Minggu, 30 Juli 2017

PEMULA NEKAT KE MALAYSIA: KL SENTRAL - HOSTEL [2]
Setelah enak-enakan tidur di dalam bus, akhirnya kami sampai di KL Sentral. Pertama turun dari bus, kami berada di semacam tempat parkir. Karena sama sekali nggak tahu arah, jurus paling ampuh: ikutin semua orang yang juga turun. Setelah celingukan, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti sepasang bule yang tampaknya udah tahu harus ke mana. Kami menaiki eskalator buat ke lantai atas dan akhirnya..... ini apa?

Saya tahu apa itu KL Sentral, tapi nggak menyangka sebesar ini. Setelah dibikin ternganga dengan KLIA2, KL Sentral juga nggak kalah buat takjub. Emang ya, harus sering melihat dunia luar buat tahu bahwa dunia kita sendiri nggak ada apa-apanya. Haha!

Menurut catatan saya, hostel yang udah saya pesan berada di kawasan pasar seni, tepatnya di Katsuri Walk. Saya pun telah mencatat how to get there, bermodal baca-baca referensi dan satu aplikasi bernama Moovit (INI SANGAT MEMBANTU!). Kami diharuskan naik LRT ke Pasar Seni melalui laluan Kelana Jaya. Oke. Tapi, masalah baru muncul: kami sama sekali nggak tahu cara naik LRT!

Saya melihat ada tulisan Kelana Jaya Line di sebelah kiri, dan itu sesuai dengan apa yang saya tulis. Dengan pelan, kami memutuskan untuk ke sana. Di sebelah kiri, tampak orang mengantri di semacam vending machine. Mesin itu mengeluarkan semacam koin plastik. Lama kami menatap dan mengamati. Akhirnya kami memberanikan diri.

Kelana Jaya Line. Klik.

Muncul nama-nama yang mungkin saya pikir nama stasiun. Dengan mantap, kami memilih Pasar Seni yang ternyata hanya satu stasiun dari KL Sentral. Klik.

Ada tulisan jumlah yang harus kami bayar. Melihat orang di sebelah, kami pun memasukkan uang.

Kling. Kling.

Koin berwarna biru keluar dari bawah.

Tahu nggak rasanya seluruh dunia kayak berada di dalam genggaman? Begitulah saya. We did it!!!!!!! *insert we are the champion song here~*

Setelah drama dengan vending machine, kami akhirnya selamat menuju peron. Tak lama, kereta kami datang. Saat itu memang penuh sesak. Setelah masuk, kami benar-benar mendengar pengumuman dari pengeras suara. Satu stasiun, kami pun keluar.

"Itu tandanya!"

Rabu, 19 Juli 2017

PEMULA NEKAT KE MALAYSIA: PLM-KLIA2 [1]

Sedari dulu, saya selalu pengin pergi jalan-jalan. Sebagai anak kota yang sampai gede masih ‘dipingit’, keinginan itu terus-terusan terpendam di dasar hati yang paling dalam, nggak berani dikeluarkan. Bagi saya, jalan-jalan akan jadi salah satu lifetime buckit list yang saya sendiri nggak yakin bakal tercentang (v) atau nggak.

Rupanya, keinginan itu terwujud lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan.

Bermula dari iklan di televisi tentang promo terbang gratis Air Asia tahun lalu, saya akhirnya berangkat ke negeri bertajuk Truly Asia pada tanggal 13 Juli 2017 kemarin! Modalnya apa? Nekat. Ya, perjalanan ini hanya bermodal nekat. Hahaha! Kenapa? Karena saya dan satu teman saya sama-sama baru pertama kali ke luar negeri (bahkan dia baru pertama kali naik pesawat! :p). Meskipun sudah buat jadwal penuh, ditambah baca-baca seluk-beluk negara Malaysia, dan tanya-tanya, namun rasa takut itu masih ada. Bahkan, saat menuju bandara, terbesit keinginan untuk batal pergi, mengikuti jejak salah satu teman saya yang juga batal ikut. Tapi, teman saya, Aan, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Dan ternyata memang demikian.

Pesawat dari PLM boarding pukul 07.50 pagi, setelah di-reschedule satu jam lebih awal. Dan kami berangkat dari rumah pukul setengah tujuh pagi. Karena masih awam (biasanya hanya terbang domestik) mau nggak mau kami memilih pergi lebih cepat walau sudah melakukan check in awalnya. Dan benar saja, kami sempat kebingungan mencari boarding room penerbangan internasional. Belum lagi bayangan akan imigrasi yang saya baca cukup menakutkan. Untunglah, selagi menunggu proses imigrasi, kami sempat berbincang dengan seorang ibu yang mengajak anaknya ke KL. Kami dijelaskan banyak sekali mengenai proses sampai keluar bandara KLIA2 nanti.

Setelah melalui imigrasi dan menunggu, tibalah saat boarding! Jantung saya berdegup kencang. Berbagai pikiran bergelayut. Bagaimana kalau salah di imigrasi? Bagaimana kalau tersasar? Bagaimana kalau hostelnya nggak ter-booking dan malah jadi TKI? Akan tetapi, seperti kata pepatah, let bygones be bygones not baygon. Oke, ini nggak lucu. Dan pada akhirnya, saya menenangkan diri dan percaya dengan persiapan yang saya punya. Hahaha!

MALAYSIAA!!! AAAK!