Senin, 01 Juni 2015

[Review] Teka-Teki Terakhir - Annisa Ihsani


Teka-Teki Terakhir

Penulis            : Annisa Ihsani
Editor              : Ayu Yudha
Desain sampul    : EorG
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit             : Maret 2014
Tebal               : 256 hlm.
ISBN               : 978-602-03-0298-0
Blurb:
Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya..
*


Apa yang kalian pikirkan pertama kali ketika mendengar genre teenlit? Sang kapten basket sempurna, pertarungan antar geng, atau si cantik yang berubah jadi buruk rupa? Belum lagi adegan percintaan yang khas banget remaja, persahabatan, musuhan, prince charming. Gimana kalau teenlit dimasukkan dengan kata matematika? 

Satu hal yang terlintas di pikiranku ketika mendengar hal itu adalah: menarik. Maksudku, berapa banyak sih teenlit Indonesia--apalagi terbitan GPU, yang mengusung tema seperti ini? :D

Berserita tentang Laura Welman, cewek berumur 12 tahun yang memiliki nilai matematika yang jelek. Ia sedari kecil sangat tertarik dengan sebuah rumah tua yang menjadi tetangganya. Penghuni rumah itu sangat jarang keluar rumah, Laura dan kakaknya pikir, penghuni yang tinggal di rumah itu adalah sepasang suami istri penyihir. Dan itu selalu ada di kepala Laura hingga pada suatu hari, sebuah kejadian membuatnya menyusuri lebih dalam rumah itu dan segala kisah, relasi, dan matematika di sana.

Kukira awalnya novel ini adalah novel terjemahan. Maksudku, penuturan yang dipakai penulisnya sangat menyerupai novel terjemahan. Belum lagi setting yang dipakai pun bukan di Indonesia. Hal inilah yang membuatku merasa takjub. :o

'Misteri' yang digelontorkan di novel ini sangat lembut sehingga kita nggak terasa saat membacanya. Pertanyaan-pertanyaan yang hadir di awal pun dijawab seiring semakin seringnya Laura masuk ke dalam rumah itu. Belum lagi banyak kejutan-kejutan kecil yang membuat bukunya nggak terkesan datar.

Yang paling aku suka tentu adalah matematikanya. Nggak ribet dan sangat mudah dimengerti. Mengingatkan kembali akan masa SD yang lagi suka-sukanya matematika. *haru*. Penjelasannya pun nggak terkesan menggurui. Dan terlebih, banyak pengetahuan baru yang aku dapatkan.

Intinya, Teka-teki Terakhir menurutku cocok untuk kalian yang pengin baca karya penulis lokal dengan cita rasa terjemahan Belum lagi idenya menarik dan cocok untuk anak sekolahan. ^^
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: