Jakarta dan Segala Hal yang Serba Cepat


Nggak terasa sudah hampir tiga bulan aku menetap di Jakarta. Yap, merantau ke ibukota tampaknya adalah pilihan paling ekstrem yang pernah kuambil. Selain karena lingkungan yang baru, aku juga harus beradaptasi dengan kebiasaan yang baru. 

Contohnya nih ketika masih menetap di Palembang, aku terbiasa ‘nerimo’ apapun. Segalanya juga tampak jauh lebih mudah dan santai. Namun, ketika di Jakarta, pola kehidupanku pun mendadak berubah 180 derajat! Bisa kukatakan kalau di Jakarta, 24 jam sama sekali nggak cukup. Setidaknya itu yang kurasakan. Waktu kayak terasa jauh lebih cepat.

Belum lagi pola kehidupanku di sini yang semakin konstan. Maksudku, berbeda dengan di Palembang, kali ini aku mulai hidup dengan jadwal yang lebih tersusun rapat dan padat. Miss sedikit sudah pasti dapat teguran. Jadi, segalanya dituntut sempurna malah sama sekali nggak ada waktu untuk bersantai.

Nah hal inilah yang menyebabkan aku jadi sama sekali nggak bisa buang-buang waktu. Dalam hal apapun. Penginnya serba praktis dan mudah. Mau ke suatu tempat yang dekat pasti lebih memilih jalan kaki dibanding naik kendaraan. 

Belum lagi macetnya itu loh. Selain itu kalau dulu hobi keliling-keliling cari makan, sekarang udah mulai jajan pakai aplikasi online. Sembari menunggu makanan datang, bisa kerjain yang lain bukan? Win win solution!

Apalagi dalam urusan belanja. Ya, rasanya menghabiskan waktu beberapa jam untuk mencari satu barang di mal atau pasar itu adalah perbuatan yang sia-sia. Kalau dulu di Palembang terasa amat menyenangkan, sekarang malah buang waktu dan tenaga. Pastinya aku mikirin ongkos yang nggak sedikit pula, belum macetnya, dan belum tentu dapat barang yang diinginkan. Pastinya makin bikin kelimpungan.


Tampaknya hal inilah yang mendasari lahan e-commerce sekarang diminati. Orang-orang seperti aku yang pingin belanja tanpa punya banyak waktu jadi sasaran utama. Mencari barang cepat dan tepat tanpa perlu susah payah mencari jadi poin utama. Fenomena ini pun didukung dengan kemajuan digital yang semakin pesat seperti saat ini.

Coba tanya, siapa sih yang nggak pernah belanja online? Paling nggak nih ter-install satu aplikasi belanja online? Pasti kebanyakan orang punya minimal satu aplikasi tersebut. Perubahan gaya hidup dari yang konvensional menjadi digital lambat laun mulai terasa apalagi sejak beragam raksasa start up tumbuh subur di Indonesia.

Di era digital seperti saat ini juga, kemudahan dan kenyamanan berbelanja jadi terjamin. Kita sama sekali nggak perlu mengalokasikan waktu khusus. Bisa sembari istirahat makan siang, atau menjelang tidur malam. Di kantor bahkan di kamar mandi pun bisa. 

Tinggal skrol skrol dan klik, dan duduk cantik menunggu barang datang ke rumah sendiri. Pembayarannya pun beraneka ragam mulai dari dompet digital hingga akun virtual. Pokoknya serba cepat deh. Hal inilah yang mungkin ketika di Palembang nggak terlalu berasa bagiku, namun saat di Jakarta amat bersyukur ada.

Belum lagi beragam promo yang ditawarin e-commerce mulai dari diskon hari belanja nasional hingga gratis ongkir dengan belanja minimal nominal tertentu pastilah jadi hasrat yang sulit untuk ditahan bagi orang-orang seperti aku. Ada aja godaan buat check out barang yang dipingin. Pokoknya beli dulu sebelum kehabisan promonya!

Tanpa kita sadari, pola kehidupan kita pun mulai beralih.

Utopia seperti saat ini sama sekali nggak akan terjadi apabila logistik tak terpenuhi. Ya, menurutku malah tanpa logistik yang mumpuni, peran aplikasi tak lagi jadi kunci. Logistik amat krusial untuk melengkapi segala kemudahan yang didapat tadi. 

Nggak sedikit orang yang batal membeli karena logistik nggak terjangkau ke lokasi pembeli. Atau batas waktu pengiriman yang lama yang bikin sebal. Belum lagi ongkos kirim yang kadang bikin kantung menjerit. Aww!

Nah, itu juga yang aku rasakan di Jakarta ini. Meski istilahnya Jakarta pusat dari segalanya, tapi aku tetap cari pilihan logistik yang terbaiklah. Contohnya kayak kemarin nih. Keyboard laptopku rusak dan segera ada deadline yang harus aku kerjakan minimal dua hari ke depan. Buat cari ke mal? Duh nggak punya waktu! 

Untunglah aku buka satu e-commerce kemudian mencari barang yang kubutuhkan. Pengirimannya tentu ada JNE YES. Yap, sesuai kebutuhan, JNE selalu jadi pilihan buatku yang memang membutuhkan waktu pengiriman yang cepat namun juga terjangkau. Alhasil setelah barang datang, aku langsung dapat mengerjakan pekerjaanku sebelum deadline. Serba cepat!

Atau saat ketinggalan barang di Palembang, aku selalu bilang ke Adik buat kirimin barang via JNE aja. Bukan tanpa alasan sih. Tiap pagi, mobil box JNE pasti udah nangkring antar barang di ruang paket apartemen. Pastinya nggak perlu khawatir bila waktu pengiriman sesuai dengan estimasi. Semua beres deh. Jadi makin yakin!

Kemudahan yang seperti itulah yang kadang bikin aku malas untuk belanja ke luar lagi. pola hidup yang serba digital bikin apapun jadi mudah, nggak terbatas pada kondisi apapun. kita dapat mengakses semua hal dalam satu genggaman tangan saja. Yang paling penting sih barang bisa cepat sampai di tangan dengan jangkauan yang sama luasnya. Dan tidak lupa: CEPAT! Sesuai dengan kehidupanku di Jakarta.


Secara garis besar, Jakarta berhasil mengubahku jadi pribadi yang beda dengan sebelumnya. Seperti menemukan kepribadian baru. Bila di kota metropolitan seperti Palembang aku masih bisa bersantai, namun di sini aku dituntut jadi pribadi yang lebih cepat. Pertanyaannya adalah, apakah bisa aku bertahan? Jawabannya sih harus. Karena dengan segala kemudahan yang ada di tangan, seharusnya semua bisa kan?

Mengulik Resep Sukses Bisnis Pempek ala Jimmy Devaten


Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata ‘Palembang’? Otomatis semua tertuju pada satu panganan bernama ‘Pempek’. Yap, olahan ikan dengan tepung tapioka ini sukses menjadi ciri khas kuliner nusantara Palembang. Kepopuleran pempek tak terlepas dari sejarah kota Palembang sebagai kota Sungai. 

Dengan demografi tersebut, sumber daya ikan menjadi melimpah. Bahkan hingga saat ini, bisa dibilang keberadaan pempek menjamur di berbagai sudut kota. Mulai dari warung kecil di pinggir jalan hingga di hotel bintang lima. Pempek jadi panganan wajib yang tersaji. Bagi wong palembang pun, nggak ada waktu tertentu untuk menyantapnya. Pempek bisa dimakan sebagai sarapan, panganan menjelang makan siang hingga camilan sore atau pengeyang ketika malam. Pokoknya, sepanjang hari sepanjang waktu. 

Dengan keadaan yang seperti itu, hal ini berpengaruh pada keberadaan UMKM pempek. Jika kalian berkunjung ke Palembang, ke mana pun kalian melangkah, kalian akan menemui warung pempek. Salah satunya adalah Pempek Jimmy Devaten. Warung pempek ini terletak di Jalan Depaten Lama No. 27 Palembang. Sekilas tak ada yang berbeda dengan warung pempek kebanyakan. Namun cerita di balik warung pempek ini sukses membuat merinding seluruh badan. 

Berawal dari otodidak, Jimmy memulai karirnya di bidang kuliner Palembang. Setelah sebelumnya bekerja di salah satu toko retail besar yang ada di Palembang, Jimmy memutuskan untuk banting stir berjualan pempek. Tujuannya sederhana: ingin turut serta melestarikan budaya kuliner tak benda Palembang. Berawal dari situlah warung Pempek Jimmy Devaten hadir dan bersaing di tengah usaha pempek Palembang. 

Jimmy Devaten (credit: @deddyhuang)

Pempek Jimmy Devaten menyajikan beragam jenis pempek dengan harga yang terjangkau bagi setiap kalangan. Dengan rasa bersaing, pempek-pempek ini sukses memiliki banyak penggemar. Awalnya, Pempek Jimmy Devaten hanya fokus pada jualan di kedai saja. Pembeli datang ke toko kemudian bebas memilih pempek yang mereka akan beli. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, opsi-opsi lain mulai dilirik. Salah satunya yaitu berjualan online. 

Kedai Offline (credit: @deddyhuang)

Tak dapat dipungkiri era digital menjadi sarana baru untuk berjualan. Tak ingin ketinggalan ‘zaman’ Pempek Jimmy Devaten pun demikian. Pilihan untuk beralih turut berjualan online meski untungnya tak sebesar jualan offline jadi hal yang mesti dilakukan. Namun, tentu itu bukan tanpa hambatan. Butuh waktu lama untuk menemukan ‘racikan’ yang pas agar kualitas pempek yang dijual online sama dengan yang dibeli di toko pempek miliknya. 

Pengemasan yang pas dan kuat jadi hal yang utama. Pengemasan yang baik masuk ke dalam ‘branding’ yang ia bangun. Khusus untuk dikirim ke luar Palembang, kemasan pempek diwadahi dengan kardus yang kokoh dan tahan banting dikarenakan terdapat cairan cuko yang biasanya hadir beserta pesanan pempek. Hal inilah yang jadi krusial agar pempek yang dikirim dapat diterima dengan bentuk yang baik pula. 
Kemasan Paket (credit: IG Pempek Jimmy Devaten)

Kedua tentu memilih jasa pengiriman yang pas. Dan Pempek Jimmy Devaten memilih JNE sebagai partner pengirimannya. Bagi Jimmy, JNE membantunya karena cakupan areanya yang luas sehingga dapat dikirim dengan cepat ke seluruh nusantara. Selain itu Jimmy juga ikut ke dalam program JNE Loyalty Card. 

JNE Loyalty Card (JLC) adalah layanan khusus yang diberikan JNE kepada para pelanggan setianya berupa program keanggotaan yang memiliki beragam keuntungan seperti promo menarik, potongan harga, hingga poin-poin di setiap transaksi. Nah JLC ini juga membantu layanan jadi lebih cepat dengan program cashless di berbagai marketplace yang ada di Indonesia. Dengan mengirim barang dengan minimal transaksi Rp 25.000,- di konter JNE, maka pemegang JLC akan mendapatkan satu poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan beragam hadiah yang menarik. Keren bukan? 

Pengiriman (credit: IG Pempek Jimmy Devaten)

Untuk mendapatkan beragam keuntungan itu, JNE sama sekali tidak membebankan biaya apapun alias gratis. Seperti Jimmy, pelanggan cukup mendaftarkan dirinya di situs JLC (jlc.jne.co.id) kemudian menunggu kartu elektroniknya hadir. Mudah bukan? Untuk memakainya pun nggak kalah mudah. Setiap akan bertransaksi, pelanggan cukup membawa kartu JLC dan menunjukkannya ke petugas JNE. Dan voila, poin pun masuk ke pundi-pundi. 

Selain pengemasan dan pengiriman, Jimmy mengatakan yang tak boleh ketinggalan tentu rasa sabar. Ya. Saat memulai bisnis apapun, kita akan banyak menemui rintangan, kita akan menjumpai banyak watak pelanggan. Di sinilah kita diuji dan dituntut untuk terus bersabar dan berusaha memperbaiki apa yang kurang. 

Kesabaran Paling Utama (credit: @deddyhuang)

Nah, tiga cara itulah yang jadi rahasia Pempek Jimmy Devaten bertahan. Bahkan sampai saat ini, omset yang ia dapatkan hingga Rp 30.000.000 per bulan, loh! Keren bukan? 

Bagaimana? Tertarik untuk ikut serta?

Empat Formula yang Bisa Bikin Produk Kamu Disayang Pelanggan!


Selamat bulan September para penjual! 

Udah pada tahu kan ada apa tiap bulan September? Yap, Hari Pelanggan Nasional! Biasanya mulai awal bulan udah banyak tuh promo yang bertebaran mulai dari marketplace hingga offline store. Di bulan ini pelanggan seolah dimanjakan dan diistimewakan. Pokoknya pelanggan is the king! 

Ngomongin tentang Hari Pelanggan Nasional, aku ingat dengan kenangan dua tahun lalu. Saat itu, berpartner dengan seorang teman, kami memutuskan untuk memulai bisnis jualan tas. Kesannya sih sederhana. Kami memesan tas dengan beragam model di salah satu UMKM yang ada di Jakarta. Selanjutnya kami jual dengan mempertimbangkan profit di beragam marketplace. Istilah kerennya sih ‘reseller’. 

Namun, kenyataannya sama sekali nggak mudah. Bayangkan, berapa banyak orang yang memiliki jalan pikiran yang sama dengan kami? Belum lagi posisi kami yang ada di Palembang pasti bikin harga jual jadi lebih sedikit mahal karena mempertimbangkan ongkos kirim juga. Alhasil, barang yang kami jual lebih mahal 20-30% dari reseller lainnya. 

Bulan pertama, tas hanya laku satu. Kami berjualan dengan hanya pasang produk di marketplace. Tentunya langsung hectic bangetlah. Kami berdua nggak punya ilmu berjualan. Bisa dibilang sih modal nekat. Selebihnya menunggu saja. Cara ini ternyata sama sekali nggak efektif. 

Lalu, kami berpikiran untuk mengubah strategi menjelang Hari Pelanggan Nasional dua tahun lalu. Beruntungnya dan bersyukurnya, barang yang kami jual lebih cepat habis. Setiap melakukan pembaruan stok, barang tersebut ludes terjual. Teman-teman lain sampai heran: kok bisa? 

Nah, untuk menjawab itu berikut ini hal-hal yang kulakukan kemarin saat jualan tas. Disclaimer dulu, ini murni berasal dari pengalaman pribadi, ya. 


Know your product 

Ini sih kesannya mudah tapi beneran susah dilakuin. Jadi, selama aku jualan, aku nggak sembarang memilih produk. Tas yang ingin kujual kembali kupakai sendiri terlebih dahulu. Aku jadi tahu spesifikasinya terus kelebihan serta kekurangannya. Terus gunanya apa? Ketika pelanggan kalian tanya, kalian bisa jawab dengan jujur mengenai barang tersebut. Karena pelanggan pasti memiliki ekspektasi. 


Buat interaksi dari manapun 

Kadang yang dilupakan dalam menjual barang adalah interaksi. Yap. Interaksi ini penting banget buat membangun ekosistem jualan yang baik. Karena jualan kayak gini selalu membutuhkan feedback dan jangkauan yang luas. Nah, pelanggan bisa banget jadi jembatan agar produk yang kita jual bisa dikenal ke banyak orang. Jangan lelah balesin pertanyaan orang-orang yang sedang bertanya. Sebisa mungkin balas cepat. Aku sendiri jika lagi banyak waktu luang pasti cek satu jam sekali kotak pesan bila nggak ada notifikasi. 


Softselling is the key! 

Salah satu yang penting pula dalam menunjang angka penjualan adalah metode dalam jualan. Meski aku dan teman menjualnya di marketplace, namun kami juga mempunyai media langsung seperti instagram bagi para pelanggan yang ingin mengetahui update terbaru stok dan lainnya. Tentunya untuk membedakan antara spesifikasi di marketplace dan media lebih personal seperti instagram, maka kata-kata yang kami pilih lebih friendly. Hal ini bisa banget ditiru! 



Selalu berikan pilihan yang terbaik 

Dan yang paling penting sih menurutku adalah selalu melakukan yang terbaik untuk pelanggan. Contohnya nih tas-tas yang aku jual aku packing ulang menjadi lebih rapi. Tak lupa aku juga memberikan kartu ucapan terima kasih. Hal-hal kecil semacam ini yang kadang bikin kita semakin disayang oleh pelanggan sebab mereka merasa dekat dan dihargai. Dan untuk jasa pengiriman pun aku selalu memberikan pilihan yang terbaik. Sejauh ini JNE selalu jadi pilihan utama yang kuberi sebab mereka memiliki banyak sekali jenis layanan dengan harga yang bersaing pula. Para pelanggan yang membeli di tempatku bisa bebas mengatur sesuai dengan budget yang mereka punya. Apalagi JNE tersebar di seluruh Indonesia sehingga jangkauannya juga semakin luas. Di era pandemi seperti saat ini pun yang kutahu JNE tetap beroperasi normal sesuai dengan protokol kesehatan yang mumpuni. Pastinya makin bikin pelanggan puas. Kalau nggak salah, tahun ini pun di Hari Pelanggan Nasional, JNE bikin promo gratis ongkos kirim. Apa nggak makin rame jualan? 


Nah, keempat cara tadi sukses bikin produk kami disayang oleh pelanggan. Setelah trial and error formula itu tercipta. Bahkan pada saat kami sudah pensiun jualan tas pun, pelanggan masih suka bertanya. Ilmu itu saat ini masih kupakai dan kuberi tahu kalau ada yang bertanya. Semoga dapat memberikan insight bagi kalian yang baru memulai bisnis. 

Kalian tertarik untuk ikut mencoba? Yuk persiapan buat Hari Pelanggan Nasional selanjutnya! 

Cara Mudah Rapid Test di RS. Hermina Palembang


Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis saat menjalani rapid test. Tidak banyak dokumentasi dibuat sebab rumah sakit tidak memperbolehkan.

Rasanya sudah hampir enam bulan Covid-19 melanda Indonesia. Dan selama itu pula kita seperti berada dalam lingkungan yang mengerikan. Namun seiring himbauan pemerintah untuk menerapkan new normal, maka semakin lama semakin kembali kehidupan ‘baru’. Tentunya meski bayang-bayang Corona masih dekat protokol kesehatan jadi hal wajib dilakukan. 

Nah kemarin, aku mendapatkan sebuah tawaran yang mengharuskanku untuk berpergian. Tentunya sesuai dengan prosedur dari pemerintah, aku diminta melakukan rapid test. Sejujurnya banyak sekali orang-orang di sekitarku yang mulai berpergian dan melakukan prosedur yang sama. Akan tetapi sebagai makhluk yang overthinking, beragam pikiran berkecamuk Rasa cemas dan takut melanda. 

Berdasarkan saran dari beberapa teman akhirnya aku memilih untuk rapid test di RS. Hermina Palembang. Alasannya, RS. Hermina Palembang yang terletak di Jalan Basuki Rahmat ini lumayan dekat dengan rumah dan hasilnya dapat dikirim lewat email. Jadi, nggak perlu lama-lama menunggu. Nah, beginilah pengalamanku pertama tes rapid di RS. Hermina Palembang. 


Hal-Hal yang Dibutuhkan untuk Rapid Test di RS. Hermina Palembang

Uang 

Rapid test di RS. Hermina Palembang memakan biaya yang cukup standart: Rp. 150.000. Mau yang murah? Coba pantengin lini masa media sosial RS. Hermina Palembang. Aku kemarin selama Agustus mendapatkan promo potongan 10% sehingga aku hanya membyar Rp 135.000. 

Identitas 

Sediakan KTP atau kartu identitas lain biar mudah diverifikasi. Kalau yang memiliki medical record di RS. Hermina Palembang, jangan lupa catat nomornya. 

Alur Rapid Test di RS. Hermina Palembang 

Ada dua cara sebenarnya untuk mendaftar rapid test di RS. Hermina Palembang. Pertama, cukup melakukan sambungan dengan kontak yang terdaftar di flyer RS. Hermina Palembang, melakukan pendaftaran, hingga langsung tes baik drive thru atau ke laboratorium. Nah, kemarin aku memilih langsung datang ke RS. Hermina Palembang. Dan prosedur yang kujalani: 

  • Ke bagian informasi dan beritahukan tujuan ingin rapid test. Nah di tahap ini, kita akan diminta menyerahkan kartu identitas sementara pihak rumah sakit akan memberikan form OTG yang harus diisi yang meliputi data-data perjalanan dan gejala. 
  • Setelah selesai, petugas informasi akan menyerahkan form transaksi yang harus dibawa ke laboratorium di lantai dasar atau drive thru di parkiran lantai satu. Silakan kalian pilih. Aku memilih tes di laboratorium. 
  • Sehabis menyerahkan berkas, kita akan diberikan form transaksi biaya oleh petugas laboratorium. Bawa ke kasir di sebelah meja informasi tadi, kemudian bayar. 
  • Bawa kembali bukti bayar ke laboratorium, lalu tinggal menunggu dipanggil deh.
  • Bila nama sudah dipanggil, persiapkan diri. Jangan gugup sepertiku. Hahaha. Oh ya, beberapa bilang di tempat lain, darah yang diambil untuk rapid test itu dari ujung jari. Namun, di RS. Hermina Palembang, darah yang diambil dari lipatan siku, ya. Jangan terkejut jadi.

Di siku!
  • Bila selesai, bilang sama petugas bahwa ingin dikirimkan hasil lewat surel. Proses pengecekan berlangsung kurang lebih satu jam. Kalian juga boleh menunggu kok. Kalau aku... mending pulang.
  • Selesai! 

Nah, hasil yang akan diperoleh nanti berupa scan lembaran hasil laboratorium. Lembar ini bisa dicetak warna kemudian digunakan untuk berbagai keperluan contohnya untuk berpergian. Gimana mudah, bukan? Itulah tahapan rapid test di RS. Hermina Palembang. Next, aku bakal ceritain apa saja yang harus disiapkan saat berpergian di tengah pandemi seperti saat ini, ya!

Contoh Hasil Laboratorium.



Cheers!

Kerjaan Tak Terhambat Berkat Pengiriman Cepat


“Kak, bisa review produk kami, Kak?”

Pesan itu datang tiba-tiba di kotak masuk instagram-ku dari sebuah brand. Kala itu, aku sedang tiduran sembari scrolling lini masa. Ibarat oasis di tengah gurun yang gersang, aku langsung beranjak dan dengan cepat mengetik, “Ya.”

Sebagai seorang konten kreator, era pandemi seperti saat ini bikin kepala cukup pusing. Beberapa kontrak kerja yang kebanyakan offline terpaksa dibatalkan. Tidak ada lagi acara atau event yang biasa kukunjungi. Semua hilang di telan pandemi.

Satu-satunya cara bagiku untuk bertahan adalah menerima berbagai penawaran lewat online. Selama ini, aku memang menerima permintaan beragam pihak yang ingin aku mengulas produk dari mereka, entah makanan hingga gawai. Ulasan itu kemudian aku tulis lewat blog dan media sosial. Dan sekarang cara inilah yang jadi penyelamat bagiku di masa-masa kelam.

Alhasil, ketika mendapat pesan seperti itu, mau tidak mau langsung aku iyakan. Kapan lagi dapat rezeki seperti ini, kan? Meski awalnya aku sama sekali tidak tahu produk seperti apa yang akan aku ulas pun dengan kondisinya, yang penting ‘hajar’ saja.

Akan tetapi, pesan selanjutnya bikin aku terdiam.

“Tapi, Kak, kami minta ulasannya tayang hari Jumat, ya. Barang nanti segera kami kirimkan. Biar bisa barengan sama launching-nya.”

Wait a minute. Hari ketika aku menerima pesan itu adalah hari Minggu pagi. Hitungan kasarku, aku membutuhkan waktu kurang lebih dua hari untuk menjajal produk yang diberi. Belum lagi untuk menulis ulasannya. Foto-foto produk juga jangan ditanya. Range kerjaku itu biasanya lima hari setelah barang kuterima. Dan kalau pihak brand baru mengirim hari Senin, aku sangsi akan selesai tepat waktu. 

Bukannya apa, sih. Sejujurnya, rumahku memiliki ‘keadaan khusus’ yang kadang bikin para kurir enggan merapat: nama jalannya yang serupa dengan sebuah daerah di sekitaran Jambi sementara aku di Palembang. Paket-paket yang seharusnya terkirim ke rumah sering kali salah alamat. Imbasnya pekerjaanku sering sekali terhambat. Setelah berpikir lama, aku pun mulai membalas...

“Baik. Tapi bisakah barangnya dikirim secepatnya? Biar bisa cepat mengerjakannya.”

Tak lama menanti, mereka menyanggupi.


Kejutan yang Datang Satu Hari Lebih Cepat

Dalam keadaan was-was, aku pun mulai menyusun rencana. Rasanya sudah lama sekali tidak mendapatkan kerjaan seperti ini. dan tentunya harus tetap dilakukan dengan maksimal, kan? Jadilah aku mulai berpikir. Jika selasa barang datang, aku bisa mengerjakan ulasan paling lambat hari Kamis. Namun, sebuah kejutan tiba-tiba datang.

D:\JNE\Vivan\71ae287a-a8eb-477e-824b-0b0f4e1ca241.jpg

Keesokan harinya, ketika matahari sudah mau tenggelam, sebuah suara familier memanggil.

“PAKEEEEEET!”

Aku yang ada di dalam kamar langsung bangkit. Rasanya sih nggak ada anggota keluarga lain yang menunggu paket selain aku. Dan benar saja. Ketika aku berjalan menuju pagar, petugas JNE dengan cepat mengonfirmasi.

“Kak Bimo?”

“Iya.”

“Ini paketnya, Kak,” katanya sembari menyerahkan bungkusan berwarna putih yang cukup besar. Masih dengan tercengang aku mengambil paket yang diberi.

“Tanda tangannya, Kak.”

Aku menurut. Setelah selesai melakukan itu, aku melihat lagi nama pengirim: brand yang menawariku kerja sama kemarin! Loh, kok cepat banget sampai! Aku sama sekali nggak menduga. Aku kira barang yang akan aku ulas ini bakal sampai paling tidak hari Selasa. Dan ini Senin menjelang sore? Nggak salah nih?

D:\JNE\Vivan\ee4c3a9b-97e1-4fd5-ab48-cfc8b7e532f5.jpg

Aku masih saja terkesima. Memang, di kerjaan me-review barang seperti ini, proses pengiriman jadi kunci. Apalagi bila sudah ada tenggat waktu dari brand, otomatis kita sama sekali nggak bisa apa-apa. Alhasil satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya menunggu barang datang. Dengan pengiriman yang cepat pula, orang-orang yang memiliki pekerjaan sepertiku amat tertolong sebab dapat mengulas dengan cepat pula. Aku senang, brand pun ikut senang! Win win solution!

Selama ini aku memang mengandalkan JNE sebagai pengiriman apapun. Salah satu alasannya sih jelas: aku sama sekali belum pernah kecewa dengan jasa kurir satu ini. Pokoknya dengan penulisan alamat yang detail dan lengkap, paket sampai ke rumahku. Nggak ada tuh alasan perihal salah alamat. Bahkan dulu seringnya aku membeli buku aku sampai hafal dengan kurir JNE yang datang ke rumah. Hahaha. Selebihnya ya yang kayak gini. Meski sama sekali nggak pakai layanan YES, paketku tiba satu hari! Itu artinya, mereka selalu memberikan pelayanan maksimal buat para pelanggannya, terlepas dari apapun layanan yang dipakai, kan?

Nah, balik lagi. Setelah menerima barang yang mesti aku ulas, aku langsung bekerja cepat. Produk speaker tersebut langsung aku coba. Hari Kamis, aku sudah menulis ulasan untuk di-posting keesokan harinya. Dan Jumat pun datang. Semua berjalan sesuai dengan rencana.

D:\JNE\Vivan\2c7712f8-2b96-477d-93e5-f6e2ffd16d7c.jpg

Dalam hati aku tenang. Jika barang nggak datang lebih cepat sehari tersebut, pastilah proses me-review barang jadi tidak maksimal. Bayangkan, banyak fitur yang harus dicoba sedangkan waktu untuk mengulasnya sedikit. Dan kali ini penyelamatku tentu JNE. Berkat pengiriman yang cepat, kerjaanku sama sekali jadi tak terhambat!

Dari Rantang Turun Ke Hati


Rantang.

Siapa sih yang nggak tahu dengan benda satu ini? Biasanya kita menggunakan rantang untuk membawa makanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, di tangan Wahyoo dan JNE, rantang memiliki artian yang berbeda. 

Seperti yang kita ketahui, era pandemi yang berlangsung di Indonesia sejak bulan maret lalu memberi pukulan keras bagi banyak orang. Dari berita-berita di televisi, bukan hanya sektor kesehatan yang terdampak, akan tetapi ekonomi juga terkena imbasnya. Puncaknya, saat covid-19 merajalela, semua sektor seakan mati. Kantor-kantor besar langsung mencanangkan work from home. Jalanan sepi. Dan yang paling terasa, warung-warung seakan mati suri.

Keadaan itu tak juga membaik akhir-akhir ini. Malah semakin terasa dampaknya. Yang paling mencekik tentu para UMKM kita. Bayangkan warung-warung tradisional yang biasa ramai pengunjungnya mendadak langsung sunyi. Tak ada lagi aktivitas jual beli. Banyak pedagang akhirnya gulung tikar dan gigit jari.

Nah, melihat keadaan yang seperti itu, Wahyoo sebagai perusahaan yang bergerak di bidang optimalisasi warung makan di Indonesia bersama JNE Indonesia yang sebagai perusahaan yang berkutat pada logistik pengiriman meluncurkan program #RantangHatiJNE. Program ini memiliki tujuan untuk memberikan sedikit keringanan kepada para warga yang terdampak pandemi dengan cara membagikan nasi bungkus gratis. Selama sepuluh hari berturut-turut mulai dari tanggal 1 Juli 2020 hingga 10 Juli 2020, program #RantangHatiJNE ini berjalan penuh.


#RantangHatiJNE menjembatani mitra-mitra Wahyoo yang tak bisa berjualan akibat Covid-19 dan memberdayakannya untuk membuat makanan-makanan yang nantinya akan disalurkan oleh JNE kepada para warga yang membutuhkan. Dengan begitu, para warga yang sebelumnya kehilangan pekerjaan dan masalah pendapatan dapat sedikit lebih lega saat menerima bantuan. Hal ini menjadi win-win solution bagi para mitra Wahyoo dan masyarakat terdampak.


Nah, pada Jumat tanggal 10 Juli 2020, Wahyoo dan JNE melakukan konfrensi pers online untuk memperkenalkan latar belakang dan pencapaian program ini dalam periode tersebut. Konferensi pers ini dihadiri oleh Peter Shearer selaku Founder dan CEO dari Wahyoo Group dan Eri Palgunaldi selaku Vice President of Marketing JNE. Keduanya mengatakan bahwa program ini memiliki konsep yang sederhana dan sejalan dengan visi kedua perusahaan untuk memberikan pesan optimis dan harapan di tengah pandemi yang melanda seperti sekarang. Dengan dua ahli di masing-masing bidang, kolaborasi antar dua perusahaan ini diharapkan memberikan banyak kebahagiaan bagi orang-orang yang sedang dilanda kesusahan.

#RantangHatiJNE berfokus kepada pemberian makanan dengan maksud bahwa makanan adalah hal paling esensial dalam kehidupan masyarakat, Kebutuhan makanan sudah seharusnya dapat terpenuhi di saat pandemi seperti ini. Dan dipilihnya warung makan tradisional, kata Pak Eri disebabkan karena warung makan tradisional adalah tempat berkumpulnya masyarakat. Roda-roda perekonomian juga paling banyak berputar di usaha semacam ini. Dan dampaknya pun terasa paling besar dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah alasan kenapa makanan dan warung makanan tradisional jadi kunci program ini.




Dan terbukti hasilnya pun tidak main-main. Tak kurang dari 100 mitra Wahyoo yang turut serta di program ini yang tersebar seantero Jakarta dan menghasilkan 25.400 bungkus nasi yang dibagikan secara gratis ke 493 RT di DKI Jakarta. Sebuah angka yang fantastis untuk capaian 10 hari! Keren bukan? Program ini juga membantu menaikkan omset warung makan tradisional yang mulanya tutup akibat pandemi. 



Program #RantangHatiJNE tak hanya berdampak bagi para mitra dan masyarakat yang menerima manfaat. Pak Eri menjelaskan program ini merupakan langkah JNE untuk mewujudkan tagline mereka yaitu Conecting Happiness dengan membawa kebahagian ke banyak orang. Selain itu, program ini juga dilakukan untuk memberikan semangat berbagi kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya karyawan JNE untuk senantiasa membantu sesama apapun keadaannya.

#RantangHatiJNE ini adalah langkah awal bagi Wahyoo dan JNE untuk berkolaborasi. Diharapkan semoga program ini dapat memicu banyak pihak untuk bersama saling membantu di masa-masa sulit seperti saat ini. Dan kali ini, rantang yang dibawa oleh Wahyoo dan JNE bukan hanya berisi makanan siap saji melainkan juga hati yang siap dibagi kepada orang-orang yang terkena imbas pandemi. 

SiKasep, Cara Mudah Beli Rumah di Tengah Corona


Siapa sih yang tidak pengin punya rumah? 

Banyak orang memimpikan rumah pertamanya di usia dua puluhan. Apalagi, kaum milenial. Dilansir Kompas.com, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan diperkirakan ada sebanyak 81 juta milenial yang ada di Indonesia belum memiliki rumah. Padahal, bila menilik potensinya, milenial merupakan pangsa paling besar yang ada. Keengganan masyarakat khususnya milenial dalam memiliki rumah ini disebabkan oleh beberapa faktor pendukung misalnya harga hunian yang terus naik, integrasi transportasi, hingga pola perilaku milenial yang lebih konsumtif. Kemudahan akses informasi juga patut dipertimbangkan. 

Selain itu pula, keberadaan rumah amat penting bagi masyarakat Indonesia yang memiliki penghasilan rendah. Namun berbanding terbalik dengan tingkat kesanggupan memiliki hunian. Berdasarkan data yang dihimpun dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia, harga hunian yang ada di Indonesia naik 39,7% dalam satu dekade. Sementara suku bunga pinjaman untuk pembelian rumah berbanding terbalik dengan rata-rata Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Hal inilah yang memicu keberadaan hunian menjadi opsi kedua. 



Mengenal SiKasep, Inovasi Pembelian Rumah Subsidi 


Hunian yang layak bagi masyarakat Indonesia khususnya yang memiliki penghasilan rendah sudah jadi perhatian bagi pemerintah Indonesia dari dulu. Pada tanggal 15 Juli 2010, pemerintah membentuk Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan yang bertugas untuk menangani pemberian subsidi dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi masyarakat yang membutuhkan. Nah, FLPP ini memiliki fitur-fitur yang dibuat untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) meliputi suku bunga 5% fixed, jangka waktu hingga 20 tahun, angsuran terjangkau, bebas premi asuransi, bebeas PPN, dan uang muka ringan. Nah, dengan kemudahan-kemudahan itu, pada tahun 2020, target realisasi anggaran PPDPP ini bernilai 11 triliun rupiah atau 102.500 rumah. 



Untuk mendukung realisasi anggaran yang lebih cepat dan tepat, Kementrian PUPR melalukan program pembaharuan infrastruktur berbasis inovasi di bidang teknologi. Melalui BLU PPDPP, pemerintah meluncurkan Sistem Informasi KPR Subsidi Penuh atau bisa disingkat menjadi SiKasep pada tanggal 19 Desember 2019. SiKasep sendiri bertujuan untuk mempermudah Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan milenial menemukan rumah subsidi impian mereka yang sesuai dengan kebutuhan mereka. SiKasep menjamin pembelian hunian bersubsidi dengan proses yang lebih mudah dan cepat. Hanya dengan satu genggaman. 

SiKasep bekerja dengan menghubungkan masyarakat, pemerintah, bank pelaksana, dan pengembang dengan sistem host to host sehingga proses pencarian, pengajuan, hingga pembelian dapat terintegrasi secara langsung. Bantuan dana FLPP dapat disalurkan dengan transparan dan tepat sehingga dapat dipantau langsung bagi semua pihak. Secara umum, terdapat empat pintu kerja dari SiKasep yaitu: 
  1. Masyarakat mengakses melalui aplikasi SiKasep. 
  2. Pengembang menyiapkan data perumahan melalui aplikasi SiKumbang, 
  3. Verifikasi dilakukan oleh bank pelaksana. 
  4. Bila disetujui, PPDPP akan memproses kemudian menyalurkan dana FLPP sembari tetap melakukan monitor pelaksanaan. 


Nah, keempat pintu itu berjalan simultan sehingga memudahkan proses pembelian rumah subsidi. Selain itu, SiKasep juga bekerja berbasis koordinat dan lokasi. Ketika kita mencari rumah, kita akan otomatis diberikan pilihan perumahan yang ada di dekat lokasi kita saat ini. Dengan mengusung konsep big data informasi-informasi mengenai perumahan tersebut tersedia sehingga data yang ditampilkan dapat lebih akurat. Ketersediaan rumah pun dapat dipantau secara real time. 

Memasuki bulan ke tujuh, SiKasep menerima respon baik dari masyarakat. Berdasarkan data yang diberikan Kementrian PUPR, terhitung dari tanggal 26 Juni lalu, sudah ada sebanyak 175.510 calon debitur yang mengakses aplikasi SiKasep. Sementara 143.48 di antaranya dinyatakan lulus pemeriksaan subsidi. Yang telah menerima bantuan pun ada! Lebih dari 70.000 telah menerima dana bantuan pembiayaan perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah. 

Pilihan perumahan subsidi yang dapat diakses pun sudah jauh lebih banyak. Saat ini, melalui Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKembang), terdapat lebih dari 10.000 lokasi! Data yang telah terintergrasi dengan SiKasep pun mencapai 9.694 lokasi sementara rumah yang tersedia mencapai 29.135! Banyak, kan? Jadi calon pembeli dapat memilih rumah subsidi sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Untuk bank pelaksana pun, SiKasep menggandeng 37 bank yang terdiri dari 10 bank nasional dan 27 Bank Pembangunan Daerah. Bank-bank pelaksana ini diharapkan mampu memberi banyak solusi bagi calon debitur untuk memilih di mana mereka akan melakukan cicilan. Keren, bukan? 

Untuk mengakses SiKasep, masyarakat hanya perlu mengunduhnya di playstore. Selanjutnya untuk mendaftar aplikasi SiKasep, cukup ikuti langkah mudah berikut: 
  1. Masukkan data diri di aplikasi yang tersedia. Data-data tersebut meliputi Nama, Sandi, Konfirmasi Sandi, Nomor KTP, NPWP, Penghasilan Perbulan, hingga nomor HP. 
  2. Untuk proses verifikasi, ambil foto diri yang lagi memegang KTP. 
  3. Selanjutnya cukup foto KTP saja. Selesai. 
Nah untuk melakukan pencarian rumah dan mengajukan KPR melalui aplikasi SiKasep pun nggak kalah mudah loh. 


  1. Buka aplikasi SiKasep dari ponsel pintar kemudian masuk menggunakan nomor KTP dan Password. 
  2. Pilih Menu Lokasi Rumah Idaman Anda lalu masukkan data lokasi seperti Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan. 
  3. Selanjutnya pilih menu Perumahan Sekitar Rumah Idaman maka akan muncul daftar perumahan yang ada di sekitar pilihan kita tadi. 
  4. Klik Lihat pada daftar perumahan kemudian akan muncul data berupa foto perumahan, nama pengembang, dan alamat. Jika tertarik, silakan klik tombol Pilih. 
  5. Setelah selesai memilih, masuk ke menu Pilih Bank Pelaksana KPR Subsidi dan akan muncul 37 pilihan bank pelaksana. 
  6. Bila sudah, pantau status pengajuan di menu Cek Status Pengajuan KPR. Di sini, proses pengajuan akan terlihat per tahap. Jadi transparan. 
  7. Bank pelaksana akan menghubungi untuk menindaklanjuti pengajuan KPR.
  8. Setelah diverifikasi dan semua tahapan selesai, selamat rumah impian sudah jadi milik kita! 

SiKasep, Solusi Cari Rumah di Pandemi Corona 

Seperti yang kita tahu, pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh negara yang ada di belahan dunia. Banyak sekali dampak yang diberi bukan hanya di bidang kesehatan, namun juga materi. Hal ini mengubah pola masyarakat dunia menjadi lebih pasif. Di Indonesia sendiri, gelombang pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk turun. Meski pemerintah mencanangkan New Normal dengan mengadaptasi kebiasaan baru untuk tetap bersih dan menjaga kesehatan di tengah gempuran virus, namun ekonomi masih terlihat lesu. 

Hal ini pun berpengaruh pada sentimen masyarakat untuk membeli rumah yang semakin menurun. Selama ini proses membeli rumah dianggap sebagai proses yang melelahkan. Dalam menemukan hunian yang pas, calon pembeli diharuskan datang langsung ke lokasi, bertemu agen atau pengembang, mengurus pembayaran atau cicilan, hingga melakukan akad. Sedangkan di era sekarang, masyarakat cenderung ingin semua lebih mudah dan cepat. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat dilakukan di tengah pandemi, bukan? 

Di era pandemi di mana interaksi sosial antar manusia dibatasi, Kementrian PUPR memastikan untuk tetap dapat memberikan pelayanan prima melalui SiKasep bagi masyarakat yang menginginkan subsidi rumah. SiKasep mengalihkan cara-cara manual yang biasa kita lakukan dan dinilai rumit menjadi lebih sederhana dengan cara yang kekinian pula. SiKasep adalah cara baru yang diharapkan dapat menjangkau lebih luas masyarakat terlebih kaum milenial untuk memiliki rumah. 

Beberapa keunggulan penggunaan SiKasep di era pandemi seperti saat ini: 


Mudah 

Cukup pakai aplikasi, pengajuan kredit dan dana bantuan FLDP dapat diproses. Memilih hunian pun hanya dengan satu kali klik di menu. 

Transparan 

Calon pembeli dapat memantau tahapan pengajuan kredit secara real time pula sehingga tahu sudah sejauh mana proses dilakukan. 

Cepat 

Tak perlu berbelit dan pergi ke sana sini. Proses pengajuan bisa dilakukan saat itu juga melalui aplikasi sebab semua data sudah terintegrasi. 

Aman 

SiKasep memberikan ketepatan informasi kepada calon pembeli meski tidak melihat langsung atau melalui kontak fisik. Meski tanpa melihat langsung rumah yang kita pilih, kita tidak perlu takut untuk membeli rumah sebab melalui SiKasep setiap pengembang memberi data perumahan dan dapat dicek kebenarannya di aplikasi sehingga kemungkinan ditipu oleh pengembang menjadi minim. Data yang kita berikan pun dijamin keamanannya oleh Badan Siber dan Sandi Negara. 

Dengan pemakaian yang mudah pula, SiKasep diharapkan mampu jadi solusi membeli rumah di era pandemi seperti saat ini. Tak perlu keluar rumah, kita dapat mengakses beragam pilihan rumah yang ada kemudian memilah sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Proses yang mudah dan transparan menjadi kelebihan tersendiri yang kita dapatkan. Selain itu, dengan layanan yang terintegrasi, semua layanan jadi lebih cepat dan tidak bertele-tele lagi. Tidak ada ceritanya pergi ke lokasi-lokasi rumah bolak-balik. Dan tidak perlu capek-capek ke bank mengajukan KPR. Dengan SiKasep, rumah masa depan bisa didapatkan hanya dalam satu genggaman!

Gahar! Performa Speaker Bluetooth Vivan VS20 Terbaru!


Industri bluetooth speaker kayaknya lagi naik daun ya. Gaya hidup masyarakat Indonesia yang sekarang lebih suka wireless dan segalanya dikontrol lewat hape yang jadi alasan setiap perusahaan berlomba-lomba untuk membuat perangkat audio wireless. Yang untung tentu saja konsumen sepertiku. Banyak pilihan produk yang bisa aku pilah dan pilih sesuai kebutuhan. 

Nah, Vivan Indonesia pun seolah nggak berhenti berinovasi. Setelah meluncurkan Vivan VS1 sebagai speaker outdoor termurah dan terbaik di pasaran plus Vivan VS5 sebagai teman #dirumahaja yang cocok untuk ditaruh di sudut ruangan, kali ini Vivan menjawab tantangan yang lebih tinggi lagi. Melalui seri Vivan VS20, Vivan kembali membuktikan bahwa inovasi mereka nggak bisa dipandang sebelah mata. 

Untuk itulah kali ini aku berkesempatan untuk cobain langsung Vivan VS20 ini. Kemarin, aku cobain dua perangkat audio dari Vivan yaitu VS1 dan TWS Liberty 100 dan keduanya memberikan hasil yang memuaskan. Dan satu kata dariku untuk Vivan VS20: Gahar! Beneran, 

Sebelum bahas kelebihannya, sekarang kita bahas apa aja yang ada di kotaknya yuk! 
Jadi, untuk setiap paket penjualan, kalian bakal mendapatkan:
  1. Box premium!
  2. Speaker Vivan VS20.
  3. User guide dan garansi.
  4. Kabel USB Type-C.
  5. Kabel Aux.
Gimana? Lengkap kan? Nah sekarang mari bahas segala hal yang aku sukain dari Vivan VS20 ini!

Desain Simpel dan Elegan 

Bagiku sendiri Vivan VS20 memiliki desain yang kekinian dan minimalis. Dengan finishing matte yang kayaknya bahannya sama dengan Vivan VS1, aku bisa bilang kalau Vivan VS1 ini elegan banget. Dimensinya mungkin bagi sebagian orang terkesan gede dengan ukuran 186 x 62 x 50 mm, tapi bagiku masih tolerable buat dibawa ke mana-mana atau dipajang di kamar. Apalagi warnanya biru, beuh! Berkelas. 

Simpel banget kan ya?
Tombol-tomblnya pun dibuat minimalis!
Pengait biar mudah dibawa ke mana-mana!

Bluetooth 5.0: Jauh Menjangkau Perangkat, Bikin Bebas Bergerak 

Penyakit dari perangkat bluetooth adalah sering ‘hilang-hilangan’ sambungan. Ya, jangkauannya kadang bikin kayak lagu Melly Goeslaw” putus nyambung! Akan tetapi jangan salah. Di Vivan VS20 aku sama sekali nggak menemui penyakit demikian. Dengan teknologi bluetooth versi 5.0 terbaru jangkauannya bisa sampai 20 meter! Duh, belanja di warung depan juga masih tersambung euy! Kurang apa lagi? Jadi nggak ada istilahnya pas enak-enak dengerin lagu terus tiba-tiba hening..... nggak banget kan? 

IPX7 Waterproof: Dibawa Nyemplung, Kuy! 

Salah satu fitur terbaik dari Vivan VS20 adalah IPX7 Waterproof! Bagi yang nggak tahu, IPX adalah indeks ketahanan sebuah obyek terhadap air. Jika Vivan VS1 hanya tahan terhadap cipratan air sebab memiliki IPX, kini di Vivan VS20 indexnya IPX7 yang artinya bisa dibawa nyebur euy! Nggak perlu khawatir taruh VS20 di pinggir kolam pas berenang terus tiba-tiba nyemplung ke kolam. Vivan VS20 ini tahan! Bawa ke air terjun juga mantap tuh! 

Belum sempat dibawa nyebur. :( Guyur aja!
Ditutup rapat biar nggak masuk air!

Type-C Charging: Isi Daya Cepat! 

Ketika lihat kemasan dari Vivan VS20, aku langsung terkejut membaca sebuah fitur yang mungkin baru pertama kutemui di speaker dengan range harga sejenis yaitu pengisian daya Type-C. Pasti banyak yang bertanya, memangnya ini penting gitu? Bagiku iya. Dengan tipe port yang reversible sehingga aku bisa dengan mudah membolak-balik kepala kabel kemudian memasukkannya ke lubang knektor. Such an easy life, kan? USB Type-C juga mendukung pengisian daya cepat sebab daya keluaran maksimalnya bisa mencapai 20V. Jadi bisa terus dipakai nih. 

Kapan lagi ada speaker bluetooth terjangkau disertai kabel USB Type-C?

3.600 mAh: Daya Gede Tahan Seharian! 

Pastinya lebih enak kalau punya device speaker yang bisa tahan seharian, kan? Vivan VS20 ini punya daya gede yang tahan seharian. Aku sendiri mencobanya buat putar lagu malah lebih dari 24 jam loh. Gils banget! 

Card, Bluetooth, dan Aux: Triple Combo Anti Mati Gaya! 

Yang aku suka juga adalah masukan media dari Vivan VS20 ini yang beragam. Dan bahkan ada masukan AUX juga loh! Kabelnya pun masuk ke dalam paket pembelian. Kurang lengkap apa tuh. Meski yang ditonjolin dari Vivan VS20 ini adalah sambungan bluetooth-nya, namun rupanya Vivan memberikan kejutan kecil lain dengan menyisipkan masukan AUX. Masukan ini memungkinkan kita memainkan lagu secara manual tanpa sambungan bluetooth. Ya, misal ponsel lagi habis baterai. AUX-in aja! 

Ada masukan AUX!!!!!!!

20W Stereosound : Jernih Sampai Kuping! 

Nah, ini yang paling penting, kan? Dengan keluaran hingga 20W stereosound menghasilkan suara yang jernih banget. Aku udah menggunakan semua masukan yang ada dan bisa kubilang suaranya sama sekali nggak sakit di telinga. Range-nya pun kurasa cukup lebar. Vivan VS20 mampu menangkap suara ultrabass yang clear terus suara tinggi yang nggak pecah. Wah ketika memakainya aku jingkrak sendiri nih. Dibekali dengan Super Bass Radiator berukuran 104 x 39 mm menghasilkan kualitas suara yang sangat baik. 

Speaker ultrabass yang nggak bikin kuping sakit.

Setelah memakai perangkat ini kurang lebih seminggu, sejujurnya aku PUAS banget. Maksudku, kapan lagi dapet speaker bluetooth dengan spesifikasi lengkap dan performa gahar yang bisa kalian dapetin dengan harga 600 ribuan? Rasanya aku pun nggak sabar buat bawa speaker ini lburan. Bayangin nyetel lagu di gunung sembari melihat langit malam yang berbintang! Atau lagi santai duduk di kolam sepi sembari dengerin lagu dari pinggir kolam. Lengkap banget kan? Menurutku Vivan VS20 ini bisa banget jadi pilihan! 


Tertarik untuk mencoba? Cek linimasa Vivan Indonesia, ya! Siapa tahu dapet promo potongan harga! 



Cheers.

Tetap Jalin Silaturahmi dan Makan Pempek Bersama di Era Pandemi


Tidak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya mendekam begitu saja di rumah. Pun dengan keluarga. Semenjak pandemi nggak ada kegiatan berarti yang kami lakukan. Nggak ada perubahan apa-apa. Hanya saja, kami lebih membatasi diri untuk pergi ke luar rumah. Keadaan ini membuat efek yang cukup baik di keluarga. Kami lebih sering bercengkerama, bertukar beragam pandangan terhadap apapun yang sedang terjadi. Adik pun lebih sering mengutak-atik resep masakan yang alhasil bikin persediaan dari makanan ringan hingga makanan berat aman buat perut yang keroncongan. 

Namun tetap, keadaan seperti itu membuat sedikit kekosongan di keluarga kami. Apalagi saat Ramadan dan Idulfitri tiba. Ada kerinduan yang mendadak hilang begitu saja. Apalagi buat Mama. Sebagai kakak tertua, Mama biasa dikunjungi oleh adik-adiknya selama Ramadan. Entah hanya untuk bertegur sapa, berbuka bersama, bahkan menginap. Tante dan Om saya dari berbagai penjuru seperti Pagaralam, Bali, Jakarta, hingga Jambi biasanya berkumpul bersama di rumah lalu menghabiskan waktu satu bulan penuh bersama hingga waktu lebaran tiba. Ritual ini sudah kami lakukan dari tahun ke tahun. Namun, di era pandemi seperti saat ini, kegiatan itu mustahil dilakukan. 

Keadaan yang seperti ini membuat Mama terkadang sedih. Biasanya, tiap hari rumah ramai dikunjungi. Makanan untuk berbuka puasa pun pasti ramai tersedia. Celotehan sepupu yang masih kecil ditambah kebersamaan menunggu berbuka puasa tak lagi dirasakan. Belum lagi kebersamaan salat Maghrib dan Tarawih yang terasa sepi begitu saja. Salah satu sarana mengisi kekosongan tersebut hanya lewat layar ponsel. Selebihnya, hingga lebaran tiba, tidak ada tanda-tanda kami jua bersua. 


BERAWAL DARI IDE SEDERHANA 

“Biasanya kita pasti berebutan pempek abis salat idulfitri, kan?” Mama berkata saat kami sedang berbuka. Kala itu tujuh hari menjelang lebaran memang biasanya kami membuat pelbagai makanan untuk disantap bersama ketika lebaran tiba. Dan yang pasti nggak ketinggalan tentu pempek. Makanan khas Palembang ini menjadi hal wajib yang ada di meja makan ketika lebaran. Dan seperti kata Mama, ketika pempek sudah digoreng di pagi setelah salat idulfitri, kami biasanya langsung berburu mengambil satu per satu hingga habis tanpa sisa. 

“Ya mau bagaimana lagi, Ma? Kan udah PSBB. Kinik aja yang deket di Jambi nggak bisa balik,” jawab saya. 

Mama menerawang. Dari matanya saya bisa melihat ada kehangatan yang amat Mama rindukan. 

“Bagaimana kalau kita kirim aja pempeknya?” kata adik yang paling kecil memberikan solusi. “Setidaknya, pas lebaran mereka juga bisa menyantap pempek. Hitung-hitung obat kangen buat mereka dengan keluarga yang di Palembang.” 

Senyum mulai mengembang dari ujung bibir Mama. Namun, sesaat kemudian, wajah muram mulai muncul. “Bagaimana cara mengirimnya?” tanya Mama lagi. 

Sebenarnya itu bukan pertanyaan tanpa alasan. Pertama dengan kasus Covid-19 yang makin sering di Palembang, pastinya ketakutan akan virus tersebut bikin was-was. Belum lagi di masa pandemi seperti saat ini, di berita-berita sudah mulai terdengar bahwa penerbangan ditiadakan. Belum lagi pertanyaan apakah perusahaan pengiriman mau menerima paket yang berisi makanan? 

Saya pun bergegas mengambil ponsel lalu mencari informasi lewat lini masa. Dan akhirnya, saya menyaut sebuah nama, “JNE masih buka, Ma. Bisa kali kirim ke Mbak Hexa di Jakarta.” 

Mama mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari beberapa orang lagi di rumah, ide sederhana tersebut mulai kami eksekusi. Mama mulai mencari-cari kontak di ponselnya dan menelepon beberapa saudara yang memang memiliki usaha kuliner pempek. Bukannya kami nggak mau bikin sendiri, namun kami berkejaran dengan waktu. 

Nggak butuh waktu lama, kami mendapat bantuan dari Yuk Pipit, sepupuku yang memiliki UMKM pempek. Satu hari kemudian, akhirnya kurang lebih seratus pempek siap dikirim. Pempek-pempek tersebut divakum kemudian di-packing di kotak kardus yang lumayan besar untuk dikirim. Kami harap, ide sederhana ini bisa jadi kejutan yang istimewa bagi keluarga besar yang ada di luar Palembang! 


Pempek yang udah dibuat.

Paket sudah siap dikirim.

KIRIM CEPAT DENGAN JNE EXPRESS 

Setelah kami rasa sudah mengemas pempek dengan aman, inilah waktu mengirim. Sebagai kakak paling tua, sayalah yang ditugaskan untuk kirim-kirim barang. Saya pun menaruh paket pempek dengan rapi di motor lalu memacu kendaraan saya ke JNE Express yang terletak di Jalan Mayor Ruslan No.4 20 Ilir Palembang, Sumatera Selatan. JNE ini saya pilih karena merupakan cabang utama yang ada di Palembang. Harapannya sih biar cepat diproses dan dikirim. 

Saya sendiri tidak asing dengan jasa pengiriman barang JNE Express ini. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1990 ini sukses menjadi pilihan para pelanggannya dalam urusan pengiriman barang dan logistik. Banyak fitur yang ditawarkan oleh JNE mulai dari yang paling terjangkau yaitu OKE, pengiriman REG, dan pengiriman cepat Yakin Esok Sampai (YES), dan banyak lagi. Hingga saat ini, sudah lebih dari 7.000 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, loh. 

Saya sendiri semasa berjualan tas dulu pasti mengirim lewat JNE. Selain konter pengiriman yang ada di depan lorong rumah, para pembeli tas dari saya bilang bahwa tenggang waktu pengiriman JNE juga paling akurat. Terlepas dari layanan apa yang kita pilih. Sebagai konsumen pula saya selalu mengandalkan JNE untuk membeli barang dari e-commerce. Ya, apalagi alasannya kalau pelayanannya yang prima? 

Balik ke pengiriman pempek, ada yang sedikit berbeda kemarin. Sesampainya di sana, protokol kesehatan dijalankan. Yap, di era pandemi seperti saat ini, kebiasaan baru mulai bermunculan. Tentunya kebiasaan baik mulai dari semua diwajibkan memakai masker, cuci tangan, hingga diukur suhu tubuhnya. Saya pun melihat petugas JNE melakukannya dengan baik. 

Tak butuh waktu lama, saya pun langsung menyerahkan paket saya ke konter yang tersedia. Saya pun memilih layanan JNE YES (Yakin Esok Sampai). Sebagai seorang konsumen loyal JNE, saya paling suka layanan ini. Dengan jaminan barang sampai lebih cepat namun dengan harga tetap terjangkau, JNE YES selalu jadi pilihan bagi saya dalam berbelanja atau mengirim barang. Apalagi jika barang-barang tersebut berhubungan dengan makanan atau barang elektronik. 

Pakai YES biar cepat sampai.

Era pandemi seperti saat ini juga berpengaruh ke pelayanan JNE. Dari awal saya sih maklum walaupun ada sedikit rasa khawatir. Meski saya memilih JNE YES, petugas JNE yang menerima paket saya bilang bahwa karena kondisi seperti saat ini kepastian tiba barang agak berjarak sedikit. Namun, saya tidak perlu khawatir sebab mereka memastikan bahwa barang akan tiba secepatnya. Puih, saya pun lega. Setelah melakukan proses penginputan data, resi pun saya terima. Paket pempek dari Palembang siap meluncur ke Jakarta! 

KEJUTAN MANIS UNTUK IDUL FITRI 

Dering telepon genggam Mama menyalak sedari tadi. Mama yang lagi nonton televisi langsung menyuruhku mengambil ponsel. Nama Hexa tertera di ponsel. Bergegas, saya menyerahkan ponsel tersebut ke Mama. Panggilan video call diterima! 

“MBAK NAAAAAA!” Suara itu menggema ke seluruh isi ruangan. Dari nada suaranya, ada rasa tangis, senang, dan sedih yang tertahan ingin keluar. Seketika saya merinding. 

“Yo, Hex,” Mama menyaut. 

“Mbak Na ini paket pempeknya sudah kami terima. Makasih banyak ya, Mbak Na. Tahu nian kami kangen pempek!” Orang yang ada di seberang telepon langsung menyerbu. 

Saya melihat wajah Mama. Kejutan kecilnya ternyata berhasil membuat rasa gembira nggak hanya untuk adiknya yang paling kecil, namun bagi dirinya sendiri. 

“Ma, coba tanya bagaimana kondisi paketnya!” sahutku. 

Mama mengangguk. “Hex, paketnya aman?” 

“Aman, Mbak Na. Ini isinya udah dikeluarin sama sekali nggak rusak. Memang kapan Mbak Na kirim?” 

“Kemarin pagi, Hex. Dikirim Bimo Pakai JNE. Udah was-was PSBB takut paket sampai seminggu nanti.” 

“Loh cepet sampai berarti ya. Tadi udah ada di ruang paket apartemen!” 

Saya tersenyum lalu mulai beranjak. Ternyata paket JNE YES kemarin sampai dengan sempurna ke alamat penerima. Itu artinya pengiriman JNE masih optimal meski di era pandemi dan musim sibuk Ramadan dan Idulfitri. Dalam hati saya bersyukur. 

Paket yang aman sampai.

Percakapan itu terus berlanjut lama dengan mengajak beberapa penerima pempek lain. Terkadang terdengar suara tawa yang menggema. Saya dan adik-adik saya pun tidak berani mengganggu mereka. Biarlah, lewat kejutan kecil yang kami kirimkan pakai JNE, silaturahmi kembali terjalin. Kehangatan Ramadan dan Idulfitri kembali terasa di rumah. 


Cheers!