Selasa, 12 April 2016

[Cerpen] PERFECT ENDING

Gambar diambil dari sini
*

Aku benci musim dingin.

Aku benci salju-salju yang jatuh tiba-tiba, tak terencana. Aku juga benci matahari yang kehilangan lakonnya. Dan aku benci karena musim dingin membuatku tidak bisa bebas mengambil gambar di luar.

“Takeru-kun!”

Nene-chan menepuk pundakku ketika aku berjalan lesu ke sekolah. Ia kemudian menyamakan langkah kakinya denganku.

“Sudah tahu mau membuat film apa?” tanya Nene-chan lagi.

Aku mendesah. Film yang dimaksud olehnya adalah tugas yang diberikan para senior kami di klub film dua minggu lalu. Semacam project akhir tahun ajaran yang nanti akan menjadi syarat kami apakah benar-benar diterima sebagai anggota klub film atau tidak. Bagi anggota tahun pertama sepertiku, masuk klub film adalah mutlak. Sedari dulu, aku menyukai semua hal yang berbau film. Aku menikmati gambar-gambar yang kuambil lewat camcorder butut pemberian otousan. Sudah banyak gambar yang kurekam dan sejauh ini mendapat respon yang cukup bagus dari beberapa temanku.

Dan itulah yang kusesali. Aku tidak memiliki stok gambar lagi untuk tugas senior kali ini.

“Aku belum tahu,” ucapku pelan.

Nene-chan mengangguk. “Kalau aku akan buat semacam dokumenter. Film tentang Tokyo Tower!” ujarnya antusias.

Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya seraya memicingkan mata. “Melodrama lagi?”

Kenapa ‘lagi’? Karena kutahu Nene-chan sangat suka genre itu. Sedangkan aku, meski tidak menolak, melodrama menjadi urutan terakhir film yang akan kubuat.

Gadis itu melebarkan senyumannya. “Kalau Takeru-kun pasti tidak mau buat seperti itu, kan?”

Tepat sekali.
Baru saja aku ingin menjawabnya, ada tiga buah objek yang tertangkap mataku di depan gerbang sekolah. Sebuah objek yang mendadak membuatku tergelitik sehingga membangkitkan semangat yang ada di dalam dadaku, semangat yang berhasil mengalahkan rasa benciku pada musim dingin.

“Kenapa Takeru-kun?” tanya Nene-chan lagi melihatku diam cukup lama.

Aku berbalik lalu meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya. “Arigatou Nene-chan!” seruku.

Nene menatapku bingung. Sebelum ia bertanya lagi, aku langsung menjawabnya, “Tampaknya, kali ini aku akan membuat film melodrama!”


*

Aku mempunyai hobi baru sekarang: menguntit.

Dengan camcorder yang tak henti-hentinya lepas dari tangan, aku menguntit objek untuk film-ku. Aku mengikutinya makan, jalan-jalan hingga sampai rumah, atau sekadar ngobrol santai di taman. Tak jarang pula aku mengambil gambar hingga malam, saat lampu rumah mereka sudah padam.

Semua ini kulakukan hanya demi satu hal: sebuah film yang sempurna.

“Bagaimana, Takeru-kun?” tanya Nene-chan ketika kami sama-sama berada di ruang film untuk me-review gambar yang kami ambil.

“Begitulah,” ucapku sambil tak henti memainkan tombol play-pause di laptop untuk mencari gambar yang menarik. “Tak ada yang membuatku terkesan.”

“Kau sudah tanya Kitagawa-san? Siapa tahu objekmu itu akan membantumu.”

“Kalau Kitagawa-san dan lainnya tahu aku diam –diam merekam, mereka pasti akan marah. Rencanaku, setelah film ini selesai, baru aku tunjukkan pada mereka,” jawabku panjang.

Nene-chan berdeham. “Tapi, kau tahu kan kalau due date-nya tinggal satu minggu lagi setelah festival, bukan?”

Mau tidak mau aku menaikturunkan kepala.

“Kalau kau tidak mendapat adegan yang menarik beberapa hari ini, bukankah lebih baik kau menyerah saja dan mengganti objeknya?”

Aku menghela napas. Nene-chan benar. Tampaknya, sudah seharusnya aku mencari rencana kedua.

*

Ketika Kitagawa-san berjalan cepat di koridor sekolah saat festival berlangsung, aku segera menyiapkan camcorder-ku dan mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku sudah hampir menyerah mengambil gambar mereka. Namun, aku merasa ada satu kejadian yang menarik yang akan terjadi.

Benar saja, dugaanku benar. Kitagawa-san melihat kekasihnya berciuman dengan orang lain. Dengan mantap, kurekam tanpa kulewatkan sedetik pun momen itu. Bahkan, ketika Kitagawa-san berlari sambil menangis, aku masih merekam.

Merekam dan terus merekam.

Hingga beberapa hari kemudian, aku merekam sesuatu yang membuat napasku tertahan.

*

Pengumpulan film satu minggu lagi dan aku memutuskan untuk membuat perfect ending. Saat sekolah sedang sibuk karena mencari Tomohiro-san, aku memanggil Hiroshi-san ke atas atap. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan semuanya. Semua yang kulakukan untuk mendapat akhir yang sempurna.

Hiroshi-san datang wajah datar sambil tak henti-henti memegang sesuatu di balik kemeja di dadanya. Aku tahu apa benda itu. Benda itulah yang menjadi alasanku mengundangnya ke mari saat sekolah telah usai.

“Ada apa, Ginta-san?” tanyanya ketika berdiri di hadapanku.

Inilah saatnya.

Aku mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya cepat. Camcorder di tanganku kupegang erat, takut-takut ia akan merebutnya cepat.

“Hiroshi-san, sebelumnya aku ingin minta maaf.”

Satu alisnya terangkat.

“Selama ini, aku membuat film tentangmu, Kitagawa-san, dan Tomohiro-san.”

Mendadak, mukanya menegang. Urat-urat di kepalanya tampak kontras dengan kulitnya yang pucat.

“Ma—maksudmu?”

“Aku merekam semuanya,” jawabku lagi.

Hiroshi-san membulatkan matanya menatapku—mata yang kulihat dulu saat ia memandang Tomohiro-san. Bulu-bulu di lenganku tanpa kusadari ikut berdiri.

“Aku melihat kau menatap lain Tomohiro-san di gerbang beberapa minggu lalu dan kemudian aku memutuskan untuk membuat film tentang kalian bertiga bagi tugas klub film,” aku mulai menjelaskan semuanya. “Aku mengikuti kegiatan kalian. Aku merekam semuanya. Mulanya aku ingin menyerah hingga tiba-tiba Kitagawa-san melihatmu mencium Tomohiro-san, aku tidak bisa diam begitu saja.”

Hiroshi-san diam saja. Satu tangannya sibuk meremas-remas benda yang ada di dadanya.

“Aku merekam kejadian terakhir antara kau dan Tomohiro-san. K—kau... membunuhnya.”

Ucapanku seperti percikan api yang menyambar kayu kering. Hiroshi-san menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, mendekat ke arahku.

“Kau memotong jari kelingkingnya dan jika aku tidak salah dengar, kau menyebut tentang yukibiri—janji jari kelingking?”

Ia mengambil satu langkah lagi. Jarak kami sekarang hanya terpaut tiga meter. Dua langkah lagi, mukanya akan tepat berada di depan mukaku.

“Dan di balik kemejamu itu, aku tahu, itu jari kelingkingnya, bukan?”

Ada jeda panjang di antara kami. Ini musim dingin dan salju baru turun kemarin. Namun entah mengapa aku merasa hawa di sani panas—cenderung sesak.

“Apa yang kau inginkan, Ginta-san?” ia akhirnya bertanya.
Inilah saatnya. Sebuah akhir yang sempurna untuk filmku ini. Sebuah masterpiece.

“Aku hanya ingin kau mengaku. Dan itu akan menjadi akhir yang sempurna untuk filmku.”

Ia mengambil satu langkah terakhirnya. Sebelum sempat aku mundur, ia telah mencengkeram lenganku keras. Aku berusaha untuk melepaskannya, namun cengkeraman itu semakin kuat.

“Rei Hiroshi! Lepaskan aku!”

Dia tidak bersuara. Matanya berkilat-kilat marah. Ia berusaha mengambil camcorder di tanganku. Aku memberontak hingga kusadari, ada bunyi gedebuk keras. Cengkeramannya sudah tidak ada. Mataku membuka.

Ia jatuh. Begitu saja dari atap sekolah.

Tanpa sadar, aku menoleh ke sebelah kiriku. Mataku terpaku pada sebuah benda yang berkedip-kedip merah menyalak.

Sebuah benda yang kupakai untuk mendapatkan ending yang sempurna.


....Dan merekam semua.

*

PS: (Another) (Another) Story of Yukibiri universe
PSII: Diikutkan dalam #AprilMenulis NBCPalembang
Previous Post
Next Post

post written by:

2 komentar:

  1. Selalu suka sama ceritamu, mas.. :" kenapa update cuma pas ada event?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Maafkan aku. ^^ Nanti aku coba publish lagi cerita-cerita yang mengendap di laptop, ya. :9

      Btw, thanks sudah membaca. :D

      Hapus