Senin, 11 April 2016

Yubi kiri (An Another Story)

Gambar diambil dari sini
*

Aku pernah menyukai seseorang. Tapi aku berbohong padanya.

Aku tidak tahu kapan persisnya atau alasan apa aku mulai menyukainya. Yang kutahu, ia masuk begitu saja ke dalam kehidupanku, membuatku nyaman di dekatnya tanpa peduli apa pandangan orang.

Pertemuan kami sederhana, suatu pagi aku terlambat datang ke sekolah karena Rika-chan, pacarku, tidak membangunkanku. Saat itu, ada satu orang yang ikut terlambat. Kami berdua sama-sama menaiki kereta yang sama. Saat itu, musim dingin dan aku sudah pasrah akan dihukum apa saja oleh Genta-sensei. Tapi kemudian, anak itu dengan lantang bersuara, “Ada salju yang menumpuk.”

Melihatnya, aku hanya bisa tertegun. Genta-sensei menoleh ke arahku. “Apa benar Tomohiro-san?”

Anak itu langsung menoleh ke arahku serius. Bola matanya yang cokelat menatapku serius.

“H—hai!”

Genta-sensei berdeham. “Baiklah kalau begitu, kalian boleh masuk.”

Dengan cepat, aku melangkahkan kaki, menjauh dari pandangan Genta-sensei. Anak itu mengekor di belakangku. Setelah cukup jauh, aku membalikkan badan.

Arigatou...”

Ia melangkah ke arah belakang sedikit karena terkejut lalu tersenyum ke arahku.

“Bisa aku meminta alamat surelmu?” Ia bertanya sembari menyerahkan ponselnya.

Eh?

Aku mengambilnya cepat lalu mengetik. Jam pertama ketika itu hampir usai saat aku menyerahkan kembali ponselnya.

Setelah ia mengambil ponselnya, tanpa mengucap apa-apa lagi, ia berlari pergi.

Dan mendadak hidupku berubah setelah ini.


*

“Gaku!”

Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Rei sedang berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Aku balas melambai.

“Yo!”

Rei berlari ke arahku. “Masih banyak yang harus kau lakukan?”

Aku menaikkan bola mata, mencoba berpikir. Setelah meyakini tak ada yang perlu kulakukan, aku menggeleng. Hari ini adalah hari festival sekolah. Aku dan Rei—anak yang bersamaku saat telat dulu ditugaskan untuk menjadi penyelenggara acara. Mengerjakan banyak persiapan festival membuat kami menjadi dekat, bahkan menghabiskan banyak waktu bersama.

“Kalau begitu, kau harus istirahat dulu. Semua orang sedang membuat api unggun. Paling tidak, kau harus tidur sebentar. Bukankah masih ada acara sampai jam dua?”

“Tapi, aku tidak bisa pergi begitu saja...”

“Biar aku yang mengurusnya,” potong Rei cepat. “Kau istirahatlah dulu di ruang atas. Oh, ya, aku pinjam ponselmu sebentar. Baterai ponselku habis. Aku mau menghubungi rumah.”

Ada rasa geli yang menggelitik di perutku. “Baiklah, aku akan tidur sebentar,” ujarku menyerah lalu menyerahkan ponselku.

“Nanti kususul di atas, sekalian mengembalikan ponselku. Oke?”

“Oke.”

*

Aku menyadarinya. Aku mengetahui apa yang Rei lakukan padaku. Kau kira aku tidak bisa merasakan saat sebuah sentuhan lembut tiba-tiba saja mampir di bibirku? Saat itu, aku lebih memilih untuk diam saja. Kuputuskan untuk menikmati saja momen itu dengan menutup mata rapat-rapat.

Namun, tanpa kusadari, jantungku ikut berdegup cepat.

*

Aku sedang berada di atap sekolah ketika Rika-chan memanggilku. Raut mukanya tampak kesal. Mungkin marah. Matanya yang sipit itu tampak melebar. Dengan langkah besar dan tangan terlentang, aku menghampirinya.

“Rika-chan...”

Baru saja aku hendak memeluknya, ia menepis.

“Ada yang ingin aku bicarakkan, Gaku-kun...”

Aku mengerutkan kening. Tak kusangka Rika-chan bisa memiliki tone bicara yang serius dan berat seperti ini. Gadis itu lalu berjalan tanpa menoleh lagi ke sudut atap. Aku mengikutinya dari belakang.

“Ada apa Rika-chan?”

“Aku ingin kita putus.”

Nada suaranya tidak ia buat main-main. Aku menggaruk-garuk kepalaku pening.

“Kenapa?”

“Kau tahu jawabannya.”

Aku mengerutkan kening tidak mengerti.

“Aku melihat Rei menciummu.”

Deg.

“A—apa? Ka—kapan? Maksudmu? A—Aku sama sekali tidak mengerti.”

Rika-chan mengulas senyum tipis. “Aku juga melihatmu membuka mata saat ia menciummu. Kau tidak benar-benar tertidur, bukan?”

Aku mematung. Tak ada lagi yang bisa kukatakan untuk membantahnya.

“Kau juga menyukainya, Gakku-kun?”

Ingin sekali kubilang bahwa satu-satunya orang yang kucintai adalah Rika-chan. Namun, entah mengapa, bibirku kelu untuk mengatakannya. Sebagai jawabannya, aku hanya memberinya diam.

Kulihat ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Naik-turun selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Aku mengerti sekarang.”

“Ta—Tapi Rika-chan...”

“Aku tak akan berkata apa-apa pada siapa pun. Karena bagaimana pun, kau masih jadi orang yang kusuka. Aku tidak akan mempertahankanmu karena aku tidak suka menjadi rubah di antara kalian,” ucapnya lagi. “Sebagai gantinya, kau harus bahagia.”

Aku menunduk. Ada rasa nyeri yang teramat sakit di ulu hati. Tanpa kusadari, Rika-chan memelukku lalu mengecup pipi kananku. Beberapa saat kemudian, ia melepaskannya kemudian pergi meninggalkanku.

Di tempatku, aku berusaha mencerna semuanya. Otakku berputar liar, menimbulkan gambaran dua orang: Rika-chan dan Rei. Bergantian hingga akhirnya ia berhenti di satu orang.

*

“Aku putus dengan Rika-chan,” ucapku pada Rei ketika ia menginap di rumahku. Saat itu hari telah malam dan hanya ada kami berdua di kamar.

Rei tampak terkejut mendengarnya. “Kau putus? Kenapa?”

Aku menghela napas. Sejujurnya, aku ingin mengatakan bahwa ialah alasan Rika-chan memutuskanku. Tapi, aku tidak ingin membuat keadaan sekarang menjadi lebih canggung.

“Aku tidak mengerti. Ia memutuskanku begitu saja.”

Ada jeda panjang di antara kami berdua sebelum akhirnya ia bersuara, “Kau tidak apa-apa, Gaku?”

“Tentang apa?”

“Putus.”

Aku ber-ooh panjang. “Tidak apa-apa. Malah aku sekarang jadi sadar...”

Rei memiringkan kepalanya. “Sadar apa?”

Aku menarik ujung-ujung bibirku.

“Gaku... kau tahu ‘yubikiri’?”

Aku mengangguk.

“Kau spesial bagiku. Jadi berjanjilah jangan pernah mengkhianatiku. Aku pun akan berjanji hal yang sama kepadamu.”

Ada binar mata aneh yang tersirat dari mata Rei. Namun buru-buru kutepis.

“Apa-apaan ini, Rei?”

“Aku hanya ingin memintamu berjanji. Jadi...” Kalimat itu sengaja dibuatnya menggantung.

“Apa?”

“Jadi...” ulangnya lagi.

Aku memutar bola mata. “Terserah apa katamu.”

Ia tampak tersenyum lebar. Aku memandanginya lama. Lama sekali sehingga aku pun ikut tersenyum kecil.

Di benakku, sebuah permainan terlintas. Playing hard to get.

...and it’s showtime!

*

Rei mengajakku untuk bertemu di taman belakang sepulang sekolah dan aku mengiakan saja. Tapi, setelah kalimat pertama yang ia ucapkan padaku barusan, aku buru-buru menyesali.

“Aku mencintaimu Gaku. Maukah kau menjadi pacarku?”

Ungkapan cinta. Sejujurnya aku sudah sering menerima pernyataan cinta seperti ini. Tetapi, baru kali ini ada yang bisa membuat jantungku berdebar begitu kencang dan kupu-kupu di perutku terbang riang.

Aku ingin merasakan ini lebih lama.

“Aku... tidak mungkin bisa menerima pernyataan cintamu...”

Aku merasakan ada panas yang menjalar di telingaku—tanda vital jika aku berbohong.

Muka Rei menegang. “Kenapa tidak Gaku? Aku tidak mengerti!”

Lama. Lebih lama lagi.

“Kenapa kau harus bertanya? Tentu saja hal itu tidak mungkin... Kita hanya berteman... Kita bersahabat.”

Adrenalinku hampir mencapai puncaknya. Kupu-kupu yang terbang hampir penuh di sana.

Lama. Lebih lama lagi.

"Aku tidak bisa menerima alasan seperti itu Gaku. Kalau kau tidak menyukaiku, mengapa sikapmu begitu baik padaku? Mengapa kau tidak menolak saat aku mengajak tidur bersama?”

Aha! Permainan ini semakin menarik saja. Aku terkikik di dalam hati. Kutahan tertawaku senatural mungkin.

Mari memberinya pukulan sedikit lalu...

“Tentu saja bagiku itu normal! KITA SAMA-SAMA LELAKI REI! KAU MEMBUATKU JIJIK!” ucapku lantang! Home run.

Kulihat rahangnya mengeras lalu mulai menunduk. Sebentar, apa aku salah?

“Kita bahkan pernah berciuman. Kita juga saling berjanji untuk bersama selamanya. Yubi kiri genman, uso tsuitara hari sen bon nomasu – yubi kitta. Begitu kata kita. Kau sudah berjanji padaku. Kau sudah berjanji.”

Baiklah. Tampaknya ini sudah harus diakhiri.

“Hentikan ini Rei. Kau sudah gila.”

Hentikan ini semua lalu biarkan aku menciummu sekarang.

“Tidak Gaku. Kau yang mengkhianatiku. Kau harus memotong jari kelingkingmu. Harus.”

Ia masih menunduk. Perlahan aku mulai menghampirinya. Dan...

Eh? Apa ini?

Tiba-tiba, tanpa kusadari, sebuah benda tajam menghunjam tepat di jantungku.

“REIIII!!”

Benda itu tidak berhenti bergerak. Masuk ke luar ke dalam tubuhku tanpa bisa kucegah. Darah segar mengalir keluar dari sana seumpama oasis di gurun pasir.

Rei...

Aku menyebut namanya dalam diamku. Dari mataku, ada air mata yang jatuh dari sudut matanya yang kosong. Dengan tenaga yang masih sedikit, aku berusaha memberinya senyum. Senyum perpisahan sekaligus pernyataan....


aku menyukaimu.
.
*
***PS: Cerita ini terinspirasi dari tulisan kak Fini di sini buat #AprilMenulis NBCPalembang
***PSI: Cerita ini terinspirasi dari lagu Big Bang - Lies. 
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: