Minggu, 04 November 2018

Berwakaf dengan Asuransi

Tanah ini diwakafkan untuk kepentingan masjid.

Tulisan-tulisan seperti ini banyak sekali kita temui bila berkunjung ke daerah-daerah permukiman warga. Bahkan di layar-layar televisi di sinetron lokal. Mau nggak mau, pemakaman akan wakaf menjadi sedikit menyimpang di masyarakat. Wakaf harus sesuatu yang besar, wakaf harus berupa tanah, wakaf harus diberikan ke masjid. Paradigma-paradigma itu terpatri di pikiran masyarakat awam yang mungkin belum tahu. Padahal, wakaf jauh dari pada itu. Wakaf pun berbeda dari infak dan sedekah yang mungkin lebih sering kita dengar.

Selasa, 02 Oktober 2018

Generasi Baru yang Pasti Dikasih Lebih
Pernahkah kalian berpikir di masa depan nanti bakal jadi seperti apa? Dulu, saya selalu memimpikan diri saya di masa depan menjadi seorang astronot. Semakin beranjak dewasa, mimpi itu terus berubah. Bekerja di NASA, jadi penjelajah, atau hanya sekadar duduk santai  menikmati aurora. Mimpi itu berubah semakin realistis. Dan saat ini.... saya menjadi seorang 'penulis'.

Ini menandakan bahwa masa depan itu sama sekali tidak dapat diprediksi. Seiring berjalannya waktu, masa depan juga ikut berubah. Pertanyaannya adalah: apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya? Tidak melakukan apa-apa? Atau mulai bersiap untuk segala kemungkinan?

Nah untuk menjawab semua itu Prudential Indonesia hadir. Sesuai tagline 'Always Listening Always Understanding' melalui unit link-nya, Prudential menjanjikan segala kemudahan untuk menghadapi masa depan. Senin (24/9) kemarin, saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung peluncuran unit link baru dari brand asuransi ini: #PRUlinkGenerasiBaru dan #PRUlinkSyariahGenerasiBaru. Nah apa pula itu?

Pasti Dikasih Es Krim (Dok. Pribadi)

Kamis, 30 Agustus 2018

Sehari di Jakabaring Sport City

Gaung Asian Games sudah tersebar di segala penjuru Asia. Di Indonesia yang jadi tuan rumah, semua sudah dipersiapkan. Tapi, bagi saya yang memang tidak terlalu mengikuti olahraga, saya skeptis dengan gelaran ini. Meski saya tinggal di Palembang, saya sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menonton satu pertandingan pun. Namun semua berubah karena saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta kemarin. Semangat yang menggelora dengan tajuk Energi Asia sukses merasuki diri saya.



Semangat GBK yang menular. (dok. pribadi)

Kamis, 16 Agustus 2018

Writingthon Asian Games 2018: Dari Kami Untuk Indonesia

Bagaimana sih rasanya berkumpul bersama dengan teman-teman sebangsa setanah air dari sabang sampai merauke dalam satu ruangan? Pastinya ada perasaan excited sekaligus deg-degan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Hal inilah yang dirasakan ketika baru saja menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta kemarin (15/8/2018). Enam puluh delapan orang yang mewakili Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur tumpah ruah di sana. Semua berkumpul karena satu hal: Writingthon Asian Games 2018.

Bulutangkis, Writingthon, dan Asian Games 2018: Catatan Perjalanan Writingthon

Sewaktu kecil, ada satu kegiatan yang Ayah saya lakukan tanpa luput tiap minggu: mengajak saya bermain (menonton) pertandingan bulutangkis. Saya masih ingat, tiap senin, rabu, dan kadang-kadang minggu, Beliau akan bersiap selepas magrib, mengenakan celana pendek olahraga beserta kaus berwarna senada sembari sesekali mengecek raket-raket dari dalam tasnya. Bila telah selesai, Beliau akan mengenakan sepatu olahraga berwarna cerah yang usang lalu memanggil saya dengan suara lantang untuk ikut pergi ke balai desa terdekat. Saat telah sampai, tanpa membuang banyak waktu, Beliau langsung bermain bersama teman-temannya, membiarkan saya yang kadang juga bermain bersama anak-anak lain yang bernasib serupa. Kegiatan ini berlangsung bertahun-tahun lamanya hingga pada satu ketika, kaki Beliau mengalami cedera dan mengharuskannya ‘gantung raket’.

Kamis, 02 Agustus 2018

Yamaha Vixion, Daily Driver Tangguh dan Sporty
Jika ditanya, apa sih impian saya sewaktu sekolah dulu, saya sudah pasti akan menjawab: punya motor ‘gede’. Nggak perlu motor mahal berharga ratusan juta, cukup sebuah motor yang terlihat keren saat dipakai buat jalan-jalan bonceng gebetan.  Maklum, sebagai pemuja matic dari zaman baheula, motor dengan kopling ditambah tampilan yang sporty sukses bikin menelan ludah. Nah seperti kata pepatah, jangan pernah menyerah untuk mimpimu. Niscaya, suatu saat akan berwujud jika kamu sungguh-sungguh. Benar saja, rupanya keinginan itu berwujud beberapa tahun kemudian.

Kamis, 12 Juli 2018

Palembang, Kedua Bukan Berarti Tidak Euforia
Jika ditanya apa even paling penting bagi Indonesia di tahun 2018, maka sudah pasti jawabannya adalah Asian Games 2018. Peristiwa ini adalah kali kedua bagi Indonesia untuk menyelenggarakan even olahraga akbar empat tahunan se-Asia. Setelah lebih dari lima puluh tahun silam, tepatnya tanggal 24 Agustus 1962, Indonesia kembali dipercaya untuk menjadi tuan rumah. Tentu hal ini bukan hal yang mudah. Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh Indonesia demi suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 bulan Agustus nanti. Berbeda dengan penyelenggaraan Asian Games di Indonesia yang pertama, kali ini Indonesia mengutus dua kota besar: Jakarta dan Palembang untuk menjadi tempat perhelatan pertandingan cabang-cabang olahraga. Palembang sendiri dipercaya menjadi tempat 13 cabang olahraga seperti tembak, dayung, kayak, dan lainnya.

Gaung pentas olahraga terbesar kedua di dunia itu sudah terasa beberapa saat lamanya di kota ini. Sejak terpilihnya Palembang mendampingi ibu kota Jakarta yang diumumkan saat penyelenggaraan Asian Games ke-17 empat tahun silam, kota ini mulai berbenah. Gedung-gedung tinggi khas metropolitan mulai menjamur di sudut-sudut kota. Rupa-rupa kota makin dipertegas dengan taman-taman yang ditata sedemikian rupa untuk mempercantik lansekap kota Sriwijaya. Dan tidak lupa, infrastruktur penunjang mulai dibangun, membuat kota ini semakin sibuk dan tenggelam dalam euforia. Semua ini sebagai bentuk dukung bersama dan kesiapan kota ini menyambut para atlet dan wisatawan yang akan berkunjung ke sini.

Selasa, 19 Juni 2018

Ini Alasan Kenapa Nonton di Cinemaxx Terasa Lebih Asyik

foto:jerrytew

Apa sih yang sering kalian lakuin kalau lagi suntuk dan butuh inspirasi? Kalau saya: nonton film. Pernah saking suntuknya saya di sekolah saat SMA, selepas pulang sekolah, saya langsung memacu kendaraan menuju mal terdekat di kota saya. Tujuannya sih sederhana: menonton film fantasy teen drama yang memang lagi happening saat itu. Saya ingat, dulu, saya rela menabung sedikit dari uang jajan saya di sekolah supaya bisa menghabiskan waktu lebih banyak di bioskop. Namun sekarang berbeda.

Selasa, 12 Juni 2018

Ngabuburit Asik Bareng Lexi

Sabtu kemarin (9/5) saya berkesempatan untuk ngabuburit bersama Lexi. Bermula dari sebuah ajakan dari Mas David lewat pesan singkat, akhirnya saya bertemu dengan si Sexy satu ini. Seperti biasa, sore itu, saya sudah janjian terlebih dahulu bersama Lutfi, rekan bloger yang juga diundang untuk bertemu Lexi. Pukul dua, saya sudah bersiap sebab mendengar kabar dari Ayah kalau Palembang lagi macet ampun-ampunan. Mungkin karena semua manusia lagi tumpah ruah di jalan biar bisa beli baju lebaran di mal terdekat? Entahlah. Hahaha. Yang jelas, saat itu, jantung saya sudah berdegup karena nggak sabar.

Pukul tiga kurang, saya mengendarai motor Mio saya untuk pergi ke Yamaha Sentral. Ya, saya dan Lexi janjian bertemu di Yamaha Sentral di Jalan Jendral Sudirman, Palembang. Saya sebelumnya sudah meniatkan untuk mampir bentar ke Gramedia untuk bertemu Lutfi. Anehnya, jalan yang dibilang Ayah macet malah lancar saja saya lalui. Mungkin Tuhan tahu saya sudah nggak sabar ketemu Lexi? :p

Dan pukul empat kurang, saya akhirnya bertemu Lutfi. Kami pun berdua menuju ke Yamaha Sentral yang tak jauh dari sana. Sepanjang jalan kami sibuk menerka-nerka...

who (what) is Lexi?

Senin, 11 Desember 2017

SEHARI BERSAMA HIV/AIDS
Bagaimana jika seorang guru membalaskan dendamnya padamu dengan menyuntikkan darah suaminya yang terinfeksi HIV pada susu yang kau minum ketika awal kelas dimulai? Dan seiring penjelasan sang guru, kau akhirnya tahu kenyataannya. Apa yang kau rasakan?

Ini adalah kisah dari salah satu film favorit saya: Confession. Film asal negara sakura ini menjadi perwakilan Jepang dalam seleksi penghargaan Academy Awards beberapa tahun silam. Gabungan antara drama, thriller yang cantik, ditambah ketegangan sepajang film sukses menyihir saya ketika awal menonton. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas sekarang, melainkan nasib salah satu tokohnya.