[Side Story] The One #LoveCycle GagasMedia

Jadi, aku tertarik bikin cerita tambahan buat LIFTED UP #TIMMOVEON #LOVECYCLE! Aku mengambil sudut pandang Gilang, sahabat Raafi. Semua yang ada di bawah ini hanya murni pikiranku terhadap tokoh Gilang di LIFTED UP. 
Enjoy! ~~

Gambar diambil dari sini
*
Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Pasti sebagian darimu akan menjawab pernah. Bahkan aku berani bertaruh, hal itu terjadi dalam hidupmu berkali-kali—saat kamu jatuh cinta lagi.
Namun, apakah kamu pernah merasakan saat melihat seseorang kamu yakin she’s the one? Satu-satunya orang yang akan menemani hidupmu sepanjang waktu. Orang yang akan bersamamu, berbagi suka dan duka hingga nanti kalian dipisahkan oleh maut.

Aku baru merasakannya hari ini. Saat itu, aku sedang duduk di sebuah kafe bernama de memoire dengan laptop yang setia bertengger di atas meja sambil menunggu Raafi, sahabatku sedari SMP. Ia mengatakan bahwa ingin membicarakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu itu apa. Jadilah aku terdampar di sini. Dan itu sama sekali tidak kusesali.
Aku menyukai de memoire. Aku menyukai denting fuurin yang berbunyi ketika pintu dibuka oleh seseorang. Aku menyukai aroma kopi yang menyeruak dari meja bar. Dan aku menyukai jendela-jendela besar yang terbuka menghadap jalan. Saat Raafi mengenalkanku pada tempat ini dua tahun yang lalu, aku tidak berhenti untuk terus datang tiap minggu. Ritualku sederhana, setiap malam minggu, aku menyeruput black espresso ditemani sepotong tiramisu sambil menulis lanjutan novel perdanaku yang tidak kunjung selesai. Awal mulanya, Raafi sering menemaniku menjalani ritual itu, namun, setahun terakhir, ia lebih sering tidak ikut. Kami pun jarang bertemu.
Orang bilang pertemanan itu hanya sebatas satu masa. Satu kesempatan.
Mungkin benar. Tapi, aku lebih memilih tidak terlalu peduli.
Klining~
Sebuah denting fuurin yang terletak di depan pintu masuk terdengar. Mataku langsung saja teralih dari layar laptop di meja ketika kulihat ia, seorang perempuan yang entah dari mana masuk dengan anggunnya ke dalam de memoire. Detak di dadaku mendadak cepat, jantungku memompa ekstra keras untuk mengalirkan darahku ke seluruh tubuh, menciptakan sensasi aneh yang sejujurnya aku sendiri tidak tahu.
Aku masih ingat betul, perempuan itu melemparkan pandangannya ke seluruh kafe. Saat itu, suasana kafe memang penuh. Di jam-jam weekend seperti ini, memang banyak muda-mudi yang berkunjung ke sini—meski tetap tidak mengurangi suasana nyaman kafe ini. Mataku tak berkedip, mengekori tiap pergerakannya hingga pada suatu ketika, kedua mata kami bertemu. Dan perlahan namun pasti, ia berjalan mendekat ke arahku.
“Ng.. Anu... Boleh aku duduk di sini?”
Aku terkesiap ketika ia tiba-tiba saja berada di hadapanku. “Bo—boleh,” jawabku gagap. Segera aku membersihkan sisi meja di bangku kosong di hadapanku kemudian mempersilakan ia duduk.
Ia tersenyum. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat semua detil yang ada padanya. Bibirnya kecil, cocok dengan wajahnya yang tirus dengan hidung mancung. Alis matanya lentik, seolah menari-nari ketika ia berkedip. Ada olesan warna di bibirnya—yang aku tak tahu warna apa. Sementara matanya bulat hitam, seolah lubang hitam yang menyedot seluruh perhatianku ke sana.
“Terima kasih.”
Ia duduk di hadapanku. Keringat dingin mengucur di keningku. Sesungguhnya, aku ingin membuka percakapan, namun apa daya, yang keluar hanya helaan napas.
Mengapa kata-kata dapat hilang di saat kamu sangat menginginkannya?
Kulihat ia tak berhenti melirik jam yang ada di ponselnya. Gelagatnya pun terkesan tidak sabaran. Jus alpukat yang ia pesan datang dan diletakkan di atas meja. Buru-buru ia meminumnya.
“Ka—Kamu sedang menunggu seseorang?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Ia kembali melirik ke arahku kemudian mengangguk.
“Kamu sendiri?” Ia balas bertanya.
Aku menunjuk layar laptop.
“Mengerjakan tugas?”
“Menyelesaikan novel, tepatnya,” ralatku.
Manik matanya membulat. “Kamu penulis?” ucapnya dengan nada tidak percaya.
Buru-buru aku menggeleng. “Aku hanya seseorang yang menyukai dunia tulis-menulis,” jawabku. “Lagipula, seseorang dikatakan penulis jika ia sudah menerbitkan tulisannya, bukan?”
Ia terkikik. Suara tawanya seperti kamu memakan potato chips, renyah dan membuat ketagihan.
“Dari dulu, aku selalu ingin jadi penulis,” ia berkata lagi. Kali ini dengan nada yang lebih nyaman seolah kami hanyalah dua teman lama yang kembali bertemu.
“Benarkah?”
Ia mengangguk. “Penulis selalu bisa menciptakan dunianya sendiri lewat kata-kata yang ia tuliskan. Dan aku iri dengan kemampuan yang seperti itu.”
“Sebenarnya, dunia yang penulis ciptakan tidak sesederhana itu. Semua tetap melalui riset, banyak pengalaman, hingga terciptalah dunia seperti yang orang-orang baca.”
Ia menarik ujung-ujung bibirnya. “Kalau kamu, dunia seperti apa yang sudah kamu ciptakan?”
Aku menghela napas. Sejujurnya, aku tidak tahu. Aku hanya menulis tanpa tujuan. Duniaku hanya terbatas pada kuliah, rumah, tumpukan novel di kamar. Tak ada hal spesial yang kutuliskan.
“Kamu sendiri, apa dunia yang ingin kamu baca?” Aku balas bertanya.
Ia menggumam. “Duniaku sendiri.”
“Apa?”
“Duniaku,” ia mengulangi. “Aku ingin membaca sebuah dunia yang berpusat padaku. Dunia yang sangat aku kenal dengan orang-orang yang kukenal.”
“Semacam biografi?”
Buru-buru ia mengibaskan tangannya. “Mungkin hanya bagian roman saja.”
Klining~
Suara itu datang lagi. Kali ini, aku terlalu sibuk memandangi wajah perempuan di hadapanku sehingga tak sempat berbalik. Wajah itu semakin lama semakin merekah. Senyum yang terkembang di sana semakin lebar.
“Lang!”
Sebuah tepukan mampir di pundakku. Aku menengok ke samping dan mendapati Raafi sudah berdiri di sana.
“Sori, aku telat. Tadi aku ngurusin sesuatu dulu di sekret BEM.”
“Nggak apa-apa,” ucapku. Sungguh, aku tidak apa-apa. Malahan aku merasa senang karena Raafi telat seperti ini, aku jadi bisa berbicara banyak dengan perempuan di hadapanku. Seharusnya aku yang berterima kasih.
“Jadi, kalian udah saling kenal?”
Apa katanya tadi?
Aku menatap muka Raafi dengan kebingungan. Ia lalu duduk di samping perempuan di hadapanku lalu bertukar kecupan di pipi.
Tu—tunggu... Apa maksudnya ini?
“Aku ngajak kamu ke sini buat kenalin pacarku setahun ini,” kata lelaki itu lagi. “Tiffany, kenalin ini Gilang, sahabatku dari SMP. Dan Gilang, kenalin ini Tiffany, belahan jiwaku.”
Mereka saling tukar pandangan mesra. Aku membeku di tempat dudukku.
Pernahkah kamu merasakan kamu jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak kamu cintai? Jatuh cinta pada pacar sahabatmu sendiri?
Rasanya tidak enak, sama seperti ketika kita makan martabak saat malam. Guilty pleasure. Kenikmatan yang nggak seharusnya kamu rasakan. Begitulah aku saat ini.
Dan sepanjang malam itu, senyum pahit tak berhenti kupoles di bibirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar