Minggu, 29 Desember 2019

Pertamina Enduro: Oli Andalan yang Bikin Motor Awet

Bisa dibilang selama aku berkegiatan, motor selalu jadi temanku. Ya, sudah puluhan tahun aku mengandalkan motor sebagai alat mobilitas aku bekerja. Aku masih ingat dulu pamanku yang setia meminjamkan motornya padaku untuk belajar mengendarai motor. Setiap minggu pagi, ia akan mengajakku ke lapangan rumput di dekat rumah. Ia pun duduk di belakangku sementara aku berusaha untuk menyeimbangkan pengendali motor. Yang kami lakukan hanya berputar-putar hingga akhirnya kendaliku mantap. Satu waktu, motor yang kukendarai jatuh dan ya, bikin kepala benjol ditambah luka bakar kena knalpot. Namun itu sama sekali tidak menghalangi langkahku untuk belajar.

Tepat di umur 17 tahun, aku dihadiahi sebuah motor Honda Karisma X warisan punya Papa tahun 2005 sebagai kendaraanku untuk mobilitas ke sekolah. Saat itu rasanya kayak kejatuhan dunia runtuh. Hasil belajar mengendarai motor dulu bisa langsung diaplikasikan langsung! Ya, meski pada kenyataannya motor itu tetap hanya digunakan untuk bolak-balik ke sekolah, namun aku sama sekali tidak protes. Itu adalah motorku yang pertama dan seharusnya aku bahagia, bukan?



Nah, tahun-tahun berlalu, namun motorku Karisma X masih setia menemaniku. Banyak momen-momen lucu nan seru yang kulewati bareng motor ini. Boncengin gebetan? Sudah tentu. Bahkan sampai jadi mantan pun motor ini yang jadi saksi. Yang paling kuingat tentu ketika motor ini membawaku menaiki gunung Tangkuban Perahu di Bandung beberapa tahun silam. Keren kan? Motor dengan usia lebih dari satu dekade ini masih mampu dibawa menanjak jalan gunung yang berkelok dengan tanjakan yang bisa bikin mengelus dada. Dan ketika ketemu teman-teman SMA pun semuanya pada kaget. Kok bisa motor ‘sakti’ ini awet sampai bisa kupakai hingga saat ini?

Rahasia Motor Awet

Orang bilang bahwa sesuatu yang dirawat pasti memiliki umur yang panjang pula. Dan aku setuju. Selama ini motor yang kugunakan bisa dibilang dirawat dengan baik. Meski kenyataannya karena motor tua, ada bagian rusak yang harus diganti, namun buktinya motor yang kupakai bisa awet sampai saat ini. rahasianya pun hanya satu: rutin merawatnya.

Untuk perawatan Si Biru, aku pun nggak macam-macam, kok. Cukup dibawa ke bengkel resmi untuk dicek apa saja yang perlu diperbaiki. Dan tak lupa, satu proses yang selalu kulakukan: ganti oli! Yap, ganti oli! Banyak yang beranggapan bahwa mengganti oli kendaraan cukup dilakukan lima bulan sekali atau selama motor masih menyala dan jalannya masih santai. Namun, tahukah kalian kalau oli mesin  itu sangat penting bagi kendaraan dan salah satu rahasia kendaraan kita bisa jadi awet?

Oli mesin adalah satu cairan yang ada di ruang mesin. Saat kita menghidupkan kendaraan cairan ini dialirkan ke seluruh komponen mesin kendaraan oleh pompa oli. Dilansir dari berbagai sumber, banyak sekali fungsi dari oli mesin. Yang paling utama tentu sebagai pelumas. Pada saat mesin dihidupkan oli ini akan menyebar ke komponen mesin dan pergerakan inilah yang melapisi komponen tersebut. 

Dan pada saat digunakan, oli mesin ini melindungi komponen dari kerusakan. Komponen motor yang bergerak secara simultan tersebut kadang membuat mesin menjadi cepat aus sebab saling bergesekan dan peran oli mesin sebagai pelumas inilah yang dibutuhkan. Panas komponen akan diserap sehingga menjaga temperatur mesin.

Gerakan itu pun kadang membuat mesin jadi cepat panas. Dan dengan adanya pelumas yang berada di antara komponen, suhu dapat diturunkan. Hal ini pula yang jadi fungsi lainnya dari oli mesin. Dengan adanya lapisan itu, maka celah antara dua bagian yang bergerak seperti pistn dan silinder saat menghasilkan tenaga buat mesin. Dengan adanya perapatan ini, maka pembakaran akan jadi lebih maksimal sehingga motor jadi lebih bertenaga.

Oli juga dapat digunakan sebagai pembersih partikel-partikel yang dapat membuat motor cepat rusak seperti kotoran sisa pembakaran maupun partikel-partikel logam yang tergerus akibat gesekan. Oli mesin akan membawanya kemudian menyaringnya melalui filter oli sehingga kotoran tidak akan mengendap.

Mesin yang halus pun akibat dari oli yang ada. Biasanya gesekan saat motor dihidupkan menghasilkan suara yang bising dan oli pun dapat meredam suara yang mengganggu tersebut. Dan tentunya, terakhir oli dapat mencegah karat. Karat terjadi akibat oksidasi dari mesin yang terbuat dari logam. Nah, oli melapisi komponen mesin tersebut sehingga proses oksidasi dapat dicegah. Keren kan?

Untuk itulah, Si Biru selalu aku ganti oli secara rutin. Dengan mengganti oli performa dari kendaraan bermotor kita jadi jauh lebih prima. Mesin-mesin dapat terjaga dari kerusakan. Pun bagi kita yang mengendarainya, semuanya jadi serba mulus dan enak untuk diajak ke mana saja.

Pertamina Enduro 4T Oli Terbaik Pilihanku

Kalau ditanya oli apa yang aku pakai sekarang, jawabannya hanya satu: Enduro 4T. Yap, sejak kemunculannya, oli ini selalu jadi andalan utama bagi Si Biru. Enduro 4T kupilih sebab motor Honda Karisma X-ku adalah motor 4 tak. Enduro 4T ini adalah oli motor terbaik yang memiliki nilai SAE 20W-50 yang cocok dengan motorku. SAE atau The Society of Automative Engineering adalah kemampuan suatu oli dalam menjaga stabilitas kekentalannya terhadap pengaruh suhu lingkungan.


Dan SAE 20W-50 mengindikasikan bahwa oli mampu menyesuaikan kekentalannya pada suhu rendah hingga suhu tinggi. Dengan begitu suhu yang dihasilkan itu stabil sehingga membuat mesin jadi bekerja lebih baik. Oli ini pun terbuat dari bahan dasar mineral yang memiliki kualitas yang tinggi dan aditif pilihan yang didesain khusus bagi motor 4-Tak.


Selain itu, oli ini juga memiliki standar JASO alias Japanese Automative Standard Organization yang memungkinkan kendaraan aman dan baik digunakan. Menurut klasifikasi dari GHS pun, oli ini tidak menimbulkan bahaya dalam kondisi normal. Dalam pemakaianku selama ini, oli ini terbukti mampu membuat mesinku terjaga. Jalan di medan apapun mulus begitu saja. Tarikannya mantap tanpa suara bising yang mengganggu. Pokoknya TOP deh! Dan lagi harga oli motor ini murah loh. Hanya Rp 30.000-an! 

Nah keunggulan lain dari oli motor ini adalah:
  • Memiliki stabilitas shear yang sangat baik yang memudahkan sirkulasi pelumas saat mesin kendaraan dinyalakan.
  • Memberikan efek pendingin dan pelumasan yang opitimal.
  • Memiliki stabilitas oksidasi sehingga mencegah kontak langsung dengan air dan udara yang menyebabkan karat.
  • Menjaga kebersihan mesin.
  • Memberikan perlindungan yang optimal sehingga mencegah mesin aus.
  • Memberikan akselerasi yang optimal sehingga motor dapat melaju dengan lebih cepat.


Jadi, nggak salah bukan kalau motorku awet sampai sekarang? Rahasianya hanya satu: rutin dirawat dan selalu pakai Pertamina Enduro 4T: Oli Terbaik Saat Ini!



Jumat, 06 Desember 2019

Jelajah Yogyakarta: Antara Candi, Merapi dan Bakmi

Sugeng rawuh ing ngayogyakarta! –selamat datang di Yogyakarta!

Bisa dibilang, Yogyakarta adalah kota dengan pesona yang nggak ada habisnya—setidaknya bagiku. Provinsi yang terletak di bagian selatan pulau Jawa ini selalu bisa bikin aku buat balik lagi ke sini. Menurutku, Yogyakarta memberikan pengalaman lengkap sebagai daerah wisata. Ada hamparan gunung yang menjulang, pantai yang membentang, hingga kisah-kisah tua yang terulang lewat sudut-sudutnya.

Menjelajahi Yogyakarta pun tidak pernah bikin bosan. Termasuk budaya-budaya yang ada hingga makanan-makanan yang murah tersedia. Bagiku liburan ke Yogyakarta adalah proses dari pemulihan diri sendiri. Setelah melewati kegiatan sehari-hari yang penat dan kadang bikin lelah, aku sebisa mungkin menyempatkan untuk berlibur apalagi ke daerah ini. faktor ‘kampung halaman’ membuatku merasa Yogyakarta sudah menjadi rumah kedua bagiku. Dan aku merasa nyaman berada di sini.
Nah, November kemarin aku berkesempatan untuk mengunjungi kembali Yogyakarta. Tentu aku sudah antusias duluan. Beragam jadwal kususun sedemikian rupa. Dan puncaknya kemarin, aku melakukan banyak sekali aktivitas yang seru banget ketika aku main-main ke kota budaya satu ini!

Temple Hopping

Salah satu kegiatan seru yang aku lakukan saat berkunjung ke Yogyakarta adalah mengunjungi candi-candinya. Ya, Yogyakarta amat kental dengan nuansa sejarahnya. Sebagai daerah istimewa, Yogyakarta memiliki perpaduan budaya yang menarik untuk dikulik. Apalagi lewat bangunan-bangunan nan megah yang tersebar hampir di seluruh wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Terus, candi apa saja yang kukunjungi?

Pertama tentu Candi Borobudur. Meski letaknya tak persis di Yogyakarta karena berada di kawasan Magelang, Jawa Tengah, namun keberadaan candi ini tak terlepas dari nama Yogyakarta. Rasanya amat sayang jika ke Yogyakarta tanpa berkunjung ke salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini. Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar yang ada di dunia. Dengan lebih dari 1.400 relief, Candi Borobudur selalu jadi magnet tersendiri bagiku. Tiap kali ke Yogyakarta, kunjungan ke Candi Borobudur tak pernah kulewatkan. Aku merasa setiap kali ke sini, banyak cerita yang lain yang kudapat.

Kedua tak lain dan tak bukan adalah Candi Prambanan. Berbeda dengan Candi Borobudur Candi Prambanan adalah candi hindu terbesar yang ada di dunia. Ya dalam satu wilayah yang sama, penyebaran agama hindu dan buddha amat terasa di sini. Candi Prambanan terletak di Jalan Raya Yogya-Solo KM. 16 dan merupakan candi yang memiliki kisah menarik yaitu Roro Jonggrang. Candi ini pun ditetapkan sebagai warisan budaya bangsa oleh UNESCO loh!


Nama Candi Sari mungkin asing di telinga kalian. Aku pun demikian. Namun di wilayah sekitar Candi Prambanan Candi ini berdiri megah. Alkisah, candi ini merupakan sebuah perpustakaan yang digunakan oleh para biksu untuk belajar. Dengan desain dua tingkat diyakini Candi Sari merupakan arsitektur candi paling maju yang ada pada zamannya dan bermeditasi. Kalau ingin mengunjungi Candi Prambanan jangan lewatkan candi ini!

Candi Plaosan pun masuk dalam daftar kunjunganku. Candi ini dipercaya dibangun oleh raja dari Mataram Kuno sebagai hadiah untuk permaisurinya. Berbeda dengan kedua candi yang lain Candi Plaosan memiliki arsitektur unik karena perpaduan budaya hindu dan buddha. Hal ini sebagai simbol cinta yang merekatkan semua perbedaan. Tak jauh dari situ ada candi perwara Plaosan yang dipercayai sebagai tempat menginap raja-raja saat pesta pernikahan. Keren kan?



Menelusuri Jejak Lava

Bencana alam gunung meletus pada tahun 2010 memberikan banyak sekali pengalaman bagi Yogyakarta. Saat itu, Gunung Merapi tak segan memperbaiki diri dengan memuntahkan segala material yang ada di tubuhnya ke luar. Bencana ini menimbulkan luka yang amat dalam bagi warga Yogyakarta. Keganasan itulah yang membuatku ingin sekali melihat kembali jejak-jejak lava dan mempelajari bagaimana efeknya bagi masyarakat Yogyakarta.

Untuk itulah, aktivitas yang aku pilih adalah Lava Merapi Tour. Aku ingin sekali merasakan liburan yang berbeda, apalagi saat bencana letusan beberapa tahun silam, aku ingat betul kakek dan nenekku terjebak di bencana ini. Menariknya, untuk menelusuri jejak lava ini, kita dapat menggunakan mobil Jeep! Seru bukan? Di daerah Kaliurang, banyak sekali operator perjalanan yang bisa dipilih. Dengan harga mulai dari Rp 250.000 kita bisa menikmati beragam tempat untuk mengenang kembali jejak lava Merapi. Dan aku pun turut serta!

Tempat pertama yang aku kunjungi saat menjalani tur adalah Museum Mini. Di sini ditampilkan peninggalan-peninggalan barang-barang masyarakat yang tersisa akibat terkena luapan Merapi. Aku melihat banyak peralatan makan hingga televisi yang meleleh, hewan-hewan yang tersisa hingga tulangnya saja, sampai motor-motor yang hancur berantakkan. Hal ini membuatku sadar bahwa saat erupsi melanda, semua tak tersisa apa-apa.


Selanjutnya, aku dibawa mengunjungi Batu Alien—sebuah batu besar yang terdampar di pinggir jurang. Dinamakan Batu Alien sebab bila diperhatikan dengan saksama, batu ini memiliki bentuk yang mirip wajah manusia. Ada mata, hidung, hingga mulut. Batu sebesar ini dipercaya terbawa dengan material gunung lain dan tertabrak kelokan sungai hingga akhirnya terdampar di tempat ini. aku pun merinding ngeri membayangkan dahsyatnya aliran material-material tersebut.


Tempat terakhir dari perjalanan ini adalah Bunker Kaliadem. Di sini terdapat tempat perlindungan bagi masyarakat bila ada awan panas yang keluar. Letaknya kurang lebih 7 km dari puncak Merapi. Namun sayang, ketika erupsi dahulu, yang datang bukan hanya awan panas melainkan lahar dingin. Dua orang terjebak di sini dan meninggal. Dan sampai sekarang Bunker Kaliadem menjadi penanda jejak lava sekaligus titik paling dekat menuju puncak.


Perjalanan menelusuri lava Merapi bisa dibilang memberikan pandangan baru bagiku untuk melihat hidup. Tinggal di Palembang yang tak ada gunung, aku kadang mengeluh. Namun, melihat semua ini aku jadi banyak bersyukur. Dan inilah gunanya liburan, bukan? Membuat kita banyak melihat dan mendengar sekaligus mengambil pelajaran atas semua kejadian.



Cobain Makanan Khas

Bagiku, liburan ke daerah lain tanpa cobain makanannya adalah sebuah penghinaan. Meski pada kenyataannya nggak semua makanan bisa kucoba, namun sedikit-sedikit memasukkan makanan khas daerah ke dalam list yang harus dicoba adalah kewajiban dalam liburan. Jadilh, dengan waktu berlibur terbatas kemarin, aku berhasil mencicipi dua makanan khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa Pak Pele adalah kuliner paling wajib ketika main-main ke tengah kota. Letaknya berada di alun-alun utara kota Yogyakarta. Waktu paling tepat ke sini adalah sore menjelang maghrib. Menikmati alun-alun ditemani semburat oranye langit senja jadi kombinasi yang apik. Ditambah rasa bakmi ini amat beda dengan bakmi jawa yang biasa kusantap di Palembang. Emang harus ke daerah asalnya, ya! Mi yang kenyal dengan potongan ayam yang nggak pelit bikin pengin nambah lagi. Rasa gurih yang pas dan sedikit manis di lidah selalu buat ketagihan. Bakmi Jawa Pak Pele ini buka setiap hari, loh. Dan kalau malam siap-siap antre hingga dua jam!

Satu hal lagi yang harus dicicipin adalah makan pecel di depan Pasar Beringharjo! Ketika capek-capek abis belanja dan jalan-jalan di Malioboro, untuk isi tenaga bisa makan pecel dengan harga yang murah meriah! Yang pasti tetap enak loh. Banyak tambahan yang bisa dipilih mulai dari mi hingga ayam bacem. Bebas. Aku pun cobain dan sama sekali nggak menyesal. Enak banget! Apalagi aku bisa berinteraksi langsung dengan para penjual dan kadang saling bertukar cerita. TOP!




Perkara tempat menginap memang hal yang sedikit tricky. Bisa dibilang bagi budget traveler sepertiku, menginap di hotel-hotel berbintang pasti nggak masuk hitungan. Namun, aku sama sekali nggak khawatir. Di kota-kota besar di Indonesia, #PastiAdaOYO. OYO Hotels Indonesia adalah layanan pemesanan tempat menginap daring yang memungkinkan kita mendapat tempat menginap di kota tujuan dengan harga dan kualitas yang terbaik.

Nah sewaktu di Yogyakarta kemarin, aku pun memilih OYO sebagai tempatku menginap. Rumah Eyang adalah salah satu hotel di Yogyakarta yang menarik buatku. Aku menemukan Rumah Eyang ketika sedang mencari hotel yang murah namun berada di tempat strategis yang ada di Yogyakarta. Dari gambar yang tertera di aplikasinya, Rumah Eyang memiliki tampilan bak galeri yang hommy dan nyaman. Ini adalah salah satu alasanku memilih karena ingin mencoba menginap di tempat-tempat yang unik.

Untuk memesan OYO Hotels Indonesia Rumah Eyang ini pun mudah banget loh. Kita tinggal mencari properti di aplikasi OYO sesuai wilayah, daerah, periode inap, bahkan jumlah tamu. Terus akan terlihat daftar hotel yang sesuai dengan keinginan. Setelah itu, tinggal pilih dan masukkan data diri. Jangan lupa kode promo biar makin murah. Sehabis itu bisa langsung bayar atau memilih opsi bayar di hotel. Mudah bukan? Yang aku paling suka juga kadang menjelang menginap, kita akan dihubungi via whatsapp atau telepon untuk mengonfirmasi kehadiran. Ada pula OYO Assistant yang siap membantu!


Nah OYO Rumah Eyang yang kupesan kemarin terletak di Jalan Parangtritis, Gang Sartani 823A, Mantrijeron Yogyakarta. Lokasinya dekat dengan Alun-Alun selatan. Pertama kali masuk ke dalam OYO Hotels ini aku dibuat terkesima. Sama seperti gambar, OYO 287 Rumah Eyang ini terdiri atas satu bangunan rumah yang tampak otentik dengan ornamen kayu yang klasik. Parkirannya pun cukup luas mungkin muat hingga tiga mobil. Beranjak ke daerah teras, aku sudah disambut dengan resepsionis yang sigap mencatat pemesananku. Di belakang bilik resepsionis ini, dapur dengan segala macam alat makan, dispenser, hingga kompor tersedia dan bebas digunakan oleh para tamu.





Aku pun diberi kamar belakang berbeda dengan rumah utama yang penuh. Dan sepanjang perjalanan ke belakang, aku makin terkagum. Gila, nuansa klasik makin terasa lengkap dengan tanaman-tanaman dan gambar-gambar yang segar dipandang. Memasuki daerah belakang pun, ada halaman cukup luas dengan meja-meja yang dapat dipakai untuk bersantai. Dan, ketika petugasnya membawaku ke kamarku, aku ternganga. Ada teras yang bisa kugunakan untuk bersantai! Wah ini sih keren banget!




Kamar yang kupunya pun dalam taraf yang memuaskan. Meski tak terlalu besar, namun kesan nyaman amat terasa ketika aku memasukinya. Ada satu tempat tidur ukuran queen lengkap dengan bed cover yang bersih. Bantal pun terlihat rapi.  Perlengkapan mandi seperti sikat gigi, sabun, dan sampo tersedia bersama dengan dua botol air mineral. Fasilitas pendukung lain seperti pendingin dan televisi pun hadir. Di kamar mandi pun semua terlihat bersih. Dan yang paling aku suka... ada air panas untuk mandi! Jarang bukan hotel dengan harga terjangkau ada fasilitas seperti ini?







Kalau malam, suasana pun nggak kalah cantik. Lampu yang temaram semakin membuat kesan romantis. Pagi pun enak sekali buat sekadar baca buku di teras depan. Pengalaman menginap di OYO 287 Rumah Eyang di Yogyakarta adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan ketika aku liburan.





OYO Hotels Indonesia terkenal dengan beragam promo yang mereka kasih bagi para pelanggannya. Mulai dari OYO Harta Karun yang memungkinkan kita menginap dengan harga kurang dari Rp 20.000 hingga OYO Kamar Baru yang bikin kita menginap dengan harga kurang dari Rp 100.000! Murah bukan? Nah, sekarang pun begitu. Bila aku mendapat promo voucher 70% dari OYO Hotels Indonesia, pastinya aku akan kembali mengunjungi Yogyakarta. Banyak sekali tempat-tempat yang belum aku jelajahi. Pun dengan aktivitas seru yang pengin banget aku lakukan.

Sunrise di Puthuk Setumbu

Orang bilang melihat matahari di Puthuk Setumbu adalah pengalaman yang magis. Saat ke Yogyakarta, karena waktu yang tidak memungkinkan, aku sama sekali belum memiliki kesempatan untuk ke sini. Padahal, bila melihat pengalaman dan gambar-gambar di lini masa, sunrise di Puthuk Setumbu adalah one of a kind. Ketika langit yang gelap perlahan bersinar pelan-pelan dan matahari malu-malu muncul di balik awan, itu adalah pengalaman yang ingin sekali kucoba. Apalagi dengan kopi hangat di tangan, bersama teman-teman sembari berbincang banyak hal... sempurna!
Dok: Brobali
Temple Hopping (Again)

Sebut aku maniak tapi aku benar-benar menyukai arsitektur candi. Dan bisa dibilang Yogyakarta adalah surga bagi para maniak sepertiku. Banyak sekali candi-candi yang ingin kujelajahi. Contohnya Candi Mendut dan Candi Ratu Boko. Aku ingin tahu cerita-cerita yang ada di candi itu lewat reliefnya karena aku percaya setiap kisah yang ada berbeda dan memiliki makna. Sunset di candi pun jadi pilihan yang menarik dan patut dicoba.
Dok. Visiting Yogya
Belajar Batik di Kampung Batik

Tahu nggak kalau bentuk batik Yogyakarta berbeda dengan batik di daerah lainnya? Batik Yogyakarta memiliki motif yang lebih membesar karena dipengaruhi kesultanan Mataram. Meski hampir mirip dengan batik Solo, namun keduanya tidak dapat dibandingkan. Dari dulu, aku selalu ingin belajar membatik. Saat di Museum Tekstil Jakarta, aku memiliki kesempatan untuk membatik. Dan di sana instrukturku menyarankan untuk ke surganya batik yaitu Yogyakarta. Aktivitas ini sangat ingin aku lakukan bila dapat kesempatan untuk berkunjung kembali.
Menelusuri Jejak Keraton Yogyakarta

Yap, meski sudah beberapa kali ke Yogyakarta, aku sama sekali belum pernah menelusuri jejak sejarah Keraton Yogyakarta. Pun dengan museum yang ada di sekitarnya. Aku jadi merasa amat berdosa sebab seharusnya ini yang aku prioritaskan. Hahaha. Namun bila ke sini lagi, akan aku pastikan untuk mengunjungi semua hal tentang Keraton Yogyakarta!
Dok. Pesona Travel
Itulah pengalaman liburanku saat ke Yogyakarta bulan lalu dan apa yang akan aku lakukan jika diberi kesempatan untuk kembali ke sini. Tentunya, saat liburan aku sama sekali nggak khawatir tentang tempat menginap. #PastiAdaOYO di kota-kota untuk liburan. Apalagi dengan kualitasnya yang terjamin, pasti bikin selalu ingin balik lagi. Kalau kalian?

Cheers!


Rabu, 04 Desember 2019

Dari Mata Seorang Penggerak

Adakah yang ingat beberapa waktu lalu pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat viral di berbagai lini sosial media mengenai Hari Guru Nasional 2019? Dalam pidatonya Pak Menteri mengatakan dengan lugas bagaimana sebuah regulasi dapat menghalangi para guru untuk bertindak. Dan di akhir dari tulisan padat itu, ia menyebut guru adalah penggerak. Dari gurulah sebuah perubahan. Dan Nadiem percaya bahwa dengan gerakan-gerakan itu kapal besar bernama Indonesia itu dapat ikut bergerak.

Tak dapat dipungkiri memang keberadaan guru adalah ujung tombak bagi pendidikan Indonesia. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, bukan hanya pada pelajaran semata, sudah seharusnya guru mampu membentuk para murid yang ada di sekolahnya untuk bersikap dan bertindak. Termasuk pada Pancasila. Menyadari hal itu, lima ratus orang guru dikumpulkan jadi satu di Shangri-La Hotel Surabaya pada 29 November 2019 hingga 2 Desember 2019 oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk duduk bersama dalam tajuk Persamuhan Nasiona Pendidik Pancasila. Dengan latar belakang guru agama, sejarah, hingga seni budaya, guru-guru tersebut diberi bekal oleh para narasumber untuk turut serta menjadi para pendidik Pancasila dan mengaplikasikannya ke ranah ajar masing-masing.
Semua tumpah ruah.
Lima ratus guru hadir. (Dok. Pribadi)
Saya pun bertemu dengan Pak Tri. Beliau adalah seorang pengajar di SMPN 1 Kenduruan Jawa Timur yang juga menjadi teman sekamar saya. Pada suatu waktu, saat senjang, kami bercerita benyak hal tentang Pancasila. Obrolan di dalam kamar itu membuat saya sedikit tersentak.

“Pancasila sekarang sudah tidak seperti dulu,” Pak Tri berujar saat kami membahas tentang kegiatan yang kami jalani.

Saya menegakkan duduk. “Memang dulu bagaimana, Pak?”

“Di pemerintahan dahulu, Pancasila benar-benar jadi perekat. Ia selalu ada di dalam kehidupan warga negara. Termasuk diajarkan ke para siswa. Namun sekarang, semuanya seolah memudar.”

Saya terdiam.

“Ya, mungkin berbeda kebijakan maka berbeda juga prioritasnya, ya. Makanya, ketika tahu ada acara ini, saya antusias untuk ikut. Ini artinya pemerintah memang serius untuk menjadikan Pancasila kembali berjaya. Dan saya juga merasa tersanjung sebab guru-guru dilibatkan dalam prosesnya. Ini adalah kemajuan di tengah krisis ideologi seperti sekarang.”
Pak Tri bersama teman-temannya. (Dok. Pribadi)
Saya mengulas senyum tipis. Percakapan dengan Pak Tri adalah salah satu percakapan yang paling saya suka saat ikut  berkegiatan kemarin. Dan seperti katanya di acara persamuhan ini para guru dilibatkan bukan hanya sebagai pendengar namun sebagai penggerak. Beragam materi diberikan oleh para narasumber untuk memperkaya arti dari Pancasila itu sendiri. Sebut saja Ibu Risma, walikota Surabaya. Di hari kedua ia datang, saya sudah terkesima.
Ibu Risma memberikan pandangan mengenai kebijakannya. (Dok. Pribadi)
Beliau berkisah banyak bagaimana kebijakan-kebijakan yang ia buat itu didasari oleh pengamalan nilai-nilai Pancasila. Bagi Beliau, Pancasila mengajarkan kita untuk bersikap terhadap apapun yang ada. Contohnya saja pada saat kebijakan tentang taman yang banyak dicibir semua orang, Ibu Risma tahu bahwa kebijakannya itu sudah benar. Ia ingin membangkitkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab lewat taman-taman yang ia dirikan. Dari taman-taman itu, kesenjangan orang tua, remaja bahkan anak anak diminimalisir hingga menciptakan interaksi bagi sesama. Satu kata yang saya ingat dari Ibu Risma bahwa “Jika kita mencintai Indonesia kita tidak akan tega menyakitinya.”
Lakon bersama Sujiwo Tejo. (Dok. Pribadi)
Ya kata-kata itu buat suasana makin gemuruh sekaligus membuat saya merinding. Nggak hanya sampai di sana pemateri selanjutnya Budayawan Sudjiwo Tejo pun memberi insight banyak tentang ‘Apakah Pancasila Ada?’. Lewat tutur kisahnya ia kembali mempertanyakan hal paling penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Beliau membuat saya dan guru-guru yang hadir mempertanyakan satu-satunya pertanyaan yang ada: jika Pancasila ada, bagaimana seharusnya kita?

Pak Sujiwo Tedjo mengakhiri sesinya yang khidmat dengan tepuk tangan. Dan untuk bberapa kali syair, lagu, dan perkataan yang Beliau beri membuatku merinding. Ia mampu menyentuh sukma saya—mungkin pula guru-guru. Dan semuanya jadi terpagu.

Selanjutnya Gabriel, salah satu ikon Pancasila dan tanah Papua mengambil alih. Ia menyampaikan pandangannya bahwa di Papua, Pancasila adalah yang utama. Pancasila adalah darah daging mereka. Ia juga menyampaikan bagi para guru pelajaran Pancasila amat penting. Yang paling utama adalah bagaimana guru seharusnya mampu mengamalkan terlebih dahulu Pancasila baru mengajarkannya ke para murid. Sebab, guru seharusnya menjadi contoh anak didiknya. Hal ini tentu menampar para guru. Gaby memberikan banyak pandangan baru bagaimana seorang murid berkaca terhadap apa yang diberikan oleh gurunya. Dan diskusi setelah itu pun menghangat.
Gaby salah satu dari ikon Pancasila. (Dok. Pribadi)
Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila kemarin adalah bukti bahwa guru memiliki kapasitas besar untuk melakukan perubahan. Jika sekarang keyakinan akan Pancasila di hati banyak orang itu memudar guru sudah seharusnya menyuburkan kembali benih-benih Pancasila itu di hati anak didiknya. Pembekalan demi pembekalan kemarin adalah langkah awal guru-guru untuk bergerak. Melihat semua yang serius memahami dengan beragam pertanyaan yang menggetarkan hati saya yakin. Lima orang guru yang hadir adalah orang yang mampu jadi agen penggerak. Karena seperti kata Pak Tri, mereka adalah definisi pendidik Pancasila sesungguhnya.

Salam! (Dok. Pak Tri)