Jumat, 21 Juni 2019

Makanan yang Harus Disantap Ketika Ramadhan di Palembang

Lebaran emang udah selesai, tapi nuansa kemenangan yang baik masih terasa di berbagai kegiatan. Boleh jadi semua sudah rutin masuk kerja, kembali ke kehidupan masing-masing, namun semangat Ramadan kemarin masih terus menggema.

Nah, itulah yang saya rasakan sekarang. Meski Ramadan telah pergi, namun satu hal yang selalu bikin kangen menunggu ia kembali: makanan. Di Palembang sendiri, makanan udah tentu jadi bagian paling signifikan saat berbuka. Yang terkenal tentu pempek. Banyak yang bilang bahwa buka puasa tanpa pempek ibarat sayur asam tanpa garam: hambar. Pempek sudah jadi makanan sehari-hari yang bisa dinikmati setiap waktu.

Namun, tahu nggak kalau Palembang tidak melulu soal Pempek. Saat Ramadhan, banyak kuliner khas Palembang yang bila sehari-hari langka ditemui sehari-hari, malah berbondong-bondong muncul di pasar-pasar bedug. Mau tahu apa aja?

1. Ragit
Ragit adalah panganan khas Palembang yang bentuknya mirip dengan roti jala. Terbuat dari adonan terigu, telur, dan garam yang kemudian disiram sedikit demi sedikit hingga berbentuk jala di wajan yang panas. Ragit biasanya disantap dengan kuah kari yang terdiri dari kentang maupun daging. Perpaduan rasa gurih dari ragit ditambah kuah yang kental bikin ragit amat enak disantap saat berbuka.



2. Lakso
Jika ditanya mi apa yang paling terkenal di Palembang, banyak yang pasti menjawab Mi Celor. Namun, tahukah kalian ada satu jenis mi lagi yang jadi panganan khas bagi Palembang? Lakso, mi kenyal yang terbuat dari tepung beras inilah namanya. Sekilas, namanya amat  mirip dengan Laksa, makanan khas Singapura. Namun, keduanya berbeda. Lakso adalah adonan mi putih yang disiram kuh kental berwana kuning. Kuahnya mirip kuah opor namun ditambah dengan ikan sebagai penyedap. Lakso amat enak disantap selagi hangat. Top!



3. Burgo
Serupa namun tidak sama. Burgo seringkali diidentifikasi sebagai Lakso yang berbentuk dadar yang digulung. Persamaannya tak hanya dari warna adonan yang putih bersih, namun juga kuahnya yang kuning dan bersantan. Bedanya, kuningnya kuah burgo tak sekuning kuah lakso. Burgo juga terbuat dari tepung beras yang didadar di wajan kemudian digulung. Saat hendak dimakan, burgo diiris kasar dan ditambah potongan telur rebus dan cabai. Nikmat!



4. Kue Gandus
Kudapan tradisional Palembang ini memiliki banyak nama: kue talam. Namun, jika kue talam terkenal sebagai mkudapan nasional yang manis, kue gandus seperti anti-hero-nya. Kue gandus terbuat dari tepung beras, santan, dan daun pandan kemudian dibentuk sedemikian rupa di loyang kotak atau dimasukkan ke cetakan yang berbentuk mangkok. Yang membuatnya istimewa adalah toping yang tersedia di atasnya. Ada udang ebi, seledri, dan cabai merah. Beberapa memasukkan bawang goreng di atasnya. Rasanya itu lembut ketika digigit. Toping di atasnya memberikan rasa yang gurih. Kue Gandus sudah banyak ditemui sebagai makanan ringan saat rapat di hotel-hotel maupun dijual di tempat makanan pagi. Tapi, menyantapnya ketika berbuka puasa men=mberikan sensasi yang lain. Jika berkunjung ke Palembang, pastikan untuk mencobanya, ya!



Nah, itulah keempat makanan yang dapat kalian coba ketika kebetulan berkunjung ke Palembamg saat Ramadhan tiba. Kapan lagi cobain makanan khas yang nggak terbuat dari ikan!

Salam!

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: