Senin, 11 Desember 2017

SEHARI BERSAMA HIV/AIDS
Bagaimana jika seorang guru membalaskan dendamnya padamu dengan menyuntikkan darah suaminya yang terinfeksi HIV pada susu yang kau minum ketika awal kelas dimulai? Dan seiring penjelasan sang guru, kau akhirnya tahu kenyataannya. Apa yang kau rasakan?

Ini adalah kisah dari salah satu film favorit saya: Confession. Film asal negara sakura ini menjadi perwakilan Jepang dalam seleksi penghargaan Academy Awards beberapa tahun silam. Gabungan antara drama, thriller yang cantik, ditambah ketegangan sepajang film sukses menyihir saya ketika awal menonton. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas sekarang, melainkan nasib salah satu tokohnya.


Kamis, 30 November 2017

Surat Cinta untuk Indonesia
Halo, Indonesia.

Bagaimana kabarmu? Sedang sibuk-sibuknya? Sedang kalut-kalutnya? Aku menulis ini ketika tiba-tiba saja mengingatmu. Saat mataku memandang ke arah jalan, senja yang datang merapat, diiringi suara samar televisi yang memutar berita, aku mengingatmu.



Indonesia,

Tepat sehari setelah hari ulang tahunmu nanti, kau akan merayakan perhelatan besar. Di saat itulah, mata seluruh penjuru Asia menatapmu dengan harap. Di tengah huru-hara saat ini, mungkin kau akan sedikit gugup, mungkin akan takut. Mungkin kau malah akan bertanya-tanya dalam hati: bagaimana jika semua tidak berjalan lancar? Bagaimana jika ada yang kurang? Bagaimana jika kau malah menghancurkan semua?

Untuk itu, aku mengirimimu surat. Sepucuk surat agar kau melihat.


Indonesia,

Sebelumnya, izinkan aku bercerita. Tentang dua orang pejalan yang sedang mencari jati diri. Dua orang asing yang berteman karena satu keadaan. Saat matahari baru sepenggalan naik, mereka bertemu di tepi sungai Musi. Keduanya duduk, membicarakan mereka, mimpi-mimpi mereka, arah kehidupan mereka. Mereka menceritakan semuanya. Lalu, ketika matahari tepat berada di tengah, mereka menaiki ketek menyusuri sungai.

Kala itu, tak ada pikiran apa-apa yang ada di benak mereka. Tujuannya hanya satu, sebuah destinasi wisata baru kota Palembang yang buka pada hari itu. Hanya iseng, pikir mereka. Kapan lagi mengunjungi tempat wisata yang ada di kota Palembang?

Tapi, kau tahu? Kadang kita mendapat lebih dari apa yang kita harapkan, jika kita mau sejenak berpikir.

Hari itu, panas yang menyengat kulit, semua berjalan sesuai rencana. Riuh. Semarak. Pelbagai jajanan hadir di halaman rumah Baba Ong Boen Tjit, saudagar kaya dari Tionghoa yang menetap di Palembang ratusan tahun lalu. Dan di tengah suara-suara itu, dua pejalan ini termenung. Ada satu hal yang mengusik mereka. Tepat di sudut halaman rumah itu, mereka lihat anak-anak bermain ayunan. Ikut riuh dalam suasana yang ramai. Senyum tak henti terlihat dari wajah mereka. Sesekali, mereka saling dorong. Ada yang terjatuh, namun dengan cepat mereka bangkit kemudian kembali tertawa. Beberapa saling berangkulan, saling melempar guyonan hingga tertawa. Tak ada raut kesedihan. Semuanya tampak sama di mata mereka: anak-anak. Tak ada pembeda. Baju bagus, baju usang. Laki-laki, perempuan. Semua membaur. Bermain Bersama.

Anak-anak di Pasar Baba Boentjit tersenyum di depan kamera. (Dok. Pribadi)

Senyum selalu merekah. (Dok. Pribadi)

Pemandangan itu membuat dua orang pejalan ini membeku. Entah dari mana mulanya, mereka mendengar anak-anak itu meneriakkan kata “Indonesia!” dengan lantang. Rasa aneh menjulur di sela-sela bulu kuduk mereka. Mata mereka mencari titik-titik kesedihan. Namun nihil. Yang ada hanya senyuman.



Dua pejalan kaki ini ikut tertawa, tidak menyangka. Di halaman rumah seorang peranakan, semua sama. Di zaman sekarang, bahagia memang begitu sederhana.


Indonesia,

Aku tahu beban ini berat bagimu untuk ditanggung sendirian. Di tengah perbedaan-perbedaan yang menjadi signifikan, kau terus berjuang. Padahal, dahulu kau merdeka atas rasa persamaan ingin kebebasan, tak peduli perbedaan-perbedaan. Namun sekarang, semua dipermasalahkan. Perbedaan dianggap sebagai sebuah hinaan. Kata pemersatu hanya jadi bahan bualan.

Aku ingin skeptis, sungguh. Namun, kisah dua pejalan tadi menggugahku.

Kau tahu, kadang kita belajar dari hal-hal kecil di sekitar kita. 

Lewat anak-anak itu, aku jadi berpikir. Mereka adalah tonggakmu beberapa tahun ke depan. Mereka adalah dirimu beberapa tahun yang akan datang. Mereka adalah kau. Bila sekarang kau sedang berada pada masa-masa sulit karena perbedaan, bukankah semuanya akan jadi lebih baik beberapa tahun ke depan?


Indonesia,

Aku tahu ini takkan mudah. Dan pasti membutuhkan waktu yang lama. Namun, aku ingin kau tahu, aku membawa pesan perdamaian.

Tahun depan, kau memulai babak baru. Setelah lima puluh enam tahun lalu, kau kembali menjamu. Tidak mudah bukan, di tengah hiruk-pikuk segelintir orang yang meneriakkan perpecahan? Padahal ajang itu untuk mempersatukan segala perbedaan. Aku hanya ingin kau tahu, kau selalu punya rakyatmu. Kami selalu memegang punggungmu. Jangan takut, jangan ragu. 

Yakinlah, perbedaan-perbedaan itu akan semakin samar, hilang seperti buih di lautan.

Untuk itu, Indonesia, tak perlu khawatir. Jamulah tamu kita sebaik-baiknya. Bermainlah sebagus-bagusnya. Jadilah bagian dari sejarah panjang kesuksesan ajang olahraga se-Asia. Percayalah ini hanya kerikil kecil bagi bangsa yang besar. Aku yakin kita akan melaluinya dengan mudah. Yakinlah, saat perhelatan itu dilaksanakan, semua akan baik-baik saja. Dan aku percaya demikian.

Kau telah berbenah. Wajahmu telah kau poles cantik sedemikian rupa. Lakukan sekuat yang kau bisa. Sisanya, biarkan kami yang berjaga. Dua ribu delapan belas, kami akan bela. 

Tak ada pertumpahan atas nama perbedaan. Yang ada pesta merayakan persatuan.

Hingga beberapa tahun ke depan, kau akan melihat anak-anak yang dipandangi dua pejalan itu tumbuh besar. Tak ada yang berubah. Mereka akan tetap tertawa. Yang berbeda hanya satu: taman bermain mereka bukan hanya ayunan di sudut halaman. Ekonomi, olahraga, sosial, budaya, dan banyak bidang lainnya. Mereka akan berjuang bersamamu, mengesampingkan perbedaan-perbedaan itu, menjadikanmu bangsa yang lebih besar dan maju. Menuju zaman baru.


Indonesia,

Aku optimis. Tahun depan kita juara.


Palembang, 30 November 2017
Satu dari dua pejalan asing.


Senin, 27 November 2017

Cerita Ceria di Pasar Baba Boentjit
Semua ini bermula karena satu percakapan. Di dalam perpustakaan Bank Indonesia, di hadapan komputer portabel yang menyala garang.

“Za, tahu Baba Boentjit?”

Saat itu Za melirik saya dengan satu alis terangkat. Tampaknya dua kata itu asing di telinganya. “Abah buncit? Kakek buncit?”

Sejujurnya sama saja. Mendengar nama itu pertama kali, saya pasti berpikiran seperti itu. Saya baru mengenalnya setelah tidak sengaja melihat post Pesona Sriwijaya di salah satu media sosial. Dan ketika melihatnya, saya langsung tertarik.

“Jadi, ada sebuah acara namanya Pasar Baba Boentjit...” Saya mulai menjelaskan. “Kalau lihat di instagram sih kayaknya bagus, Za. Rumah saudagar kaya di tepi sungai Musi. Katanya ada jajanan, budaya, demo masak, dan.... artis.”

Telinganya langsung membesar selesai saya berbicara. Ada binar mata tertarik yang terpancar.
“Ayo!” Za berkata dengan semangat.

Dalam hati, saya tertawa. Benar saja ia pasti tertarik. Beberapa minggu ke belakang, kami memang sedang mencoba hobi baru. Menjadi pembuat konten. Dan mengetahui ada acara seperti ini, pasti tidak akan dilewatkan.

Kamis, 23 November 2017

Flash Blogging: Melihat Kemajuan Indonesia Melalui Asian Games 2018
Apakah kalian tahu acara besar bagi Indonesia tahun 2018? Mungkin kebanyakan dari kalian bakal bilang tahu. Bahkan beberapa mungkin memang sudah menantikan dengan antusias. Memang, beberapa tahun terakhir, gema perhelatan akbar olahraga se-Asia empat tahunan tersebut sudah mulai disuarakan. Digaungkan ke seluruh penjuru negeri. 



Jumat, 20 Oktober 2017

Healing Trip ke Bangkok? AirAsiaGo aja!
Jika di postingan sebelumnya (ini) saya menyusun jadwal padat dan berisi selama tiga hari dua malam dengan AirAsiaGo, maka kali ini saya akan lebih bersantai. Healing trip versi saya. Mengapa dinamakan healing trip? Karena saya ingin menikmati Bangkok dengan pelan-pelan. Tidak terburu-buru. Jadi, berbeda dengan sebelumnya, kini saya menyusun jadwal yang (sedikit) berbeda.

Bagi saya, healing trip harus tetap memiliki jadwal. Walaupun lebih santai, tapi tanpa jadwal, apalagi di negeri orang, semua bisa berantakkan. Bukan healing trip yang didapat, malah stres karena tersasar di negeri orang.

Gambar diambil dari sini.

Rabu, 18 Oktober 2017

SHORT ESCAPE TO BANGKOK WITH AIRASIA GO!
Bagi saya, Bangkok selalu jadi tempat yang magis. Bukan—bukan karena berhubungan dengan klenik, tetapi karena selalu menjadi satu dari sepuluh tempat yang harus saya kunjungi. Keinginan mengunjungi Thailand—khususnya Bangkok sudah terpatri di benak saya sejak pertama kali menonton film A Little Thing Called Love sewaktu SMA. Semakin lama, semakin semakin banyak informasi tentang kota ini yang saya terima baik lewat drama-dramanya yang seru pun film-filmnya yang bermutu. Namun, hingga sekarang keinginan itu masih belum dapat terwujud. :’)

Mengapa saya menyukai Bangkok?

Menjawab pertanyaan itu ibarat menjawab pertanyaan mana yang lebih saya suka, Ayah atau Ibu. Saya menyukai semua hal—meski saya belum pernah mengunjunginya. Dari apa yang saya lihat, banyak sekali tempat-tempat bersejarah nan sakral berada di sana—sesuatu yang amat saya suka. Belum lagi makanan-makanannya yang sukses bikin saya ngiler seperti Pad Thai dan jajanan seperti Thai Tea atau Mango Sticky Rice. Suasananya pun sepertinya tourist friendly plus banyak wisata belanja yang murah-murah yang bisa buat kalap. Dan satu hal lagi, suasana kota baik siang maupun malam yang bak dua tepi mata koin, berbeda namun hidup berdampingan. Semua itu membuat saya semakin ingin mengunjungi Bangkok, Thailand.

Gambar diambil dari sini.

Jumat, 15 September 2017

#Writingthon: Penulis, Peneliti, dan Cerita Lainnya.
Menulis dan Maraton. Apa hubungan kedua kegiatan tersebut?

Bila dilihat sekilas, mungkin memang nggak ada hubungannya sama sekali. Tidak pernah saling bersinggungan. Namun, apa jadinya jika kedua kata tersebut ‘disatukan’ dalam satu kegiatan?

Pose dulu~ Peserta dan Panitia (Dok. Panitia)

Jika kalian mengikuti media sosial saya terutama instagram, beberapa minggu lalu, saya sering sekali mem-posting dengan tagar #Writingthon. Nah, #Writingthon sendiri merupakan even menulis yang diadakan oleh oleh Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) yang bekerja sama dengan Penerbit Bitread sebagai pra-even #PIF2017. Melalui even ini, para penulis terpilih diminta untuk ‘menulis maraton’ selama tiga hari untuk nantinya dijadikan sebuah buku tentang Puspiptek dan semua hal yang ada di dalamnya.

Minggu, 30 Juli 2017

PEMULA NEKAT KE MALAYSIA: KL SENTRAL - HOSTEL [2]
Setelah enak-enakan tidur di dalam bus, akhirnya kami sampai di KL Sentral. Pertama turun dari bus, kami berada di semacam tempat parkir. Karena sama sekali nggak tahu arah, jurus paling ampuh: ikutin semua orang yang juga turun. Setelah celingukan, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sepasang bule yang tampaknya udah tahu harus ke mana. Kami menaiki eskalator buat ke lantai atas dan akhirnya..... ini apa?

Saya tahu apa itu KL Sentral, tapi nggak menyangka sebesar ini. Setelah dibikin ternganga dengan KLIA2, KL Sentral juga nggak kalah buat takjub. Emang ya, harus sering melihat dunia luar buat tahu bahwa dunia kita sendiri nggak ada apa-apanya. Haha!

Menurut catatan saya, hostel yang udah saya pesan berada di kawasan pasar seni, tepatnya di Katsuri Walk. Saya pun telah mencatat how to get there, bermodal baca-baca referensi dan satu aplikasi bernama Moovit (INI SANGAT MEMBANTU!). Kami diharuskan naik LRT ke Pasar Seni melalui laluan Kelana Jaya. Oke. Tapi, masalah baru muncul: kami sama sekali nggak tahu cara naik LRT!

Saya melihat ada tulisan Kelana Jaya Line di sebelah kiri, dan itu sesuai dengan apa yang saya tulis. Dengan pelan, kami memutuskan untuk ke sana. Di sebelah kiri, tampak orang mengantri di semacam vending machine. Mesin itu mengeluarkan semacam koin plastik. Lama kami menatap dan mengamati. Akhirnya kami memberanikan diri.

Kelana Jaya Line. Klik.

Muncul nama-nama yang mungkin saya pikir nama stasiun. Dengan mantap, kami memilih Pasar Seni yang ternyata hanya satu stasiun dari KL Sentral. Klik.

Ada tulisan jumlah yang harus kami bayar. Melihat orang di sebelah, kami pun memasukkan uang.

Kling. Kling.

Koin berwarna biru keluar dari bawah.

Tahu nggak rasanya seluruh dunia kayak berada di dalam genggaman? Begitulah saya. We did it!!!!!!! *insert we are the champion song here~*

Setelah drama dengan vending machine, kami akhirnya selamat menuju peron. Tak lama, kereta kami datang. Saat itu memang penuh sesak. Setelah masuk, kami benar-benar mendengar pengumuman dari pengeras suara. Satu stasiun, kami pun keluar.

"Itu tandanya!"

Rabu, 19 Juli 2017

PEMULA NEKAT KE MALAYSIA: PLM-KLIA2 [1]

Sedari dulu, saya selalu pengin pergi jalan-jalan. Sebagai anak kota yang sampai gede masih ‘dipingit’, keinginan itu terus-terusan terpendam di dasar hati yang paling dalam, nggak berani dikeluarkan. Bagi saya, jalan-jalan akan jadi salah satu lifetime buckit list yang saya sendiri nggak yakin bakal tercentang (v) atau nggak.

Rupanya, keinginan itu terwujud lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan.

Bermula dari iklan di televisi tentang promo terbang gratis Air Asia tahun lalu, saya akhirnya berangkat ke negeri bertajuk Truly Asia pada tanggal 13 Juli 2017 kemarin! Modalnya apa? Nekat. Ya, perjalanan ini hanya bermodal nekat. Hahaha! Kenapa? Karena saya dan satu teman saya sama-sama baru pertama kali ke luar negeri (bahkan dia baru pertama kali naik pesawat! :p). Meskipun sudah buat jadwal penuh, ditambah baca-baca seluk-beluk negara Malaysia, dan tanya-tanya, namun rasa takut itu masih ada. Bahkan, saat menuju bandara, terbesit keinginan untuk batal pergi, mengikuti jejak salah satu teman saya yang juga batal ikut. Tapi, teman saya, Aan, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Dan ternyata memang demikian.

Pesawat dari PLM boarding pukul 07.50 pagi, setelah di-reschedule satu jam lebih awal. Dan kami berangkat dari rumah pukul setengah tujuh pagi. Karena masih awam (biasanya hanya terbang domestik) mau nggak mau kami memilih pergi lebih cepat walau sudah melakukan check in awalnya. Dan benar saja, kami sempat kebingungan mencari boarding room penerbangan internasional. Belum lagi bayangan akan imigrasi yang saya baca cukup menakutkan. Untunglah, selagi menunggu proses imigrasi, kami sempat berbincang dengan seorang ibu yang mengajak anaknya ke KL. Kami dijelaskan banyak sekali mengenai proses sampai keluar bandara KLIA2 nanti.

Setelah melalui imigrasi dan menunggu, tibalah saat boarding! Jantung saya berdegup kencang. Berbagai pikiran bergelayut. Bagaimana kalau salah di imigrasi? Bagaimana kalau tersasar? Bagaimana kalau hostelnya nggak ter-booking dan malah jadi TKI? Akan tetapi, seperti kata pepatah, let bygones be bygones not baygon. Oke, ini nggak lucu. Dan pada akhirnya, saya menenangkan diri dan percaya dengan persiapan yang saya punya. Hahaha!

MALAYSIAA!!! AAAK!

Jumat, 24 Februari 2017

#LawanNeuropati; Si Diam-Diam Membahayakan dengan Neurobion


Ada satu hal yang sering saya alami bila terlalu lama mengetik di layar ‘laptop’. Hal tersebut terkadang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan bertahan beberapa menit kemudian hilang. Lalu datang lagi kayak mantan yang tiba-tiba sms ‘Hai’. Hal tersebut adalah: kesemutan.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir di jurusan komputer, mau nggak mau urusan saya harus terus berkutat dengan laptop dalam waktu yang lama baik untuk ngoding atau menulis artikel di blog. Mulanya, saya menganggapnya biasa saja. Namun, belakangan gejala itu sering terjadi. Barulah setelah mencari tahu, saya menemukan gejala itu mirip dengan neuropati.
Duh!