[BlogTour] When The Star Falls - Andry Setiawan



Halo, semua! Lagi pada sibuk siapin liburan? Atau malah masih diam saja di rumah? Hehe.
Kali ini, aku akan melanjutkan Blog Tour #When TheStarFalls karya kak Andry Setiawan! Yuhuu! Dan seperti yang host-host lainnya bilang, blog tour kali ini berbeda. Jadi, kak Andry Setiawan akan membajak satu laman blog ini dan menulis sesuai tema yang aku minta! Seru nggak? Selain itu juga, kak Andry akan menjawab semua pertanyaan kalian yang ada di kolom komentar. Satu penanya terbaik tentunya akan mendapat hadiah satu buah buku! Lumayan buat bacaan tahun baru, kan? ^^
Psst... Harap simak, ya, karena temanya adalah Tips dan Trik Menulis Sick-Lit. :p 
Nggak usah berlama-lama lagi, mari kita sambut kak Andry Setiawan! ^^ 

***

Hai teman-teman semua! Apa kabar?

Sebelumnya, terima kasih untuk Bimo karena sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk menjadi guest writer di blognya ini! Semoga apa yang saya tulis ini bisa berguna bagi teman-teman semua.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang tips dan trik untuk menulis Sick-Lit. Terutama, apa saja yang saya perhatikan saat saya menulis When the Star Falls. Saya juga akan memberikan sedikit referensi tentang buku yang lain.

Nah, yuk kita mulai saja.

1. Riset yang lengkap

Yang pertama, kamu harus bisa membangun suasana dalam novel yang sedang kamu tulis. Untuk membangun suasana yang utuh dan solid, riset menjadi senjata utama kamu dalam menulis. Selain lokasi, pekerjaan para tokoh, kamu juga harus mencari tahu tentang penyakit itu sendiri.

Misalnya, kamu tidak bisa menulis sembarangan tentang operasi pengangkatan tumor otak dengan menulis: ‘Kepala Lynn dibebat perban sampai tidak kelihatan wajahnya’. Karena pada kenyataannya, operasi tumor otak di lobus temporalis hanya membutuhkan sayatan di kepala bagian kiri, tepat di atas telinga.

2. Karakter tokoh utama yang lovable.

Si sakit harus menjadi orang yang bisa disukai oleh siapa saja. Biasanya, tokoh-tokoh utama dalam Sick-Lit adalah orang-orang yang mau berjuang bertahan hidup. Misalnya Amelia Collins dalam People Like Us, dia tidak menghentikan cita-citanya sebagai penulis meskipun dia sakit. Dia malah mau mengajari Ben untuk menjadi penulis. Dan kita tidak bisa tidak menyukai sifatnya yang ceria seolah dia sedang tidak sakit.

Dalam When The Star Falls, Lynn sebagai si sakit juga selalu optimis menghadapi hidup, bahkan dia begitu senang saat bisa pulang, dan sudah merencanakan sebuah pesta kecil untuk merayakannya.

Nah, bisa saja di awal kamu ingin menulis tokoh utama kamu grumpy, pengeluh dan nyebelin. Itu pun tidak apa-apa, asal di akhir cerita, karakter kamu harus berkembang mengalahkan sifatnya tersebut. 

3. Ending yang memorable

Biasanya ending Sick-Lit mudah banget untuk tertebak. Karena itu, kamu harus bisa menyediakan ending yang bisa diingat oleh pembaca.

Misalnya, di The Fault in Our Stars, John Green menyajikan sebuah twist kecil di akhir cerita. Di When The Star Falls, saya juga menyajikan sebuah twist kecil. Tapi tidak selamanya tokoh utama Sick-Lit meninggal. Dalam I For You, Orizuka membiarkan sang tokoh utama hidup dengan penyakitnya, dan menjadikan dua sejoli tak terpisahkan, malah karena penyakit itu.

4. Tokoh yang manusia

Tidak ada manusia yang sempurna. Demikian pula tokohmu. Kamu mungkin tergoda untuk membuat sesosok tokoh yang sempurna; cowok tinggi berbadan tegap, perhatian pada pasangannya, baik hati dan tidak sombong, kaya dan keren. Tapi, pembaca tidak ingin membaca kisah seorang dewa. Pembaca ingin membaca kisah seorang manusia biasa yang bisa mereka pahami emosinya.

Untuk menciptakan tokoh yang manusia, kamu harus memikirkan satu atau dua kelemahan tokoh tersebut. Untuk menciptakan kelemahan tersebut, kamu juga harus memikirkan latar belakang tokoh itu.

Misalnya, Sam di When The Star Falls begitu minder dan gampang terpengaruh, karena dia ditinggal ayahnya dan dia merasa tidak aman sejak ditinggal sang ayah. Dia merasa marah, dan tidak bisa memaafkan tindakan ayahnya itu.

Empat hal itulah yang selama menulis When the Star Falls saya perhatikan baik-baik. Saya harap When the Star Falls memberikan kesan yang dalam bagi teman-teman yang membacanya. Bagi yang belum, ditunggu nih komentarnya.

Buat teman-teman yang ingin mencoba menulis Sick-Lit, semoga artikel ini bisa berguna. Akhir kata, terima kasih lagi untuk Bimo yang sudah memberikan kesempatan pada saya. Kalau ada kata-kata yang sekiranya tidak berkenan, saya mohon maaf ya, dan sampai jumpa di lain kesempatan.
***

WAH! Tips yang sangat berguna sekali kan bagi kalian yang pengin menulis cerita bergenre Sick-Lit? :D Dan semakin penasaran kan baca buku When The Star Falls? 
Kalau begitu... sekarang saatnya:
GIVEAWAY TIME!!!

Ada satu buku When The Star Falls dari kak Andry Setiawan dan Penerbit Haru buat kamu. Caranya mudah kok. Lihat langkah di bawah ini:

1. Follow @Penerbitharu dan @Konstantin0609 di Twitter.
2. Share info Blogtour ini di twitter dengan mention @bimorafandha (tidak wajib follow)
3. Follow blog ini via GFC atau email.
4. Ada yang kurang jelas mengenai tips dan trik menulis Sicklit? Ajukan pertanyaan kamu tentang tema artikel di blog tour ini melalui kolom komentar ke kak Andry Setiawan. Psst... Beliau nanti akan langsung menjawab pertanyaan kamu, loh! ^^
5. Giveaway berlangsung sampai tanggal 31 Desember 2015! Pas akhir tahun! ^^

6. Pemenang akan diumumkan pada Minggu, 2 Januari 2016.

Ajukan pertanyaan kalian dengan mencantumkan Nama dan Nama Akun Twitter kalian. Pertanyaan terbaik menurutku akan mendapatkan satu buku When The Star Falls karya kak Andry Setiawan.

Ayo... Ajukan pertanyaanmu, belajar, dan menangkan hadiahnya bersama When The Star Falls! ^^

42 komentar:

  1. Ten | @ten_alten

    Halo Kak Andry, Kak Bimo~ semangat pagiii! ^^/
    aku nggak pinter basa-basi gitu, jadi langsungke pertanyaan aja yak.. :D

    ehem... *nelen dondong dulu*
    1. untuk ending Sick-Lit, kan endingnya yang memorable, haruskah menggunakan close ending atau bisa juga menggunakan open ending?
    2. apakah menggunakan alur tertentu akan berpengaruh pada ke-Sick-Lit-an cerita?
    3. gimana pendapat Kak Andry tentang mematikan tokoh utama cerita dalam Sick-Lit?
    4. mengapa Kak Andry memilih menjadikan novel When The Star Falls sebagai Sick-Lit? kenapa nggak Chick-Lit yang lagi booming sekarang, atau Teen-Lit yang emang dicocokin untuk remaja?

    udah cuma itu aja Kak, maaf kalau absurd, buntu nih.. hehe
    terima kasih~ ^^/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ten,

      1. Terserah penulis.
      2. Maksudnya alur tertentu bagaimana ya? Ini pun aku rasa terserah penulis. WTSF cenderung maju-mundur alurnya. TFIOS alurnya maju terus. Jadi, terserah penulis.
      3. Terserah penulis juga. haha. Tidak harus mati kok tokoh utamanya. Misalnya I for You karya Orizuka, tokoh yang sakit sehat walafiat sampai akhir cerita.
      4. Karena tokoh utamanya udah sakit... jadi ya otomatis Sick-Lit. Haha.


      Salam,
      Andry

      Hapus
  2. Cahya Widyastutik. | @cahyawid

    Jujur aku baru tahu ada genre sick-lit, dan sepertinya bakalan suka karna aku doyan novel yang nyebabin nangis bombay gt. *halah

    Oia ada beberapa pertanyaan buat bang Andry :
    1. Apa ending sick-lit harus ada salah satu yang meninggal?
    2. Bagaimana menyampaikan pesan cerita yang ingin disampaikan kepada pembaca secara 'kasat mata'?
    3. Pernah ada suatu keraguan dengan hasil riset yang dikumpulkan? Biasanya riset minim didapat dari berapa sumber sih bang?
    4. Apakah beda pendeskripsian setting cerita dan tokoh dalam sicklit dengan genre lain? Semisal beda, beda dari segi mananya?

    Terima kasih sebelumnya bang Andry dan bang Bimo. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Cahya,

      1. Tidak harus.
      2. Pembaca selalu memiliki pikiran mereka masing-masing. Satu cerita yang sama selalu bisa ditarik kesimpulan yang berbeda oleh pembaca yang berbeda. Menurutku kamu tidak perlu fokus banget pada apa yang ingin kamu sampaikan, tapi menulislah apa yang ingin kamu tulis.
      3. Aku lebih suka membaca blog orang-orang yang mengalami hal yang mirip dengan tokoh utamaku. Jadi, sudah pasti ada benarnya, karena itu adalah kenyataan yang memang sudah terjadi. Biasanya 2-3 blog yang aku baca, juga 1-2 artikel ilmiah. Bisa lebih.
      4. Tidak ada perbedaan. Tergantung gaya bahasa kamu dan suasana yang ingin dibangun sang penulis. Sick-Lit juga bisa ceria, misalnya TFIOS yang menurutku ceria, meskipun temanya berat.

      Hapus
  3. Nama: Kiki Suarni
    Twitter: @Kimol12

    Wah, ketemu lagi sama Kak Andry. Aku suka bgt samap tipsnya Kak. Aku pernah buat cerpen yang bertema Sick-Lit kayak gini. Emang bener, riset adalah modal utama. Karena informasi tantang suatu penyakit itu bersifat pasti yang bisa dicari dan ditanyakan sama ahlinya. So, gak bisa asal-asalan. Walaupun cerpen, tapi risetnya tetep bikin pusing juga, ampe ada rasa stuck waktu itu, hehhe...ngeles karna males riset :D

    Yang aku mau tanyain, aku tuh lumayan kesulitan tentang POV. Kalo nulis tema Sick-Lit kayak gini, enaknya pake POV apa ya Kak? POV 1 atau POV 3?
    Selama ini aku nulis pakai POV 1 terutama untuk cerpen Sick-Lit waktu itu rasanya bener-bener ngerasain jadi tokoh utama. Tapi jadinya, tokoh lain kurang ke explore. Nah, kalo POV 3 biasanyakan balance tuh, gimana caranya sih Kak supaya semuah tokoh cerita tereksplor dengan baik. Karakternya bisa dipahami pembaca tapi tetep yang utama adalah tokoh si sakitnya itu. Jujur, aku agak kesulitan dalam soal sudut pandang ini.

    Terima kasih

    BalasHapus
  4. Hai Kiki,

    Wah, kalau itu aku hanya bisa bilang terserah penulis. Masing-masing POV punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, perbanyak baca buku dan tentukan POV-mu. Alur seperti apa yang kamu inginkan, ingin eksplore yang mana.

    Aku menggunakan POV 1 di naskah WTSF karena aku ingin membuat tokoh Lynn terlihat sempurna di mata sang tokoh utama, juga karena aku ingin menggiring ke twist di akhir cerita. Twistnya tidak akan bisa jalan kalau POV 3.

    Jadi, pikirkan baik-baik apa yang ingin kamu eksplore dan kebutuhan alur ceritamu.

    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  5. Ayu andira|@ayu.andira289

    Hallo kak Bimo, auranya ceria dan semangat banget nih ^_^ succes for you and happy holiday yah...

    Hallo kak Andry, terima kasih tipsnya sangat detail, padat dan jelas. Kalo kata Pak Mario, Superrr sekalii.... :D
    Tapi ada pertanyaan yang mengganjal di hatiku nih kak...
    - Yang pertama, kata kakak dalam artikel di atas kita harus bisa menghidupkan emosi tokoh sick-lit seperti manusia pada umumnya. Nah, bagaimana sih kak cara mendalami karakter tokoh tsb. supaya kita dapat bersatu dan merasakan emosi si tokoh, sementara karakter kita sendiri jauh berbeda dengan tokoh yang ingin kita ciptakan. Bagaimana cara kita menjadi pribadi yang berbeda?
    Sehingga menghasilkan feel yang kuat. Mohon tipsnya kak ^_^
    - Yang kedua, bolehkah kakak berbagi sedikit tentang Motto dan motivasi kakak dalam menulis? Mungkin ada kisah kecil dalam perjalanan menulis kakak yang menginspirasi saya untuk lebih semangat dalam meraih mimpi.
    - Yang ketiga, semoga kakak semakin sukses dalam karya novel-novel berikutnya. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya. ^_^ Bila pertanyaan saya kurang berkenan mohon dimaafkan.

    Salam literasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ayu,

      1. Aku sering mengamati orang di sekelilingku, dan sering aku menggunakan beberapa karakter mereka dalam cerita. Kemudian aku juga memikirkan sebab-akibat sifat-sifat mereka, karena tidak mungkin seseorang merasa minder tanpa sebab. Jadi aku harus memikirkan latar belakang mereka juga dan menghidupkannya dalam cerita.

      2. "Do the Best or Nothing" adalah motto yang sering aku ulangi di kepala. Yang mendorongku terus menulis... karena menulis adalah hobiku yang mungkin juga sudah menjadi passionku juga. Terus, bertukar informasi dengan teman-teman penulis juga menjadi doronganku untuk terus menulis.

      3. Terima kasih.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Thanks buat jawaban dan motivasinya kk.
      Kakak keren (y)

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Perbaiki: Nama: Ayu andira
      Twitter: @ayu_andirhaa

      Hapus
    5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  7. Nama: Firdha Amelia
    Akun twitter: @Firdhamelia_
    Satu pertanyaan aja deh untuk kak Andry. Selain riset, ada hal lain ga yang mendukung pembuatan novel ini sehingga jalan ceritanya (banyak yang bilang) sedih dan terasa nyata? Lagu, misalnya. Kalau ada, sebutin dong, kak. Hehe(≧▽≦)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Firdha,

      1. Dedikasi. Aku berusaha menulis naskah ini di pagi hari agar moodku terjaga.

      2. Musik. Aku membuat playlist khusus untuk WTSF.
      https://www.youtube.com/playlist?list=PLvYNXtb_iqq2QFhYe6Z6hB3wJ2nVwHE64

      3. Setiap karakter yang ada di naskah ini tidak ada yang sempurna, kecuali Lynn yang notabene terlihat dari sudut pandang Sam yang memang menyanjung Lynn.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  8. Nandia A | @Nandia__A

    Malam kak Bimo dan kak Andry..😄
    Salam kenal saja ya untuk kakak2..

    Langsung saja ya pertanyaannya untuk kak Andry..
    1. Terus terang saya baru kali ini tahu tentang genre Sick-Lite. Nah, apa yang bikin kak Andry memilih genre ini? Apa kan Andry terinspirasi oleh seseorang atau sesuatu hingga muncullah ide untuk menulis WTSF?
    2. Berapa lama sih kak Andry menulis WTSF ini? Ada gak kesulitan yang kakak temui selama menulis, kalau ada apa?
    3. Dari artikel kakak di atas ada point dimana disebutkan tokoh utama lovable-mudah dicintai. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara kita sebagai penulis menciptakan tokoh yang karakternya kuat dan menonjol dalam cerita. Seperti karakter utama cerita kakak misalnya. Terkadang dalam suatu cerita, justru tokoh pendampingnya soalnya yg lebih menonjol.

    Sepertinya itu dulu kak, maaf kalau pertanyaan saya kurang bermutu.hehe..
    Terima kasih ya untuk kak Andry dan juga Kak Bimo yang sudah mau mengadakan GA ini. Sukses selalu untuk kalian berdua.. 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nandia,

      1. Ide naskah ini muncul setelah aku membaca novel karya Ichikawa Takuji dan menonton beberapa drama Sick-Lit.

      2. Jika dihitung dari munculnya ide, 8 tahun. Jika dihitung dari revisi, sekitar 6 bulan.

      3. Pertanyaan ini sudah ditanyakan di atas. Karakter yang kuat adalah karakter yang terlihat nyata dan manusiawi. Aku copy-paste di bawah ini ya.

      Aku sering mengamati orang di sekelilingku, dan sering aku menggunakan beberapa karakter mereka dalam cerita. Kemudian aku juga memikirkan sebab-akibat sifat-sifat mereka, karena tidak mungkin seseorang merasa minder tanpa sebab. Jadi aku harus memikirkan latar belakang mereka juga dan menghidupkannya dalam cerita.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. wah.. makasih kak jawabannya, sudah lebih banyak mendapat gambaran baru sekarang..
      sukses selalu buar kak Andry..

      Hapus
  9. Nama: kirana anindya
    Twitter: @kikianindya

    Pertanyaan:
    -gimana cara membuat plot twist yang bagus tapi tidak terkesan memaksa dan membingungkan?
    -kalau saya ingin mengambil latarnya luar negeri, misal italia, apakah dialog tokoh utama (orang indonesia) saat berbicara dengan orang itali harus memakai bahasa itali atau diganti bahasa indonesia saja?

    Oke mau nanya itu aja untuk saat ini makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Kirana,

      1. berikan petunjuk yang jelas tapi tersembunyi di berbagai tempat sebelum twist.
      2. terserah penulis. Harus bisa mengimbangi, kalau tidak naskah akan penuh dengan catatan kaki.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  10. Naning Pratiwi
    @chelseas_lovers

    Halo kak.. Ini baru pertama baca tips genre Sick Lit.
    Mau tanya nih :

    1. Sick Lit itu yang kayak gimana sih?? Apa memang tokoh utamanya sakit-sakitan??
    2. Terus, kalau biasanya di cerit-cerita tokoh utamanya selalu perfect (meski nggak 100% sempurna), di Sick Lit apakah harus dibuat tidak seperti itu? Seperti Sam di When The Star Falls begitu minder dan gampang terpengaruh.
    3. Ada nggak penulis Sick Lit yang kakak sukai? Atau setidaknya menginspirasi kakak untuk nulis ini?
    4. Terus, cerita ini dapet ide dari mana??

    Terimakasih :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Naning,

      1. Iya, karena namanya sudah Sick-Lit.
      2. Terserah penulis, bagaimana mau membawa ceritanya.
      3. Ichikawa Takuji, John Green
      4. Youtube, dengar musik, dorama di TV

      Salam,
      Andry

      Hapus
  11. Nama : Nur Eka Kumalasari
    Twitter : @akerun97

    Sebenernya aku suka bikin cerpen dan beberapa cerpen itu tokoh utamanya meninggal, entah kenapa lebih greget aja.

    1. Ka aku mau tanya misalnya kalo ibu dari tokoh utama itu jahat gak mau ngakuin dia sebagai anaknya terus dia punya kanker mata jadi harus diangkat kedua matanya, nah terus tokoh utamanya itu bunuh diri buat donorin matanya keibunya karena kan kita gak bisa donor mata kalau kita belum meninggal. Itu termasuk genre sick-lit apa bukan kan?

    2. Agar kita konsisten akan cerita yang kita tulis dan gak melenceng ke yang lain-lain tipsnya apa ya ka?

    3. Terus buat menumbuhkan ide-ide dalam tulisan kita gitu gimana ya ka? Aku suka nulis cerpen tapi terkadang ide didalam pikiran aku mentok gak bisa mikir lagi, alhasil cerpen itu cuma jadi setengah dan buat cerita lagi hasilnya juga begitu:-(

    4. Cara untuk membuat cerita sick-lit yang endingnya gak bisa diperkirakan oleh pembaca dan selalu bikin greget, gak ngebosenin, selalu menyimpan rahasia disetiap bab-nya agar pembaca selalu menebak-nebak dan cerita sick-lit yang tanpa belas kasih dari tokoh lain itu gimana ka?

    5. Ada tips dan trik rahasia dari kaka yang belum ditulis di artikel ini gak?

    Terima Kasih :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nur,

      1. Sick-Lit.
      2. Buat kerangka karangan dan patuh pada kerangka yang sudah kamu buat.
      3. Untuk mengatasi mentok, ya kamu harus bikin kerangka karangan. Kerangka akan membantu kamu untuk mengatur ide-ide dari awal sampai akhir. Kalau jalan cerita sudah ada dari awal sampai akhir, tidak akan ada alasan lagi untuk mentok ide.
      4. Itu pintar-pintarnya penulis untuk meramu ceritanya. Saranku, kamu harus banyak baca. Baca di sini, bukan sebagai pembaca, tapi sebagai seorang penulis. Kamu harus bertanya-tanya di setiap babnya, kenapa kok begini? kenapa tokohnya bertingkah begini? Kenapa alurnya harus begini, kenapa enggak begitu?
      5. Tidak ada. Haha. Sudah aku bagi semua rahasianya.

      Salam,
      Andry

      Hapus
    2. Nama:kirana anindya
      Twitter: @kikianindya
      Nanya lagi ya kak, hehe

      Kalau sudah melakukan riset tentang latar yang kita pilih melalui internet, bagaimana caranya agar pembaca seolah olah percaya kalau kita benar benar sudah pergi ke negara tersebut? Supaya nuansa negara tersebut dapet gitu di cerita kita..

      Oke makasih

      Hapus
  12. Nama :Nina denisa aryani
    Nama twiiter : Ninadenisa12
    Q mw nanya knp dlm sick-lit dibuat pemain tokoh utamanya tuh selalu berjuang dan g pernah nyerah tp tiba2 dipertengahan ceritanya tuh dya down dan mw menyerah
    Tapi dya selalu ingat sosok lelaki yg buat dya semangat dan orang yg ia sayang????dan jngn buat tokoh utamanya meninggal karna ap udah bnyk cerita yg seperti tu buat dya ttp hidup krna semangatnya ka

    Dan suasananya alur pertamanya diluar rumah skt?jdi jngn dlm rumah sakit trs ka

    Dan buat juga ka tentang kisah hidup orang yg disekeliling nya jdi saat dibaca bkn berdebar
    1 lagi kak jngn lupa bkn pembacanya tuh baper anak jaman skrg suka yg baper2 nah kan ada perna lelakinya bis aruh bikin baper lahhhh

    Pokonya ide2 yg tak terduga jdi yg baca nya ga boring ketagihan dan membuat kesan ada maknanya jngn lupa peran utamany tu selalu berdoa sama tuhan atas kesembuhannya dan agar bisa memliki kesempatan hidup yg bahagia walaupum am tuhan dksh cobaan berat kaya di flim yongpal joo won sllu ngajak cewenya ke gereja dan berdoa ga pernah lupa tuhan


    Itu aja ka pertanyaan q ya ada sedikit saran hehe good luck kaka😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nina,

      Terima kasih saran-sarannya.
      Semoga sukses selalu.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  13. Nama : David Rohadi
    Twitter : @fuwafuwazone

    Pertanyaan:
    1. Saya pernah menyaksikan sebuah film bertema Sic-Lit, dalam film tsb karakter utamanya meninggal di akhir cerita. Secara pribadi saya tidak menyukai akhir cerita seperti itu. Tapi anehnya, saya menyukai keseluruhan ceritanya, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa keseluruhan film luar biasa bagus.
    Bagaimana bisa seperti itu kak?

    2. Saya adalah seorang calon penulis yang sedang belajar menulis, dan saya selalu tertarik dengan tips menulis secara umum dari penulis2 yang berbeda, karena jika ditanya soal tips menulis, jawaban mereka bisa berbeda-beda, bisa juga sama.
    Kalau tips menulisa dari Kak Andry bagaimana ?


    David Rohadi.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai David,

      1. Cerita itu tidak dinilai dari akhirnya, tapi dari keseluruhan baik itu awal, klimaks konfllik dan endingnya. Jadi, yang membuat kamu terkesan bukan hanya akhirnya saja.

      2. Sudah saya bahas di artikel ini. DIbaca ya. ^^

      Salam,
      Andry

      Hapus
  14. Nama : Aulia Resky
    Akun Twitter : @AuliaaRez

    Kak Andry makasih banyak atas tipsnya:) dan untuk kak Bimo, makasih udah ngasih kesempatan aku untuk bertanya ke kak Andry^^ aku punya beberapa pertanyaan nih kak.

    Jadi gini kak, kenapa kakak mengambil genre sick-lit untuk novel ini? Apalagi mengenai tumor otak? Kenapa ga penyakit lain gitu kak?

    Terus kan ada quotes 'Cerita terbaik merupakan cerita yang berasal dari pengalaman'

    Nah apakah di novel ini ada adegan yaa mungkin berasal dari pengalaman pribadi kakak? Terus karakter setiap tokoh yang ada di dalam novel itu, apakah ada sosok yang benar-benar ada di dunia nyata? Atau bahkan ada karakter yang kakak miliki dan di tuangkan di dalam novel ini? Sehingga novel ini seakan lebih hidup. Mungkin selain riset bisa juga gitu kak dari pengalaman pribadi hehe^^ sekian, arigatou gozaimasu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ahmad,

      1. Premis utama naskah ini adalah seorang gadis yang melupakan kekasihnya. Untuk membangun premis itu, alat yang tepat adalah tumor otak. Nggak mungkin kan leukimia menyebabkan amnesia selektif?

      2. Tentu saja ada beberapa scene yang aku adaptasi dari kisah nyata. Untuk karakter, aku suka mengamati orang-orang di sekelilingku untuk menciptakannya, jadi mungkin ada beberapa yang familier dengan sifat-sifat mereka.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  15. Nama : Anisa Dwi Oktariani
    Twitter : @Ichaokt

    Halo kak Andry, makasih banyak ya tipsnya dan untuk kak Bimo makasih juga udah ngadain GA ini :) tapi habis baca tips dari kak Andry, ada beberapa yang membuat saya masih bingung. Jadi langsung aja ya pertanyaannya.

    1. Di poin kedua, kakak mengatakan bahwa di akhir cerita karakter kita
    harus berkembang mengalahkan sifatnya. Nah, yang ingin saya tanyakan
    bagaimana melakukan hal tersebut? Jujur saja, setiap kali saya membaca
    artikel yang membahas tips menulis, pasti dibahas tentang 'perkembangan
    karakter' dan setiap kali saya mencoba mengimplementasikannya, saya
    selalu merasa kesulitan.

    2. Apakakah untuk membuat ending yang memorable itu harus disertai
    dengan adanya twist kecil? Dan bagaimana agar twist kecil itu tidak
    terkesan memaksa dan merusak cerita yang telah dibuat?

    3. Saya minta saran dari kakak ketika sudah punya ide untuk menulis dan
    tinggal menuangkannya saja dalam bentuk tulisan. Saya sering kali
    mengalami kesulitan saat hendak menuliskannya padahal ide cerita
    sudah ada di kepala. Bagaimana cara kakak mengatasi hal tersebut?


    Itulah daftar pertanyaan yang ingin saya ajukan. Barangkali tips dari
    kakak sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih ^^

    BalasHapus
  16. Hai Anisa,

    1. Kamu harus memikirkan apa sifat buruk karaktermu. Kemudian di akhir cerita, sifat buruk itu harus hilang. Prosesnya? Ya di tengah-tengah cerita apa saja yang terjadi hingga sang tokoh bisa menghilangkan sifatnya itu. Itulah yang harus kamu pikirkan.

    2. Tidak harus ada twist kecil kok. Perkembangan tokoh juga bisa menjadikan cerita tersebut memorable.

    3. Tergantung kesulitanmu apa. Aku tidak bisa memberi saran untuk ini. Kamu harus mengetahui apa kesulitanmu dulu, baru kamu mencari solusinya. Tanpa tahu apa masalahnya, kamu tidak akan bisa mencari solusinya, ibarat kamu nggak tahu ke mana harus menggiring bola, karena tidak ada gawangnya.


    Salam,
    Andry

    BalasHapus
  17. Nama: Didi Syaputra
    Twitter: @DiddySyaputra

    Salam kenal Mas Andry. Jumpa lagi nih. Hihi XD. Kali ini di ranah blog berbeda. Semoga gak bosen meladeni pertanyaan absurd Saya dan kadang rada gak nyambung. Maklum saja Mas, masih terlalu awam di literasi.

    Oke. Sederhana saja. Yang ingin Saya tanyakan. Jika yang sakit bukan tokoh utama. Akan tetapi, terkait erat dengan kehidupan yang dijalani tokoh utama. Apakah masih bisa dikatakan bergenre sick-lit, Mas? Kemudian mengenai When The Star Falls, sebenarnya apa kaitan antara genre sick-lit dengan pilihan cover When The Star Falls? Dan bisa dijelaskan filosofi yang terdapat di dalamnya?

    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Didi,

      1. Erm... mungkin tidak bisa disebut sick-lit, karena biasanya sick-lit lebih membahas si tokoh utamanya.

      2. Mengenai cover... wah, cover ini spoiler banget isi cerita, jadi mending kamu baca bukunya deh. Baru setelah itu kamu akan mengerti apa filosofi covernya. Haha.

      Andry

      Hapus
  18. Nama: Aulia
    Twitter: @nunaalia

    Pertanyaan untuk Kak Andry Setiawan :
    Bagaimana cara membuat ending cerita yang sedih tapi bisa membuat pembaca tetap puas. Karena lumayan masih banyak pembaca yang tidak suka cerita yang sad ending, termasuk aku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Aulia,

      Menurutku perkembangan karakter yang memegang peranan penting di sad ending. Misalnya di Sunshine Becomes You, Alex jadi orang yang hangat dan peduli dengan orang lain, dan itu sudah cukup membuat orang merasa Alex akan bisa melanjutkan hidupnya walaupun ... (sudah baca SBY belum ya? takut spoiler nih)

      Salam,
      Andry

      Hapus
  19. Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/682446677060407296

    Sebelumnya terima kasih banyak untuk tips nya yang sangat membantu kak. Kak Andry menuturkankannya dengan detail sekali dengan kalimat yang mudah dimengerti, jadi akunya selaku pembaca bisa cepat nangkap... *emang bola ndah* :D Tapi satu yang aku masih bingung kak, dibagian point 1 yang tentang membangun suasana yang utuh dan solid. Nah, pertanyaan aku nih kak, maksud suasana yang utuh dan solid itu yang gimana ya kak Andry...??? Bisa tolong dijabarkan atau sedikit diberi gambaran...??? karena aku benar-benar gak punya gambaran seperti apa suasana yang utuh dan solid itu... :D

    Sukses terus untuk novelnya dan Terima kasih banyak untuk waktunya ya kak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Nova,

      Maksudnya, konsistensi dan ketepatan dengan kenyataannya. Misalnya, operasi pengangkatan tumor Lynn. Dulu aku kira pengangkatan tumor otak harus menyayat keseluruhan kepala, tapi ternyata tidak.

      Misalnya lagi, pekerjaan Sam di kantor simpan pinjam. Kalau aku tidak melakukan riset tentang alur kerja kantor simpan pinjam, aku tidak mungkin bisa menulis keseharian Sam secara meyakinkan.

      Kira-kira seperti itu.

      Salam,
      Andry

      Hapus
  20. Rina Eko Wati | @HikariMio

    Aku udah baca People Like Us. Uhmm..ceritanya menyentuh banget, dan ya, tema sick-lit ini kayaknya mudah ditebak karena dalam People Like Us-pun saya tahu bakal kemana arah cerita itu. Jadi kak Andry kasih twist kecil di kisah Lynn ini ya, penasaran pengen baca buku-nya deh. Ngomong-ngomong, aku mau tanya nih kak, sebenarnya apa tantangan terbesar waktu nulis tema sick-lit ini? Yang kedua, susah nggak sih kak menentukan sebuah ending itu? Karena kita tahu kan biasanya ending itu menentukan bagus tidaknya sebuah cerita dan kadang sedikit membebani seorang penulis. Makasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rina,

      1. Tantangan sick-lit adalah riset tentang penyakitnya, juga bagaimana cara mengemas cerita yang para pembaca tahu akan dibawa ke mana ceritanya menjadi lebih menarik. When the Star Falls adalah novel yang lebih ke character-driven, jadi kuat di karakternya. Aku sendiri berharap pembaca lebih menikmati perkembangan karakternya dan latar belakang para karakter dibanding alur cerita itu sendiri.

      2. Kalau aku, aku harus tahu dulu ending ceritaku seperti apa. Jika tidak, aku sendiri selalu keteteran waktu menulis. Aku juga akan menulis artikel tentang ending di rangkaian blog tour ini. Jadi, ditunggu ya.

      Salam,
      Andry

      Hapus