andai saya menjadi anggota DPD RI...

DPD untuk Indonesia yang Lebih Baik




Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang tidak mengetahui secara pasti apa yang dimaksud dengan DPD. Atau apa saja perannya dalam pemerintahan, tugas, dan wewenangnya. Selama ini, yang banyak terekspos media adalah peran dua lembaga lainnya, DPR maupun MPR. DPD dianggap sebagai bagian yang tidak penting untuk dipublikasikan. Lantas, apa yang dimaksud dengan DPD? DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah yang merupakan wakil dari rakyat dan dipilih langsung melalui pemilihan umum. DPD memiliki peranan yang juga penting dalam pemerintahan. Menurut UUD 1945 Pasal 22D, sangat jelas fungsi dan tugas anggota DPD. DPD menjadi ujung tombak yang menjembatani segala hal dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat begitu juga sebaliknya. 


Pertanyaannya adalah, apa yang akan saya lakukan jika menjadi anggota DPD RI?


Andai saya menjadi anggota DPD, yang pertama kali saya lakukan adalah tetap melaksanakan fungsi dan peranan saya sebagai anggota DPD secara konsisten menurut UUD 1945. Menjalankan tugas dan wewenang dengan sepenuh hati.  Mengapa hal ini penting? Karena, seperti kata-kata bijak yang sering saya dengar, “semua berawal dari niat”. Niat saya untuk menjadi anggota DPD adalah untuk terus berguna bagi negara umumnya dan daerah khususnya. Saya telah memilih jalan untuk mengabdi pada masyarakat,  oleh karena itu, saya akan tetap fokus untuk ikut mengambil peran dalam pemerintahan.  Oleh sebab itu saya akan tetap konsisten memperjuangkan apa yang harus saya perjuangkan, yaitu rakyat daerah khususnya!

Kedua, saya akan bersungguh-sungguh ikut andil dalam pembentukan dan pengawasan atas pelaksanaan  APBN. Saya akan menegakkan kembali anggaran belanja negara untuk sektor-sektor penting seperti pendidikan yang memiliki persentase 20% dari APBN. Keadaan sekarang, persentase 20% tersebut memang telah tercapai di atas kertas namun masih jauh perwujudannya. Persentase 20% seharusnya hanya mencakup kesejahteraan pendidikan, peningkatan kualitas, serta sarana dan prasarana. Anggaran tersebut sejatinya tidak termasuk hal lainnya seperti biaya sertifikasi guru, gaji pendidik atau dialokasikan ke lembaga lain. Melihat keadaan tersebut, penegakkan kembali mengenai kejelasan alokasi dana sektor pendidikan perlu dilakukan mengingat pendidikan di Indonesia masih belum terlalu maju dan masih jauh tertinggal. Dalam hal ini, pemerataan tidak perlu dilakukan. Yang harus dicapai adalah ketepatan sasaran. Saya optimis pendidikan di Indonesia akan lebih maju dan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.

Terakhir, sektor selanjutnya yang saya akan saya soroti adalah sektor ekonomi. Mengapa? Karena ekonomi memiliki peranan penting dalam keberlangsungan hidup suatu negara. Disini, saya akan mengkoordinir pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menggalakkan ekonomi kreatif mandiri yang berlandaskan wirausaha. Artinya, masyarakat di daerah tersebut digalakkan untuk menjadi seorang pengusaha. Terdapat beberapa keuntungan pada poin ini, yaitu selain ekonomi akan membaik, pengangguran pun akan menjadi lebih sedikit karena terbukanya lapangan kerja di daerah. Bila hal ini dilakukan secara terus menerus dan dikelola dengan baik, saya percaya, kesejahteraan masyarakat daerah khususnya dan rakyat Indonesia umumnya akan berangsur-angsur membaik.

Itulah tiga poin penting yang akan saya lakukan bila menjadi anggota DPD. Saya yakin, diawali dengan niat yang baik, dilaksanakan secara konsisten, dan diawasi secara objektif, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi Negara yang lebih maju dalam beberapa tahun ke depan. Bukankah kita semua ingin Indonesia yang lebih baik?

mendung..

"Aku suka mendung, karena banyak rasa yang terkandung.." 

mendung tak selalu kelabu, terkadang mendung hanyalah refleksi bahwa sinar tak cukup menyentuh.

mendung selalu abu-abu, cerminan hati yang tak lagi mampu menunggu..

mendung dan abu-abu. mendung dan kelabu. mendung tentang aku dan juga... dirimu..

mendung, hidup enggan mati tak mau. enggan turun sekalipun mengaduh. mendung, tentang semua rasaku... padamu..

mendung, saat hujan terpaut rindu. pada tanah untuk beradu. gemericik mainkan sebuah lagu. sendu. seperti saat ini, aku untukmu..

mendung, seperti aku dan kamu. ditakdirkan bertemu, tapi tidak untuk bersatu. mendung, selalu mendung..

Kehilangan..

"Saat kau merasa memiliki, kau harus siap untuk kehilangan.."

Setiap orang tentu sering mengalami episode kehilangan dalam hidup..
Mulai dari kehilangan sesuatu yang remeh, bahkan sampai yang sangat berharga..
Atau mulai dari kehilangan barang hingga kehilangan seseorang
Episode-episode kehilangan itu kadang membuat kita bersedih, marah, kesal, bahkan mengumpat, memaki, dan menyindir.
Kadang, hati kecil kita tidak rela dan menyesali pertemuan dengan barang tersebut.
Tidak dapat menampik bahwa aku juga pernah mengalami rentetan peristiwa tersebut.
Dimana saat kita sedang bahagianya memiliki seseorang atau sebuah barang, tapi yang terjadi malah kita kehilangan.

Memiliki dan kehilangan adalah pasangan sejati.
Seperti halnya perkara hidup dan mati.
Semua yang hidup pasti mati.
Begitu juga dengan kehilangan.
Semua yang berawal dari memiliki pasti akan berakhir dengan kehilangan.
Entah kapan waktu akan menjawab.
Besok.
Lusa.
Atau selanjutnya.
Semua itu pasti akan terjadi.

Kehilangan merupakan perkara unik.
Saat memiliki kita kehilangan.
Dan saat kita kehilangan baru kita merasa memiliki.
Logikanya sederhana, kapan kau merasa memiliki berarti kau juga harus siap dengan kehilangan.
Hanya sesimpel itu.
Namun nyatanya, sangat sulit merelakan kehilangan.
Tapi yakinlah, mungkin hari ini kita kehilangan sesuatu yang kecil, itu akan membuat kita siap untuk menghadapi sebuah kehilangan yang lebih besar.
Sebuah kehilangan yang mungkin menyayat hati.
Saat kita terbuai oleh rasa memiliki.
Atau malah sebaliknya..
Saat kita tidak merasa memiliki..
Kehilangan itu pasti datang tanpa kita sadari dan membuat kita mengerti bahwa kita telah memiliki..
Entah barang,
Teman,
Sahabat,
Cinta,
Orang tua,
Atau malah diri kita sendiri.

Maka, beruntunglah kita yang merasa memiliki, walau kita akan kehilangan.
Manfaatkanlaa segala proses memiliki itu sebaik mungkin hingga saatnya kalian kehilangan.
Jangan pernah menyesal tentang apa yang kita miliki kemarin atau hari ini.
Sebab, semua itu akan nyata bila kita kehilangan.
Kehilangan bukan suatu proses jahat yang membuat penderitanya menjadi marah atau benci. Tapi kehilangan membuat kita sadar dan mengerti bahwa KITA PERNAH BENAR-BENAR MEMILIKI.

Choice..


"By Choice We Became Friends"

Ada lebih dari sekedar alasan sibuk ketika aku memutuskan untuk mematikan ponsel sejak malam mulai terkembang kemarin. Aku letih. Dengan semua. Letih membuka mulut dan berpura-pura semua baik-baik saja. Dengan senyum merekah di bibir tapi tidak di mataku. Aku hanya mau menghabiskan akhir pekan ini sendiri, untuk sendiri dan bukan hanya menjadi diri sendiri. Dan untuk itu semua, terputuslah kontakku dengan semua makhluk bernama manusia di pulau kerdil ini. Satu hal yang terpikir ketika tanganku menekan tombol merah kecil itu, bagaimana jika ada teman yang mencariku? Tak perlu bertanya tentang orangtua, mereka selalu tau bagaimana menemukanku walaupun ke lubang kurcaci. Keputusan bulat ketika aku menyadari bahwa teman yang ingin aku temui di hari tenang ini adalah teman yang tahu kemana dan bagaimana untuk menemukanku. That’s it. And say good bye to the world.

Walaupun terkadang terselip tanyaku, apa akan ada teman yang mencariku? Ah, naif. Bukan itu pertanyaannya, apa akan ada seseorang, siapapun yang menyadari ketiadaanku? Entah kenapa, aku merasa tidak akan ada. I don’t think so. "It is by chance we met. By choice we became friends." Seorang bijak, entah siapa, pernah berkata. Membacanya, aku terpusar ke masa lalu. Apa aku melewatkan semua kesempatan yang ada untukku? Apa aku tak pernah memilih untuk memilih menjadi teman?

Tentu tidak, aku tahu pasti itu. Seorang laki-laki kecil dengan kacamata dan rambut plontosnya membuktikan itu 8 tahun yang lalu. Dan beberapa orang lagi di tahun-tahun setelahnya.

It takes two to tango. Dalam apapun. Itu mengapa seorang bijak tadi berkata by choice we became friends, bukan by choice you became friend. Juga saat-saat itu. Kami memilih untuk itu. Kami membawa lilin- lilin persahabatan untuk bersama menerangi jalan di depan kami. Kami memilih untuk menjadi teman. Sampai saat aku menyadari nothing last forever. Secara fisik setidaknya. Ketika satu persatu semua orang yang naik bis yang sama denganku mulai berganti bis sesuai dengan tujuan masing-masing meninggalkanku, atau ketika aku yang harus berganti bis meninggalkan orang- orang lain yang masih di sana. Aku muak dengan rutinitas itu. Kekanakan? Terlalu melankolis? Memang. Di satu sisi. Di sisi lain, aku selalu tahu, tak ada yang sama setelah hari dimana kita mengucap selamat jalan, sampai jumpa dan selamat tinggal. Tidak akan ada yang sama. Sebuah trauma bawah sadar laki-laki 6 tahun yang ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Yang meskipun orang itu akhirnya kembali, semua sudah berubah. Orang itu tak hanya miliknya seorang. Merasa terlupakan dan menjadi bukan siapa-siapa lagi tanpa kusadari begitu membekas jauh di dalam diriku. Luka yang akhirnya mewujud menjadi ketakutan-ketakutan absurd akan sebuah kata bernama perpisahan. Sebuah trauma yang, harusnya aku tahu, tidak bisa aku kambinghitamkan. Yang akhirnya membawaku di titik nadir di mana akhirnya aku tak lagi ingin memilih, ketika aku menolak untuk memilih. Tidak memilih menidakkan, tapi tidak pula mengiyakan untuk sebuah kata pertemanan dan lebih jauh persahabatan. Aku mengulurkan lilin penerang tapi tidak untuk berjalan bersama. Aku menawarkan tawa tapi dengan tetap di luar lingkaran. Aku membagi senyum dan semangat tapi menyembunyikan lamunan dan airmata. Aku menolak bahu-bahu yang ditawarkan untuk isakan karena aku tahu itu tak akan untuk selamanya. Aku memilih untuk tidak memilih. Aku abstain. Aku mensterilkan diriku dari sebuah rasa bernama kehilangan dengan berusaha untuk tidak pernah merasa memilikinya.

-queenerva-

Apakah aku jatuh cinta?

"Kau percaya cinta pada pandangan pertama?"

     Aku kenal dia, seorang laki-laki berkacamata dengan baju rapi datang membawa buku tebal tumpuk lima. Dia tergesa-gesa berlari hingga menabrakku yang sedang berjalan. Perawakan kami mirip, aku dengan rambut kepang dikucir dua, berkacamata minus tebal, baju rapi dengan kaus kaki yang tingginya hampir selutut. Tidak lupa sepatu yang telah disemir mengkilap tanpa ada noda sedikitpun. Kami berdua terpaku disini. Di depan sebuah gerbang yang seharusnya hari ini menjadi sekolah kami. Ya, kami berdua, siswa baru sekolah ini.

     Dia menabrakku hingga membuatku terjatuh. Awalnya aku ingin marah, tapi tatapan itu. Tatapan yang membuat emosiku pun berubah. Dari emosi penuh amarah hingga gairah penuh gelora. Dadaku sesak, tampaknya jantungku memompa cepat darah ke seluruh tubuhku. Seketika aku tidak bisa berpikir. Aku terpesona dengan mata coklatnya serta tatapannya yang menyejukkan. Ah, aku ingin waktu berhenti disini.

     "Kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya laki-laki itu.
     "Emm.. Gak kenapa-napa kok. Kamu?" aku balik bertanya.
     "Gapapa. Kalau ini mah biasa aja. Emm. Boleh aku minta sesuatu?"
     Aku mengangguk.
    "Bisa tolong kamu berdiri. Berat nih lama-lama ditimpa sama kamu." Katanya sambil tersenyum.
     Seketika mukaku memerah lalu mulai beranjak. Lalu ku ambil tumpukan buku-buku itu lalu merapikannya. Dia berdiri lalu menyodorkan tangannya di hadapanku.
     "Aku Xeon. Nama kamu?" 
     "Aku Zia," Kataku mantap sambil menyambut tangannya.

     Hanya seperti itu. Ya memang hanya seperti itu. Namun, wajahnya selalu membayangi diriku. Hingga saat ini. Aku tak kuasa melupakan tatapannya, senyumnya, dan wajahnya. Oh Tuhan, apakah aku jatuh cinta?

andaikan..

"Yang ku bisa hanya melihatnya. Adakah cara lain untuk membuatnya melihat sekilas kepadaku?"

Aku melihatnya datang kepadaku, membawa sekuntum mawar merah yang tadi aku berikan. Di jarinya melingkar sebuah cincin sederhana berwarna perak yang mengkilap di bawah sinaran senja. Sedang aku disini, duduk diam di tepi pantai indah yang ditemani nyanyian ombak yang sedang bergulung manja. Dia berlari kecil, dan aku pun beranjak untuk menyambut dirinya, pujaan hati yang sudah lama ku dambakan. Bermandikan sinar jingga kemerahan, kedua pasang mata kami bertemu. Layaknya adegan dalam sebuah film, siluet wajah kami menyatu. Tatapannya membuatku meleleh. Ku pejamkan mata dan berujar dalam hati, semoga ini bukan mimpi.

***

Aku terbangun dari lamunanku. Memandangi foto seorang wanita yang sedang tersenyum. Parasnya cantik, mata runcing, dengan tekstur wajah yang halus. Aku membelainya, dari atas kepalanya hingga ke ujung kakinya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Dia, ya dia. Dia, ya hanya dia. Aku kembali menaruh fotonya di meja berwarna biru muda. Meletakkannya di atas sebuah kertas berwarna merah muda ditemani sebuah kotak kecil berwarna kuning muda -warna kesukaannya-.

"Banyak hal yang sebenarnya ingin aku katakan. Dan kau pasti tahu itu. Kau tidak perlu menebak karena kau pasti tahu betul apa yang aku ingin lakukan. Bagaimana tidak? Seorang  pria yang dekat denganmu-dulu ataupun sekarang- mengirimimu sebuah bingkisan seperti ini. Ya, tapi setidaknya, sebelum kau berkutat dengan pikiranmu itu, izinkan aku untuk mengatakannya.

Kau adalah bagian dari sebuah mozaik hidupku. Sebuah kisah yang sejak awal tidak ingin aku tuliskan. Tapi kau mauk begitu saja, tanpa permisi dan langsung mencuri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pesonamu mengalihkanku, mematikan syaraf-syaraf di seluruh bagian otakku. Kau membuatku jadi manusia yang aneh. Seorang manusia yang selalu berusaha menarik perhatianmu. Yah walaupun aku tahu, kau tetap tidak bisa melihat ke arahku.

Aku pernah membuangmu jauh dari dalam pikiranmu. Menjalin hubungan dengan seseorang lain yang kupikir bisa mengalihkanku dari dirimu. Namun ternyata aku salah. Aku terpikat bayanganmu, sehingga menghendaki dia untuk jadi sepertimu. Aku berusaha berpaling, Namun kau selalu bisa membuatku untuk kembali. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tanya bagaimana, bukan? Jujur, aku juga tidak tahu. Apakah aku harus punya alasan untuk terus melihatmu?

Aku tahu, aku tak cukup gentle untuk mengatakan langsung padamu. Kau kira aku pasti takut, dan kau pasti berpikir aku ini pengecut, bukan? Ya, benar. Aku memang seperti itu. Aku terlalu takut, bila tahu aku akan kehilanganmu. Dan aku juga pengecut bila tahu kau akan menjadi bukan milikku. Jadi biarkanlah sekarang, aku tuangkan semua perasaanku kepadamu. Aku tidak meminta apa-apa darimu. Yang kuminta hanyalah, Bisakah kau sebentar saja melihat ke arahku?"

DSI

***
Lembaran itu, sudah dua tahun tersimpan disitu. Tidak berubah, tidak berpindah. Selalu seperti itu. Sama seperti hatiku. Ahh. Andaikan bisa ku putar waktu. Aku ingin kembali ke masa itu, masa dimana aku dan kamu dekat dan hampir menjadi satu. Ya, masa ketika keberanianku dikalahkan egoku. Masa penyesalanku, ketika ku lepas dirimu. Aku berbaring, dan perlahan memejamkan mataku. Ahh, biarlah kau jadi milikku, di alam tidurku. Rasanya aku ingin seperti ini, terus menggenggam tanganmu di pantai ini. Duduk berdua dan memandangi bintang-bintang. Andaikan.

Fifth Taste :D

"Would You Marry Me, My Fifth Taste?"

Hei, balik lagi dengan gue. Sekarang gue mau ngasih referensi film pendek yang bagus menurut gue. Hehe. :) Film ini gue temuin di webnya GoodDay yang emang lagi ngadain lomba film pendek. Film-film yang masuk menurut gue bagus-bagus. Tapi ada satu film yang menarik perhatian gue. Di film yang diberi judul "KELIMA" ini, gue bisa nilai sangat sesuai dengan temanya yaitu "Hidup Banyak Rasa". Film ini juga keliatan gak dibuat secara sembarangan. Dari teknik pengambilan gambar, jalan cerita, dan soundtrack yang ngedukung di belakangnya pun disajikan apik dan keren banget. :)

Penasaran guys? Kalian bisa nonton filmnya disini.. :)


Gimana menurut kalian? :)

Sia-sia?

"Tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini, kecuali kau yang dengan sengaja mensia-siakannya.."



Dannnnn... gye balik lagi. Kini, gue bakal cerita pengalaman gue tadi siang. Menurut gue sih menarik. Let's check this out !!! :)


Tadi siang UTS Algoritma dan Pemrograman.. Soalnya lumayan sulit. Haha. Tapi ada satu hal yang buat menarik.. Saat ngerjain UTS tersebut, 10 menit awal, temen gue ngajak ngumpul ke depan. Dia bilang, dia udah selesai. Padahal soal kedua itu sulit lit lit.. -__- Gue hanya bisa geleng-geleng kepala ngeliatnya. Dengan muka berseri-seri gue pikir dia n mengerti soal. Dan selama UTS berlangsung, dia cuma nunggu, trus diem ga ngapa-ngapain.


Pas udah selesai ngumpul, gue penasaran dan nanya dia gimana jawabannya. Dia hanya tersenyum dan berkata "Gue gak ngisi nomor dua". Gue lumayan shocked karena kan soalnya cuma dua. Kalo ga ngisi berarti nilai yang dia dapet cuma 20. Setelah dilihat dan diperiksa oleh dosen, ternyata hampir semua dari mahasiswa jawabannya salah. Belum sempet gue berpaling, dia kembali bilang "Gimana hasilnya sama saja kan? Mendapat nilai kecil di kelas ini, itu mah namanya biasa. Tapi kalau dapet nilai besar baru luar biasa. Gimana kalian? Udah capek-capek nulis jawaban selembar full terus berfikir keras, ternyata hasilnya sia-sia kan? Sama saja nilainya dengan gue."

Gue terhenyak, bergeming. Bener juga, batin gue bicara. Gue yang sedari tadi sibuk mecahin rumus, trus nulis ini-itu, kepala pusing, ternyata hasilnya sama saja dengan dia yang sedari tadi juga cuma diam, duduk santai, ketawa, dan lainnya. Saat itu, gue merasa sia-sia.


Tapi sekarang, gue sadar. Ada dua hal yang ngebedain gue sama temen gue. Meskipun hasil yang kami peroleh itu sama. Hal pertama itu ialah USAHA. Dalam kasus ini, dia yang setelah melihat soal, merasa tidak mampu mengerjakan, sedang gue masih mencoba untuk memecahkan. Gue masih ingin berusaha karena gue merasa tidak ingin dikalahkan. Gue gak ingin menyerah. Dan hal itulah yang ngebuat gue seperti itu.


Hal kedua adalah PENGALAMAN. Menurut gue, sukses itu bukan hanya karena kita memiliki ilmu yang cukup, tapi pengalaman juga memiliki andil besar dari kesuksesan. Dengan diberi soal seperti itu, gue bakal dipupuk untuk berpikir kritis, tidak mudah nyerah, apapun hasilnya. Pengalaman seperti ini yang bakal ngebentuk gue jadi lebih baik ke depannya.


Jadi gue simpulkan, apa yang gue lakuin itu gak sia-sia. Justru kesia-siaan adalah ketika kita diberi KESEMPATAN untuk mengerjakan sesuatu tetapi TIDAK MEMANFAATKAN kesempatan tersebut. 


1 desember 2011 \ 21.26
terima kasih telah menyadarkanku..

Secangkir Teh Hangat..

"Cinta itu harus memiliki. Jika ada yang berkata bahwa cinta tidak harus memiliki, dia adalah orang-orang yang telah putus asa mengejar cintanya.. Pecundang yang ingin dikatakan pahlawan.."

Petang ini, ditemani secangkir teh hangat dan cemilan cukup untuk menemani hujan yang malu-malu jatuh ke bumi. Teringat berbagai cerita yang membangkitkan kenangan manis waktu itu. Seorang teman bercerita kepada saya mengenai dirinya.. Dia seorang wanita, muda, dan cantik. Perawakannya ceria sehingga banyak orang yang ingin dekat dengannya.. Namun kelebihan itulah yang membuat satu dilema dalam dirinya bergelut manja.. Dia dan kisah cintanya..

Dia berkisah telah memiliki seorang dambaan hati, pria yang sudah 3 tahun ini menjadi pasangan hidupnya.. Dia bahagia, sangat bahagia. Merasa memiliki pria yang sangat tepat untuk melewati hari-hari dengannya. Tapi nuraninya goyah ketika seseorang sosok lain datang. Sosok yang mampu mengisi space sendiri di hatinya. Membanjirinya dengan perhatian dan kasih sayang. Sosok ini, adalah orang ketiga. Tokoh yang tidak diharapkan untuk ada.

Bermula dari orientasi di kampus, sosok ini mengenalnya. Merasa tertarik dan mulai merasakan benih cinta itu hadir. Walaupun sosok ini tahu, bahwa dia memiliki seorang laki-laki, dia tidak gentar. Ia tetap menunggu. Memang, kita tidak akan bisa memilih dengan siapa dan kapan waktunya kita akan jatuh cinta. Seperti itulah sosok ini. Baginya, Cinta itu harus diperjuangkan, meskipun ia tahu wanita itu milik seseorang. Bukankah, batu yang lama-lama terkena percikan air, akan terkikis juga? 

Ternyata, anggapan sosok ini dibuktikannya dengan perbuatan. Dia menggencarkan banyak senjata "cinta" ke wanita tersebut. Mulai dari kata-kata manja, perhatian, bahkan semua hal yang membuat dia senang akan dilakukan. Dia rela menjadi bagian nomor dua, bahkan sebetulnya tidak. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk menjadi orang yang pertama. 

Dan keadaan sekarang membuat wanita ini bimbang. Dia sudah nmerasa dekat dengan sosok itu, namun juga tidak bisa melepaskan laki-laki yang sudah dicintainya sejak dulu.. Dia takut melepaskan salah-satu diantara mereka, karena dia memang telah butuh keduanya. Jika keadaan seperti ini, siapa yang patut disalahkan?

Semilir angin sejuk menerpa, dan membuatku berpikir. Cinta adalah sesuatu yang aneh. Cinta adalah sebuah perang terbuka dimana Siapa yang sanggup mempertahankan, dia yang akan menang. Melihta kejadian ini, tidak ada yang salah. Sekarang biarkan cinta bbekerja dengan caranya.. Dan kita lihat siapa yang akan tersenyum pada akhir peperangan..


1 desember 2011 | 20:07
terima kasih kisahmu, ds :)