Jumat, 22 Maret 2013

Happy Birthday!
 "Saat kau lihat, hitam sebagai putih, dan sebaliknya. Kau akan tahu, bahwa rahasia sebesar apapun akan terbongkar."
 
Selamat ulang tahun.
Aku tahu akan banyak orang yang mengucapkan ini padamu.
Tapi, aku hanya ingin jadi yang pertama.
Jadi, pembuka bahagia.
 
Kau tahu, ada ritual kecil saat aku sedang berulang tahun?
Yang pertama, ponsel harus kumatikan.
Aku hanya ingin tenang, berdamai dengan suara-suara di otakku yang mendadak akan keluar.
Yang kedua, aku akan duduk di tepi jendela, memandang ke luar langit lepas.
Aku selalu suka saat-saat seperti ini.
Saat aku menitip mimpi-mimpiku pada bulan.
Saat aku memancing bintang untuk sekadar melihat apa yang kulakukan satu tahun ke belakang.
 
Namun mendadak sekarang berubah.
Aku tak lagi melakukannya saat aku berulang tahun.
 
Kini..
Di ulang tahunmu..
Aku melakukannya juga.
Aku menitip doa-doaku untukmu pada bulan yang cerah bersinar.
Aku  menggantung harapanku pada bintang-bintang.

Dan.
Selamat ulang tahun.
Entah dengan cara apa, pesan ini akan sampai padamu.

Selamat ulang tahun.
Hanya itu.

***
 
special to :
Henytaria Fajrianti 
22 Maret 1994
 

Kamis, 21 Maret 2013

Di Balik Dua Puluh Dua~
"Sudah kuduga, aku benci hari ini!" Aku menggerutu kesal sembari berjalan cepat menuju keluar dari kafe.

"Kenapa tidak ada satupun orang yang megerti sih!" 

Bukan tanpa alasan aku membenci angka kembar. Aku lahir tanpa ibu. Atau dengan kata lain, aku adalah penyebab ibuku meninggal. Ayah memperlakukanku dingin, seolah-olah aku adalah pembunuh orang yang paling dikasihinya di dunia ini.

Untuk itulah aku benci dua puluh dua. Aku benci angka kembar. Aku benci semuanya.

Dan hari ini, sudah kuduga, angka sial akan selalu membayangi hidupku. Roni, yang notabene tahu tentang ketidaksukaanku terhadap angka-angka itu mendadak amnesia. Cincin yang digunakannya untuk melamarku ternyata sama. Tidak ada beda.

Kau kira aku jahat?
Tidak sama sekali.

Buktinya aku sudah rela menerima perbedaan kami yang berjarak sebelas tahun; satu-satunya angka kembar yang aku toleransi.
Tebak karena apa?
Karena CINTA!

Tapi apa yang kudapat? Roni mempermainkanku. Dan baru kutahu bahwa ia sudah punya dua puluh satu isteri. Dan aku akan menjadi yang kedua puluh dua? 
Tidak akan bisa.
Cinta juga harus bisa melihat mana yang masuk akal dan tidak.

Aku membuka mobil lalu melompat masuk. Mendadak, dua orang berpakaian hitam dan mengenakan topeng mengambil tempat di sebelah kursi kemudi.

"SERAHKAN MOBIL INI!"

Aku tergagap. Seketika perasaan takut menjalar.

"AP... APA YANG MAU KA... KALIAN LAKUKAN?"

"DIAM, DAN CEPAT KELUAR!"

Aku yang sudah terlalu takut langsung keluar dari mobil. Lututku lemas melihat mobil itu menjauh.

***
Sudah kubilang aku benci dua puluh dua.
Setelah kehilangan cinta, mobil juga melayang.

Aku menggerutu kesal. Kejadian tadi sudah kuaporkan pada polisi, dan apa yang kudapat; mereka hanya bilang tunggu sampai dua puluh empat jam.

Dan fix! 
Dua puluh empat jadi angka sialku selanjutnya.

Aku berjalan gontai menuju rumah. Lagi-lagi, suasana gelap yang ada. Ayah pastilah sedang berada di kamar, menciumi foto ibu, menangis sepanjang malam dalam diam.

Aku membuka pintu rumah dan akhirnya mataku terbelalak, telingaku mendadak terlalu peka.

"SELAMAT ULANG TAHUN, SAYANG. AKU TADI DISURUH TEMEN-TEMEN KAMU BUAT NGERJAIN. AKU GAK PUNYA ISTRI KOK. DAN INI BUATMU." Roni menyerahkan cincin yang jauh berbeda dari tadi. Dan. Tidak. Kembar.

Meri, sahabatku, sontak memelukku. "Tadi kami yang mencuri mobilmu. Tenang saja, semua aman," dia mengacungkan jempolnya.

Secara bergantian, semua orang memelukku erat. Baru kali ini aku tidak tahu apa yang aku rasakan.

Sampai aku melihat dia...

Ayah...

"Selamat ulang tahun. Ibumu pasti bangga melahirkanmu..."

*** 

Selamat ulang tahun...
Kami ucapkan...
Selamat panjang umur...
Kita kan doakan...
Dua Puluh Dua
"Sudah kubilang, aku benci angka kembar. Atau apapun yang terlihat sama!"

 "Tapi -"

"Tapi apa? Aku hanya tidak suka dan buang benda itu sekarang!!!"

***
Aku menghela napas dalam. Perempuan ini memang aneh. Membenci angka kembar yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya. Padahal menurutku, angka kembar sangat keren. Orang akan berbondong-bondong menikah pada angka kembar. Lihat saja, berapa banyak orang yang menikah pada tanggl 11-11-11. Atau 12-12-12. Atau berapapun lainnya.

Tapi tidak dengan peremuan ini. Dia sangat tidak suka. Meskipun ia lahir pada tanggal yang memasang angka kembar - dua puluh dua - tapi ia tetap tidak suka. Pernah suatu ketika, harga sebuah notebook yang sedang promo adalah 2.222.000, ia rela membayarnya genap tiga juta.

Aneh, bukan?

Secara tidak langsung juga pertemuan kami menyiratkan dua angka kembar itu. Bertemu tanggal sebelas november dua ribu sebelas,  sebelas bulan berkenalan, lalu aku mengajaknya menikah.

dan ditolak?

Apa perasaanmu, ditolak karena karena dia membenci angka kembar?
Sangat tidak masuk akal.

***

"Cincin itu terlalu sama buat kita!"

"Umur kita beda sebelas tahun!"

"APA? AKU JADI ISTRIMU YANG KEDUA PULUH DUA?!"

"PERGI!"