Rabu, 16 Juli 2014

[Cerpen] Balerino

Banyak orang yang bilang kepadaku, apakah aku pernah sekalipun merasa tidak sanggup lagi lalu menyerah begitu saja terhadap semua impianku? Biasanya, menjawab pertanyaan itu, aku akan tersenyum saja, lalu berlalu. Sejujurnya, jauh sebelum mereka bertanya seperti itu, aku sudah pernah menyerah. Putus asa. Merasa terlalu lelah untuk memperjuangkan impianku. Tapi, harus selalu ada harga yang dibayar. Dan aku membayar mahal. Dicaci. Di-bully. Hingga aku memutuskan untuk menyerah lalu terdampar di negara ini, Rusia. Di sini, semua tampak begitu mudah. Tak ada yang memandangi impianku sebelah mata.

Dan sekarang, kau pasti penasaran, apa impianku sebenarnya, kan? Baik aku akan memberitahumu.

Menjadi seorang balerino. Impianku menjadi seorang balerino.

Tidak kalian tidak salah dengar. Balerino memang impianku sejak dulu. Bermula karena dulu aku menyaksikan pertunjukan balet di Teater Tanah Airku bersama kedua orang tuaku, tertarik, dan langsung suka. Orang tuaku pun awalnya tidak keberatan. Aku pun dimasukkan ke kelas balet saat umur tujuh.

Menjelang remaja, orang tuaku tidak tahan lagi. Aku, yang masih menyukai balet, ditentang habis-habisan. Orang-orang di sekelilingku mulai mengejekku. Mereka mulai mem-bully-ku. Padahal apa yang salah dengan balet? Berlatih balet bukankah sama saja dengan mereka yang hobi bermain bola? Dan impian menjadi balerino juga sama saja dengan impian mereka yang menjadi dokter, pilot, atau pemain sepakbola?

Lama aku bertahan dengan pandangan seperti itu, aku akhirnya menyerah. Setelah perdebatan panjang dengan orang tuaku, akhirnya mereka setuju mengirimku ke Rusia. Home of Ballet. Dan dari situ aku tahu, mengapa mereka bertindak seperti itu. Mereka, orang-orang yang mengejekku, sangsi apa aku benar-benar laki-laki.

Padahal aku benar-benar laki-laki. Buktinya, aku jatuh cinta pada seorang perempuan di hadapanku saat ini.

“No, aku masih gak bisa tito,” ujar perempuan itu lalu menghempaskan tubuhnya di samping tubuhku. Tito adalah caranya menyebut gerakan 32 fouett├ęs en tourna, gerakan membuat putaran dengan satu kaki untuk bertumpu dan melakukan point sementara kaki yang lain dilempar ke samping hingga membentuk satu putaran penuh.

Aku tersenyum. “Masa seorang Anggita Pratiwi, balerina terkenal di Indonesia masih belum bisa?” ujarku dengan nada menggoda. Ia pun memukul pundakku. Aku hanya terkikik geli melihat tingkahnya. Anggi, perempuan di sampingku ini adalah seorang teman seperjuangan. Kami sama-sama berlatih di Bolshoi Ballet Academy, Rusia sejak tiga tahun yang lalu. Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukainya. Mencintainya. Karena hanya ia satu-satunya yang aku miliki di negara asing seperti ini. Kami banyak menghabiskan waktu. Bersamanya, segalanya tampak lebih mudah.

Perempuan ini juga sudah bolak-balik Indonesia-Rusia untuk melakukan pertunjukkan. Bahkan tahun kemarin, ia mendapatkan peran sebagai putri Aurora dalam pertunjukkan balet Sleeping Beauty di Jakarta.

Aku mengambil soft shoes di sampingku lalu memakainya. Setelah itu, aku beranjak ke tengah ruang latihan dan mulai mengambil napas. Dalam tarikan ketiga, aku memasang kaki kiriku dalam posisi point, lalu melemparkan kaki kananku ke udara. Putaran pun terjadi. Aku merasakan tubuhku enteng. Aku seperti berada di dunia lain.

Sebuah tepukan menyadarkanku kembali ke bumi, dan aku melihat Anggi sudah tersenyum manis ke arahku. “Keren! Nanti ajari aku, ya!” ujarnya bersemangat.

Mendengar itu, hatiku menjadi berdebar sangat cepat. “Nggak ah. Nanti kamu jadi semakin hebat,” ujarku dengan nada bercanda.

Dia menggembungkan kedua pipinya lalu mulutnya mulai mengerucut. Cemberut. Aku tertawa geli.

“Iya deh. Kayaknya Indonesia memang butuh Nino Hermawan, ballet maestro,” ujarnya sambil memutarkan bola matanya. Aku diam. Tidak merespon.

“Traktir deh,” katanya lagi.

Aku mengambil botol minum di dekatnya lalu memasang tampang pura-pura berpikir. “Oke, deh, Pushkin?”

Matanya mendelik. Aku mengangkat bahu sambil terus tertawa.

“Okay. Pushkin. Hitung-hitung traktiran buat nanti balik ke Indo,” ujarnya sambil berdiri. Sementara aku, masih tertawa penuh kemenangan diri sendiri.

--

Pushkin adalah sebuah kafe yang terletak di kota Moscow. Satu hal yang kusuka dari kafe ini adalah gayanya yang sangat elegan. Sepanjang yang aku tahu, kafe ini didirikan karena terinspirasi lagu Nataly yang dinyanyikan oleh Gilbert Becaud. Di salah satu penggalan liriknya, ia menyebutkan ‘Cafe Pushkin’. Jadilah, kafe ini dibuat.

Selama di Moskow, aku hanya pernah makan di sini dua kali. Pertama, saat aku merayakan ulang tahunku di tahun pertama kedatanganku ke Moskow. Kedua, saat ada acara kelas. Pada saat itulah aku bertemu dengan Anggi.

Aku menilik mataku di balik jendela library hall, menunggu Anggi. Tak berapa lama, Anggi datang dengan gaun merah selutut yang amat pas bagi badannya. Mendadak, perasaanku tidak enak. Gaun itu adalah gaun yang biasa dipakai Anggi bila ada acara khusus yang ingin ia datangi atau ia peringati. Kedua, penampilanku yang hanya memakai kemeja dan celana jins sangat timpang dengan gayanya yang bak superstar.

“Udah lama?” Anggi bertanya basa-basi sambil tersenyum sangat manis.

Aku hanya mengangguk. Aku sudah berada di sini sekitar tiga puluh menit yang lalu. Sendiri. Tapi, itu sama sekali bukan ide yang buruk. Selama itu menunggu Anggi.

Anggi duduk di hadapanku lalu mulai berbisik, “kenapa gak sekalian mesan?”

“Nunggu kamu,” jawabku singkat.

Dia kembali tersenyum. Dengan cekatan, ia memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sedetik kemudian matanya sudah mulai menatap mataku.

“I have to tell you something... I have to go back to Indonesia.”

Aku tahu akan seperti ini jadinya. Tanda-tandanya sudah jelas terlihat. Gaun itu, Pushkin, dan semuanya. Aku memilih diam. Tidak menatap matanya yang bening bak kaca.

“Aku gak akan balik lagi ke sini. Mereka menawariku untuk tampil di teater dan aku setuju.”

Deg.

“Kabar baiknya, saat kemarin ke sana, aku sudah menunjukkan video latihanmu ke mereka dan mereka sangat tertarik. Mereka menawarimu peran Pangeran sedangkan aku akan jadi Putrinya. Ini akan jadi pertunjukkan yang hebat. Aku, kamu, kita dan panggung impian kita.”

“Aku gak akan kembali ke sana, Nggi. Mereka... mereka tidak akan pernah menerimaku.”

“Semua sudah berubah, No. Mereka memandangmu tidak lagi sama. Kembalilah, No. Jadilah pangeranku.”

Setelah itu, kami makan dalam diam.

***

Lima hari setelahnya, Aku sudah berada di bandara. Di tanganku, selembar tiket tergenggam erat. Tujuannya jelas: Jakarta, Indonesia. Setelah percakapan dengan Anggi, aku berpikir. Aku memang tidak menyukai Indonesia, namun, jika benar apa yang Anggi katakan, Indonesia mungkin butuh kesempatan kedua. Bagaimanapun, aku masih cinta Indonesia. Dan aku juga cinta Anggita. Menjadi pangerannya adalah impianku. Dan aku takkan menyia-nyiakannya.

Memang kadang, kekuatan cinta itu sangat besar. Ini salah satunya.[]


***

* Cerita ini dimuat di majalah digital DigiMagz edisi kedua, Juli 2014.
** Seharusnya, cerita ini lebih panjang, tapi karena keterbatasan jumlah karakter, jadi dipotong. TT.TT





Previous Post
Next Post

post written by:

1 komentar: