera disemblih.

    Waktu itu, teman-temanku banyak yang menertawakanku. Mereka bilang aku cemen, gara-gara cewek aja, aku jadi sekarat. Mereka nggak tau, kalau perasaan patah hati itu begitu dahsyatnya sampai-sampai membuat dadaku sakit dan ingin muntah.

    Belum lagi kenangan-kenangan indah sialan yang selalu mengganggu hari-hariku, bahkan mereka juga hadir dalam mimpi-mimpiku. Selama dua tahun, aku hidup seperti itu. Iya, DUA TAHUN! Setiap malam, aku bahkan memohon sambil menangis pada Tuhan agar penderitaanku cepat-cepat diakhiri atau paling tidak dikurangi. Setiap hari aku juga bertanya-tanya, apakah suatu hari nanti aku bisa hidup normal lagi?

    Setelah lewat beberapa tahun, perasaan patah hati itu masih ada, namun kadarnya berkurang. Semua kenangan tentang dia, masih aku ingat. Tapi sekarang saat mengingatnya, aku nggak lagi merasa sakit. Iya, seperti itu rasanya patah hati.

    @ramadepp

    BalasHapus
  20. Rasanya patah hati menurutku ialah seperti kata pertamanya; patah; sakit.
    Ada bagian dalam diri yang menjerit, merengek, marah, menangis, bersedih ketika harus jatuh pada cinta yang membuatnya harus menelan luka.
    Sebab menurutku cinta yang kurang beruntung itu sesederhana jatuh lalu patah.


    @Gitapsar

    BalasHapus
  21. Bagaimana rasanya patah hati?

    Menyebalkan sekaligus menyakitkan.
    Karena : trnyata orang yang diharap2 tidak membalas perasaan kita. Hikss. Namun jika bisa berdamai dengan patah hati, akan banyak yg hikmah yang diterima dari proses menyakitkan itu.

    1. Menyadari bahwa orang tsb bukanlah org yang terbaik buat kita.

    2. Mendadak pujangga. Puluhan mungkin ribuan cerita yang bisa ditulis akibat si 'patah hati' itu. Menyulap orang menjadi lebih kreatif dengan menuliskan kisah patah hatinya, bisa dibalut dengan nuansa komedi ataupun roman.

    3. Mendewasakan. Patah hati, sadar atau tidak membuat kita belajar untuk menerima kenyataan. Sepahit apapun fakta yang ada di depan mata. Lalu kita akan belajar dengan sendirinya bagaimana cara untuk menyembuhkan luka tersebut.

    @ryanie31

    BalasHapus
  22. Masih berani kah aku-dan-kau jatuh cinta? Tentu masih.

    Tapi rasayang sakit hati juga masih terlalu kuingat.

    Rasanya itu, seperti jatuh ke dalam sumur dalam dengan dasar yang dipenuhi bambu runcing yang siap menerkam orang-berani mati- yang masuk ke dalamnya.

    Luar biasa sakit. Apalagi jika cinta yang kita berikan itu tidaklah main-main.

    Aku pernah patah hati. Dan sampai sekarang aku masih mampu merasakan luka berdarah dan bernanah yang timbul karena patah hati itu.

    Aku pernah nyaris gila karena patah hati itu. Dan aku pernah nyaris membunuh demi menghilangkan semua penyebab rasa sakit itu.

    Tapi dulu.

    Sekarang, berkat rasa sakit itu, aku tahu betapa pentingnya menjaga hati dan tidak membiarkannya jatuh cinta kepada orang yang salah. Karena yang baru kusadari juga, hati itu adalah benda terlembut yang pernah Tuhan berikan. Saking lembutnya, hati terlalu mudah di lukai bahkan sampai dimatikan.

    @eincasarii

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. Patah hati? setiap orang mungkin memiliki argumen nya masing masing tentang patah hati. Dan mungkin, aku menjadi salah satu dari mereka yang memiliki argumen tersendiri

    Pernahkah kau melihat pelangi yang sangat indah setelah hujan? Ya.. itulah perumpamaan kedatangannya dikehidupanku. Dia adalah sosok pria yang mampu menyingkirkan derasnya luka di hatiku. Dia mampu hadir sebagai pelangi yang begitu menawan dengan cara nya sendiri. Senyumnya. Tatapan menyenjukan yang tidak dimiliki siapapun lagi selain dia. Aku benar benar hapal semua itu. Saat pertama kali dia mulai hadir dalam lembaran hari-hariku. Entah lah, ternyata tak perlu banyak alasan untuk menjadikannya Trending Topic nomor 1 di pikiran dan dihatiku. Dengan secepat kilat, hatiku tertarik. Mungkin benar, cinta tak pernah butuh alasan. Aku mulai berharap setiap engsel yang ada padaku akan bersatu dengan engsel yang ada padanya.
    Betapa beruntunglah aku, responnya terhadapku begitu baik. Dan perasaan ini kian tumbuh, seperti kecambah perasaan ini semakin merambat. Hari berganti hari, dia pun menceritakan semua perasaannya padaku, dia memiliki perasaan yang sama denganku. Namun dia tak pernah memberikan kejelasan tentang hubungan ini. Baginya, aku tahu tentang perasannya sudah cukup memperjelas semuanya. Tak perlu ada hubungan pun, kita akan tetap saling menjaga.

    Sudah hampir selama 1 tahun aku melewati hari hari bersamanya. Hari hari penuh tawa. Hari hari penuh petualangan. Hari hari penuh mimpi. Dan saat bersamanya, aku tidak pernah takut jadi seorang pemimpi. Aku selalu siap menghadapi hari esok, asalkan bersamanya.

    Dia adalah orang yang selalu memberiku sapaan hangat di pagi hari. Memberikan semangat hidup dan katakata motivasi. Seseorang yang selalu hadir di saat aku membutuhkannya. Pesan singkatnya tak pernah absen mampir di handphoneku. Pesan singkat yang selalu berhasil membuatku senyum senyum sendiri dan beranggapan bahwa jika aku merecon, aku ingin meledak saat itu juga

    Entah atas alasan apa, sikapnya terhadapku mulai berubah. Tak ada lagi sapaan hangat selamat pagi. Tak ada lagi pesan pemberi semangat saat akan pergi sekolah. Tak ada lagi ucapan selamat malam dan selamat tidur.
    Senyum yang menentramkan itu pun kini luntur dan sirna begitu saja dari wajah meneduhkannya itu. Setiap kali kami berpapasan di lorong sekolah dia memalingkan wajahnya dariku. Sungguh aku benar benar bingung, skenario macam apa ini yang telah merenggut semua kebahagiannku dan menjadikannya hari yang amat menyedihkan!

    6 bulan berlalu dengan sikap dinginnya terhadapku. Tak ada satupun pesan singkat darinya yang mampir di handphoneku selama setengah tahun itu. Aku benar benar merasa kehilangan. Hidupku seakan kosong. Meskipun aku banyak melakukan kesibukan di sekolah maupun dirumah, tetap saja jika aku sedang diam semua tentangnya akan kembali begitu saja dengan mudahnya. Ah, ternyata jatuh cinta sesulit ini.

    3bulan kemudian barulah kami dapat berkomunikasi kembali. Dan kenyataannya, lebih baik tidak berkomunikasi sama sekali daripada harus berkomunikasi tentang hal ini. Dia menjelaskan semuanya, tapi bagiku semua ini belum jelas. Belum ada alasan logis darinya yang dapat aku cerna tentang mengapa dia meninggalkanku begitu saja. Kata-kata yang aku ingat darinya adalah "kamu terlalu baik". Terlalu baik katanya? lalu dia mengharapkan wanita yang seperti apa? yang nakal? yang urakan? yang mengajaknya bermain di klub malam? Ahh, aku bukan tipe wanita seperti itu.

    Aku mulai mencoba melupakannya. Mencoba menyingkirkan luka yang aku tabung sendiri sejak 1 tahun terakhir itu. Mencoba membenarkan kembali puing-puing hati yang berserakan itu. Dan mencoba menyingkirkannya dari Tranding Topic nomor1 di hati dan pikiranku.

    Sejak saat itu, aku tahu rasanya patah hati. Ternyata benar, patah hati adalah tentang apa yang kamu cintai. Karena terkadang, orang yang paling kamu cintai adalah orang yang paling mampu menyakiti.

    Twitter : @FujiDwiA

    BalasHapus
  25. Bagaimana Rasanya Patah Hati ???

    Aku tidak tau bagaimana cara mendeskripsikan perasaan ku pada saat itu.
    Tepatnya pada saat dimana aku baru mulai menjalani masa Ospek untuk menjadi mahasiswi baru. Yah..pada saat itulah aku bertemu dengannya.Ia adalah salah satu senior yg aku kagumi,,cuma sekedar rasa kagum tidak lebih dari itu.
    Dan beberapa bulan kemudian kami sangat dekat dan mulai saling berbagi cerita,dia jg selalu membantuku ketika ada tugas kuliah yg sulit ku kerjakan.Begitulah..dia selalu ada buatku.

    Seiring berjalannya waktu,perasaan kagum ku padanya kini mulai berubah..Aku merasa mulai tertarik padanya dan mungkin bisa dikatakan aku jatuh cinta.
    Tapi aku tidak berani untuk mengungkapkan perasaan ku padanya,aku takut kalau dia tidak merasakan hal yg sama,sehingga akupun memendam perasaan ini.Menurutku tdk masalah yg penting Ia selalu ada didekat ku.

    Sampai pada hari itu..ketika dia mengajak ku keluar bersama untuk menemaninya.Aku merasa sangat senang yg psti tdk bisa diungkapkan dengan kata2.Dan trnyata dia mngajak ku hnya untuk mengenalkanku pada seseorang yg diakuinya sebagai pacarnya.

    Seketika dadaku merasa sakit,perasaan ku kacau,aku merasakan kehancuran dan kesakitan yg amat dalam,aku sangat ingin menangis tpi aku berusaha untuk menahan agar tdk trlihat di depannya,shingga aku pun memaksakan diriku untuk tersenyum.

    Semenjak kejadian itu aku sdh jarang brtemu dgnnya,krna aku mnyibukkan diri dgn brbagai kegiatan kampus,aku brpikir dgn begitu perlahan2 aku bisa melupakannya.

    Aku tidak pernah berfikir kalau "patah hati" itu adalah akhir dari hidup ,tetapi awal dari hidup yang lain yg mampu membuat ku lebih bersemangat untuk melakukan hal lain yang lebih berguna dan mendorong ku untuk menjadi lebih baik lagi.Akupun mencoba ikhlas dan berusaha menjadi pribadi yg lebih baik untuk menyambut cinta baru yg juga lebih.Aku percaya itu^^

    @Nung_khiee

    BalasHapus
  26. Bagaimana rasanya patah hati?

    Sakit.

    Saat ini aku sedang mengalaminya dengan seorang 'Monster'. Saat aku berhenti berjuang, ia akhirnya memilih untuk tinggal bersamaku. Perasaanku bak pelangi dimalam hari. Entah apa yang membuat ia tergoda, setelah kembali bersamaku, ia memilih perempuan lain. Perempuan yang ku kenal baik. Dan aku patah hati ketika aku tahu 'Monster'-ku memilih temanku sendiri. Ada marah yang berkecambuk didada, kebencian yang terpancarkan, dan patah hati yang ku rasakan saat ini. Rasanya aku ingin bunuh diri dengan sederhana karena aku terlalu merasakan sakitnya patah hati. Ada ketidakrelaanku saat permepuan itu datang. Aku yang terlalu mencintaimu, kamu yang tak punya hati, atau perempuan itu yang tak tahu malu?

    Sejak ia membuatku patah hati, aku takut jatuh cinta. Bukankah semua orang pernah jatuh dan merasakan sakit? Tapi aku takut jatuh dan tak ada yang membuatku bangkit.

    Sekarang, aku menikmati bagaimana rasanya patah hati.

    @_ULUL_

    BalasHapus
  27. Aku pernah jatuh cinta. Cinta yang semakin kukorek alasan mengapa aku mencintai dia, semakin aku tak menemukannya. Cinta yang sederhana, namun mampu mengikat hatiku bersamanya.

    Tapi mana ada cinta yang sempurna. Aku pun mengalami patah hati juga akhirnya. Karena suatu alasan, hubungan kami harus berakhir. Anehnya, cinta di hati masih mengalir. Masih mendekatkan kami satu sama lain.

    Kupikir hubungan yang dulu terjalin dapat kembali. Ternyata ia sudah lebih dari dekat dengan sahabat perempuanku. Sahabat yang dulu mengenalkanku dengan pria itu. Sahabat yang menjadi tempatku mencurahkan isi hati. Sahabat yang tahu pasti bahwa aku masih mencintai pria itu meski berbulan-bulan kami tak lagi berstatus resmi.

    Pada suatu hari, sahabatku pulang dari luar kota dengan kereta api. Tengah malam buta ia sampai di stasiun, dalam keadaan hujan deras. Ia punya ayah, adik laki-laki yang sudah cukup dewasa, serta banyak teman laki-laki yang dapat menjemputnya. Namun ia memilih priaku. Dan itu ia ceritakan padaku.

    Perasaanku diabaikan. Aku menunggu kabar semalaman. Tak bisa tidur memikirkan apa saja yang mereka lakukan. Kabar baru kudapat keesokan siang, setelah sahabatku bangun dari tidurnya. Saat mataku sudah bengkak dan memerah karena menangis dan tak tidur semalaman. Saat hatiku sudah porak-poranda diterjang badai kegelisahan.

    Tak lama sejak hari itu, priaku mengakui padaku bahwa ia mencintai sahabatku. Bahkan sejak kami masih menjalin hubungan. Setelah kudesak sahabatku, akhirnya ia juga mengakui bahwa ia menerima perasaan priaku, namun sengaja menyembunyikannya dariku. Saat itulah kurasakan patah hati bertubi-tubi. Mereka seolah menggoreskan ujung pisau, memunculkan retakan-retakan di dinding hati, kemudian menyiramnya dengan air garam. Mereka tertawa di atas lukaku yang menganga.

    Bertahun-tahun sudah berlalu. Namun jika kini aku bisa menceritakannya kembali, berarti aku mengakui bahwa kisah tentang kami dulu pernah begitu berarti...

    Tapi percayalah, kisah tentang patah hati akan selalu terpatri, meski waktu bersusah payah menghapusnya.

    @didotanindita

    BalasHapus
  28. Hmm, patah hati, ya? Bukankah istilah itu akan lebih pas bila disandingkan dengan 'jatuh hati'. Bukankah kala kita jatuh harusnya kita sudah siap untuk patah? Harusnya sih, begitu. Tapi, nyatanya masih banyak orang yang tidak siap.

    Jatuh hati atau jatuh cinta kemudian patah hati, bagi saya adalah suatu proses pendewasaan. Bagi saya yang memulai debut percintaan sebagai pengagum rahasia -yang benar-benar rahasia- tentu tidak akan terlalu menyakitkan kala cinta tak berbalas. Karena disanalah saya menemukan ketulusan cinta yang sebenar-benarnya.

    Namun, lain halnya kala saya merasakan patah hati hingga nyeri ke ulu hati, patah hati yang benar-benar membuat saya remuk redam. Patah dan tak bersisa. Kala itu, saya mendapati lelaki dengan segudang perhatiannya pada saya, lelaki pembawa kenangan yang suka sekali menerbangkan lalu dengan mudahnya menghempaskan. Saya patah hati untuk pertama kalinya.

    Patah hati membuat saya kuat. Mungkin rasanya seperti bunuh diri, namun setelah itu saya seperti bangkit dari mati suri. Bukankan dendam merupakan alasan yang kuat untuk berbuat sesuatu? Dan ya, saya berhasil melakukannya. Saya membalas dendam atas patah hati saya, saya tunjukkan pada dunia bahwa saya sudah hidup kembali. Saya hidup setelah mati. Saya hidup untuk jatuh cinta lagi.

    Hari ini, ketika saya bersiap membuka lagi pintu hati, saya membukanya secara perlahan, takut dibobol orang, takut dibuka dengan paksa. Karena pada dasarnya saya hanya tidak ingin tersakiti lagi. Setidaknya jangan terlalu sakit.
    Meski sebenarnya saya sangat ingin jatuh cinta lagi.

    @intanamps

    BalasHapus
  29. Bagaimana rasanya patah hati? Aku akan menjawab patah hati itu semenyakitkan jatuh hati. Karena biasanya saat aku jatuh hati, saat itu pula aku merasakan patah hati. Entah kebetulan atau memang takdir yang digariskan Tuhan, ketika aku mulai menyayangi orang, orang yang kucintai itu telah bersama orang lain. Sesakit itu dan semenyeramkan itu. Bahwa jatuh cinta serasa patah hati. Atau patah hati serasa jatuh cinta? Entahlah, yang jelas patah hati itu sesakit jatuh cinta.

    @Rrhanf

    BalasHapus
  30. Patah hati adalah mencari lara kita di dalam raga orang lain. Mengeluarkan semua tangis, luka, dan hampa pada satu keadaan yang sama. Patah hati adalah saat seseorang tak mampu mempertahankan kebahagiaannya kepada orang yang sangat ia cinta. Patah hati adalah semua perasaan yang tak sanggup membendung air mata. Patah hati adalah kelemahan kita yang sebenarnya, menyebar sengsara pada kehidupan kita. Penyebab utama patah hati saat kita benar-benar telah melambung tinggi ke angkasa, melihat deretan bintang-bintang yang bertebaran, dan mampu merasakan arti tawa yang sebenarnya. Kemudian kita terhempas bersama puing-puing kebahagiaan yang tersisa. Puing itu adalah kenangan terindah saat seseorang yang kita cinta mampu membuat kita tertawa. Kemudian Patah Hati ibarat derai air hujan, yang dingin dan membuat kita beku. Tak mampu melangkahkan kaki ke arah lebih baik lagi. Jika patah hati adalah hujan, solusi pertama untuk menghindarinya adalah kita menepis segala macam amukannya dengan berfikir tentang resiko. Langkah kedua adalah kita menunggunya untuk pergi terbawa angin atau berhenti dari langit, tapi ia tak akan benar-benar hilang. Lupakan semua rasa sakit karea cinta. Tapi suatu saat ia bisa datang kapan saja dan dimana saja. Langkah ketiga adalah mendapati seseorang yang akan meghampiri kita. Memayungi raga kita agar hujan tak mengguyur lebih lama. Yang harus kita lakukan adalah mencarinya, misalnya jatuh cinta lagi pada orang yang beda adalah solusi terbaik. Kembali lagi soal Patah Hati, ia seperti rantai yang menjerat. Kita tak bisa memutusnya bahkan untuk pergi darinya. Karena sebenarnya ia akan menemui siapapun yang pernah mengikat jalinan cinta.
    @_mayg16

    BalasHapus
  31. Masih beranikah aku jatuh cinta?

    Seseorang pernah bilang, bahwa tidak peduli berapa kali dan/atau berapa sakit kamu patah hati, kamu akan selalu jatuh cinta lagi. Namun, tidak selamanya kita siap jatuh cinta. Ada saat dimana kita masih terbayang rasa sakit akibat jatuh cinta masa lalu. Ada pula saat kita sudah lupa untuk mengingat masa lalu, dan siap untuk jatuh cinta lagi. Ada banyak sekali contoh orang yang sudah menemukan pasangannya lalu percaya pada cinta sejati. Ada pula yang bilang itu omong kosong. Namun, jika ada yang berhasil, setiap dari kita pasti punya kesempatan untuk jatuh cinta atas nama cinta sejati.

    Lalu, bagaimana dengan patah hati? Menurutku, patah hati merupakan hal yang terpahit yang dapat cinta berikan. Namun, apakah setiap hubungan yang sukses tidak mengalami badai yang hebat dalam percintaannya? Betapa egoisnya kita meninggalkan cinta saat ia memberikan rasa pahit? Tidak bermaksud munafik, namun semua hal memilki sisi positif dan juga negatif. Contoh paling dekat adalah diri kita sendiri. Patah hati bisa seperti langit yang jatuh ke bumi bersama awan hitam dan petirnya. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui cinta akan memberikan rasa manis lagi setelah rasa pahit itu berakhir? Satu-satunya cara adalah kita harus melalui masa pahit dalam cinta. Pertanyaannya adalah: Apakah aku dan kamu mampu melewatinya? :)

    @ariefmaulan

    BalasHapus
  32. Patah hati itu semacam efek samping dari jatuh hati. Resiko yang harus di terima dari jatuh hati atau jatuh cinta. Jangan berani jatuh cinta kalau tidak berani patah hati, kalimat yang sering terdengar, dan lumayan bisa tersimpan di memori. Nyata nya memang begitu jatuh cinta tidak selalu happy ending. Jatuh cinta seperti sedang menghisap nikotin pada sebatang rokok. Tau akan resiko yang akan di terima, tapi tetap di nikmati.

    Beberapa waktu lalu, aku jatuh cinta dengan seorang lelaki sebut saja "dia" , dia mampu membuat aku hanyut dalam pesona nya, aku tenggelam dalam tawa nya yang renyah, senyum nya yang lagi-lagi berhasil membuat aku terbius dalam lautan perasaan. Ntah terlalu terburu-buru jatuh cinta atau bagaimana, yang jelas sejak hari itu otak ku selalu bekerja cukup keras. senyum nya yang manis dengan mata yang agak sayup itu selalu bekerja disana.

    Kami pernah terlibat obrolan pendek, lewat chating BBM. Oh iya aku lupa menjelaskan bahwa aku orang yang tidak piawai dalam menunjukan perasaan, aku selalu pasif soal menunjukan isi hati. Aku yang hanya beberapa kali bertemu dia hanya menunggu kabar ataupun aktivitas nya lewat Recent Updates BBM. Sakit ya ? Memang. Begini personal Mesage nya " Cowok ganteng mau futsalan dulu " aku berfikir sebentar, ah kesempatan memulai obrolan. Tadi nya hal yang aku fikir akan jadi obrolan yang panjang nyata nya berubah jadi obrolan yang mengerikan !
    " Mau futsal dimana ? " Aku memulai obrolan.
    " Di lapangan Dome, kamu mau ikut ? Dapat balasan seperti itu hati ku berdebar. Hati ini seperti di pasang bom bunga dan meledak seketika. Melayang-layang di udara.
    "Emang boleh ? Jawab ku singkat.
    " Boleh saja kalau mau, nanti aku suruh teman yang jemput. Aku melamun, teman ? Kenapa tidak menawar kan diri saja ? Dia dengan siapa ?
    " Memang nya kamu dengan siapa ? Aku mencoba mencari tau pertanyaan ku sendiri.
    " Aku dengan Pacar ku, hehe"
    Membaca kalimat terakhir itu rasa nya mau mati. Kalimat per kalimat nya bagaikan pecahan kaca yang ku pungut dan harus ku telan sendiri. Rongga hati seolah menyempit, dada ku seperti di beri beban yang sangat besar ,terasa sesak. Rupa nya aku sedang bunuh diri lewat kalimat yang aku kirim sendiri pada nya. Aku jatuh cinta, yang cinta nya belum tapi jatuh nya sudah. Jadi patah hati itu selalu sepaket dengan jatuh cinta, ketika kau berkata jatuh cinta maka sejak itu pula hati mu sudah terpasangi bom yang di beri waktu, detik demi detik nya selalu penuh makna. Pada detik ke berapakah bom ini akan meledak dan hati ini akan hancur ? Tapi ketika bom itu meledak dan hati itu sudah hancur, jatuh cinta seolah jadi penawar. Jatuh cinta mampu menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang hancur, menutup luka yang bertebaran di seluruh bagian hati.

    Ketika kau jatuh cinta, maka sisa kan lah sebagian hati mu lagi untuk merasakan perih nya patah hati, dan ketika kau patah hati maka segeralah jatuh cinta kembali.

    Selamat jatuh cinta, selamat menunggu hati mu patah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ada yang terlewat , acc twitter noni nona @uliyantami15 :)

      Hapus
  33. Saya suka sama seseorang. Saya yakin dia juga tau saya suka sama dia. Berkali-kali saya mencoba mendekat, dia malah menjauh. Tapi, saya nggak nyerah, saya selalu ajak ngobrol dia, tapi dia malah pindah duduk. Selama dua tahun saya dan dia selalu seperti itu. Saya mendekat, dan dia menjauh. Hingga akhirnya saya harus melanjutkan pendidikan saya di kota lain. Dan saat itu saya mendengar dia sudah punya kekasih. Anehnya saya nggak nangis, saya cuma kesal. Cuma amarah yang meliputi saya, tanpa ada rasa sedih sama sekali.

    Mungkin patah hati nggak harus terus-menerus dengan kesedihan. Tapi membuat seseorang mati rasa, dan penuh dengan emosi.

    @MechelinStyles

    BalasHapus
  34. Tak perlu kau tanya lagi, karna aku tetap berani untuk jatuh cinta.
    sekalipun resiko yg nantinya kudapat adalah hati yang patah.Perjalanan asmaraku sudah begitu keras karna sudah ratusan kali ku jatuh cinta dan berakhir terluka.
    Tidak menyisakan rasa jera untukku.
    Untuk apa aku menutup diri, toh cinta tak pandang bulu untuk masuk ke hati setiap orang. Cinta berdaya magis. serapat apapun hati dikunci ia akan temukan jalan untuk singgah dan pergi semaunya. Aku tak ingin menyakiti hati sendiri hanya karna menolak untuk jatuh cinta lagi.
    Menolak rasa jatuh cinta sama sakitnya dengan ditikam rasa patah hati. Sama sakitnya dan lama sembuhnya. Tetapi jangan biarkan kedua rasa sakit itu membunuhmu, bangkitlah dan cari penyembuhnya.
    Terima saja semua dan biarkan mengalir bersama waktu.

    @JeruknipisAnget

    BalasHapus
  35. Patah hati,bagaimana rasanya?
    Sakit tentu saja. Memang tidak bisa dijelaskan secara gamblang bagaimana sakitnya,karena ini masalah rasa,hal yg abstrak,hal yg penuh warna,hal yg memiliki banyak sel untuk dibentuk.
    Aku patah hati karena diselingkuhi. Klise,ya memang. Sudah banyak orang mengalami patah hati yg disebabkan perselingkuhan. Ada yg sudah terbiasa sehingga tidak begitu tersakiti bila diselingkuhi,ada yg sangat sakit meskipun berkali-kali diselingkuhi,ada yg belum pernah diselingkuhi,ada yg sangat sakit karena dia baru merasakan bagaimana rasanya diselingkuhi.
    Aku termasuk yg terakhir. Jujur saja aku tidak pernah tahu kalau rasa sakitnya benar-benar nyata,kalau rasa itu sangat nyaman berdiam dalam diriku,seakan-akan dia memang memilihku untuk tinggal. Benar seperti kata temanku, 'seakan-akan kau jatuh dari langit dan menghantam puluhan karang yg menghunjam tubuhmu. Kau berdarah,tapi kau tidak mati,kau tetap hidup untuk merasakan sakitnya. Kau memohon untuk mati,tapi tidak dikabulkan'. Bisa kau bayangkan rasanya?
    Hal ini sempat mengganggu hidupku. Aku tidak bersemangat,semua yg kulakukan berantakan,aku selalu merasa negatif terhadap lingkungan sekitarku,aku merasa seperti zombie ataupun vampir yg raganya hidup,tapi jiwanya mati. Teman-temanku merasa aku seakan hidup di dunia lain,merasa bahwa aku bersama mereka,tapi aku bukan aku.
    Semakin lama aku sendiri tersiksa dengan keadaanku,tersiksa karena tidak bisa jadi diriku sendiri. Pada akhirnya aku memutuskan untuk hidup kembali.
    Aku mulai tersenyum,aku mulai tertawa,dan aku mulai melanjutkan hidup. Awalnya aku berpura-pura ceria,tapi semakin lama keceriaan itu mengalir menjadi lebih nyata. Aku seakan-akan memiliki semua kekuatan untuk berdiri bahkan berlari. Keluarga dan teman-temanku,ya mereka semua. Mereka adalah kekuatan nyata yg membuatku bangkit,mereka membuatku percaya bahwa aku mampu,aku kuat,aku mau untuk kembali hidup. Tidak lupa pada Allah Tuhanku,aku juga percaya bahwa Dia memberikan ujian ini untuk menyadarkanku bahwa mencintai dan menyayangi orang lain adalah dg sepenuh hati, dan membuatku semakin menghargai cinta dan kasih,bahwa cinta dan kasih tidak bisa dipermainkan,bahwa segala tindakan yg baik atau buruk akan aku tuai hasilnya seperti yg aku tanam.
    Aku bersyukur,kini setelah hampir dua tahun berlalu,aku semakin bisa menghadapi peristiwa apapun dalam hidupku dengan cara yg lebih bijaksana. Patah hati tidak selalu buruk,siapa tahu dia bisa mengubahmu menjadi pribadi yg jauh lebih baik dari sebelumnya.

    Memang,bila berani jatuh cinta,maka dia harus berani patah hati. Seperti kata temanku, 'tidak ada kisah cinta yg happy ending karena pada akhirnya semua akan kehilangan orang yg dicintai'. Hal itu memang benar,bahwa tiap hal yg fana pasti akan hilang. Manusia adalah fana. Tapi bagiku rasa cinta dan kasih selalu abadi,dia akan selalu hidup hingga akhir masa. Tidak ada satu orang pun yg tidak memiliki rasa cinta. Sejak lahir hingga mati,tiap orang pasti memiliki rasa cinta dan kasih.
    Hal ini membuatku berani,ya! Berani patah hati,karena aku berani mencintai,karena aku memiliki rasa cinta dan kasih,karena aku HIDUP.. :)

    @mart_hana

    BalasHapus
  36. Rasanya patah hati ya?
    2 kata sederhana yg sangat meracuni kehidupan seseorang, penyebabnya gak jauh dan gak bukan adalah karena "JATUH CINTA" 2 kata sederhana juga yg mampu mengakibatkan "PATAH HATI"
    Sering kali, "JATUH CINTA" kemudian "PATAH HATI" 2 kata yg tidak terpisahkan. Bukankah begitu?

    Baik, akan aku jelaskan kepada kalian bagaimana rasanya patah hati bagi ku.
    Setiap aku ingin memulai suatu hubungan terlebih dahulu aku akan memindset kan pikiran ku seperti ini: Aku mungkin jatuh cinta tapi pasti ... patah hati. Dan memang benar, ketika kau merasa dunia ini hanyalah milik aku dan kamu, yg lain hanyalah menumpang, seperti itulah jatuh cinta.
    Tp ketika kau patah hati rasanya semua pun menjadih pahit bahkan lebih pahit dari jamu sekalipun. Memang benar tdk ada darah yg keluar dr organ hati ini, tetapi mengapa rasanya sakit sekali. Terkadang kalau sudah begini aku lbh baik terluka krna sesuatu yg menyebabkan darah keluar dripda harus menahan sesak yg aku sendiri tdk tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Sementara terus saja gumpalan kesedihan,kekecewaan,penyesalan,amarah,dan egois ini memaksa ingin sekali keluar dr organ yg bernama hati. Gumpalan tersebut adalah komponen dr suatu penyakit yg bahkan dokter pun tdk bisa menyembuhkan, tahu apa? Ya, PATAH HATI

    Tenang! Kali ini aku tdk hanya memberikan bagaimana rasanya patah hati tapi juga aku akan memberikan obat kepadamu, untuk sdkt mengurangi rasa patah hatimu.
    "JATUH CINTA" lagi dan lagi, ya memang bnr kau harus merasakan apa yg namanya jatuh cinta lg krna bagi ku itulah obat yg paling ampuh untuk menyembuhkan dan menutup patahan hatimu secara perlahan.
    Terkadang aku berpikir, terlatih patah hati itu jauh lbh baik. Suatu saat kau psti akan mendapatkan manfaatnya (?) (maksud ku kan akan kebal terhadap yg namanya patah hati) hihi
    Jadi, aku sangat setuju dgn bukunya kak Bara ini bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Btw, sedikit pengetahuan hehe bukan hanya manusia yg akan mati jika mengalami yg namanya patah hati tetapi gajah yg mempunyai tingkat emosional paling tinggi dan dia akan mati hanya karena patah hati. Sebegitu menyeramkan kah yg namanya jatuh cinta ini? Gajah pun bisa mati. Hihi tidak kok!
    well, sudah tahu jawabannya kan? Ya jawaban atas pertanyaan kau diatas : Bahwa aku siap untuk jatuh cinta lagi. Bagaimana dgn kau? ♡~ @agnssaxu

    BalasHapus
  37. Patah hati?
    Menurutku rasanya seperti mempunyai dunia sendiri yang isinya hanya tangis, penyesalan, marah, sakit. Sakit yang tak tahu pastinya dimana, dada rasanya sesak, penat, luka tapi tak berdarah. Sakit yang tak tahu apa obatnya. Di saat orang lain ingin menarikmu dari dunia pesakitanmu, ada kenikmatan yang menahanmu untuk terus merasakan candu sakitnya. Bodoh? Tidak. Terkadang orang yang sudah patah, dia hanya berusaha menyatukan patahan itu, butuh waktu tapi bukan mustahil.

    @annizparadize

    BalasHapus
  38. Jangan ditanya lagi..
    Rasanya patah hati, pastinya sakit. Tapi sesakit-sakitnya patah hati..manusia tetap saja akan mencoba membuka hati dengan seseorang yg dan mungkin dia akan di sakiti lagi dan lagi... entah saya bingung dengan perilaku manusia yg seperti ini *termasuk saya hehe

    INGAT !!!
    Patah hati bukanlah akhir dari segalanya.. mungkin patah hati ini bisa membuat kita introspeksi diri dan mencoba merubah diri kita menjadi seseorang yg lebih baik lagi dari sebelumnya .
    Dan mungkin seseorang itu bukanlah jodoh yg tepat untuk kita . Mungkin kelak Tuhan akan menggantikannya dengan seseorang yg paling terbaik untuk kita ..
    Sekian

    @Shaniia_r

    BalasHapus
  39. Patah hati itu seperti menyesap segelas besar kopi hitam yang murni, tanpa gula. Pahit, sampai-sampai kita terpejam karena pahitnya yang menggigit. Benar-benar pahit. Hingga saat itu juga kita mengatakan tak ingin lagi minum kopi lagi. Stop. Sekali ini saja.

    Rasa pahit, dia seperti konsekuensi yang sejak awal sudah kita tahu. Tapi, tetap saja kita nekat untuk menyeduh segelas kopi. Kenapa? Karena kita mendambakannya, kita merindukan sensasi yang dikeluarkan oleh kopi. Hingga kita tak bisa menolak untuk tidak menyeduhnya.

    Sama seperti jatuh cinta. Kita pasti tahu apa yang sedang menunggu kita saat jatuh cinta. Ya, patah hati. Entah itu diawali oleh rasa manis dulu, atau langsung pada pahitnya, seperti yang Bang Bimo rasakan dicerita itu.

    Namun, saat kita jatuh cinta, kita tak bisa menolak pesonanya. Mau bagaimana lagi? Kita harus siap untuk dibunuh hingga mati oleh cinta.

    Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.

    Aku sangat setuju sekali. Karena aku merasakan hal itu berkali-kali.

    @Mandandaaa

    BalasHapus
  40. Jatuh cinta dan patah hati seperti sepasang kekasih yang saling berdampingan

    Ketika jatuh cinta maka siap untuk patah hati

    Patah hati itu seperti musim semi yang tiba-tiba menjadi musim gugur
    Ketika musim semi, kita dapat melihat bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu terbang kesana kemari, berwarna warni seperti warna yg dipancarkan orang yg sedang jatuh cinta, virus merah jambu sedang menjangkitnya, efeknya membuat bahagia, tersenyum-senyum sendiri, penuh tawa dan harap, langit yg mendung seakan menjadi berwarna biru terang......

    Tapi indahnya cinta tak selalu berbuah manis, adakalanya cinta membuat patah , bagaimana rasanya patah hati? Seperti musim gugur, satu persatu harapan tentangnya berguguran, sesuatu yang cair menjadi tiba-tiba membeku, ada rasa marah tapi entah marah terhadap siapa.....

    Patah hati adalah seperti masa inkubasi yang panjang dari pemulihan kenangan, membuang satu persatu warna yang dulu ada. Hanya tinggal warna abu-abu yang mulai memudar.

    Mulai membunuh rasa yg terkadang seperti noda yang tak kunjung bersih
    Walaupun jatuh cinta membuat lara
    Tapi manusia tak pernah tak ingin mencinta lagi dan lagi.....

    @anisenhau

    BalasHapus
  41. Annisa Nadya Utami29 Desember 2014 16.47

    Tidak ada kata yang benar-bener tepat untuk menggambarkan rasa patah hati.

    Semua emosi yang ada meletup bersamaan. Rasa terkhianati. Rasa tidak percaya. Rasa sesal karena berharap terlalu jauh. Bagaimana bisa seseorang yang telah kita percaya sedemikian rupa, justru berbalik menyakiti? Kecewa saja tidak cukup untuk menggambarkannya.

    Berawal dari sebuah ekspektasi. Orang-orang berkata jatuh cinta itu seindah pelangi. Yang tidak pernah mereka singgung adalah ada hujan dan badai dibalik pelangi itu.

    Jadi, seperti apa rasanya patah hati?

    Menurutku patah hati itu seperti prajurit kalah perang. Melihat apa yang selama ini kita perjuangkan ternyata tidak cukup layak untung diperjuangkan. Apa yang berusaha kita perjuangkan ternyata tidak cukup kuat untuk kita perjuangkan. Mungkin patah hati akan membuat kita belajar bagaimana seharusnya ‘menyerang’ di medan selanjutnya atau harus merenung dan berfikir haruskah kita memperjuangkannya kembali?

    Untuk semua prajurit patah hati yang kalah berperang, semoga beruntung di medan selanjutnya. :)

    @naadyannisa

    BalasHapus
  42. Rasanya patah hati:
    Seperti dunia tak berpihak padaku bahkan untuk merasakan secercah dari manisnya cinta. Bukan hanya sakit, tapi juga penyesalan terhadap diriku sendiri. Aku merutuki diriku sendiri karena tak bisa mempertahankannya, bahkan hanya berada disampingku. -@ESptiarahma

    BalasHapus
  43. gue ga pernah ngrasain cinta kecuali dari kedua orang tua gue. .

    gue hanya pernah ngrasain jatuh cinta, bukan cinta。seumur-umur gue belum pernah pacaran, tapi bukan berarti gue gay. gue juga suka cewek. gue jatuh cinta pada seorang cewek yang sampai saat ini belum gue dapetin.

    entah kenapa gue susah banget buat jatuh cinta pada cwek lain. padahal begitu banyak cewek yang ngedeketin gue dan suka sama gue. bahkan sampai ada yang ngungkapin cinta ke gue (serius, ga sombong), tapi malah gue anggurin mereka. gue ga tahu perasaan mereka apakah sama kayak gue yang di phpin sama cewe itu.

    gue merasa bernad batubara benar jatuh cinta itu cara terbaik untuk bunuh diri, walaupun sebenarenya gue juga belum baca buku itu.

    entah kenapa karena jatuh cinta ini gue sulit terbangun untuk jatuh cinta lagi ke cewek lain, gue takut untuk jatuh cinta lagi.

    gue masih memendam perasAň pada cwek itu. dan ini memang menyakitkan. tapi gue ga mau bunuh diri

    sampai sekarang gue cuman bisa jatuh cinta dan patah hati.

    kok gue jadi curhat di blog orang ya. sorry ya :)


    @muhaei

    BalasHapus
  44. "Bagaimana rasanya patah hati?"
    Sederhana sih, tapi ternyata nggak sesederhana itu ya saat ngalaminnya. XD
    Bahkan kak Bara sendiri menyebutkan bahwa "jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri". Kalau ditanya bagaimana rasanya patah hati saya jadi ingat berita yang beberapa minggu lalu disiarkan di televisi tentang anak remaja yang menabrakan dirinya ke kereta api karena patah hati, bahkan tetangga saya sendiri nekat gantung diri gara-gara patah hati. Wah.. Kalau jaman dulu, patah hati sedikit dukun bertindak, kalau jaman sekarang patah hati langsung bunuh diri.
    Lalu, rasa patah hati dalam kamus saya sendiri seperti apa? Buat saya, rasanya patah hati jelas sekali tak terdefiniskkan dan tak terbantahkan. Tak terdefinisikan karena patah hati itu sifatnya abstrak, dan tak terbantahkan sebab rasanya benar-benar seperti mau mati, ya kan? Satu dua kali patah hati nampaknya nggak membuat kita kebal, dan saya setuju sekali dengan pertanyaan di buku kak Bara "Masih beranikah aku—dan kau—jatuh cinta?" Untuk menjawabnya pasti sulit sekali, bukan? Karena setiap kali kita berani untuk mencintai itu berarti kita harus siap untuk patah hati. Tapi jangan pernah takut jatuh cinta, walau jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri, sebab setiap kali patah hati membunuhmu sesungguhnya kamu telah membunuh dirimu yang lemah dan kalah untuk menjadi kuat dan pantang menyerah.
    Salam,
    @evitta_mf

    BalasHapus
  45. Rasa patah hati itu.. menyenangkan sekaligus membanggakan. Apalagi saat pertama kali merasakannya, jadinya kita tahu bagaimana rasanya


    @asysyifaahs

    BalasHapus
  46. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  47. Pengalaman patah hatinya masih sedikit sih, jadi cuma bisa menyimpulkan rasanya patah hati itu ya, sesek tanpa tahu bagian mana yang sebenernya sakit dan obat apa yang bisa ngeredainnya dengan cepet. Saya abis nonton drama 2 hari lalu, si tokoh scene-nya nyetir abis patah hati. Terus dia tiba-tiba berhentiin mobilnya, buka jendela, nangis sambil mukul-mukulin dadanya. Saya nangis nonton adegan itu karena jadi keingetin terakhir kali patah hati, "Iya, ya, rasanya emang semenyedihkan itu." Tapi saya bahagia lagi sekarang. Jadi menurut saya, rasanya patah hati itu sebenernya kayak belajar buat ujian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kamu males banget ngelewatin yang namanya belajar buat ujian, tapi mau gak mau harus ada satu waktu dalam hidup kamu untuk ngerjain ujian itu biar lulus mungkin. Kan mau gak mau harus belajar. Hidup gak mungkin seneng doang, mau gak mau ada waktu dimana kamu dibikin patah hati. Abis ngerasain patah hati, hatinya jadi terlatih dan belajar, mau gak mau kamu harus hidup dan cari obat biar sakitnya ilang.

    @deasyds

    BalasHapus
  48. Patah hati,

    Patah hati adalah tentang hati yang sakit atau terkhianati. Jujur saja, sampai saat ini ketika usiaku sudah menginjak kepala dua saya belum pernah merasakan patah hati terutama pada pasangan. Jangankan patah hati, menjalin hubungan dengan lawan jenis atau yang lebih dikenal dengan "pacaran" pun saya belum pernah. Ini memang aneh bagi sebagian orang, namun bagiku inilah cara terbaik, karena "aku takut patah hati setelah merasakan jatuh cinta yang begitu dalam". Takut kalau patah hati itu membuat diriku merasa terpuruk, tak punya semangat hidup, konsentrasi saat studi terganggu atau bahkan sampai putus atas seperti yang dikatakan bang Bara "Bunuh Diri".

    Saya sebagai seorang manusia biasa, walaupun belum pernah merasakan patah hati oleh pasangan, namun saya pun pernah merasakan patah hati oleh teman sendiri. Rasanya sungguh sakit sekali saat orang yang sudah kita anggap sebagai keluarga sendiri malah menusuk dari belakang, sedih, gelisah, gampang emosian, dll. Campur aduk deh rasanya, tapi dari hal itu saya jadi mengerti bahwa saya tidak boleh melakukan hal sama seperti dia baik itu kepada teman maupun orang lain, agar tidak ada hati yang tersakiti.

    Meskipun saya tak pernah tahu rasa patah hati pada pasangan, setidaknya saya bisa mengetahui dan ikut merasakan rasa sakit hatinya ketika membaca novel Bang Bara :)

    @yeyetnurhayati5

    BalasHapus
  49. Bagaiman rasanya patah hati?

    Bagi aku, gak ada rasa yang jelas untuk diungkapkan.. bahkan gak ada kiasan untuk rasa patah hati. Cukup pernah merasakan hasilnya.. dimana nafsu makan berturun dan hanya mengurung diri beberapa hari sampe bolos kuliah dengan hasil berat badan yang turun 3kg, lumayanlah buat aku yang kelebihan berat badan.. haha.. tapi meski begitu,, cukuplah untuk mengharapkan esok gak merasakan lagi patah hati...

    Dan kini... setelah 4 tahun dari pertama x patah hati itu, aku masih belum berani kembali jatuh cinta... bukan karena trauma patah hati, tapi lebih kepada mati rasa..

    Pernah beberapa x aku berusaha membuka hati...menerima pendekatan...dan proses lainnya tapi selalu berujung mati rasa.

    Entah sampai kapan seperti ini, jujur ini sungguh menakutkan.. lebih menakutkan dari patah hati itu sendiri... karena dengan mati rasa, aku seolah-olah menjadi orang jahat yang mematahkan harapan orang2 yang sempat aku beri kesempatan.

    Padahal aku sendiri tau rasanya dipatahkan itu seperti apa.
    Namun entahlah...
    Rasa itu selalu mati tiba-tiba.

    Dan belakangan ini ku yakini, semua itu bukan karena aku takut patah hati...
    Tapi karena...
    Aku sulit mengakhiri..
    Aku sulit melupakan..
    Aku terlalu sering dikecewakan...
    Dan aku terlalu bosan berjuang sendirian...
    karenanya aku tak berani memulai...

    Apakah pernyataan aku sama saja dengan "trauma"??
    Ahhh... apapun itu, entalah...aku enggan menyebutnya "trauma"....

    @wisher_miracle

    BalasHapus
  50. Bagaimana rasanya Patah hati?

    Aku baru mengalaminya bln oktober lalu. Rasanya masih tak percaya pisah sama seseorang yg masih kita syg. Entahlah jujur sampai saat ini masih blm menerima kenyataan. Ku kira di umur 23thn, Tuhan ga akan bikin umatnya yg satu ini galau, ternyata pikiranku salah.

    3 tahun bersama rasanya bukan waktu yg cepat untuk mudah melupakan sosok org tsb. Kenangannya banyak, suka dukanya juga banyak. Ke tempat ini inget, ke jalan ini inget, nyium bau parfum pun keinget, ya wajar namanya juga baru putus.

    Dia yg pernah menyelamatkanku dr pasir hisap. Iya aku dlu pernah terjebak dlm pasir hisap. Pasir hisap yg diciptakan masa laluku, hingga aku sulit keluar, dan akhirnya seseorang menyelamatkanku. Benar kata bara, "jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri". Dia yg menyelamatkanku, kini membunuhku kembali, bukan dengan pasir hisap, tapi dengan laut. Dulu, bagiku dia lautku, 3 tahun aku berenang dan menyelam, kini aku ditenggelamkan oleh laut yg pernah menyelamatkanku dr pasir hisap.

    @Ajengastika

    BalasHapus
  51. Patah hati? Bagaimana rasanya patah hati?

    Bagaimana rasanya seseorang yang selama ini kau kenal baik dan berbeda, yang kau tau dia mencintaimu, yang pada suatu hari kau diperkenalkan kepada kedua orang tuanya, yang selalu setiap pagi menyapamu dengan hangat, yang membicarakan masa depan dan teman hidup bersamamu. Tapi, tiba-tiba dia pergi dengan hanya berucap maaf dan akhirnya kamu tau bahwa sebentar lagi dia akan menikah dengan gadis lain?

    Aku merasa tidak berharga. Aku merasa tiba-tiba dunia menjauh. Aku sendirian. Hatiku patah, jiwaku hancur. Aku merasa sia-sia.

    Selama ini aku selalu berusaha mengerti dia dengan sibuknya, aku selalu membawa namanya dalam doaku. Aku selalu ada di saat ia lelah, aku jadi penyemangatnya. Tapi, apa yang ku dapat dari semua itu? Ketika semua harapan yang ku bangun bersamanya harus ku kubur dalam-dalam. Bahkan mungkin aku harus mengubur diriku sendiri bersama tumpukan sesal karena merasa bodoh karena mencintainya dan percaya padanya.

    Dan aku tahu. Aku teramat bodoh. Bodoh sekali aku bisa begitu saja pada mulut lelaki. Bodoh sekali aku tak sedikitpun menaruh curiga ketika ia mulai jarang menghubungiku. Bodoh sekali aku begitu membela dan membanggakannya ketika orang tuaku bertanya "kemana dia? sedang apa dia?"...

    Bagaimana rasanya ketika sekelilingmu pun mengamini kebodohanmu? Bagaimana sakitnya?

    Aku tak tahu lagi bagaimana bentuk hatiku saat itu. Aku tak percaya pada pria manapun sejak saat itu. Karena yang ku kenal baik saja bisa begitu brengsek, bagaimana dengan yang sudah ku kenal tidak setia?

    Aku mencoba untuk baik-baik saja. Aku tak ingin larut dalam kecewa. Usiaku tak mengijinkannya. Aku tak boleh trauma dan menutup diri. Meski setiap kali aku mencoba membuka hati, aku selalu takut kembali patah hati. Hingga perlahan aku memilih pergi, sebelum terluka lagi.

    Rasanya patah hati? Seperti menunggu mati.

    @saidahumaira

    BalasHapus
  52. Sudah berulang kali merasakan patah hati dan sekarang ditanyakan "bagaimana rasanya patah hati?"
    berulang kali patah hati, berulang kali pula aku mematahkan perasaan ku sendiri, menguburnya dalam dalam dan memberinya batu nisan bertuliskan "Masa Lalu". Rasa yang biasa ditimbulkan oleh patah hati adalah sakit, iya. S A K I T. Sakit yang tidak akan bisa dihapuskan dengan cara apapun, dan pastinya membekas sampai kapanpun. Dan memberikan kekecewaan pada pemberi patah hati. Ketika patah hati, sungguh di dalam hati ada yang tidak beres, ada sesuatu yang ganjal, ada sesuatu yang perlu dibenahi dan entah mengapa bisa seperti itu. Kadang aku mencoba memejamkan mata lalu membukanya, memastikan apakah hal ini benar terjadi. Ternyata memang hal itu terjadi pada diriku untuk kesekian kalinya. Terimakasih Tuhan atas patah hati yang telah Engkau berikan, karena patah hati adalah sesuatu yang diberikan Tuhan dalam perjalanan hidup setiap manusia untuk belajar dan belajar dalam memelihara perasaan. patah hati berulang kali, sekaligus belajar berulang kali. Dan kini, aku telah belajar banyak hal dari patah hati. Dan aku siap untuk segala resiko yang ada. Namun, saat ini serasa aku telah lama tak patah hati. Mungkin karena aku terlalu jaga diri terhadap sesuatu yang rentan kecewa pada tubuh ini. Hati.

    @agnessDVT

    BalasHapus
  53. Rasa patah hati seperti ruang hampa udara. Semuanya kosong. Makan. Minum. Melakukan aktivitas. Berjalan. Lari. Melompat. Otomatis seperti robot. Bernafas seperti tanpa menghirup oksigen.
    Perasaan seperti alien yang terhempas dari galaksi bintang yang lain … Terperangkap dalam dunia yang tak pasti, penuh dengan kenapa, mengapa, dan bagaimana bisa???
    Patah hati ibarat big hole-nya matahari. Ledakan rasa yang membuat hati yang tadinya hangat, tiba-tiba terasa dingin dan kecewa karena penurunan temperatur reaksi.
    Tapi, di balik patah hati, tersembunyi tunas harapan … suatu saat hati ini akan menemukanmu, my soulmate ..karena setelah merasakan patah hati yang luar biasa, tentu akan merasakan cinta yang luar biasa ^.^

    @siscacook

    BalasHapus
  54. patah hati rasanya : seperti terbang keatas langit dan tiba-tiba dihempaskan ke tanah, rasarasanya badan remuk semuanya.
    @ulysitorus

    BalasHapus
  55. Patah hati itu sakit, mematikan logika dan rasa.
    Titik puncak patah hati adalah ketika aku sadar bahwa dia, si penyebab patah hati adalah satu-satunya jalan keluar dan aku harus berjuang mengembalikan logika dan perasaanku yang hampir mati, sendiri.

    @meyrizkiaa

    BalasHapus
  56. Patah hati ?
    semua akan mengalaminya, entah itu saat ini atau suatu saat nanti.
    Cerita patah hati ini membuatku memutar kembali memori yang telah lama ku tutup, ku simpan, dan mungkin kini telah berkarat. Berkarat karena asamnya rasa patah hati itu sendiri.
    Awalnya ku kira hidupku sempurna, memiliki seseorang sebagai tempat berbagi. Dia yang selalu ada di sampingku, memberiku beberapa motivasi, merangkulku di saat aku tertatih, menggedongku di saat aku jatuh, dan mengobatiku di saat aku terluka. Manis ?? Memang, betapa sangat manis ku rasa saat itu lebih manis dari madu ataupun gula yang pernah ku cicip sebelumnya. Tapi sepertinya rasa manis itu memiliki masa Expired seperti halnya makanan yang sering ku jumpai. Rasa yang awalnya sangat manis dan nikmat berubah menjadi semacam racun, ras ayang sangat menyakitkan, menyiksa dan pahit hingga ingin ku muntahkan rasa itu.
    Betapa aku membencinyaa, dia yang ku anggap malaikatku ternyata memiliki sandara hati yang lainnya. Setelah selama ini ku anggap dia sebagai penopang hidupku ternyata dia hanya menganggapku sebagai pelampiasan, pelarian dan bangku kosong. Di saat dia lelah berjalan, di saat dia lelah dengan segala yang di jalaninyaa ia dapat duduk dan bersandar padaku. Dan dapat pergi setelah semua rasa lelahnya pudar?? Apa hanya sebatas itu anggapannya padaku ?
    Betapa bodohnya aku. Aku hanya sebuah bangku kosong, semua orang berhak datang dan pergi sesuka mereka. Aku lapuk, aku rapuh karena setiap saat diguyur hujan, dan di terpa teriknya matahari. Apa ada yang peduli padaku ?? Sayangnyaa tidak, bahkan dia yang ku pujapun tak lagi ingin bersadar pada bangku kosong yang rapuh ini.
    Begitu rapuhnya dan lapuknya aku, semakin berjalannya waktu akupun semakin lapuk dan.....akhirnya menghilang tanpa ada yang menganggapku lebih, walau hanya sedikit saja.
    Dan kini aku akan berusaha untuk menjadi bangku yang lebih kokoh dan lebih istimewa agar tak ada yang dapat menganggapku hanya sebuah "bangku kosong biasa". Mungkin butuh rasa sakit seperti racun untuk membuat dan menyadarkan kita tentang siapa kita, dan apa yang dapat kita lakukan.


    fb: rifah syarifah
    @rifahsyarifah
    ig rifah_albudiman

    BalasHapus
  57. Yaaa ampun kak Bimo! yang komentar banyak banget :") aku termasuk orang yang rutin ngunjungin blog kakak, biasanya komennya enggak sebanyak ini, mungkin karena diikutkan dalam event nya gagas media ya kak :D aku mau ikut komen tentang bukunya kak Bara tapi kayaknya sudah terlambat, deh. haha.

    btw, nice postingan kak. aku kirain tadi cerita pendek gitu, ternyata cerita yang berujung ke bukunya kak Bara :D Haha.

    BalasHapus
  58. rasanya sakit hati? kayak ditonjok oleh sebuah kebenaran dari omongan "kalu saja kamu mau menurunkan ekspetasimu,banyak hal menakjubkan akan terjadi dalam kehidupan"

    BalasHapus