Jumat, 04 Oktober 2019

Done: Cara Kun Saraswati Berkata ‘Cukup’


Pernah nggak kalian berada dalam satu keadaan layaknya peribahasa: hidup enggan mati pun tak mau? Keadaan di saat kalian telah melakukan sesuatu sekuat tenaga kalian namun tak ada hasil yang kalian dapatkan. Di saat kalian berharap ada seberkas cahaya di ujung jalan kalian namun yang kalian dapatkan hanya berjalan sendirian di lorong pekat dan pengap yang ujungnya samar.

Di situasi yang seperti itu semua tampaknya serba salah. Ada banyak rasa kecewa yang hinggap di dada. Kecewa terhadap situasi yang tidak tepat, timing yang tidak pas, atau bahkan kepada manusia yang ikut terlibat. Pastinya perasaan jadi tak keruan. Di sanalah kita merasa terasing di tengah keramaian. Dan pada akhirnya mempertanyakan satu-satunya pertanyaan yang ada: apakah sudah saatnya kita menyerah lalu move on begitu saja?


Mungkin perasaan inilah yang menghinggapi Kun Saraswati. Nama ini terdengar asing di telinga. Ya, dara berusia 21 tahun ini bisa dibilang baru menjejaki dunia musik tanah air. Meski begitu, musik sudah jadi bagian dari hidupnya selama ini. Sedari berumur tiga tahun, ia mulai menunjukkan bakat bernyanyi. Melihat bakat musikalitasnya, dari umur lima tahun, Kun Saraswati sudah mengambil pelajaran piano klasik. Tak hanya itu, ia juga mengasah kemampuan bermain gitarnya secara otodidak.

Di umur yang ke delapan belas, Kun Saraswati diterima di Universitas Pelita Harapan Fakultas Seni Musik. Ini adalah langkah awal baginya untuk memulai karir musik secara profesional. Kun Saraswati pun mulai menulis lagu. Inspirasinya Diana Krall, musisi jazz asal Kanada dengan seabrek penghargaan. Dan setelah tiga tahun berlalu, saat ini, ia siap serius berkarir di belantika musik Indonesia. Dengan semangat “I Love What I Do And I Do What I Love”, Kun Saraswati pun mulai merilis lagu.


Tanggal 4 Oktober 2019 ditandai sebagai jejak pertama Kun Saraswati. DONE dipilih sebagai judul lagu Kun Saraswati yang menceritakan kegelisahannya saat dikecewakan oleh orang-orang sekitarnya. Dan berawal dari kegelisahan itulah, lagu ini ditulis pertengahan tahun 2016 lalu. Namun, untuk menjadikannya sebuah lagu utuh, butuh waktu yang tidak sedikit. Barulah Agustus 2019 lalu, lagu Kun Saraswati ini rampung.

Sejujurnya, ketika pertama kali akan mendengarkan lagu ini aku sedikit skeptis. Apalagi selera musikku yang sama sekali nggak seperti orang kebanyakan. Tidak ada satu tipe musik yang kusuka. Aku lebih menekankan pada lirik musiknya. Bagiku, sebuah lagu entah lagu Indonesia atau negara lain haruslah pandai bercerita. Lewat lirik-liriknya, sebuah lagu dapat menyampaikan perasaan yang dibawa oleh penyanyinya. Dan ketika mendengarkan lagu Kun Saraswati ini, aku tertohok.

            Take me with you.
            Or let me be with you.
            But if we knew.
            I’m trynna forget you.

Baru awalnya saja, lirik musik Kun Saraswati ini udah bikin merinding. Tipe-tipe musik yang adem dan nggak heboh emang cocok banget bagiku. Iringan biola pada awal lagu membuat kesan sakral dengan iringan instrumen yang minim. Saat memasuki bait pun, petikan gitar jadi lebih dominan.

            What did I do.
            I’m feeling so pale blue.
This felt so true.
But how about you.

Memasuki bait ke dua lagu Kun Saraswati, musik menjadi lebih intens dengan tambahan petikan biola yang mengalir lembut. Yang kusuka dari bait ini adalah penggunaan frase so pale blue. Banyak lagu Indonesia yang berlirik bahasa Inggris yang bertipe seperti ini lebih memilih penggunaan lirik yang minim frase yang terkesan puitis namun tetap enak dilafalkan.

The sky starts raining.
But my heart keeps tracing.
The storms are raging.
But my heart keeps falling.

Prechorus yang dikasih juga jadi jembatan yang pas. Dengan tempo yang lebih lambat masih dengan alunan biola dan gitar terasa syahdu di telinga. Apalagi permainan rima yang menurutku brilian. Kun Saraswati mampu membawa iringan lagu ke klimaks.

I’m clinging on to you.
Just tell me it’s not true.
The violets are not blue.
I’m clinging on to you.
Just tell me it’s not true.
And there is no I love you.

Ada satu kalimat yang kusuka dari reff ini: “The violet are not blue”. Kalimat ini seringkali dipakai dari ungkapan puisi lama ‘Roses are red. Violet are blue’. Puisi ini adalah puisi romantis yang biasa digunakan untuk merayu pasangan. Namun di lirik lagu Kun Saraswati ini, metafora itu seakan diberi arti kontradiksi dengan kesan menyayat hari. Hal ini diperjelas dengan bait-bait lirik reff. Jarang kan lagu Indonesia yang memakai rima seperti ini?

I’m broken in two,
I’m drowning in deep blue.
My feelings for you
Has drowned with me too.

Verse kedua lagu ini makin dibuat intens dengan tambahan instrumen drum yang terdengar di belakang. Hal ini membuat ritmenya nggak monoton di telinga. Keberadaan ritme yang seperti ini juga berlanjut ke modulasi reff kedua.

What I’m gonna do?
Tell me what I’m gonna do?

Bridge lagu ini jadi jembatan yang pas untuk mencapai klimaks lagu. Dengan melodi yang semakin banyak dipakai menambah kesan suspens ke reff akhir lagu, apalagi dengan sentuhan doubling yang tipis.

But if we knew.
I’m done with you.

Judul lagu Kun Saraswati berada di akhir lagu dan menutup keseluruhan lagunya yang apik. Sederhana namun membekas. Setelah dibawa dengan tempo cepat di pertengahan, penutup yang manis dengan hanya petikan gitar dan vokal Kun Saraswati.




Secara garis besar aku menyukai lagu ini. Kun Saraswati mampu menyejukkan industri musik tanah air. Meski lirik yang ada adalah bahasa Inggris, namun ini tetap lagu Indonesia karya anak bangsa. Aku membayangkan mendengar lagu ini malam-malam lewat radio sebagai pengantar tidur atau duduk menikmati kopi senja.

Lirik musik Kun Saraswati yang puitis sangat cocok dinikmati sembari menutup mata dan membayangkan segala hal yang terjadi. Senada dengan yang kurasakan ketika mendengar lagu ini, Kun Saraswati ingin menyampaikan pesan untuk berkata ‘cukup’. Saat kita berada dalam keadaan yang tidak baik, jangan takut untuk menyudahi. Dalam hal apapun. Meski pada kenyataannya itu sulit untuk dilakukan, yang harus kita ingat, mempertahankan hal yang tidak baik pasti membawa yang tidak baik juga bagi kita.

Kadang kita takut untuk menyudahi dan berkata semua akan baik-baik saja, akan tetapi kadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Jadi, saat kita bilang ‘cukup’, pasti kita akan sedih. Rasa lain ikut hadir. Yang terpenting adalah bangkit lalu semangat memulai yang baru. Di lirik lagu Kun Saraswati terakhir, ia menyampaikan perpisahannya setelah berkontemplasi lama. Ketika pelafalan ‘done’ sesuai dengan judul lagu Kun Saraswati membuat kesan ia cukup menghadapi itu semua. Dan menurutku, itu adalah anthem yang sangat cocok untuk orang-orang yang akan move on.

Nah, lagu dari Kun Saraswati ini bisa kalian dengarkan mulai 4 Oktober 2019 di berbagai streaming platform seperti Spotify, Joox, dan iTunes. Tak lupa ada video liriknya pula di media platform youtube! Sila ditengok! Dijamin baper!



Cheers!

Previous Post
Next Post

post written by:

7 komentar:

  1. Wah segera belangganan si spotify nih. Cuss denger kun saraswati

    BalasHapus
  2. Siapanya Isyana Saraswati nih, Bim?

    BalasHapus
  3. Wah langsung melipir deh pengen dengerin lagunya. Dari liriknya aku cukup sukaaa.

    BalasHapus
  4. Wihhhh.. Kok bikin melted dengerin lagu ini..

    BalasHapus
  5. simple but deep meaning.
    😍😍

    BalasHapus
  6. jadi penasaran pengen denger suara tak biasanya Kun Saraswati

    BalasHapus