Jumat, 06 Desember 2019

Jelajah Yogyakarta: Antara Candi, Merapi dan Bakmi

Sugeng rawuh ing ngayogyakarta! –selamat datang di Yogyakarta!

Bisa dibilang, Yogyakarta adalah kota dengan pesona yang nggak ada habisnya—setidaknya bagiku. Provinsi yang terletak di bagian selatan pulau Jawa ini selalu bisa bikin aku buat balik lagi ke sini. Menurutku, Yogyakarta memberikan pengalaman lengkap sebagai daerah wisata. Ada hamparan gunung yang menjulang, pantai yang membentang, hingga kisah-kisah tua yang terulang lewat sudut-sudutnya.

Menjelajahi Yogyakarta pun tidak pernah bikin bosan. Termasuk budaya-budaya yang ada hingga makanan-makanan yang murah tersedia. Bagiku liburan ke Yogyakarta adalah proses dari pemulihan diri sendiri. Setelah melewati kegiatan sehari-hari yang penat dan kadang bikin lelah, aku sebisa mungkin menyempatkan untuk berlibur apalagi ke daerah ini. faktor ‘kampung halaman’ membuatku merasa Yogyakarta sudah menjadi rumah kedua bagiku. Dan aku merasa nyaman berada di sini.
Nah, November kemarin aku berkesempatan untuk mengunjungi kembali Yogyakarta. Tentu aku sudah antusias duluan. Beragam jadwal kususun sedemikian rupa. Dan puncaknya kemarin, aku melakukan banyak sekali aktivitas yang seru banget ketika aku main-main ke kota budaya satu ini!

Temple Hopping

Salah satu kegiatan seru yang aku lakukan saat berkunjung ke Yogyakarta adalah mengunjungi candi-candinya. Ya, Yogyakarta amat kental dengan nuansa sejarahnya. Sebagai daerah istimewa, Yogyakarta memiliki perpaduan budaya yang menarik untuk dikulik. Apalagi lewat bangunan-bangunan nan megah yang tersebar hampir di seluruh wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Terus, candi apa saja yang kukunjungi?

Pertama tentu Candi Borobudur. Meski letaknya tak persis di Yogyakarta karena berada di kawasan Magelang, Jawa Tengah, namun keberadaan candi ini tak terlepas dari nama Yogyakarta. Rasanya amat sayang jika ke Yogyakarta tanpa berkunjung ke salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini. Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar yang ada di dunia. Dengan lebih dari 1.400 relief, Candi Borobudur selalu jadi magnet tersendiri bagiku. Tiap kali ke Yogyakarta, kunjungan ke Candi Borobudur tak pernah kulewatkan. Aku merasa setiap kali ke sini, banyak cerita yang lain yang kudapat.

Kedua tak lain dan tak bukan adalah Candi Prambanan. Berbeda dengan Candi Borobudur Candi Prambanan adalah candi hindu terbesar yang ada di dunia. Ya dalam satu wilayah yang sama, penyebaran agama hindu dan buddha amat terasa di sini. Candi Prambanan terletak di Jalan Raya Yogya-Solo KM. 16 dan merupakan candi yang memiliki kisah menarik yaitu Roro Jonggrang. Candi ini pun ditetapkan sebagai warisan budaya bangsa oleh UNESCO loh!


Nama Candi Sari mungkin asing di telinga kalian. Aku pun demikian. Namun di wilayah sekitar Candi Prambanan Candi ini berdiri megah. Alkisah, candi ini merupakan sebuah perpustakaan yang digunakan oleh para biksu untuk belajar. Dengan desain dua tingkat diyakini Candi Sari merupakan arsitektur candi paling maju yang ada pada zamannya dan bermeditasi. Kalau ingin mengunjungi Candi Prambanan jangan lewatkan candi ini!

Candi Plaosan pun masuk dalam daftar kunjunganku. Candi ini dipercaya dibangun oleh raja dari Mataram Kuno sebagai hadiah untuk permaisurinya. Berbeda dengan kedua candi yang lain Candi Plaosan memiliki arsitektur unik karena perpaduan budaya hindu dan buddha. Hal ini sebagai simbol cinta yang merekatkan semua perbedaan. Tak jauh dari situ ada candi perwara Plaosan yang dipercayai sebagai tempat menginap raja-raja saat pesta pernikahan. Keren kan?



Menelusuri Jejak Lava

Bencana alam gunung meletus pada tahun 2010 memberikan banyak sekali pengalaman bagi Yogyakarta. Saat itu, Gunung Merapi tak segan memperbaiki diri dengan memuntahkan segala material yang ada di tubuhnya ke luar. Bencana ini menimbulkan luka yang amat dalam bagi warga Yogyakarta. Keganasan itulah yang membuatku ingin sekali melihat kembali jejak-jejak lava dan mempelajari bagaimana efeknya bagi masyarakat Yogyakarta.

Untuk itulah, aktivitas yang aku pilih adalah Lava Merapi Tour. Aku ingin sekali merasakan liburan yang berbeda, apalagi saat bencana letusan beberapa tahun silam, aku ingat betul kakek dan nenekku terjebak di bencana ini. Menariknya, untuk menelusuri jejak lava ini, kita dapat menggunakan mobil Jeep! Seru bukan? Di daerah Kaliurang, banyak sekali operator perjalanan yang bisa dipilih. Dengan harga mulai dari Rp 250.000 kita bisa menikmati beragam tempat untuk mengenang kembali jejak lava Merapi. Dan aku pun turut serta!

Tempat pertama yang aku kunjungi saat menjalani tur adalah Museum Mini. Di sini ditampilkan peninggalan-peninggalan barang-barang masyarakat yang tersisa akibat terkena luapan Merapi. Aku melihat banyak peralatan makan hingga televisi yang meleleh, hewan-hewan yang tersisa hingga tulangnya saja, sampai motor-motor yang hancur berantakkan. Hal ini membuatku sadar bahwa saat erupsi melanda, semua tak tersisa apa-apa.


Selanjutnya, aku dibawa mengunjungi Batu Alien—sebuah batu besar yang terdampar di pinggir jurang. Dinamakan Batu Alien sebab bila diperhatikan dengan saksama, batu ini memiliki bentuk yang mirip wajah manusia. Ada mata, hidung, hingga mulut. Batu sebesar ini dipercaya terbawa dengan material gunung lain dan tertabrak kelokan sungai hingga akhirnya terdampar di tempat ini. aku pun merinding ngeri membayangkan dahsyatnya aliran material-material tersebut.


Tempat terakhir dari perjalanan ini adalah Bunker Kaliadem. Di sini terdapat tempat perlindungan bagi masyarakat bila ada awan panas yang keluar. Letaknya kurang lebih 7 km dari puncak Merapi. Namun sayang, ketika erupsi dahulu, yang datang bukan hanya awan panas melainkan lahar dingin. Dua orang terjebak di sini dan meninggal. Dan sampai sekarang Bunker Kaliadem menjadi penanda jejak lava sekaligus titik paling dekat menuju puncak.


Perjalanan menelusuri lava Merapi bisa dibilang memberikan pandangan baru bagiku untuk melihat hidup. Tinggal di Palembang yang tak ada gunung, aku kadang mengeluh. Namun, melihat semua ini aku jadi banyak bersyukur. Dan inilah gunanya liburan, bukan? Membuat kita banyak melihat dan mendengar sekaligus mengambil pelajaran atas semua kejadian.



Cobain Makanan Khas

Bagiku, liburan ke daerah lain tanpa cobain makanannya adalah sebuah penghinaan. Meski pada kenyataannya nggak semua makanan bisa kucoba, namun sedikit-sedikit memasukkan makanan khas daerah ke dalam list yang harus dicoba adalah kewajiban dalam liburan. Jadilh, dengan waktu berlibur terbatas kemarin, aku berhasil mencicipi dua makanan khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa Pak Pele adalah kuliner paling wajib ketika main-main ke tengah kota. Letaknya berada di alun-alun utara kota Yogyakarta. Waktu paling tepat ke sini adalah sore menjelang maghrib. Menikmati alun-alun ditemani semburat oranye langit senja jadi kombinasi yang apik. Ditambah rasa bakmi ini amat beda dengan bakmi jawa yang biasa kusantap di Palembang. Emang harus ke daerah asalnya, ya! Mi yang kenyal dengan potongan ayam yang nggak pelit bikin pengin nambah lagi. Rasa gurih yang pas dan sedikit manis di lidah selalu buat ketagihan. Bakmi Jawa Pak Pele ini buka setiap hari, loh. Dan kalau malam siap-siap antre hingga dua jam!

Satu hal lagi yang harus dicicipin adalah makan pecel di depan Pasar Beringharjo! Ketika capek-capek abis belanja dan jalan-jalan di Malioboro, untuk isi tenaga bisa makan pecel dengan harga yang murah meriah! Yang pasti tetap enak loh. Banyak tambahan yang bisa dipilih mulai dari mi hingga ayam bacem. Bebas. Aku pun cobain dan sama sekali nggak menyesal. Enak banget! Apalagi aku bisa berinteraksi langsung dengan para penjual dan kadang saling bertukar cerita. TOP!




Perkara tempat menginap memang hal yang sedikit tricky. Bisa dibilang bagi budget traveler sepertiku, menginap di hotel-hotel berbintang pasti nggak masuk hitungan. Namun, aku sama sekali nggak khawatir. Di kota-kota besar di Indonesia, #PastiAdaOYO. OYO Hotels Indonesia adalah layanan pemesanan tempat menginap daring yang memungkinkan kita mendapat tempat menginap di kota tujuan dengan harga dan kualitas yang terbaik.

Nah sewaktu di Yogyakarta kemarin, aku pun memilih OYO sebagai tempatku menginap. Rumah Eyang adalah salah satu hotel di Yogyakarta yang menarik buatku. Aku menemukan Rumah Eyang ketika sedang mencari hotel yang murah namun berada di tempat strategis yang ada di Yogyakarta. Dari gambar yang tertera di aplikasinya, Rumah Eyang memiliki tampilan bak galeri yang hommy dan nyaman. Ini adalah salah satu alasanku memilih karena ingin mencoba menginap di tempat-tempat yang unik.

Untuk memesan OYO Hotels Indonesia Rumah Eyang ini pun mudah banget loh. Kita tinggal mencari properti di aplikasi OYO sesuai wilayah, daerah, periode inap, bahkan jumlah tamu. Terus akan terlihat daftar hotel yang sesuai dengan keinginan. Setelah itu, tinggal pilih dan masukkan data diri. Jangan lupa kode promo biar makin murah. Sehabis itu bisa langsung bayar atau memilih opsi bayar di hotel. Mudah bukan? Yang aku paling suka juga kadang menjelang menginap, kita akan dihubungi via whatsapp atau telepon untuk mengonfirmasi kehadiran. Ada pula OYO Assistant yang siap membantu!


Nah OYO Rumah Eyang yang kupesan kemarin terletak di Jalan Parangtritis, Gang Sartani 823A, Mantrijeron Yogyakarta. Lokasinya dekat dengan Alun-Alun selatan. Pertama kali masuk ke dalam OYO Hotels ini aku dibuat terkesima. Sama seperti gambar, OYO 287 Rumah Eyang ini terdiri atas satu bangunan rumah yang tampak otentik dengan ornamen kayu yang klasik. Parkirannya pun cukup luas mungkin muat hingga tiga mobil. Beranjak ke daerah teras, aku sudah disambut dengan resepsionis yang sigap mencatat pemesananku. Di belakang bilik resepsionis ini, dapur dengan segala macam alat makan, dispenser, hingga kompor tersedia dan bebas digunakan oleh para tamu.





Aku pun diberi kamar belakang berbeda dengan rumah utama yang penuh. Dan sepanjang perjalanan ke belakang, aku makin terkagum. Gila, nuansa klasik makin terasa lengkap dengan tanaman-tanaman dan gambar-gambar yang segar dipandang. Memasuki daerah belakang pun, ada halaman cukup luas dengan meja-meja yang dapat dipakai untuk bersantai. Dan, ketika petugasnya membawaku ke kamarku, aku ternganga. Ada teras yang bisa kugunakan untuk bersantai! Wah ini sih keren banget!




Kamar yang kupunya pun dalam taraf yang memuaskan. Meski tak terlalu besar, namun kesan nyaman amat terasa ketika aku memasukinya. Ada satu tempat tidur ukuran queen lengkap dengan bed cover yang bersih. Bantal pun terlihat rapi.  Perlengkapan mandi seperti sikat gigi, sabun, dan sampo tersedia bersama dengan dua botol air mineral. Fasilitas pendukung lain seperti pendingin dan televisi pun hadir. Di kamar mandi pun semua terlihat bersih. Dan yang paling aku suka... ada air panas untuk mandi! Jarang bukan hotel dengan harga terjangkau ada fasilitas seperti ini?







Kalau malam, suasana pun nggak kalah cantik. Lampu yang temaram semakin membuat kesan romantis. Pagi pun enak sekali buat sekadar baca buku di teras depan. Pengalaman menginap di OYO 287 Rumah Eyang di Yogyakarta adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan ketika aku liburan.





OYO Hotels Indonesia terkenal dengan beragam promo yang mereka kasih bagi para pelanggannya. Mulai dari OYO Harta Karun yang memungkinkan kita menginap dengan harga kurang dari Rp 20.000 hingga OYO Kamar Baru yang bikin kita menginap dengan harga kurang dari Rp 100.000! Murah bukan? Nah, sekarang pun begitu. Bila aku mendapat promo voucher 70% dari OYO Hotels Indonesia, pastinya aku akan kembali mengunjungi Yogyakarta. Banyak sekali tempat-tempat yang belum aku jelajahi. Pun dengan aktivitas seru yang pengin banget aku lakukan.

Sunrise di Puthuk Setumbu

Orang bilang melihat matahari di Puthuk Setumbu adalah pengalaman yang magis. Saat ke Yogyakarta, karena waktu yang tidak memungkinkan, aku sama sekali belum memiliki kesempatan untuk ke sini. Padahal, bila melihat pengalaman dan gambar-gambar di lini masa, sunrise di Puthuk Setumbu adalah one of a kind. Ketika langit yang gelap perlahan bersinar pelan-pelan dan matahari malu-malu muncul di balik awan, itu adalah pengalaman yang ingin sekali kucoba. Apalagi dengan kopi hangat di tangan, bersama teman-teman sembari berbincang banyak hal... sempurna!
Dok: Brobali
Temple Hopping (Again)

Sebut aku maniak tapi aku benar-benar menyukai arsitektur candi. Dan bisa dibilang Yogyakarta adalah surga bagi para maniak sepertiku. Banyak sekali candi-candi yang ingin kujelajahi. Contohnya Candi Mendut dan Candi Ratu Boko. Aku ingin tahu cerita-cerita yang ada di candi itu lewat reliefnya karena aku percaya setiap kisah yang ada berbeda dan memiliki makna. Sunset di candi pun jadi pilihan yang menarik dan patut dicoba.
Dok. Visiting Yogya
Belajar Batik di Kampung Batik

Tahu nggak kalau bentuk batik Yogyakarta berbeda dengan batik di daerah lainnya? Batik Yogyakarta memiliki motif yang lebih membesar karena dipengaruhi kesultanan Mataram. Meski hampir mirip dengan batik Solo, namun keduanya tidak dapat dibandingkan. Dari dulu, aku selalu ingin belajar membatik. Saat di Museum Tekstil Jakarta, aku memiliki kesempatan untuk membatik. Dan di sana instrukturku menyarankan untuk ke surganya batik yaitu Yogyakarta. Aktivitas ini sangat ingin aku lakukan bila dapat kesempatan untuk berkunjung kembali.
Menelusuri Jejak Keraton Yogyakarta

Yap, meski sudah beberapa kali ke Yogyakarta, aku sama sekali belum pernah menelusuri jejak sejarah Keraton Yogyakarta. Pun dengan museum yang ada di sekitarnya. Aku jadi merasa amat berdosa sebab seharusnya ini yang aku prioritaskan. Hahaha. Namun bila ke sini lagi, akan aku pastikan untuk mengunjungi semua hal tentang Keraton Yogyakarta!
Dok. Pesona Travel
Itulah pengalaman liburanku saat ke Yogyakarta bulan lalu dan apa yang akan aku lakukan jika diberi kesempatan untuk kembali ke sini. Tentunya, saat liburan aku sama sekali nggak khawatir tentang tempat menginap. #PastiAdaOYO di kota-kota untuk liburan. Apalagi dengan kualitasnya yang terjamin, pasti bikin selalu ingin balik lagi. Kalau kalian?

Cheers!


Rabu, 04 Desember 2019

Dari Mata Seorang Penggerak

Adakah yang ingat beberapa waktu lalu pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat viral di berbagai lini sosial media mengenai Hari Guru Nasional 2019? Dalam pidatonya Pak Menteri mengatakan dengan lugas bagaimana sebuah regulasi dapat menghalangi para guru untuk bertindak. Dan di akhir dari tulisan padat itu, ia menyebut guru adalah penggerak. Dari gurulah sebuah perubahan. Dan Nadiem percaya bahwa dengan gerakan-gerakan itu kapal besar bernama Indonesia itu dapat ikut bergerak.

Tak dapat dipungkiri memang keberadaan guru adalah ujung tombak bagi pendidikan Indonesia. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, bukan hanya pada pelajaran semata, sudah seharusnya guru mampu membentuk para murid yang ada di sekolahnya untuk bersikap dan bertindak. Termasuk pada Pancasila. Menyadari hal itu, lima ratus orang guru dikumpulkan jadi satu di Shangri-La Hotel Surabaya pada 29 November 2019 hingga 2 Desember 2019 oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk duduk bersama dalam tajuk Persamuhan Nasiona Pendidik Pancasila. Dengan latar belakang guru agama, sejarah, hingga seni budaya, guru-guru tersebut diberi bekal oleh para narasumber untuk turut serta menjadi para pendidik Pancasila dan mengaplikasikannya ke ranah ajar masing-masing.
Semua tumpah ruah.
Lima ratus guru hadir. (Dok. Pribadi)
Saya pun bertemu dengan Pak Tri. Beliau adalah seorang pengajar di SMPN 1 Kenduruan Jawa Timur yang juga menjadi teman sekamar saya. Pada suatu waktu, saat senjang, kami bercerita benyak hal tentang Pancasila. Obrolan di dalam kamar itu membuat saya sedikit tersentak.

“Pancasila sekarang sudah tidak seperti dulu,” Pak Tri berujar saat kami membahas tentang kegiatan yang kami jalani.

Saya menegakkan duduk. “Memang dulu bagaimana, Pak?”

“Di pemerintahan dahulu, Pancasila benar-benar jadi perekat. Ia selalu ada di dalam kehidupan warga negara. Termasuk diajarkan ke para siswa. Namun sekarang, semuanya seolah memudar.”

Saya terdiam.

“Ya, mungkin berbeda kebijakan maka berbeda juga prioritasnya, ya. Makanya, ketika tahu ada acara ini, saya antusias untuk ikut. Ini artinya pemerintah memang serius untuk menjadikan Pancasila kembali berjaya. Dan saya juga merasa tersanjung sebab guru-guru dilibatkan dalam prosesnya. Ini adalah kemajuan di tengah krisis ideologi seperti sekarang.”
Pak Tri bersama teman-temannya. (Dok. Pribadi)
Saya mengulas senyum tipis. Percakapan dengan Pak Tri adalah salah satu percakapan yang paling saya suka saat ikut  berkegiatan kemarin. Dan seperti katanya di acara persamuhan ini para guru dilibatkan bukan hanya sebagai pendengar namun sebagai penggerak. Beragam materi diberikan oleh para narasumber untuk memperkaya arti dari Pancasila itu sendiri. Sebut saja Ibu Risma, walikota Surabaya. Di hari kedua ia datang, saya sudah terkesima.
Ibu Risma memberikan pandangan mengenai kebijakannya. (Dok. Pribadi)
Beliau berkisah banyak bagaimana kebijakan-kebijakan yang ia buat itu didasari oleh pengamalan nilai-nilai Pancasila. Bagi Beliau, Pancasila mengajarkan kita untuk bersikap terhadap apapun yang ada. Contohnya saja pada saat kebijakan tentang taman yang banyak dicibir semua orang, Ibu Risma tahu bahwa kebijakannya itu sudah benar. Ia ingin membangkitkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab lewat taman-taman yang ia dirikan. Dari taman-taman itu, kesenjangan orang tua, remaja bahkan anak anak diminimalisir hingga menciptakan interaksi bagi sesama. Satu kata yang saya ingat dari Ibu Risma bahwa “Jika kita mencintai Indonesia kita tidak akan tega menyakitinya.”
Lakon bersama Sujiwo Tejo. (Dok. Pribadi)
Ya kata-kata itu buat suasana makin gemuruh sekaligus membuat saya merinding. Nggak hanya sampai di sana pemateri selanjutnya Budayawan Sudjiwo Tejo pun memberi insight banyak tentang ‘Apakah Pancasila Ada?’. Lewat tutur kisahnya ia kembali mempertanyakan hal paling penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Beliau membuat saya dan guru-guru yang hadir mempertanyakan satu-satunya pertanyaan yang ada: jika Pancasila ada, bagaimana seharusnya kita?

Pak Sujiwo Tedjo mengakhiri sesinya yang khidmat dengan tepuk tangan. Dan untuk bberapa kali syair, lagu, dan perkataan yang Beliau beri membuatku merinding. Ia mampu menyentuh sukma saya—mungkin pula guru-guru. Dan semuanya jadi terpagu.

Selanjutnya Gabriel, salah satu ikon Pancasila dan tanah Papua mengambil alih. Ia menyampaikan pandangannya bahwa di Papua, Pancasila adalah yang utama. Pancasila adalah darah daging mereka. Ia juga menyampaikan bagi para guru pelajaran Pancasila amat penting. Yang paling utama adalah bagaimana guru seharusnya mampu mengamalkan terlebih dahulu Pancasila baru mengajarkannya ke para murid. Sebab, guru seharusnya menjadi contoh anak didiknya. Hal ini tentu menampar para guru. Gaby memberikan banyak pandangan baru bagaimana seorang murid berkaca terhadap apa yang diberikan oleh gurunya. Dan diskusi setelah itu pun menghangat.
Gaby salah satu dari ikon Pancasila. (Dok. Pribadi)
Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila kemarin adalah bukti bahwa guru memiliki kapasitas besar untuk melakukan perubahan. Jika sekarang keyakinan akan Pancasila di hati banyak orang itu memudar guru sudah seharusnya menyuburkan kembali benih-benih Pancasila itu di hati anak didiknya. Pembekalan demi pembekalan kemarin adalah langkah awal guru-guru untuk bergerak. Melihat semua yang serius memahami dengan beragam pertanyaan yang menggetarkan hati saya yakin. Lima orang guru yang hadir adalah orang yang mampu jadi agen penggerak. Karena seperti kata Pak Tri, mereka adalah definisi pendidik Pancasila sesungguhnya.

Salam! (Dok. Pak Tri)


Senin, 04 November 2019

Melekat Tanpa Sekat


Pernah nggak sih kalian bertanya-tanya: apa sih arti ke-Indonesia-an bagi kalian? Untukku sendiri selama aku hidup aku sama sekali tidak pernah memikirkan jawabannya. Hidup di kota besar dengan keadaan yang nyaman membuatku tidak berusaha mencari apa arti ke-Indonesia-an bagiku sendiri. Maksudku apa-apa ada. Mudah dijangkau lewat apa saja. Satu-satunya jawaban yang kupunya adalah Indonesia sebagai negara tempatku menetap.

Akan tetapi kemarin (26 – 30 November 2019) anggapan itu berubah drastis. Ternyata ke-Indonesia-an itu dapat berwujud banyak hal. Kadang ia berwujud lagu-lagu kebangsaan yang dinyanyikan berbarengan dengan semua orang dari Sabang hingga Merauke. Lain waktu ia berwujud lenggak-lenggok sang penari yang bergerak diiringi musik-musik khas daerah di tanah air. Bahkan secara sederhana ke-Indonesia-an itu berwujud percakapan-percakapan kecil di meja makan bundar kala pagi siang hingga petang menjelang.

Semua itu terjalin begitu saja saat acara Persamuhan Nasional dengan tajuk Pekan Bakti Bangsa. Beragam orang dari beragam latar belakang, suku, agama dan ras berkumpul bersama selama lima hari untuk menjawab bagaimana ke-Indonesia-an mereka melalui isu-isu yang diberikan. Tak ada sekat yang melekat. Kami berkumpul bersama untuk berdialog, berdiskusi, hingga merumuskan bersama solusi mengenai isu-isu kebangsaan.



CERITA-CERITA TENTANG INDONESIA

Di sana pula aku menemui Naga. Ia adalah seorang mahasiswa dari Kalimantan Selatan yang vokal terhadap isu-isu krusial kebangsaan. Naga adalah perwakilan anak muda yang semangat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila agar dapat diterima bagi seluruh warga negara. Sebagai seorang perempuan dan minoritas, ia berjuang bagaimana semua dapat menerima segala perbedaan dalam pandangan yang sama. Tanpa membeda-bedakan satu hal pun.

“Sekarang orang-orang sibuk mencari celah perbedaan, Bang!” Ia bercerita kepadaku ketika kami bertemu. “Padahal seharusnya perbedaan yang menyatukan, bukan?”

Kata-kata itu merasuk di pikiranku. Di tempatnya perbedaan itu kentara terasa. Apalagi dengan penampilannya yang tomboi membuat mata yang memandang menjadi jengah. Stereotip itu yang ingin ia ubah. Dan di sinilah tempatnya.

Aku pun menemui anak SMA yang menjadi pionir Festival 28 Bahasa. Bayangkan, umur yang belum tujuh belas ia sudah membuat festival yang menyajikan keberagaman bahasa yang ada di seluruh Indonesia. Festival itu diadakan di pinggiran sawah sebuah kampung kecil yang tak banyak orang berlalu-lalang. Namun semangat juangnya mampu mengatasi segala rintangan dan membuat pesta rakyat yang sarat akan budaya bangsa.

Kami bercerita banyak tentang bagaimana ia ingin memberikan mimpi-mimpi lain bagi anak-anak di kampungnya untuk terus belajar. Baginya, festival itu bukan hanya bagian dari semarak saja namun jauh lebih dari pada itu ia ingin dengan festival ini ia memberi langkah kecil bagi orang-orang untuk menghormati keberagaman. Dan itu membuatku tertegun lama.

Lain waktu, ketika makan siang menjelang aku duduk semeja dengan kontingen dari Kediri. Ia berkisah banyak mengenai Kampung Inggris. Dengan mata yang berapi-api ia dengan bangga bilang bahwa kampungnya adalah yang terdepan. Pionir kampung bahasa kekinian. Namun itu tidak bertahan lama. Masalah demi masalah muncul yang salah satunya adalah pihak-pihak yang mengambil keuntungan atas kampung mereka. Kisah itu bergulir menjadi miris. Orang-orang asli yang membangun kampung menjadi tersingkir. Tak ada lagi ruang bagi mereka untuk menjamah. Kapitalis menyerang. Dan selama itu pula ia merasa bahwa semua ini salah.

Dan puncaknya, ia tidak menyerah. Dengan sekuat tenaga yang masih ia punya ia kembali membangun kampungnya. Bersama warga lain ia menciptakan kampung-kampung Inggris baru. Tujuannya sederhana. Ia ingin memberi ruang bagi para anak bangsa yang benar-benar ingin belajar dan maju dengan harga yang terjangkau dan tidak berpura-pura. Dan hingga sekarang, agar usahanya terdengar, ia pun ikut persamuhan.

Banyak sekali cerita yang bergulir. Dan semakin aku mendengar selama lima hari berada di sana, tak henti-hentinya bulu kudukku merinding. Ternyata terlepas dari apapun masalahnya. Ke-Indonesia-an itu ada. Di hati orang-orang yang mempercayainya.



PARADE BUDAYA, KEKAYAAN NYATA

“Dug! Dug!”

Bunyi itu semakin keras terdengar. Ritmenya pun semakin lama semakin kencang. Di tengah acara persamuhan kemarin, parade budaya terbesar yang aku pernah lihat hadir nyata di hadapan. Bermula dari perayaan sumpah pemuda, parade budaya tak henti-hentinya tersaji indah. Tepat tanggal 28 Oktober 2019, para peserta persamuhan nasional berkumpul bersama di tepi pantai Anyer. Masing-masing dari mereka mengenakan pakaian khas daerah beraneka rupa yang menambah semarak hari itu.



“Dug! Dug!”

Pukulan itu kembali terdengar. Rampak Bedug adalah penanda pesta sudah dimulai. Kala itu, nyanyian lagu Indonesia raya terdengar melantun indah oleh seluruh peserta dari pangkal hingga ujung Indonesia. Tak hanya itu, iringan jimbe yang dibawa peserta pun beritme sama dengan beduk yang dipukul. Seirama dengan itu, orang-orang mulai menari. Semua bergembira tanpa mengenal siapa.

Kemeriahan berlanjut ke Festival Beduk di titik 0 kilometer Anyer. Di tempat ini, kembali festival budaya di gelar. Dengan saksi mercusuar yang kokoh, satu per satu kesenian ditampilkan. Dan yang menjadi penggembira adalah hadirnya Gilang Ramadhan. Bersama penabuh beduk lain, mereka memberikan pengalaman mendengar yang apik dan menyegarkan telinga. Sangat cocok dengan latar senja.




Tak hanya sampai di situ, parade budaya tak hentinya pun membuat suasana semakin panas di malam penutupan. Berbagai kesenian khas daerah bersatu padu jadi satu. Sebut saja drama tarian hingga seni rupa menghiasi malam penutupan yang indah. Semua berbaur tanpa sekat yang melekat. Yang ada hanya kegembiraan.



Secara garis besar, Persamuhan Nasional 2019 adalah sebuah forum ke-Indonesia-an bagi para hadirin yang datang. Di sana isu-isu krusial pembakti kampung dibabat habis hingga jadi rumusan yang bersifat rekomendasi ke pemerintah yang berwenang. Pun sebagai layar terbuka kesenian Indonesia yang kaya dan beragam. Lewat acara ini aku pun tahu bahwa menjadi Indonesia itu mudah: melihat ke dalam di sendiri apa yang telah kau lakukan untuk negaramu tercinta.

Cheers! Hal itu terjalSemu