Kamis, 30 Agustus 2018

Sehari di Jakabaring Sport City

Gaung Asian Games sudah tersebar di segala penjuru Asia. Di Indonesia yang jadi tuan rumah, semua sudah dipersiapkan. Tapi, bagi saya yang memang tidak terlalu mengikuti olahraga, saya skeptis dengan gelaran ini. Meski saya tinggal di Palembang, saya sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menonton satu pertandingan pun. Namun semua berubah karena saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta kemarin. Semangat yang menggelora dengan tajuk Energi Asia sukses merasuki diri saya.



Semangat GBK yang menular. (dok. pribadi)

Kamis, 16 Agustus 2018

Writingthon Asian Games 2018: Dari Kami Untuk Indonesia

Bagaimana sih rasanya berkumpul bersama dengan teman-teman sebangsa setanah air dari sabang sampai merauke dalam satu ruangan? Pastinya ada perasaan excited sekaligus deg-degan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Hal inilah yang dirasakan ketika baru saja menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta kemarin (15/8/2018). Enam puluh delapan orang yang mewakili Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur tumpah ruah di sana. Semua berkumpul karena satu hal: Writingthon Asian Games 2018.

Bulutangkis, Writingthon, dan Asian Games 2018: Catatan Perjalanan Writingthon

Sewaktu kecil, ada satu kegiatan yang Ayah saya lakukan tanpa luput tiap minggu: mengajak saya bermain (menonton) pertandingan bulutangkis. Saya masih ingat, tiap senin, rabu, dan kadang-kadang minggu, Beliau akan bersiap selepas magrib, mengenakan celana pendek olahraga beserta kaus berwarna senada sembari sesekali mengecek raket-raket dari dalam tasnya. Bila telah selesai, Beliau akan mengenakan sepatu olahraga berwarna cerah yang usang lalu memanggil saya dengan suara lantang untuk ikut pergi ke balai desa terdekat. Saat telah sampai, tanpa membuang banyak waktu, Beliau langsung bermain bersama teman-temannya, membiarkan saya yang kadang juga bermain bersama anak-anak lain yang bernasib serupa. Kegiatan ini berlangsung bertahun-tahun lamanya hingga pada satu ketika, kaki Beliau mengalami cedera dan mengharuskannya ‘gantung raket’.

Kamis, 02 Agustus 2018

Yamaha Vixion, Daily Driver Tangguh dan Sporty
Jika ditanya, apa sih impian saya sewaktu sekolah dulu, saya sudah pasti akan menjawab: punya motor ‘gede’. Nggak perlu motor mahal berharga ratusan juta, cukup sebuah motor yang terlihat keren saat dipakai buat jalan-jalan bonceng gebetan.  Maklum, sebagai pemuja matic dari zaman baheula, motor dengan kopling ditambah tampilan yang sporty sukses bikin menelan ludah. Nah seperti kata pepatah, jangan pernah menyerah untuk mimpimu. Niscaya, suatu saat akan berwujud jika kamu sungguh-sungguh. Benar saja, rupanya keinginan itu berwujud beberapa tahun kemudian.

Kamis, 12 Juli 2018

Palembang, Kedua Bukan Berarti Tidak Euforia
Jika ditanya apa even paling penting bagi Indonesia di tahun 2018, maka sudah pasti jawabannya adalah Asian Games 2018. Peristiwa ini adalah kali kedua bagi Indonesia untuk menyelenggarakan even olahraga akbar empat tahunan se-Asia. Setelah lebih dari lima puluh tahun silam, tepatnya tanggal 24 Agustus 1962, Indonesia kembali dipercaya untuk menjadi tuan rumah. Tentu hal ini bukan hal yang mudah. Banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh Indonesia demi suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 bulan Agustus nanti. Berbeda dengan penyelenggaraan Asian Games di Indonesia yang pertama, kali ini Indonesia mengutus dua kota besar: Jakarta dan Palembang untuk menjadi tempat perhelatan pertandingan cabang-cabang olahraga. Palembang sendiri dipercaya menjadi tempat 13 cabang olahraga seperti tembak, dayung, kayak, dan lainnya.

Gaung pentas olahraga terbesar kedua di dunia itu sudah terasa beberapa saat lamanya di kota ini. Sejak terpilihnya Palembang mendampingi ibu kota Jakarta yang diumumkan saat penyelenggaraan Asian Games ke-17 empat tahun silam, kota ini mulai berbenah. Gedung-gedung tinggi khas metropolitan mulai menjamur di sudut-sudut kota. Rupa-rupa kota makin dipertegas dengan taman-taman yang ditata sedemikian rupa untuk mempercantik lansekap kota Sriwijaya. Dan tidak lupa, infrastruktur penunjang mulai dibangun, membuat kota ini semakin sibuk dan tenggelam dalam euforia. Semua ini sebagai bentuk dukung bersama dan kesiapan kota ini menyambut para atlet dan wisatawan yang akan berkunjung ke sini.

Selasa, 19 Juni 2018

Ini Alasan Kenapa Nonton di Cinemaxx Terasa Lebih Asyik

foto:jerrytew

Apa sih yang sering kalian lakuin kalau lagi suntuk dan butuh inspirasi? Kalau saya: nonton film. Pernah saking suntuknya saya di sekolah saat SMA, selepas pulang sekolah, saya langsung memacu kendaraan menuju mal terdekat di kota saya. Tujuannya sih sederhana: menonton film fantasy teen drama yang memang lagi happening saat itu. Saya ingat, dulu, saya rela menabung sedikit dari uang jajan saya di sekolah supaya bisa menghabiskan waktu lebih banyak di bioskop. Namun sekarang berbeda.

Selasa, 12 Juni 2018

Ngabuburit Asik Bareng Lexi

Sabtu kemarin (9/5) saya berkesempatan untuk ngabuburit bersama Lexi. Bermula dari sebuah ajakan dari Mas David lewat pesan singkat, akhirnya saya bertemu dengan si Sexy satu ini. Seperti biasa, sore itu, saya sudah janjian terlebih dahulu bersama Lutfi, rekan bloger yang juga diundang untuk bertemu Lexi. Pukul dua, saya sudah bersiap sebab mendengar kabar dari Ayah kalau Palembang lagi macet ampun-ampunan. Mungkin karena semua manusia lagi tumpah ruah di jalan biar bisa beli baju lebaran di mal terdekat? Entahlah. Hahaha. Yang jelas, saat itu, jantung saya sudah berdegup karena nggak sabar.

Pukul tiga kurang, saya mengendarai motor Mio saya untuk pergi ke Yamaha Sentral. Ya, saya dan Lexi janjian bertemu di Yamaha Sentral di Jalan Jendral Sudirman, Palembang. Saya sebelumnya sudah meniatkan untuk mampir bentar ke Gramedia untuk bertemu Lutfi. Anehnya, jalan yang dibilang Ayah macet malah lancar saja saya lalui. Mungkin Tuhan tahu saya sudah nggak sabar ketemu Lexi? :p

Dan pukul empat kurang, saya akhirnya bertemu Lutfi. Kami pun berdua menuju ke Yamaha Sentral yang tak jauh dari sana. Sepanjang jalan kami sibuk menerka-nerka...

who (what) is Lexi?

Senin, 11 Desember 2017

SEHARI BERSAMA HIV/AIDS
Bagaimana jika seorang guru membalaskan dendamnya padamu dengan menyuntikkan darah suaminya yang terinfeksi HIV pada susu yang kau minum ketika awal kelas dimulai? Dan seiring penjelasan sang guru, kau akhirnya tahu kenyataannya. Apa yang kau rasakan?

Ini adalah kisah dari salah satu film favorit saya: Confession. Film asal negara sakura ini menjadi perwakilan Jepang dalam seleksi penghargaan Academy Awards beberapa tahun silam. Gabungan antara drama, thriller yang cantik, ditambah ketegangan sepajang film sukses menyihir saya ketika awal menonton. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas sekarang, melainkan nasib salah satu tokohnya.


Kamis, 30 November 2017

Surat Cinta untuk Indonesia
Halo, Indonesia.

Bagaimana kabarmu? Sedang sibuk-sibuknya? Sedang kalut-kalutnya? Aku menulis ini ketika tiba-tiba saja mengingatmu. Saat mataku memandang ke arah jalan, senja yang datang merapat, diiringi suara samar televisi yang memutar berita, aku mengingatmu.



Indonesia,

Tepat sehari setelah hari ulang tahunmu nanti, kau akan merayakan perhelatan besar. Di saat itulah, mata seluruh penjuru Asia menatapmu dengan harap. Di tengah huru-hara saat ini, mungkin kau akan sedikit gugup, mungkin akan takut. Mungkin kau malah akan bertanya-tanya dalam hati: bagaimana jika semua tidak berjalan lancar? Bagaimana jika ada yang kurang? Bagaimana jika kau malah menghancurkan semua?

Untuk itu, aku mengirimimu surat. Sepucuk surat agar kau melihat.


Indonesia,

Sebelumnya, izinkan aku bercerita. Tentang dua orang pejalan yang sedang mencari jati diri. Dua orang asing yang berteman karena satu keadaan. Saat matahari baru sepenggalan naik, mereka bertemu di tepi sungai Musi. Keduanya duduk, membicarakan mereka, mimpi-mimpi mereka, arah kehidupan mereka. Mereka menceritakan semuanya. Lalu, ketika matahari tepat berada di tengah, mereka menaiki ketek menyusuri sungai.

Kala itu, tak ada pikiran apa-apa yang ada di benak mereka. Tujuannya hanya satu, sebuah destinasi wisata baru kota Palembang yang buka pada hari itu. Hanya iseng, pikir mereka. Kapan lagi mengunjungi tempat wisata yang ada di kota Palembang?

Tapi, kau tahu? Kadang kita mendapat lebih dari apa yang kita harapkan, jika kita mau sejenak berpikir.

Hari itu, panas yang menyengat kulit, semua berjalan sesuai rencana. Riuh. Semarak. Pelbagai jajanan hadir di halaman rumah Baba Ong Boen Tjit, saudagar kaya dari Tionghoa yang menetap di Palembang ratusan tahun lalu. Dan di tengah suara-suara itu, dua pejalan ini termenung. Ada satu hal yang mengusik mereka. Tepat di sudut halaman rumah itu, mereka lihat anak-anak bermain ayunan. Ikut riuh dalam suasana yang ramai. Senyum tak henti terlihat dari wajah mereka. Sesekali, mereka saling dorong. Ada yang terjatuh, namun dengan cepat mereka bangkit kemudian kembali tertawa. Beberapa saling berangkulan, saling melempar guyonan hingga tertawa. Tak ada raut kesedihan. Semuanya tampak sama di mata mereka: anak-anak. Tak ada pembeda. Baju bagus, baju usang. Laki-laki, perempuan. Semua membaur. Bermain Bersama.

Anak-anak di Pasar Baba Boentjit tersenyum di depan kamera. (Dok. Pribadi)

Senyum selalu merekah. (Dok. Pribadi)

Pemandangan itu membuat dua orang pejalan ini membeku. Entah dari mana mulanya, mereka mendengar anak-anak itu meneriakkan kata “Indonesia!” dengan lantang. Rasa aneh menjulur di sela-sela bulu kuduk mereka. Mata mereka mencari titik-titik kesedihan. Namun nihil. Yang ada hanya senyuman.



Dua pejalan kaki ini ikut tertawa, tidak menyangka. Di halaman rumah seorang peranakan, semua sama. Di zaman sekarang, bahagia memang begitu sederhana.


Indonesia,

Aku tahu beban ini berat bagimu untuk ditanggung sendirian. Di tengah perbedaan-perbedaan yang menjadi signifikan, kau terus berjuang. Padahal, dahulu kau merdeka atas rasa persamaan ingin kebebasan, tak peduli perbedaan-perbedaan. Namun sekarang, semua dipermasalahkan. Perbedaan dianggap sebagai sebuah hinaan. Kata pemersatu hanya jadi bahan bualan.

Aku ingin skeptis, sungguh. Namun, kisah dua pejalan tadi menggugahku.

Kau tahu, kadang kita belajar dari hal-hal kecil di sekitar kita. 

Lewat anak-anak itu, aku jadi berpikir. Mereka adalah tonggakmu beberapa tahun ke depan. Mereka adalah dirimu beberapa tahun yang akan datang. Mereka adalah kau. Bila sekarang kau sedang berada pada masa-masa sulit karena perbedaan, bukankah semuanya akan jadi lebih baik beberapa tahun ke depan?


Indonesia,

Aku tahu ini takkan mudah. Dan pasti membutuhkan waktu yang lama. Namun, aku ingin kau tahu, aku membawa pesan perdamaian.

Tahun depan, kau memulai babak baru. Setelah lima puluh enam tahun lalu, kau kembali menjamu. Tidak mudah bukan, di tengah hiruk-pikuk segelintir orang yang meneriakkan perpecahan? Padahal ajang itu untuk mempersatukan segala perbedaan. Aku hanya ingin kau tahu, kau selalu punya rakyatmu. Kami selalu memegang punggungmu. Jangan takut, jangan ragu. 

Yakinlah, perbedaan-perbedaan itu akan semakin samar, hilang seperti buih di lautan.

Untuk itu, Indonesia, tak perlu khawatir. Jamulah tamu kita sebaik-baiknya. Bermainlah sebagus-bagusnya. Jadilah bagian dari sejarah panjang kesuksesan ajang olahraga se-Asia. Percayalah ini hanya kerikil kecil bagi bangsa yang besar. Aku yakin kita akan melaluinya dengan mudah. Yakinlah, saat perhelatan itu dilaksanakan, semua akan baik-baik saja. Dan aku percaya demikian.

Kau telah berbenah. Wajahmu telah kau poles cantik sedemikian rupa. Lakukan sekuat yang kau bisa. Sisanya, biarkan kami yang berjaga. Dua ribu delapan belas, kami akan bela. 

Tak ada pertumpahan atas nama perbedaan. Yang ada pesta merayakan persatuan.

Hingga beberapa tahun ke depan, kau akan melihat anak-anak yang dipandangi dua pejalan itu tumbuh besar. Tak ada yang berubah. Mereka akan tetap tertawa. Yang berbeda hanya satu: taman bermain mereka bukan hanya ayunan di sudut halaman. Ekonomi, olahraga, sosial, budaya, dan banyak bidang lainnya. Mereka akan berjuang bersamamu, mengesampingkan perbedaan-perbedaan itu, menjadikanmu bangsa yang lebih besar dan maju. Menuju zaman baru.


Indonesia,

Aku optimis. Tahun depan kita juara.


Palembang, 30 November 2017
Satu dari dua pejalan asing.


Senin, 27 November 2017

Cerita Ceria di Pasar Baba Boentjit
Semua ini bermula karena satu percakapan. Di dalam perpustakaan Bank Indonesia, di hadapan komputer portabel yang menyala garang.

“Za, tahu Baba Boentjit?”

Saat itu Za melirik saya dengan satu alis terangkat. Tampaknya dua kata itu asing di telinganya. “Abah buncit? Kakek buncit?”

Sejujurnya sama saja. Mendengar nama itu pertama kali, saya pasti berpikiran seperti itu. Saya baru mengenalnya setelah tidak sengaja melihat post Pesona Sriwijaya di salah satu media sosial. Dan ketika melihatnya, saya langsung tertarik.

“Jadi, ada sebuah acara namanya Pasar Baba Boentjit...” Saya mulai menjelaskan. “Kalau lihat di instagram sih kayaknya bagus, Za. Rumah saudagar kaya di tepi sungai Musi. Katanya ada jajanan, budaya, demo masak, dan.... artis.”

Telinganya langsung membesar selesai saya berbicara. Ada binar mata tertarik yang terpancar.
“Ayo!” Za berkata dengan semangat.

Dalam hati, saya tertawa. Benar saja ia pasti tertarik. Beberapa minggu ke belakang, kami memang sedang mencoba hobi baru. Menjadi pembuat konten. Dan mengetahui ada acara seperti ini, pasti tidak akan dilewatkan.