Kamis, 30 Agustus 2018

Sehari di Jakabaring Sport City


Gaung Asian Games sudah tersebar di segala penjuru Asia. Di Indonesia yang jadi tuan rumah, semua sudah dipersiapkan. Tapi, bagi saya yang memang tidak terlalu mengikuti olahraga, saya skeptis dengan gelaran ini. Meski saya tinggal di Palembang, saya sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menonton satu pertandingan pun. Namun semua berubah karena saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta kemarin. Semangat yang menggelora dengan tajuk Energi Asia sukses merasuki diri saya.



Semangat GBK yang menular. (dok. pribadi)



Jadi, sekembalinya saya ke Palembang, saya pun langsung mengatur jadwal. Tujuan saya sederhana: menonton apapun pertandingan yang ada di Jakabaring Sport City, Palembang minimal satu kali. Dan kesempatan itu hadir hari ini.

Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk pergi. Dengan perlengkapan tempur seperti kamera, baju #DukungBersama yang diberi saat Writingthon kemarin, dan uang untuk membeli tiket pertandingan, saya pun bersiap meluncur ke venue. Namun, karena ada pekerjaan mendadak, saya akhirnya baru pergi menjelang siang. Saya sudah janjian dengan teman saya, Ara untuk menonton pertandingan takraw.

Sepanjang perjalanan, ponsel saya terus berbunyi. Ara mengabarkan kalau ia lupa membawa uang sementara loket penjualan tiket sudah mau tutup karena tiket sudah hampir habis. Saya pun memacu motor saya semakin cepat ke Jakabaring Sport City. Jarak yang kurang lebih 15 km saya tempuh secepat kilat yang saya bisa. Akan tetapi, setelah sampai di sana, loket tutup. Kami kehabisan tiket. Coba kalau punya uang banyak, ya bisa nonton tanpa batas. :( 




Tidak ingin bersedih hati, saya dan Ara pun berencana untuk mengelilingi kawasan olahraga terbesar di Asia Tenggara ini. Di depan gerbang, terdapat area keamanan bagi para pengunjung untuk dipindai dan dicek barang bawaannya. Tentu semua barang yang dilarang seperti alkohol, barang tajam, bahkan parfum pun tidak boleh dibawa masuk ke dalam kawasan ini. Setelah melewati tahapan ini, kita diharuskan jalan menuju Stadion Gelora Sriwijaya. Di pertengahan lajur, terdapat area bagi para pengunjung yang ingin menaiki bus ke venue-venue pertandingan. Memang, kawasan JSC ini sudah ditetapkan sebagai kawasan tanpa kendaraan bermotor. Jadi, akses utama para pengunjung yang ingin pindah-pindah yaitu dengan menaiki bus.

Pembuka Kawasan Jakabaring Sport Cty (dok. pribadi)

Karena santai nggak kebagian tiket, saya dan Ara lebih memilih berjalan kaki saja. Hitung-hitung menikmati suasana olahraga yang ada di sini. Benar saja, kawasan ini sangat penuh dengan pengunjung. Di depan saja, di bagian countdown clock, banyak orang-orang dari beragam latar belakang ber-swafoto ria. Masuk ke dalam, kita akan menemui Superstore asian Games. Di sini menjual banyak sekali merchandise resmi Asian Games 2018. Saat masuk ke dalam sini, bukan hanya pengunjung dari Indonesia, atlet-atlet pun memborong beragam barang ,ulai dari boneka, baju, tas, gantungan kunci, topi, bahkan... minuman.

Foto di depannya saja, ya, Ra! (dok. pribadi)

Setelah puas berkeliling tapi tidak membeli, kami pun menuju ke halaman depan Stadion Gelora Sriwijaya. Beberapa merchant sponsor membuka booth di sini.

“Perasaan ada festival di sini, Ra!” saya berkata pada Ara. Memang, beberapa hari terakhir banyak hal tentang festival di JSC yang saya lihat dari media sosial saya. Setelah bertanya-tanya dan disempatkan berfoto-foto ria di maskot Asian Games, akhirnya kami menemukan tempat festival. Namun sayangnya, karena siang hari, belum banyak acara yang digelar di sana. Dengan rasa kecewa, kami pun memutuskan untuk pulang.

Bendera negara-negara Asia yang menyambut siapa saja. (dok. pribadi)

Ornamen khas Asian Games yang berada di sudut-sudut JSC. (dok. pribadi)

Booth yang membuka banyak barang di area festival. (dok. pribadi)

Anak-anak sekolah yang berfoto dengan maskot. (dok. pribadi)

Beruntungnya kami, loket tiket untuk sepak takraw putri kembali dibuka. Saya, Ara, dan satu teman saya yang datang belakangan, Kak Desi langsung membeli tiket. Dengan harga Rp 50.000,- tiga tiket sudah berada di tangan. Untungnya Indonesia main! Waktu yang cukup banyak sampai pertandingan selanjutnya pun kami manfaatkan untuk mengisi persediaan tenaga terlebih dahulu. Dan di pertengahan waktu itu, teman saya Tri pun memutuskan untuk ikut. Jadilah, Kak Desi dan Ara duluan menuju venue sementara saya menunggu Tri untuk barengan ke sana.

Setelah susah payah tiket ini berada jyga di tangan.

Setelah kurang lebih pukul empat sore, Tri pun akhirnya datang. Dari rumah, ia menggunakan Transmusi. Memang, untuk gelaran ini, pemerintah kota Palembang menyediakan Transmusi agar masyarakat dapat menjangkau JSC dengan mudah.




Bergegas kami menaiki bus untuk membawa kami ke venue. Di pesan singkat, Ara sudah bilang bahwa Indonesia sudah main. Dan hanya pertandingan itu yang tersisa. Tidak ada lagi yang lainnya. Jadi, jika kami telat maka kesempatan buat menonton itu hangus begitu saja.

Sesampainya di venue, kami langsung menuju ke panitia, scan barcode yang ada di tiket dan masuk ke gedung sepak takraw. Belum apa-apa saya sudah bisa merasakan hawa yang berbeda. Sekujur tubuh saya merinding. Bukan, bukan karena mesin pendingin yang ada. Namun saya dapat mendengar dengan jelas teriakan INDONESIA, INDONESIA yang tanpa henti bergema.

Tanpa basa-basi saya mempercepat langkah. Saat masuk ke tempat pertandingan, mata saya terbuka lebar. Banyak sekali orang yang tumpah di sini. Beragam latar belakang mulai dari anak kecil hingga orang lanjut usia duduk tegang dengan mata yang tak henti-hentinya memandang lapangan pertandingan ke dua: Indonesia vs Myanmar. Saya pun bersama Tri langsung duduk. Untungnya saya tidak ketinggalan banyak. Pertandingan Indonesia masih berada di paruh pertandingan pertama.

Bulu kuduk saya kembali meremang. Saya ikut euforia bersama ratusan orang yang ada di sini. Selama ini, saya hanya bisa menyaksikan orang-orang berteriak menyebut negaranya saat pertandingan di televisi. Kadang saya tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu. Namun sekarang saya tahu: semangat itu menular. Rasa bahagia, bangga, dan excited dalam menonton pertandingan bisa dirasakan walau kau tidak ingin saat menonton. Mau tak mau, rasa bangga terhadap negaramu membuncah dan kau meneriakkan negaramu begitu saja. Hal ini yang saya rasakan ketika berada di sana kurang lebih empat puluh menit pertandingan. Meski sebentar, energi itu menjalar ke seluruh tubuh saya.

Fokus menonton pertandingan. (dok. pribadi)

Poin-poin kritis Indonesia. (dok. pribadi)

Para atlet sepak takraw putri yang bersiap menerima serangan. (dok. pribadi)

Pertandingan hari itu ditutup dengan kemenangan Indonesia atas Laos. Saat lemparan takraw terakhir, semua menahan napas. Dan saat terjadi poin, kami semua lantas berdiri, memberi tepuk tangan, memberi selamat kepada para atlet Indonesia yang bertanding hari ini.

Pose setelah menang. (dok. pribadi)

Selepas senang dan bangga menonton pertandingan, kami memutuskan untuk santai sejenak di area festival. Banyak acara yang sudah dimulai. Ada yang menyanyi, menari, bahkan melucu. Dan lagi-lagi, semua orang berkumpul. Senyum-senyum cerah terukir di wajah mereka. Lama kami berada di sini hingga malam kami memutuskan untuk pulang.

Menari bersama Atung di zona festival. (dok. pribadi)

Semua tumpah ruah termasuk anak kecil. (dok. pribadi)

HANYA ITU~ TITIK ITU~ (dok. pribadi)

Makin malam zona festival makin rame.

Bagi saya, ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Saya menjadi bagian dari sejarah even olahraga terbesar di Asia. Dapat melihat langsung dan merasakan semua hal di Jakabaring membuat saya sadar: saya cinta Indonesia. Namun terkadang saya lupa bahwa saya secinta itu dengan Indonesia. Semangat hari ini akan terus saya pegang untuk kehidupan saya setelahnya.

Terima kasih Energi of Asia!




Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: