Jumat, 15 April 2016

[Cerpen] Pluviophile

Gambar diambil dari sini

¯When I feel has come and gone before / No need totalk it out / we know what it’s all about ¯
Rainy Days and Mondays – The Carpenters

   “Kenapa kadar bahagia tiap orang itu beda-beda?”
   “Mungkin karena tiap orang punya batasan tentang kebahagiaan sendiri-sendiri?”[1]
   Kami saling melempar pertanyaan secara bergantian. Sedari tadi, kami masih tetap bertahan pada keadaan yang sama: duduk berdua di beranda sebuah restoran cepat saji yang masih sepi. Bulir-bulir hujan sebesar biji jagung turun menghunjam atap seng, membuat suasana bising yang mengisi suasana diam pada percakapan di antara kami.
   “Apa batasanmu untuk bahagia?”
   “Kamu bertanya dengan pertanyaan yang sebening kaca,” jawabku. Aku mengambil cangkir kopiku, lalu menyeruputnya. Rasa pahit itu lumer di lidah, tapi aku terlalu tak peduli mengenai itu. Ada rasa sesak yang memenuhi rongga dada, yang segera ingin melesak keluar.
Setelah meletakkan kembali cangkir, aku melanjutkan, “Tidakkah semuanya sudah jelas? Untuk apa kamu menanyakan hal yang kamu sudah pasti tahu jawabannya?”
Kulihat, ujung-ujung bibirnya mulai terangkat. Ia tersenyum kecil.
“Kalau kamu?” aku balik bertanya.
Tidak ada jawaban. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah jendela di samping kami, memandangi hujan yang sedang menirai.
“Ah, iya. Hujan.” Tanpa dikomando, kata-kata itu meluncur dari bibirku.
Ia menoleh ke arahku. Senyumannya melebar.
“Kamu sangat suka hujan,” lanjutku sambil balas tersenyum. Tapi, seperti rasa kopi itu, senyumanku pahit, amat pahit. “Kamu sangat bahagia jika hujan sedang turun,” desahku.
Ia tertawa. “Kamu sudah sangat mengenalku,” komentarnya singkat. “Menurutmu, bahagia itu seperti apa?”
Aku menatap lekat matanya, mencari definisi bahagia yang menjadi pertanyaannya. Semakin lama, matanya semakin lekat. Pekat. Ada lubang hitam di sana dengan aku yang menjadi sumbernya.
Dalam satu tarikan napas, aku berujar pelan. “Melepaskan.”
Hanya satu kata itu. Akan tetapi, beribu kenangan ikut di dalamnya. Seluruh rasa bercampur aduk mengikutinya.
Hanya satu kata itu.

Selasa, 12 April 2016

[Cerpen] PERFECT ENDING
Gambar diambil dari sini
*

Aku benci musim dingin.

Aku benci salju-salju yang jatuh tiba-tiba, tak terencana. Aku juga benci matahari yang kehilangan lakonnya. Dan aku benci karena musim dingin membuatku tidak bisa bebas mengambil gambar di luar.

“Takeru-kun!”

Nene-chan menepuk pundakku ketika aku berjalan lesu ke sekolah. Ia kemudian menyamakan langkah kakinya denganku.

“Sudah tahu mau membuat film apa?” tanya Nene-chan lagi.

Aku mendesah. Film yang dimaksud olehnya adalah tugas yang diberikan para senior kami di klub film dua minggu lalu. Semacam project akhir tahun ajaran yang nanti akan menjadi syarat kami apakah benar-benar diterima sebagai anggota klub film atau tidak. Bagi anggota tahun pertama sepertiku, masuk klub film adalah mutlak. Sedari dulu, aku menyukai semua hal yang berbau film. Aku menikmati gambar-gambar yang kuambil lewat camcorder butut pemberian otousan. Sudah banyak gambar yang kurekam dan sejauh ini mendapat respon yang cukup bagus dari beberapa temanku.

Dan itulah yang kusesali. Aku tidak memiliki stok gambar lagi untuk tugas senior kali ini.

“Aku belum tahu,” ucapku pelan.

Nene-chan mengangguk. “Kalau aku akan buat semacam dokumenter. Film tentang Tokyo Tower!” ujarnya antusias.

Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya seraya memicingkan mata. “Melodrama lagi?”

Kenapa ‘lagi’? Karena kutahu Nene-chan sangat suka genre itu. Sedangkan aku, meski tidak menolak, melodrama menjadi urutan terakhir film yang akan kubuat.

Gadis itu melebarkan senyumannya. “Kalau Takeru-kun pasti tidak mau buat seperti itu, kan?”

Tepat sekali.
Baru saja aku ingin menjawabnya, ada tiga buah objek yang tertangkap mataku di depan gerbang sekolah. Sebuah objek yang mendadak membuatku tergelitik sehingga membangkitkan semangat yang ada di dalam dadaku, semangat yang berhasil mengalahkan rasa benciku pada musim dingin.

“Kenapa Takeru-kun?” tanya Nene-chan lagi melihatku diam cukup lama.

Aku berbalik lalu meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya. “Arigatou Nene-chan!” seruku.

Nene menatapku bingung. Sebelum ia bertanya lagi, aku langsung menjawabnya, “Tampaknya, kali ini aku akan membuat film melodrama!”

Senin, 11 April 2016

Yubi kiri (An Another Story)
Gambar diambil dari sini
*

Aku pernah menyukai seseorang. Tapi aku berbohong padanya.

Aku tidak tahu kapan persisnya atau alasan apa aku mulai menyukainya. Yang kutahu, ia masuk begitu saja ke dalam kehidupanku, membuatku nyaman di dekatnya tanpa peduli apa pandangan orang.

Pertemuan kami sederhana, suatu pagi aku terlambat datang ke sekolah karena Rika-chan, pacarku, tidak membangunkanku. Saat itu, ada satu orang yang ikut terlambat. Kami berdua sama-sama menaiki kereta yang sama. Saat itu, musim dingin dan aku sudah pasrah akan dihukum apa saja oleh Genta-sensei. Tapi kemudian, anak itu dengan lantang bersuara, “Ada salju yang menumpuk.”

Melihatnya, aku hanya bisa tertegun. Genta-sensei menoleh ke arahku. “Apa benar Tomohiro-san?”

Anak itu langsung menoleh ke arahku serius. Bola matanya yang cokelat menatapku serius.

“H—hai!”

Genta-sensei berdeham. “Baiklah kalau begitu, kalian boleh masuk.”

Dengan cepat, aku melangkahkan kaki, menjauh dari pandangan Genta-sensei. Anak itu mengekor di belakangku. Setelah cukup jauh, aku membalikkan badan.

Arigatou...”

Ia melangkah ke arah belakang sedikit karena terkejut lalu tersenyum ke arahku.

“Bisa aku meminta alamat surelmu?” Ia bertanya sembari menyerahkan ponselnya.

Eh?

Aku mengambilnya cepat lalu mengetik. Jam pertama ketika itu hampir usai saat aku menyerahkan kembali ponselnya.

Setelah ia mengambil ponselnya, tanpa mengucap apa-apa lagi, ia berlari pergi.

Dan mendadak hidupku berubah setelah ini.