Kamis, 31 Oktober 2013

Sederhana

Sudah lama aku di sini, tapi aku masih saja tidak bosan. Setiap kali aku ke sini, selalu ada cerita-cerita baru yang hadir. Dengan tokoh-tokoh baru. Dan juga masalah-masalah baru. Tapi tetap dengan satu suasana yang sama.

Hujan.

Hari ini, pagi hari, kembali aku singgah ke sini. Terdapat sepasang anak sekolah dasar yang masih mengenakan seragam duduk di trotoar, menantikan sebuah angkutan kota untuk berhenti. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

"Bagaimana kalau kita bolos saja?" ujar anak laki-laki.

Aku menggeleng menatap mereka berdua. Bisa-bisanya mereka berpikiran seperti itu. Bukankah mereka adalah generasi penerus bangsa. Sudah seharusnya mereka bersekolah.

"Aku tidak berani," balas anak perempuan sambil memainan kakinya ke depan.

Bagus, pikirku. Itulah sikap yang kumaksud.

Anak laki-laki itu mengambil pundak anak perempuan lalu menariknya sehingga mereka kini berhadapan.

"Sebenarnya aku juga," desah anak laki-laki itu. Kini wajahnya jadi tampak lesu. "Tapi, jika kita tidak bolos hari ini, ibu guru akan menagih uang bayaran. Bapak dan Ibu masih belum punya uang. Jadi, kita harus bagaimana?"

"Aku juga gak tahu," anak perempuan itu berkata lemas.

Anak laki-laki itu lalu menarik lengan anak perempuan lalu mengajaknya berdiri. "Baiklah, ayo semangat! Gimana kalau kita mandi hujan aja?"

Pertanyaan itu lalu dibalas dengan anggukan kepala mereka berdua. Mereka pun berlarian berkejaran dengan bulir hujan. Tawa mereka semakin keras terdengar. 

Hujan masih saja berbunyi nyaring sedangkan aku hanya bisa terpaku melihat mereka. Kadang kebanyakan manusia berpikir bagaimana kebahagian seharusnya. Bagi mereka, kebahagiaan itu didapat saat mandi hujan. Sesederhana itu. Dan setelah hujan, mereka akan kembali pada realita kehidupan mereka sesungguhnya.

Sebuah angkutan kota berhenti tepat di sampingku dan aku merasa inilah saatnya untuk pergi. Tepat ketika angkutan itu melaju, aku menghilang dari situ.

Aku adalah kubangan air hujan di hadapanmu. Mendengar ceritamu adalah hal favoritku.

Dan aku tidak sabar menantikan hujan turun lagi.

Mungkin esok hari?

***
Previous Post
Next Post

post written by:

6 komentar:

  1. Dan sederhana sekali ketika kamu bahagia walau hanya menjadi kubangan ...

    :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D Iya. Sesederhana itu :D

      Hapus
    2. Ayo ikut GA dari saya. Masih dalam event yang sama kok GagasDebut http://hadikurz.blogspot.com/2013/11/giveaway-kei-by-ernialadjai-gagasmedia.html

      Hapus