Kamis, 31 Oktober 2013

[Setidaknya] Ia Tidak Pernah Merasakan Patah Hati
"Mom, kayak apa sih rasanya jatuh cinta?"

Aku mengalihkan perhatianku dari majalah yang sedang kubaca lalu menatap Agan sambil tersenyum. "Memangnya Agan tahu cinta itu seperti apa?" Aku balas bertanya.

Anak lelakiku itu tampak berpikir keras. "Kalau dari novel-novel yang Agan baca dan film-film yang Agan tonton, jatuh cinta itu kayaknya menyenangkan, ya, Mom," ujarnya malu-malu seraya tersenyum.

Aku balas tersenyum padanya. Perlahan aku mendekatinya. "Jika Agan berpikiran begitu, ya, jatuh cinta memang seperti itu," ujarku.

Ia tampak tidak puas dengan jawabanku. "Tapi, kadang di novel sama film, kalau dua orang jatuh cinta itu kadang berantem, terus nangis, terus kadang juga si cowok pergi, atau si cewek..."

Aku memakai sarung tangan karet lalu membelai rambutnya pelan. "Hus. Sebenarnya, jatuh cinta itu menyenangkan, kok. Tapi prosesnya saja yang kadang buat orang jadi seperti itu. Sudah, Agan tidur aja. Udah malam. Besok dilanjutin ya," kataku sambil melepaskan belaian dari rambutnya. 

Ia beringsut menjauh lalu naik ke kasurnya. "Good night, Mom."

"Sweet dream, honey," aku membalas ucapannya lalu mematikan lampu.

***

 Tiga bulan kemudian.

"Mom, kayaknya aku jatuh cinta."
Aku mengerutkan kening, heran mendengar ucapan dari anak lelaki 17 tahunku itu.

"Mom, kalau misalnya aku selalu kepikiran sama seseorang, terus suka setiap kali liat dia tersenyum, dan gak mau buat dia sedih, itu namanya apa, Mom? Jatuh cinta, bukan?"

Aku diam. Menajamkan indra pendengaranku siapa tahu sedang salah mendengar ucapannya.

"Mom, aku jatuh cinta," ulangnya lagi.

Aku masih saja bergeming. Aku pastikan indra pendengaranku tidak salah. Agan bilang ia sedang jatuh cinta.

"Mom, itu namanya cinta, kan?"

Sebagai jawaban dari pertanyaannya itu, aku berjalan menjauh.

Sederhana
Sudah lama aku di sini, tapi aku masih saja tidak bosan. Setiap kali aku ke sini, selalu ada cerita-cerita baru yang hadir. Dengan tokoh-tokoh baru. Dan juga masalah-masalah baru. Tapi tetap dengan satu suasana yang sama.

Hujan.

Hari ini, pagi hari, kembali aku singgah ke sini. Terdapat sepasang anak sekolah dasar yang masih mengenakan seragam duduk di trotoar, menantikan sebuah angkutan kota untuk berhenti. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

"Bagaimana kalau kita bolos saja?" ujar anak laki-laki.

Aku menggeleng menatap mereka berdua. Bisa-bisanya mereka berpikiran seperti itu. Bukankah mereka adalah generasi penerus bangsa. Sudah seharusnya mereka bersekolah.

"Aku tidak berani," balas anak perempuan sambil memainan kakinya ke depan.

Bagus, pikirku. Itulah sikap yang kumaksud.

Anak laki-laki itu mengambil pundak anak perempuan lalu menariknya sehingga mereka kini berhadapan.

"Sebenarnya aku juga," desah anak laki-laki itu. Kini wajahnya jadi tampak lesu. "Tapi, jika kita tidak bolos hari ini, ibu guru akan menagih uang bayaran. Bapak dan Ibu masih belum punya uang. Jadi, kita harus bagaimana?"

"Aku juga gak tahu," anak perempuan itu berkata lemas.

Anak laki-laki itu lalu menarik lengan anak perempuan lalu mengajaknya berdiri. "Baiklah, ayo semangat! Gimana kalau kita mandi hujan aja?"

Pertanyaan itu lalu dibalas dengan anggukan kepala mereka berdua. Mereka pun berlarian berkejaran dengan bulir hujan. Tawa mereka semakin keras terdengar. 

Hujan masih saja berbunyi nyaring sedangkan aku hanya bisa terpaku melihat mereka. Kadang kebanyakan manusia berpikir bagaimana kebahagian seharusnya. Bagi mereka, kebahagiaan itu didapat saat mandi hujan. Sesederhana itu. Dan setelah hujan, mereka akan kembali pada realita kehidupan mereka sesungguhnya.

Sebuah angkutan kota berhenti tepat di sampingku dan aku merasa inilah saatnya untuk pergi. Tepat ketika angkutan itu melaju, aku menghilang dari situ.

Aku adalah kubangan air hujan di hadapanmu. Mendengar ceritamu adalah hal favoritku.

Dan aku tidak sabar menantikan hujan turun lagi.

Mungkin esok hari?

***