Rabu, 04 Desember 2019

Dari Mata Seorang Penggerak

Adakah yang ingat beberapa waktu lalu pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat viral di berbagai lini sosial media mengenai Hari Guru Nasional 2019? Dalam pidatonya Pak Menteri mengatakan dengan lugas bagaimana sebuah regulasi dapat menghalangi para guru untuk bertindak. Dan di akhir dari tulisan padat itu, ia menyebut guru adalah penggerak. Dari gurulah sebuah perubahan. Dan Nadiem percaya bahwa dengan gerakan-gerakan itu kapal besar bernama Indonesia itu dapat ikut bergerak.

Tak dapat dipungkiri memang keberadaan guru adalah ujung tombak bagi pendidikan Indonesia. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, bukan hanya pada pelajaran semata, sudah seharusnya guru mampu membentuk para murid yang ada di sekolahnya untuk bersikap dan bertindak. Termasuk pada Pancasila. Menyadari hal itu, lima ratus orang guru dikumpulkan jadi satu di Shangri-La Hotel Surabaya pada 29 November 2019 hingga 2 Desember 2019 oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk duduk bersama dalam tajuk Persamuhan Nasiona Pendidik Pancasila. Dengan latar belakang guru agama, sejarah, hingga seni budaya, guru-guru tersebut diberi bekal oleh para narasumber untuk turut serta menjadi para pendidik Pancasila dan mengaplikasikannya ke ranah ajar masing-masing.
Semua tumpah ruah.
Lima ratus guru hadir. (Dok. Pribadi)
Saya pun bertemu dengan Pak Tri. Beliau adalah seorang pengajar di SMPN 1 Kenduruan Jawa Timur yang juga menjadi teman sekamar saya. Pada suatu waktu, saat senjang, kami bercerita benyak hal tentang Pancasila. Obrolan di dalam kamar itu membuat saya sedikit tersentak.

“Pancasila sekarang sudah tidak seperti dulu,” Pak Tri berujar saat kami membahas tentang kegiatan yang kami jalani.

Saya menegakkan duduk. “Memang dulu bagaimana, Pak?”

“Di pemerintahan dahulu, Pancasila benar-benar jadi perekat. Ia selalu ada di dalam kehidupan warga negara. Termasuk diajarkan ke para siswa. Namun sekarang, semuanya seolah memudar.”

Saya terdiam.

“Ya, mungkin berbeda kebijakan maka berbeda juga prioritasnya, ya. Makanya, ketika tahu ada acara ini, saya antusias untuk ikut. Ini artinya pemerintah memang serius untuk menjadikan Pancasila kembali berjaya. Dan saya juga merasa tersanjung sebab guru-guru dilibatkan dalam prosesnya. Ini adalah kemajuan di tengah krisis ideologi seperti sekarang.”
Pak Tri bersama teman-temannya. (Dok. Pribadi)
Saya mengulas senyum tipis. Percakapan dengan Pak Tri adalah salah satu percakapan yang paling saya suka saat ikut  berkegiatan kemarin. Dan seperti katanya di acara persamuhan ini para guru dilibatkan bukan hanya sebagai pendengar namun sebagai penggerak. Beragam materi diberikan oleh para narasumber untuk memperkaya arti dari Pancasila itu sendiri. Sebut saja Ibu Risma, walikota Surabaya. Di hari kedua ia datang, saya sudah terkesima.
Ibu Risma memberikan pandangan mengenai kebijakannya. (Dok. Pribadi)
Beliau berkisah banyak bagaimana kebijakan-kebijakan yang ia buat itu didasari oleh pengamalan nilai-nilai Pancasila. Bagi Beliau, Pancasila mengajarkan kita untuk bersikap terhadap apapun yang ada. Contohnya saja pada saat kebijakan tentang taman yang banyak dicibir semua orang, Ibu Risma tahu bahwa kebijakannya itu sudah benar. Ia ingin membangkitkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab lewat taman-taman yang ia dirikan. Dari taman-taman itu, kesenjangan orang tua, remaja bahkan anak anak diminimalisir hingga menciptakan interaksi bagi sesama. Satu kata yang saya ingat dari Ibu Risma bahwa “Jika kita mencintai Indonesia kita tidak akan tega menyakitinya.”
Lakon bersama Sujiwo Tejo. (Dok. Pribadi)
Ya kata-kata itu buat suasana makin gemuruh sekaligus membuat saya merinding. Nggak hanya sampai di sana pemateri selanjutnya Budayawan Sudjiwo Tejo pun memberi insight banyak tentang ‘Apakah Pancasila Ada?’. Lewat tutur kisahnya ia kembali mempertanyakan hal paling penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Beliau membuat saya dan guru-guru yang hadir mempertanyakan satu-satunya pertanyaan yang ada: jika Pancasila ada, bagaimana seharusnya kita?

Pak Sujiwo Tedjo mengakhiri sesinya yang khidmat dengan tepuk tangan. Dan untuk bberapa kali syair, lagu, dan perkataan yang Beliau beri membuatku merinding. Ia mampu menyentuh sukma saya—mungkin pula guru-guru. Dan semuanya jadi terpagu.

Selanjutnya Gabriel, salah satu ikon Pancasila dan tanah Papua mengambil alih. Ia menyampaikan pandangannya bahwa di Papua, Pancasila adalah yang utama. Pancasila adalah darah daging mereka. Ia juga menyampaikan bagi para guru pelajaran Pancasila amat penting. Yang paling utama adalah bagaimana guru seharusnya mampu mengamalkan terlebih dahulu Pancasila baru mengajarkannya ke para murid. Sebab, guru seharusnya menjadi contoh anak didiknya. Hal ini tentu menampar para guru. Gaby memberikan banyak pandangan baru bagaimana seorang murid berkaca terhadap apa yang diberikan oleh gurunya. Dan diskusi setelah itu pun menghangat.
Gaby salah satu dari ikon Pancasila. (Dok. Pribadi)
Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila kemarin adalah bukti bahwa guru memiliki kapasitas besar untuk melakukan perubahan. Jika sekarang keyakinan akan Pancasila di hati banyak orang itu memudar guru sudah seharusnya menyuburkan kembali benih-benih Pancasila itu di hati anak didiknya. Pembekalan demi pembekalan kemarin adalah langkah awal guru-guru untuk bergerak. Melihat semua yang serius memahami dengan beragam pertanyaan yang menggetarkan hati saya yakin. Lima orang guru yang hadir adalah orang yang mampu jadi agen penggerak. Karena seperti kata Pak Tri, mereka adalah definisi pendidik Pancasila sesungguhnya.

Salam! (Dok. Pak Tri)


Rabu, 13 November 2019

Seru! Cobain Liburan Bareng Pigijo di Yogyakarta!



Bagi yang telah mengikuti media sosialku, beberapa hari ke belakang, aku sibuk membagikan postingan kegiatanku ‘liburan’. Yap setelah terpilih jadi salah satu pemenang #IteneraryContest yang diadalkan oleh travel agen daring Pigijo, akhirnya aku dapat menyambangi kampung halamanku: Yogyakarta.

Seperti yang kubilang sebelumnya, Yogyakarta adalah sebuah tempat yang memiliki ruang tersendiri di hatiku. Sedari kecil, aku sering sekali mudik ke daerah ini sebab kakek dan nenek tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Ya, meski di Jawa Tengah, namun tetap liburannya lebih dekat ke Yogyakarta. Jadilah, ketika tahu aku akan singgah kembali ke sini, hatiku langsung girang.

Hal pertama yang kulakukan tentu menyusun jadwal. Aku memutuskan untuk hinggap di daerah ini hanya selama tiga hari. Pertimbangan kesibukanku ditambah hal lain mempengaruhi durasiku menetap. Dan kurasa tiga hari adalah waktu yang cukup untuk melakukan itu semua. Namun, di sinilah pertanyaannya muncul: mau ke mana? Tentu tempat wajib seperti Candi Borobudur pasti kukunjungi mengingat setiap kali ke Yogyakarta pasti tempat itu kusinggahi. Namun, selebihnya aku tidak ada pikiran apapun. Ini adalah kali pertama aku merasakan ‘liburan mendadak’ ditambah kali kedua ‘liburan sendirian’.

Dan akhirnya, aku pun memutuskan untuk menyewa seorang travel assistant dari Pigijo. Plus rental mobil. Dua opsi ini kupilih mengingat waktuku yang singkat di Yogyakarta dan kemudahan akses ke manapun  yang aku mau. Jadilah, di aplikasi Pigijo, banyak pilihan TA yang mumpuni. Setelah lama memilih, pilihanku jatuh ke Mas Ghaufar. Kami pun dihubungkan oleh Pigijo lalu bertukar sapa lewat media tukar pesan. Dan kamipun akhirnya sepakat untuk bertemu di bandara.

Jika hari pertama aku hanya ingin mengunjungi Candi Borobudur dan tempat hits di sekitaran Magelang, hari kedua aku lebih memilih untuk mengambil paket langsung dari Pigijo. Ya One Day Tour Yogyakarta ke Prambanan, Lava Tour, dan Museum Ulen Sentuni kupilih sebab aku sama sekali belum pernah mengunjungi ketiganya. Eh, Prambanan pernah dulu sewaktu ramai. Jadilah hari kedua aku tidak ingin bersusah payah sebab semua sudah ditanggung oleh paket tur termasuk tiket masuk obyek wisata, makan dua kali, hingga tur guide dan transportasi. Mudah bukan?


BIKIN JANTUNGAN

Pesawatku terbang dari Palembang pukul 8.20. Dan menurut perkiraan pilot, pesawat kami akan tiba pukul 9.50 dengan waktu tempuh satu setengah jam. Dan sesuai jadwal itu, aku dan TA-ku sudah menyusun jadwal ingin ke mana saja. Namun, manusia hanya bisa berencana, bukan? Berkat lalu lintas udara yang tinggi, aku baru bisa mendarat hampir pukul sebelas. Satu jam lebih di udara kota Yogyakarta bikin jantungan!

Jadilah, setelah landing, aku langsung menemui Mas Ghaufar. Ia adalah TA yang juga seorang mahasiswa di Yogyakarta. Dan untuk mengisi waktu, ia bekerja sambilan jadi pemandu wisata. Bersama Mas Ghaufar dan mobil sewaanku (yang diambil sebelumnya oleh Mas Ghaufar di rental) kami langsung memelesat menuju Magelang. Karena siang tiba, sebelum menuju tempat utama yaitu Candi Borobudur, kami mengisi tenaga di tempat makan rekomendasi Mas Ghaufar. Hasilnya, sop kacang merah dan iga ditambah gorengan habis aku lahap. Top deh!


Setengah tiga sore, kami baru beranjak ke Borobudur. Meski sudah sering kali ke tempat ini, namun bagiku Candi Borobudur selalu menjadi tempat yang magis. Aku tidak pernah bosan mengunjungi 10 Bali Baru yang dicanangkan pemerintah Indonesia ini. Bagiku, Candi Borobudur memiliki cerita yang yang ada di sela reliefnya. Pun dengan suasana yang elok memanjakan mata. Sayang, saat kami ke sana, mendung sedang datang. Alhasil fotoku gelap semua.


Selanjutnya, Mas Ghaufar mulai bertanya: aku mau ke mana. Dengan mantap, ia memberiku dua pilihan: Puthuk Setumbu atau Bukit Rhema. Dalam jadwal yang kami buat, keduanya seharusnya dapat kami kunjungi secara bertahap. Namun tampaknya semesta tidak mendukung. Awan gelap mulai menutup. Jadilah, aku pun memilih Bukit Rhema sebagai tujuanku.

Mobil kami melaju cepat menyusuri jalanan kampung. Selama perjalanan itu kami berdua bercerita banyak. Tentang jalan-jalan, obyek wisata, hingga Yogyakarta. Semuanya mengalir lancar tanpa hambatan apa-apa. Setibanya di Bukit Rhema, perjuanganku dimulai. Ternyata. Harus. Jalan. Menanjak. Gila! Dari Borobudur sudah lelah ditambah menanjak ke Bukit Rhema. Lengkap sudah.
Jadilah yang seharusnya ke Bukit Rhema bisa dicapai dalam 15 menit, aku memerlukan waktu yang cukup lama. Dan selama itu, Mas Ghaufar setia menunggu. Hahaha. Dan setibanya di atas, waktu menunjukkan pukul lima sore. Aku pun langsung berfoto di tempat ikonik film AADC 2. Setelah masuk ke dalam pun aku baru tahu. INI. BUKAN. GEREJA. AYAM! Ya, aku salah sangka! Ini berbentuk merpati. Aku jadi ketawa sendiri.


Kami pun kemudian menuju ke lantai dua. Sayangnya, karena sudah sore, ruang doa yang ada di bawah tanah ditutup. Kami pun santai sejenak di kafe lantai dua, menikmati singkong gratis ditambah semilir angin petang. Namun tetap, awan kelabu menerjang. Setelah puas, kami beranjak menuju kepala sang merpati. Ternyata, kami harus melewati kurang lebih lima tangga untuk mencapai puncak! Yak, menanjak lagi! Kaki rasanya udah pengin patah. Namun demi melihat tempat hits kekinian, semua dilakukan!

Nah, tur kami berhenti setelah dua tempat itu. Mas Ghaufar mengantarku kembali ke hotel ketika malam menjelang. Ya, meski hanya dapat dua tempat dari seabrek jadwal yang kami buat, namun aku sama sekali tidak menyesal. Ditemani seorang pemandu wisata ternyata berguna juga bagi orang yang jalan sendirian! Rekomen!


MENYUSURI MASA LALU

Setelah puas berkeliling kemarin, kali ini hari kedua aku ditemani Mas Lucas. Dari pket yang kubeli di Pigijo, aku menghubungi Mas Lucas dan janjian untuk bertemu di hotelku pukul delapan. Meski badan rasanya sakit semua, namun hari ini aku excited. Ini adalah kali pertama aku bakalan ikut Lava Tour. Kata orang-orang sih, hal ini sangat menyenangkan.

Tepat pukul delapan, Mas Lucas sudah anteng di depan hotel. Kami pun bertukar sapa. Berbeda dengan Mas Ghaufar yang seumuran sehingga bisa membahas apa saja, aku dan Mas Lucas mengobrol banyak tentang sejarah dan wisata Yogyakarta! Bahkan, Mas Lucas mengajakku ke candi-candi yang tidak ada di paket tur yang diberikan! Senang!

Pemberhentian tur ini paling utama di Candi Prambanan. Setelah memberikan karcis, Mas Lucas kemudian menyuruhku untuk ke dalam. Ya, aku. Sendirian. Jadilah, bersama orang-orang yang berlibur ke sana, aku menyusuri satu per satu candi hindu terbesar di Indonesia ini. Dan lagi-lagi aku takjub. Bagaimana sih orang di masa lalu bisa membangun bangunan seindah ini? Aku sampai tak habis pikir. Aku menyusuri Candi Prambanan kurang lebih dua jam dan menemukan Mas Lucas di pintu keluar. Dan tibalah, yang aku tunggu-tunggu! LAVA TOUR!

Eitsss... Mas Lucas nampaknya belum puas. Ia mengajakku terlebih dahulu ke Candi Kembar. Beliau bercerita banyak bagaimana candi ini jadi saksi awal kemahsyuran tanah Jawa, simbol dua agama hidup berdampingan dengan aman. Aku pun tidak menolak. Tambahan bonus yang menyenangkan!
Barulah setelah puas berkeliling, kami akhirnya menuju kaki merapi. Jadi, menurut info yang kubaca, lava tour ini adalah perjalanan menggunakan jeep untuk menyusuri bekas-bekas lava dan lahar letusan Gunung Merapi beberapa tahun silam. Wisata ini diadakan untuk mengingatkan betapa dahsyatnya pengaruh bencana itu terhadap alam sekitar. Wah! Aku semakin penasaran!

Setibanya di lokasi, aku tidak langsung naik Jeep. Aku lebih memilih mendinginkan badan terlebih dahulu di kedai kopi merapi, mencicipi Signature Kopi Arang yang terkenal itu. Setelah makan siang, barulah aku diberikan ke Pak Kumis. Beliau adalah supir Jeep-ku sekaligus pemandu. Bersama Pak Kumis, aku mendengar banyak kisah. Tentang Merapi dan mimpi-mimpi.

Tujuan pertama Lava Tour adalah Museum Mini. Tempat ini memberikan pengalaman yang pahit bagiku. Di sini, berbagai barang peninggalan erupsi merapi dahulu terlihat mulai dari bangkai binatang yang tinggal tulang-belulang hingga peralatan rumah tangga yang meleleh. Ini menggambarkan bagaimana dulu saat erupsi, panas yang diterima itu dapat membumihanguskan perkampungan ini. Aku pun jadi teringat kakek dan nenek yang dulu berdua menghadapi bencana ini. :(

Di tempat kedua, ada bongkahan batu besar di pinggir jurang tinggi yang menyerupai wajah manusia tersaji. Batu Alien, mereka menyebutnya. Batu ini merupakan material yang terbawa dari atas gunung yang melewati sungai-sungai di samping tebing. Namun, karena bentuk sungainya berbelok, material-material itu lalu menghujani wilayah Batu Alien sehingga membuat gundukan bukit batu yang gersang. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan saat orang-orang berlindung dari serangan ini.

Di tempat terakhir, Bunker, satu kisah menyedihkan terjadi. Bunker ini dulunya dibuat sebagai perlindungan saat adanya bencana awan panas. Namun, saat erupsi tahun 2010 lalu lahar dingin yang menyergap. Dua orang terjebak di dalam dengan muntahan Merapi yang dahsyat. Alhasil keduanya tak bisa diselamatkan. Kadang cerita-cerita seperti inilah yang membuatku bergidik. Lewat tur yang seperti ini aku akhirnya menyadar bahwa alam maha dahsyat mengubah semuanya. Dan lewat Merapi alam mulai berbenah.

Aku menyelesaikan tur pukul 4 sore dan langsung menuju Museum Ulen. Aku sama sekali tidak ada bayangan ini museum tentang apa. Di internetpun informasi dan gambarnya minim. Barulah setelah masuk museum aku tahu, tempat ini adalah museum swasta yang menjelaskan tentang dinasti mataram: Keraton Yogyakarta dan Solo. Semuanya tersaji lengkap. Ditemani pemandu, selama satu jam kita akan dibawa berkeliling melihat silsilah keluarga, peninggalan sejarah, hingga minum jamu awet muda. Sayangnya, di museum ini kami sama sekali tidak boleh berfoto. Tapi, isi seru banget!

Setelah selesai, Mas Lucas pun mengajakku makan sebagai penutup tur. Bakmi Pak Pele dipilih setelah kurang lebih satu jam turun dari wilayah atas ke perkotaan. Apalagi di alun-alun utara Mas Lucas mengajakku lesehan sambil melihat serabut oranye di langit. Menenangkan sekali!

Hari itu ditutup dengan Mas Lucas kembali mengantarku ke hotel. Dan selama perjalanan itu kembali aku merasa bahwa aku sama sekali tidak menyesal mengambil trip ini. Dua hari di Yogya membuka mataku akan banyak hal. Aku pun dapat merasakan pengalaman baru lewat tur-tur yang diberikan pun dengan teman baru yang jadi kawan seperjalanan.

Terima kasih Pigijo untuk dua hari yang menyenangkan!

Cheers!


Senin, 04 November 2019

Melekat Tanpa Sekat


Pernah nggak sih kalian bertanya-tanya: apa sih arti ke-Indonesia-an bagi kalian? Untukku sendiri selama aku hidup aku sama sekali tidak pernah memikirkan jawabannya. Hidup di kota besar dengan keadaan yang nyaman membuatku tidak berusaha mencari apa arti ke-Indonesia-an bagiku sendiri. Maksudku apa-apa ada. Mudah dijangkau lewat apa saja. Satu-satunya jawaban yang kupunya adalah Indonesia sebagai negara tempatku menetap.

Akan tetapi kemarin (26 – 30 November 2019) anggapan itu berubah drastis. Ternyata ke-Indonesia-an itu dapat berwujud banyak hal. Kadang ia berwujud lagu-lagu kebangsaan yang dinyanyikan berbarengan dengan semua orang dari Sabang hingga Merauke. Lain waktu ia berwujud lenggak-lenggok sang penari yang bergerak diiringi musik-musik khas daerah di tanah air. Bahkan secara sederhana ke-Indonesia-an itu berwujud percakapan-percakapan kecil di meja makan bundar kala pagi siang hingga petang menjelang.

Semua itu terjalin begitu saja saat acara Persamuhan Nasional dengan tajuk Pekan Bakti Bangsa. Beragam orang dari beragam latar belakang, suku, agama dan ras berkumpul bersama selama lima hari untuk menjawab bagaimana ke-Indonesia-an mereka melalui isu-isu yang diberikan. Tak ada sekat yang melekat. Kami berkumpul bersama untuk berdialog, berdiskusi, hingga merumuskan bersama solusi mengenai isu-isu kebangsaan.



CERITA-CERITA TENTANG INDONESIA

Di sana pula aku menemui Naga. Ia adalah seorang mahasiswa dari Kalimantan Selatan yang vokal terhadap isu-isu krusial kebangsaan. Naga adalah perwakilan anak muda yang semangat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila agar dapat diterima bagi seluruh warga negara. Sebagai seorang perempuan dan minoritas, ia berjuang bagaimana semua dapat menerima segala perbedaan dalam pandangan yang sama. Tanpa membeda-bedakan satu hal pun.

“Sekarang orang-orang sibuk mencari celah perbedaan, Bang!” Ia bercerita kepadaku ketika kami bertemu. “Padahal seharusnya perbedaan yang menyatukan, bukan?”

Kata-kata itu merasuk di pikiranku. Di tempatnya perbedaan itu kentara terasa. Apalagi dengan penampilannya yang tomboi membuat mata yang memandang menjadi jengah. Stereotip itu yang ingin ia ubah. Dan di sinilah tempatnya.

Aku pun menemui anak SMA yang menjadi pionir Festival 28 Bahasa. Bayangkan, umur yang belum tujuh belas ia sudah membuat festival yang menyajikan keberagaman bahasa yang ada di seluruh Indonesia. Festival itu diadakan di pinggiran sawah sebuah kampung kecil yang tak banyak orang berlalu-lalang. Namun semangat juangnya mampu mengatasi segala rintangan dan membuat pesta rakyat yang sarat akan budaya bangsa.

Kami bercerita banyak tentang bagaimana ia ingin memberikan mimpi-mimpi lain bagi anak-anak di kampungnya untuk terus belajar. Baginya, festival itu bukan hanya bagian dari semarak saja namun jauh lebih dari pada itu ia ingin dengan festival ini ia memberi langkah kecil bagi orang-orang untuk menghormati keberagaman. Dan itu membuatku tertegun lama.

Lain waktu, ketika makan siang menjelang aku duduk semeja dengan kontingen dari Kediri. Ia berkisah banyak mengenai Kampung Inggris. Dengan mata yang berapi-api ia dengan bangga bilang bahwa kampungnya adalah yang terdepan. Pionir kampung bahasa kekinian. Namun itu tidak bertahan lama. Masalah demi masalah muncul yang salah satunya adalah pihak-pihak yang mengambil keuntungan atas kampung mereka. Kisah itu bergulir menjadi miris. Orang-orang asli yang membangun kampung menjadi tersingkir. Tak ada lagi ruang bagi mereka untuk menjamah. Kapitalis menyerang. Dan selama itu pula ia merasa bahwa semua ini salah.

Dan puncaknya, ia tidak menyerah. Dengan sekuat tenaga yang masih ia punya ia kembali membangun kampungnya. Bersama warga lain ia menciptakan kampung-kampung Inggris baru. Tujuannya sederhana. Ia ingin memberi ruang bagi para anak bangsa yang benar-benar ingin belajar dan maju dengan harga yang terjangkau dan tidak berpura-pura. Dan hingga sekarang, agar usahanya terdengar, ia pun ikut persamuhan.

Banyak sekali cerita yang bergulir. Dan semakin aku mendengar selama lima hari berada di sana, tak henti-hentinya bulu kudukku merinding. Ternyata terlepas dari apapun masalahnya. Ke-Indonesia-an itu ada. Di hati orang-orang yang mempercayainya.



PARADE BUDAYA, KEKAYAAN NYATA

“Dug! Dug!”

Bunyi itu semakin keras terdengar. Ritmenya pun semakin lama semakin kencang. Di tengah acara persamuhan kemarin, parade budaya terbesar yang aku pernah lihat hadir nyata di hadapan. Bermula dari perayaan sumpah pemuda, parade budaya tak henti-hentinya tersaji indah. Tepat tanggal 28 Oktober 2019, para peserta persamuhan nasional berkumpul bersama di tepi pantai Anyer. Masing-masing dari mereka mengenakan pakaian khas daerah beraneka rupa yang menambah semarak hari itu.



“Dug! Dug!”

Pukulan itu kembali terdengar. Rampak Bedug adalah penanda pesta sudah dimulai. Kala itu, nyanyian lagu Indonesia raya terdengar melantun indah oleh seluruh peserta dari pangkal hingga ujung Indonesia. Tak hanya itu, iringan jimbe yang dibawa peserta pun beritme sama dengan beduk yang dipukul. Seirama dengan itu, orang-orang mulai menari. Semua bergembira tanpa mengenal siapa.

Kemeriahan berlanjut ke Festival Beduk di titik 0 kilometer Anyer. Di tempat ini, kembali festival budaya di gelar. Dengan saksi mercusuar yang kokoh, satu per satu kesenian ditampilkan. Dan yang menjadi penggembira adalah hadirnya Gilang Ramadhan. Bersama penabuh beduk lain, mereka memberikan pengalaman mendengar yang apik dan menyegarkan telinga. Sangat cocok dengan latar senja.




Tak hanya sampai di situ, parade budaya tak hentinya pun membuat suasana semakin panas di malam penutupan. Berbagai kesenian khas daerah bersatu padu jadi satu. Sebut saja drama tarian hingga seni rupa menghiasi malam penutupan yang indah. Semua berbaur tanpa sekat yang melekat. Yang ada hanya kegembiraan.



Secara garis besar, Persamuhan Nasional 2019 adalah sebuah forum ke-Indonesia-an bagi para hadirin yang datang. Di sana isu-isu krusial pembakti kampung dibabat habis hingga jadi rumusan yang bersifat rekomendasi ke pemerintah yang berwenang. Pun sebagai layar terbuka kesenian Indonesia yang kaya dan beragam. Lewat acara ini aku pun tahu bahwa menjadi Indonesia itu mudah: melihat ke dalam di sendiri apa yang telah kau lakukan untuk negaramu tercinta.

Cheers! Hal itu terjalSemu

Selasa, 22 Oktober 2019

Adu Domba ala Garut: Bukan Sekadar Ajang Adu-Aduan


Lapangan itu sunyi. Yang terdengar hanya iringan pukulan gamelan tembang Sunda yang dimainkan oleh para pemusik dari panggung kecil di samping lapangan. Selebihnya, orang-orang yang bergumul padat di pinggir lapangan menahan napas, berusaha tidak bersuara sama sekali. Mata mereka fokus menelusuri ke tengah lapangan, melihat dua objek yang saling menatap garang. Dari tempat para penonton berdiri, mereka bisa merasakan tensi.

Lain di pinggir, lain di tengah lapangan. Dua objek yang dipertontonkan itu saling tatap. Dengan masing-masing satu orang pendamping yang dengan telaten memeriksa keadaan mereka, dua objek itu berusaha untuk bergerak. Tanpa basa-basi, keduanya lalu dibawa masing-masing pendamping ke sisi kanan dan kiri. Satu orang mengambil tempat di di antara mereka. Iringan musik yang terdengar tadi makin meningkatkan ritmenya. Perlahan-lahan menjadi semakin cepat seiring dengan suasana menegangkan yang hadir di antara mereka.

Tepat dengan satu aba-aba, dua objek itu berlari kencang. Kaki-kaki mereka yang kecil menggesek kasar tanah, rumput, entah apapun yang ada di bawah mereka. Keduanya seolah tidak peduli. Kepala mereka menunduk, memamerkan mahkota keras yang berkilau terkena sinar matahari yang menyengat. Dan sepersekian detik kemudian, dua tanduk mereka beradu.

Bam! Satu kali. Badan mereka sedikit mundur ke belakang seperti terbang. Kedua kaki di bagian belakang akan terangkat. Penonton bersorak riuh. Mereka kembali mengambil ancang-ancang.

Bam! Benturan kedua. Bunyi kedua tanduk yang beradu itu terdengar keras. Kali ini, tepuk tangan penonton terdengar bersahutan.

Dari situ, dua tanduk itu semakin sering beradu. Kadang di antara pertandingan yang intens itu, ada sedikit jeda bagi mereka untuk bernapas. Selebihnya, untuk waktu yang cukup lama, mereka berlaga. Pertandingan itu terus berlangsung hingga hantaman ke dua puluh.

Pemandangan seru seperti itu dapat kita temui di Kabupaten Garut. Garut adalah sebuah kabupaten yang berada di provinsi Jawa Barat yang terletak 64 KM sebelah tenggara dari Kota Bandung. Secara geografis, wilayah ini berada di ketinggian 0 KM hingga 2.800 KM yang memberikan topografi wilayah lengkap mulai dari garis pantai sepanjang 90 KM yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan gunung-gunung tinggi menjulang seperti Gunung Gede, Gunung Guntur, dan Gunung Cikuray. Tak ayal, dengan bentangan seperti itu, dari dulu Garut terkenal sebagai daerah wisata Swiss van Java.
Yang harus kamu tahu tentang Garut. (Dok. Pribadi)
Nah, di wilayah Garut ada satu objek yang amat terkenal di masyarakat hingga saat ini: domba garut. Ya, domba garut sudah menjadi hewan ikonik wilayah ini hingga dikenal seantero negeri. Keberadaan hewan ini pula mengembangkan kesenian yang turun-menurun berada di tengah masyarakat: Seni Adu Tangkas Domba Garut. Namun sebelum membahas mengenai kesenian tersebut, apa sih yang membuat domba garut menjadi hewan yang istimewa?



Secara umum, domba garut adalah domba lokal yang dapat ditemui di wilayah Priangan. Dengan nama spesies Ovies aries, diyakini bahwa domba garut merupakan hasil dari persilangan tiga jenis domba yaitu domba lokal Priangan, domba merino asal Spanyol, dan domba kaapstad asal Afrika. Yang unik justru asal usulnya. Alkisah, domba merino dan domba kaapstad dibawa oleh pemerintah Belanda pada tahun 1864 untuk diberikan kepada KF Holle, pengusaha teh di Priangan. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1869, domba-domba tersebut dipindahkan ke daerah garut secara bertahap. Perpindahan itu kemudian sampai kepada Bupati Suryakarta Legawa yang memiliki domba kaapstad dan merino. Penyebaran yang massal mengakibatkan persilangan yang berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun hingga menjadi jenis domba garut seperti sekarang. Keren, kan?

Sebagai domba lokal, domba garut memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis domba asli dan domba lokal lainnya, loh. Karakteristik inilah yang membuat domba garut ditetapkan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2914/Kpts/OT.140/6/2011 sebagai sumber daya genetik ternak (SDGT) lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Jenis domba ini memiliki tubuh dan kepala dengan warna dominan kombinasi hitam-putih. Bentuk telinganya pun kecil (rumpung) dengan garis muka cembung. Ukuran tubuh domba ini pun bervariasi dengan rata-rata tinggi 65 cm untuk betina dan 74 cm untuk jantan. Panjang badannya pun mulai dari 56 cm untuk betina dan 63 cm untuk jantan. Berat keduanya pun berbeda: 36 Kg buat betina dan 57 Kg buat jantan. Ekornya berbentuk segitiga dengan bagian pangkal yang melebar lalu mengecil ke ujungnya. Bentuk ini memiliki istilah ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong.
Pejantan tangguh. (Dok. Greeners)
Domba garut. (Dok. Ditjen PKH)
Yang menarik tentu tanduk yang menghiasi kepala domba garut. Untuk domba jantan, bentuk tanduknya besar dan panjang dengan variasi bentuk melingkar atau melengkung mengarah ke depan dan ke luar. Sedangkan untuk domba betina, kadang ada tanduk kecil yang menghiasi kepalanya atau bahkan tidak ada tanduk sama sekali. Beragam jenis tanduk seperti nagbendo, gayor, golong tambang, leang, hingga sogong dibedakan berdasarkan letak tanduk, jarak tanduk, hingga bentuk tanduknya.

Lima fakta tentang domba garut. (Dok. Pribadi)
Selama ini domba garut dipelihara oleh masyarakat secara tradisional sebagai hewan ternak untuk diambil kulit dan dagingnya hingga bisa jadi sumber pendapatan. Namun bagi sebagian orang, anatomi dari domba garut yang seperti itu—apalagi domba garut jantan, membuatnya jadi ikon ketangkasan. Ditambah lagi sifatnya yang agresif memunculkan seni yang turun menurun berkembang di dalam masyarakat Garut: Seni Adu Tangkas Domba Garut.



Bila orang melihat kesenian yang melegenda ini, banyak yang beranggapan apa istimewanya dua domba dengan tanduk besar di kepala saling beradu di tengah lapangan kemudian dipertontonkan ke seluruh lapisan masyarakat? Tak salah memang. Bagi yang tidak mengerti, ajang ini mungkin terkesan seperti adu-aduan. Akan tetapi, nyatanya kesenian ini bukan hanya sekadar itu loh. Kesenian ini sudah menjadi budaya yang turun-menurun diwariskan di tengah masyarakat Garut.

Kesenian ini dipercaya berasal dari para penggembala domba garut yang ada di tahun 1900-an. Saat mereka sedang berada di tanah lapang, mereka melihat domba-domba jantan yang mereka gembalakan memiliki sifat agresif yang suka menyerang satu sama lain. Dan untuk mengisi kebosanan, mereka pun menyabit mengadu domba-domba jantan yang ada di sekitar mereka. Pertandingan iseng ini kemudian diketahui oleh para juragan—sebutan pemilik domba. Lima tahun kemudian, mereka menyelenggarakan kegiatan adu domba antar kampung dalam satu agenda khusus. Puncaknya, kegiatan ini pun menyebar ke daerah lainnya.

Sejarah adu domba garut ini memiliki daftar yang panjang. Apalagi semakin ke sini, masyarakat menjadi semakin peka terhadap kondisi domba yang dipertandingkan. Beberapa berpendapat bahwa kegiatan seni ini adalah bagian dari penyiksaan hewan. Untuk itulah, di tahun 1980-an, Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) pertama menyepakati istilah seni adu domba menjadi ketangkasan domba. Selain itu, mereka pun menetapkan peraturan-peraturan yang harus ditaati agar seni ini dapat diterima di masyarakat sebagai produk kesenian yang menghibur.
Sejarah panjang seni ketangkasan domba garut. (Dok. Pribadi)


Jika kalian pikir adu tangkas domba garut adalah pertandingan dua domba hingga salah satunya cedera kalian mungkin perlu mengoreksinya. Kesenian adu tangkas domba garut tersebut bukan sekadar adu-aduan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, saat ini pertandingan adu tangkas domba garut sudah menjadi wisata budaya yang dapat dinikmati semua masyarakat. Untuk itulah ada batasan dan peraturan yang melingkupi pertandingan ini.

Salah satu yang paling mendasar adalah pembagian kelas domba garut. Jadi untuk domba-domba yang diadu, semuanya diukur berdasarkan kelas masing-masing yaitu kelas A, B, dan C. Semua dibedakan berdasarkan berat domba. Dan juga peraturan pertandingan menjadi maksimal dua puluh kali adu tanduk atau pukulan kepala domba menjadi perubahan besar untuk membuat domba yang bertanding tidak terlalu cedera.

Secara umum, untuk domba garut yang dapat dipertandingkan memiliki umur lebih 2 hingga 6 tahun. Biasanya, domba laga telah dilatih terlebih dahulu seperti berenang di sungai untuk menguatkan otot-ototnya sehingga memiliki kuda-kuda yang kuat saat bertanding. Terkadang, tanduk domba pun diasah sedemikian rupa hingga jadi simetris dan mengkilap. Makanan mereka pun diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan kelas-kelas yang ingin dipertandingkan.

Saat waktu laga dimulai, domba-domba itu kemudian dibawa menuju arena bertanding oleh para pendamping yang disebut malandang. Tugas malandang adalah memastikan domba garut yang dipertandingkan memiliki kondisi prima. Malandang membawa domba ke pekalangan—tempat menunggu—lalu mengatur posisinya agar siap diadu. Bila sudah pada posisinya, di sinilah ada tiga peran penting yang hadir yaitu wasit, juri dan protokol. Seperti di pertandingan olahraga peran wasit di sini pun sama. Wasit bertugas untuk mengawasi jalannya pertandingan. Ia berhak mengatur jalannya pertandingan baik menghentikan pertandingan bila telah membahayakan keselamatan domba.
Wasit dan Mendalang siap untuk laga. (Dok. Dispadbud Jabar)
Nah, juri di sini bertugas untuk menilai jalannya pertandingan. Inilah bedanya adu domba dahulu dengan sekarang. Penentuan pemenangnya tak lagi ditentukan dari domba yang berhasil membuat lawannya cedera. Sekarang, tim juri menilai dari berbagai aspek untuk menentukan sang domba juara. Penilaian itu meliputi adeg-adeg atau bentuk tubuh domba, kesehatan domba teknik pemidangan yang meliputi jarak ancang-ancang, keindahan melangkah, kecepatan gerakan, teknik pukulan, dan keberanian dari domba itu sendiri. Banyak bukan? Nantinya juri yang biasanya berjumlah tiga orang ini akan memberi poin-poin untuk masing-masing aspek.

Lain halnya dengan protokol. Laiknya acara-acara resmi, protokol bertugas memandu acara kesenian ini dari awal hingga akhir. Ia mengumumkan domba-domba mana saja yang akan bertanding, bagaimana bentuk penilaian menyapa para penonton, hingga menutup acara. Protokol menjadi peran vital karena ialah yang mengetahui dan menjelaskan seluk-beluk kegiatan kesenian adu tangkas domba garut ini.
BAM! Kepala beradu. (Dok. Dispadbud Jabar)
Ketika wasit telah memberi aba-aba untuk mulai, para mandalang melepaskan domba masing-masing. Sifat agresif domba garut jantan membuat kedua domba secara naluriah membenturkan kedua kepalanya satu sama lain. Dan pada saat inilah keduanya dinilai oleh dewan juri. Secara umum, pukulan yang diterima oleh kedua domba tak lebih dari dua puluh pukulan. Akan tetapi, bila di pertengahan pertandingan ada tanda-tanda salah satu domba yang diadu mengalami cedera, pertandingan dapat dihentikan. Seru bukan?
Seperti terbang. (Dok. Pesona Travel)


Sebagai produk budaya, seni ketangkasan domba garut adalah sebuah ajang pesta rakyat Garut. Kegiatan ini adalah ranah silaturahmi seluruh lapisan masyarakat termasuk para peternak domba garut, masyarakat biasa hingga para juragan. Ada pula industri peternakan yang turut serta memeriahkan. Di ajang ini, seni khas Sunda juga turut hadir memberi keriuhan. Semua bersuka cita, bercampur menjadi satu menyaksikan pertandingan. Tua muda, kaya miskin, status sosial apapun semua berbaur tanpa memandang perbedaan apapun.
Semua berbaur di ajang pesta rakyat. (Dok. Dispadbud Jabar)
Dalam praktiknya pula, beragam dampak pun dirasakan baik oleh para pemilik domba hingga masyarakat. Selain sebagai ajang hiburan, kegiatan kesenian ini juga memiliki nilai ekonomi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi para pemilik, domba garut yang sering mendapatkan title juara mau tidak mau melambungkan harganya sehingga menaikkan ‘kelas’ di mata peternak lainnya. Sedangkan saat kegiatan berlangsung, banyak masyarakat yang hadir dan menjajakan barang dagangannya. Hal ini secara tidak langsung mendongkrak kegiatan ekonomi itu sendiri.

Empat hal yang bisa didapatkan dari adu ketangkasan domba garut. (Dok. Pribadi)
Adu tangkas domba garut hingga sekarang sering kali dilakukan tiap minggu. Untuk acara resmi pemerintah, kegiatan ini biasa dilakukan 3 – 4 kali dalam setahun seperti pada hari jadi Kabupaten Garut dan hari besar nasional. Hal ini dilakukan untuk tetap merawat nilai-nilai budaya yang ada di Kabupaten Garut. Tradisi budaya yang telah mengakar selama ratusan tahun tersebut penting untuk dilestarikan sebagai unsur seni yang enak dipandang. Pun dengan keberadaan domba garut itu tersendiri. Sebagai sumber daya genetik ternak sudah seharusnya keberadaan domba garut terus diperhatikan. Eksistensinya perlu dijaga agar dapat mendongkrak pariwisata melalui wisata budaya seperti adu tangkas ini.

Sebab, kekayaan budaya Indonesia terletak dari jenis kebudayaan yang beragam. Dan kesenian adu tangkas domba garut ini adalah gabungan hewan ikonik Kabupaten Garut dan laga budaya yang melegenda. Sudah sepatutnya untuk terus ada.