Senin, 20 Februari 2012

HA!
Saya gatau mau ngapain saya saat ini. Saya hanya ingin bercerita. Tentang apa? Saya juga tidak tahu. Perlukah saya memiliki alasan untuk bercerita? 

Satu hal kecil bisa berakibat ke semua hal yang besar, ya? Haha. Saya bingung. Harus darimana saya mulai membuka kisah ini, kisah yang seharusnya hanya ada di dalam benak saya. Kisah yang seharusnya tidak saya bagi kepada siapapun. Ntahlah. Setan apa yang merasuki diri saya untuk bercerita seperti ini, atau hanya saya yang takut kisah ini hilang oleh waktu yang merajang. Sekali lagi ntahlah.

Ha!

Tidakkah pernah kamu merasakan ingin memiliki seseorang walaupun kamu tahu bahwa orang tersebut tidak akan pernah dapat kamu miliki?

Rumit ya bahasanya? Saya sendiri jadi bingung. HAHA. Yang jelas, DIA berada dekat denganmu, menghabiskan banyak waktu bersama denganmu, dengannya kamu bercerita, dan semua yang kamu pikirkan hanyalah DIA? Kebahagiaanmu adalah DIA. Kesedihanmu adalah DIA. Senyummu adalah DIA. Tangismu adalah DIA. Dan bagaimana jika DIA tidak menjadikanmu seperti itu? Kamu menjadikannya PRIORITAS UTAMA dalam melangkah, menjalani kehidupan, sementara DIA menjadikanmu PILIHAN TERAKHIRNYA. HA!

HAHA. Sebentar. Izinkan saya tertawa sebentar.

Bagaimana rasanya? Saya tidak tahu. Rasanya aneh. Rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ada manis, asin, asam, pahit, dan satu rasa lainnya. Satu rasa yang tidak bisa saya jelaskan lewat kata-kata. HA! Memang ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata, termasuk rasa seperti ini. Double HA!

Ada satu bagian dirimu merasa sedikit nyeri, tapi di bagian yang lain kamu takut kehilangan. Jadi yang mana yang kamu pilih? Jawabannya, ntahlah.

Kenapa ntahlah?

Karena saya telah mempercayakan hal itu semua pada waktu. Tapi ternyata (lagi-lagi) waktu berkhianat. HA! Perasaan itu kadaluarsa. Rusak tapi masih berisi. Tetap dan masih terbungkus rapi. 

Saya terlalu terbawa emosi. Izinkan saya bernafas sejenak.

Baiklah, saya hanya ingin bercerita satu kalimat lagi. INTI dari semua ini.
ADA
SATU
RASA
SELAIN
EMPAT
RASA
YANG
TELAH ADA,
RASA
YANG
SAYA
PENDAM
KEPADA
DIA
Tapi
SAYA
SADAR
TANPA SAYA
DIA
BISA
LEBIH
BAIK
Bagaimana? Jawabannya Ntahlah.

Rabu, 15 Februari 2012

mau jadi apa saya?
Holaaaaa~

Hari ini sebenernya lagi kangen aja nulis blog. Setelah mulai disibukkan dengan kuliah dan dua proyek yang harus selesai pertengahan maret, saya jadi sedikit kecapean *curhat* haha. Sebenernya ga ada tema tertentu sih nulis ini, lagi pengen nulis. Jadi maafkanlah kalo ga sesuai konteks. :D

Saya menulis ini saat sedang pusing tentang pelajaran struktur diskrit. Oh ya, saya belum cerita ya asal usul saya. Gini, saya sekarang sedang menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya. Saya "tercebur" di jurusan Teknik Informatika. Sebelumnya SAMA SEKALI TIDAK PERNAH TERPIKIR SEKALIPUN buat masuk jurusan ini. Pertama, saya tidak begitu tertarik dengan seluk-beluk komputer. Kedua, saya belajar komputer juga dari segi formalitas belaka. Ketiga, paling banter saya menggunakan laptop atau komputer ini juga untuk media sosial, atau nanya mamang gugel.  Paling sebatas itu aja. Jadi, kenapa saya ambil jurusan ini?

Haha. Gini ceritanya. Saya dari SMA bingung mau kuliah dimana. Jadi, setelah searching-searching jurusan, saya tertarik untuk mengambil T. Pertambangan, T. Geologi atau sebagainya. Saya ga punya keinginan lain selain itu. Haha. Lalu setelah pendaftaran SNMPTN, saya diharuskan memilih 2 jurusan. Jelas yang pertama T. Pertambangan. Dan yang kedua, awalnya saya ingin ambil T. Elektro tapi orang tua saya inginnya T. Informatika. Dan, memang Ridhanya orang tua itu ridha Tuhan. Saya keterima di jurusan kedua yang saya sendiri BUTA. makanya saya sebut TERCEBUR. :D

Eh, walaupun begitu, bukannya saya tidak menikmati. Saya menikmati setiap detik yang saya lewatkan di kampus yang jauhnya 30 km dari pusat kota itu. Banyak hal baru yang saya pelajari mulai dari tata cara pembuatan program dan lainnya. Saya menemui teman-teman baru yang berbeda karakter. Dan ga dapat dibohongi, kadang ada yang saya suka dan tidak. Haha. Tapi mereka baik. :D

Tapi, hati saya masih tertambat di T. Pertambangan meskipun perkuliahan sudah berlangsung kurang lebih 6 Bulan. I don't have any reason to stay, why should I? Saya pernah menanyakan ini kepada diri saya sendiri. Saya merasa ini bukan diri saya. -__-

Sekarang, hati saya galau lagi. Awalnya saya sering menonton TV dengan tema yang agak berat. Indonesia Lawyer Club, 8-11 show, Provocative-proactive, Wideshot, dan hal-hal berbau politik dan hukum. Jiwa saya tertarik untuk kedua bidang tersebut. Saya juga sering beradu argumen dengan ayah saya tentang berita yang ada di TV. Saya sedikit-demi-sedikit mulai paham dan merasa terhipnotis dengan dua bidang tadi. Ah~ Jadi bimbang -___-

Jadi apa intinya, saya saja bingung saya maunya apa. Yang jelas, saya cuma mengalir ikuti angin. Haha. Mau jadi apapun saya nanti, semoga bisa ngebuat mama-papa saya bangga. Saya juga punya impian lain, saya ingin kuliah dengan biaya saya sendiri. Dan ini yang lagi saya bangun mulai dari sekarang. :') 

Impian saya ga muluk-muluk. Cuma satu. Saya hanya ingin ngelihat mama saya menangis karena melihat anaknya sukses, seperti saya pernah membuatnya menangis di podium kemarin. Aaamiin :')


Selasa, 07 Februari 2012

Monolog : nggak berdarah, tapi kok sakit?!
"Hanya dia yang tahu rasanya, hatiku.."


Pernah aku ditanya sebuah pertanyaan -pernyataan mungkin- olehmu.

"Aku telah mengenalmu jauh sebelum ini. Dari semua ceritamu tentang dia. Dari caramu memperlakukannya. Dan caranya memperlakukanmu. Dari bagaimana "takdir" dengan cantik mempertemukan kalian. Dan dari bagaimana akhirnya kamu jatuh hati. Sejauh ini, aku hanya memberimu dua pilihan : bertahan atau pergi. Bertahan dengan semua rasa sakit yang lebih yang akan kamu rasakan. Atau pergi, melepaskan semua kenangan yang telah lama ada lalu maju ke depan."

Kata-kata itu menohok, menusuk ke dalam ulu hati hingga menimbulkan nyeri yang rasanya sulit untuk kujabarkan. Nggak berdarah, tapi kok sakit?! Mungkin kata-kata itu yang sedikit menggambarkan perasaanku waktu itu. Semula aku tidak menghiraukan, tetapi caramu menyampaikan kepadaku. Nadamu mengejek. Tatapanmu meremehkan. Seakan kamu tahu dengan pasti pilihan apa yang akan aku pilih.

Dan aku kalah. Kamu benar. Kamu selalu benar. 
Ataukah aku yang sangat mudah ditebak?

Seperti dugaanmu, aku memilih pilihan itu. Pilihan yang sudah susah payah kamu jelaskan resikonya kepadaku. Pilihan yang mungkin manusia berhati emas pun tidak berani mengambilnya. Dan aku nyatanya memilih pilihan itu, dulu.

Aku memilih pilihan pertama. Aku memilih untuk bertahan.
Dan kamu tertawa. Tawa kemenangan.


***

Saat itu aku berpikir, aku sudah sekian lama bertahan menahan semua rasa yang ada, bahagia maupun sedih, terlalu sayang bukan untuk melepaskan? Menyerah? Bukan pribadiku. Aku yang selama ini bertahan untuknya, menjadi tumpuan dikala dia terjatuh, atau hanya jadi sandaran hatinya ketika dia lelah, bukankah semua sudah aku lakukan? Harus menyerah? Tidak akan. Aku lebih memilih bertahan.

Kamu munafik. Ungkapkan semua!

Tidak. Aku tidak munafik. Semuanya sudah aku jabarkan. Tidakkah kamu mengerti? Sangat sulit mencapai posisi ini. Mencapai posisi dimana dia membutuhkanku. Mencapai posisi dimana hari-hariku dihiasi oleh dirinya. Dan kamu tidak tahu apa-apa! Jangan berkomentar!

Masih ingin berbohong?!

Maksud kamu?

Bagaimana rasanya?

Apa?

Bagaimana rasanya tidak dianggap?

Pertanyaan ini langsung menembakku tepat di dalam dada lalu mematikan syaraf-syaraf otakku. Aku tidak bisa menyangkal. Perihnya. Sakitnya. Masih. Membekas. Hingga. Kini. Dan aku pun memilih jawaban yang diplomatis. 

Aku tidak ingin semuanya sia-sia. Semua yang kulakukan itu.

Lanjutkan!

Rasa perih itu, aku sudah terbiasa. Mendarah-daging. Mati rasa. Aku percaya, apapun yang akan ada di depan jalan ini nantinya, aku akan tetap bergeming. Nyerinya, atau perasaan pengabaian sebesar apapun akan aku taklukkan!

Kamu egois. Kasihani hatimu. Dia sudah lelah menunggu. Dan kamu masih ingin?

Ya. Masih. Bukankah ego yang selalu menang?

Aku berusaha menyangkal semua situasi saat itu. Kata-katanya benar. Aku saja yang masih tidak terima. Aku buta, melihat sikap tidak acuhnya. Aku tuli terhadap semua kisah-kisahnya tentang orang lain, orang yang dia cintai. Ahh seperti yang sudah aku bilang. Aku mati rasa ketika dia dengan lembut mengiris-iris kamu -hatiku-.

Kamu seperti anak kecil. Berusaha merebut mainan orang lain hanya karena ingin diakui? Sudahlah, aku tidak ingin melihatmu "sok" seperti itu. Ceritakan semuanya. Ceritakan perjalanan hidupmu dengannya. Perjalanan cinta yang bertepuk sebelah tangan!

Apa yang harus aku ceritakan, hah? Bukankah kamu tahu segalanya. Bukankah kamu juga merasakan? Untuk apa semua percakapan ini jika kamu tidak tahu rasanya seperti apa? Dan yang paling penting, bukankah kamu yang paling merasa tersiksa?

Aku hanya ingin mendengarkan. Kamu butuh didengarkan. Aku tahu.

Baik, baik. Kamu selalu menang. Seperti yang sudah kamu tahu, aku sudah sekuat tenaga untuk bertahan. bertahan. dan bertahan. Tetapi dia semakin jauh. jauh. jauh. Dan kamu tahu? Aku jatuh. jatuh. dan jatuh.

Rasanya?

Kamu masih ingin tanya bagaimana rasanya?!

Baiklah. Lanjutkan.

Semakin sering aku terjatuh, aku akan semakin gagah berdiri. Sebetulnya tidak. Aku hanya berpura-pura tegar. Setiap dia semakin jauh, keping hatiku tercecer di jalan saat menujunya. Tetapi keyakinan itu, untuknya, selalu jadi kekuatan untukku. Aku bangkit. Namun apa yang aku dapat? Setiap aku tegak, dia semakin jauh. Semakin jauh. Dan semakin jauh. Sedang aku? Semakin jatuh. Dalam. Semakin dalam. Semakin dalam. Semula, dia berjalan di sampingku. Meniti jalan yang terikat bersama, berdua. Namun, setiap kali aku terjatuh, dia selangkah lebi maju dari hadapanku. Setapak, dua tapak, tiga tapak, hingga dia berjalan di samping orang lain. Meninggalkanku? Ah tidak mungkin.

Kamu selalu begitu. Tidak yakin terhadap apa yang jelas-jelas nyata di hadapanmu.

Diam! Bukan begitu. Aku... Aku berusaha mengejar bayangannya. Berlari menembus mega. Bertahan, kau tahu. Dan aku tiba di persimpangan.

Masih ingin mengejar?

Untuknya? Tidak perlu kamu tanyakan. Iya. Selalu.

Masih sanggupkah kamu berlari?

Berlari? Iya. Aku sanggup. Aku akan mengejar ketertinggalanku.

Tidakkah kamu lelah mengejar?

Lelah? Sedikit. Aku akan tetap menyusulnya. Itu bukan rintangan, kau tahu?

Hmm.. Sebegitu berartikah dia?

Sangat berarti bagiku. Dia adalah mataku ketika kegelapan menggerogoti. Dialah yang terpenting. Tidak ada yang lain.

Jika memang begitu, pertanyaannya adalah..

Sebegitu tidak berartikah kamu untuknya sehingga dia lari darimu?

Sebegitu tidak diabaikannya kamu sehingga dia tidak rela menunggu?

Sebegitu tidak berhargakah kamu sehingga dia enggan mengambil kepingan hatimu yang pecah berserakan?

Dan sebegitu tidak lelahkah dia untuk pergi jauh darimu, hingga enggan bersamamu?

Jawab pertanyaan itu!

Aku tidak bisa menjawab. Bukan urusanmu!

Selalu. Kamu selalu begitu. Kamu harus tahu. Kadang banyak hal yang memang semestinya direlakan. Kamu terlalu berharga untuk mengejar. Lepaskan! Relakan! Jika kamu tidak ingin melakukannya untuk dirimu, setidaknya untukku?

Aku tidak mau. Aku akan bertahan. Kamu siapa berani memerintahku?

Sudahlah. Kamu akan tahu.

***

Semenjak saat itu aku terus berlari, bertahan mengejar bayangnya. Hingga aku lihat tembok besar dengan semen keabuan yang masih basah. Aku tahu, dia yang membangunnya. Dan di tembok itu, tertulis tiga kata bercat merah muda :

"MASIHKAH KAMU MAMPU?"

Dan aku meragu..




Minggu, 05 Februari 2012

Ketika Banjir Menghadang :D
"Namanya juga manusia. Yang dia punya hanya kenangan."

Mau repost catetan FB. Pengalaman yang gak pernah saya lupakan. :D

***


Jumat, 22 April 2011

Pagi yang indah. Ya, memang indah. Pagi hari ini, semua beban seakan terlepas karena Ujian Nasional sudah selesai. Bagiku, aku ingin menikmati hari ini. Pikirku, aku ingin menikmatinya dengan bersenang-senang sesuai dengan rencana yang kubuat. Namun, ya apa mau dikata. Keadaan mengharuskan aku untuk memntingkan kepentingan sekolah. Nari. 

Pagi, aku bangun. Setelah semalam berkutat dengan otak malasku, pagi ini aku rasakan segar merasuk tubuh. Aku senang. Ya, aku senang.

Agenda yang kususun adalah pergi latihan nari, trus malamnya pergi dengan orang tuaku untuk membeli perlengkapanku dan adikku. Sebelumnya sudah terbayang betapa senangnya hari ini.

Namun, moodku berubah karena ada sesuatu yang bermasalah. dan tampaknya saya akan skip tentang ini. Pokoknya, ya seperti itulah. 

Kejadian pertama yang membuat hari ini berbeda. Semua terlihat normal saat aku bergegas pulang dari rumah Fatty Maulidira. Aku seperti biasa mengendarai si biru, motorku. Sementara kedua temanku, Akram dan Ramdani mengendarai motor milik Akram. #halah dak penting ! :p

Nah, situasi abnormal saat hampir tiba di simpang 3 pasar sekip. Sebuah motor matic biru dengan cepat menyalip motorku. Untuk kejadian biasa sih itu wajar, tapi ini tidak wajar karena di depan aku terjadi ya sedikit kemacetan. Ntah orang tersebut tidak tahu atau pura2 tidak tahu, dia tetap melajukan kendaraannya dengan sangat cepat dan tiba-tiba ''BRAAAKK'' tepat depan mataku, hanya berjarak kurang dari satu meter, motor biru jatuh. Ramdani yang berada di depan motor tersebut melihatku, sementara aku langsung mengerem mendadak, menjaga motorku agar seimbang. Ntah, perasaanku campur aduk. Antara bahagia krna selamat dari kecelakaan tersebut, cemas, dan semuanya. Dengan perasaan dag-dig-dug aku yang melihat kejadian itu tertegun. Setelah beberapa detik, aku sadar dan menjalankan kembali motorku. Di depan, Akram dan Ramdani menungguku. Aku yang masih shock hanya bisa berujar, "Alhamdulillah". Aku tidak tahu lagi nasib orang yang jatuh tersebut, namun seketika dari sampingku, ku lihat motor biru itu kembali melaju. Dan kau tahu, tetap dengan kecepatan yang tinggi. Hah, tidak belajar dari kesalahan sebelumnya. -,-

---------------------------------

Huh. Setelah menanggalkan semua pikiranku tentang kejadian tadi siang, aku bergegas untuk pergi. Ya, waktu menunjukkan pukul 18.00. Namun, tampaknya alam berkata lain. Kulihat, kilatan petir menari-nari diiringi musik yang didengungkan hujan rintik. Keadaan itu memaksa papaku untuk membatalkan rencana malam itu. Kecewa memang. Namun, apa mau dikata. Tetapi, tanteku kemudian memaksa kami untuk tetap pergi. Dan akhirnya setelah berdebat panjang, kami memutuskan untuk pergi. 

Senang. Ya, memang sangat senang. Kami makan di restoran cepat saji di sebuah mall terkemuka di Palembang. Setelah puas menyantap hidangan, mama mengajak saya dan adik saya membeli sepatu, baju, dan jaket. Tak ku pedulikan lagi alam yang tadi menggangguku. Yang aku ingin, malam ini aku mengambil timbal balik waktuku yang kuhabiskan saat ujian waktu itu.

Tapi, aku salah. Aku tak menyangka bahwa diluar hujan sudah jatuh dengan deras. Waktu saat itu menunjukkan pukul 21.20. Aku pun bergegas mengajak semuanya untuk pulang. Lalu, diputuskan, mama dan adik perempuanku serta tante dan sepupuku menyewa taksi. Oom ku tetap menemani mereka. Aku dan adikku pulang. Ya, itu keputusan terbaik menurutku. 

Setelah berbincang mengenai rencana itu, aku dan adikku langsung menuju tempat parkiran. Ternyata hujan turun lebih lebat dari perkiraanku. Aku tidak bisa beranjak karena aku tidak ingin mengambil resiko. Seketika itu, mamaku menelpon adikku untuk kembali ke atas. Ya, kami pun menuju ke sana. Rupanya mama tidak tega membiarkanku dan adikku pulang saat itu karna cuaca yang tidak mendukung. Jadilah, aku menunggu sebentar hingga speaker (?) dari mall tersebut berbicara "Pengunjung yang terhormat. P*C mall hanya akan melayani anda dalam waktu 30 menit lagi. Terima Kasih" haduh. Saat itu saya merasa jengkel, tidak tahu apa kalau lagi hujan deras. -,- saya pun meyakinkan mama untuk tetap pulang. Dan akhirnya kami kembali ke parkiran.

Di parkiran, tetap kami tidak dapat berbuat apa-apa. Hujan terlalu sadis menyiksa kami. Kami hanya terduduk di sebuah pilar, melihat motor kami bermain riang bersama rintikan hujan. Rupanya, cukup banyak orang yang berteduh disitu. Salah satunya adalah seorang pemuda, sebut saja kumbang, juga menunggu reda hujan. 

Waktu menunjukkan pukul 21.55, ketika si kumbang berbicara, "Jam 10 malem nanti, parkiran ini sudah sepi, nanti lampunya dimatiin" aku hanya menjawab, "Iya, tadi aja orang di atas diusir lewat speaker" lalu, perbincangan aku dan si kumbang terus berlanjut hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang walau hujan tetap tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Si kumbang menerobos parkiran dan dia pun berlalu.

Aku dan adikku tetap berada pada posisi yang sama hingga kami memutuskan untuk menerobos hujan seperti yang dilakukan kumbang. Sebelumnya, aku melihat sepasang muda-mudi - anggap saja Bang Kai dan Mawar - sibuk berbincang. Si Mawar menyuruh si Bang kai untuk membeli jas hujan di samping mall tersebut. Lalu, tampaknya si Bang Kai takut hujan. Dia lalu bersiul memanggil tukang ojek payung. Tapi, logika saja. Mana kedengeran -,-

Si Bang Kai lalu menyerah dan pergi menembus hujan ke toko tersebut. Saat dia pergi, aku dan adikku juga bersiap. Hingga aku, adikku, dan mawar berada pada satu barisan, dia berujar, "Mau kemana?" Aku jawab, "Pulang" "Kan masih hujan, beli aja jas hujan kayak pacarku disana itu" namun belum sempat aku jawab, adikku berujar, "Kami ga punya uang, mbak" GUBRAK ! Jujur banget adikku ini. Memang, pikirku aku tidak membawa uang karena unang berada di tangan mama. Haha. Daripada malu, kami pun menuju motor kami dan dengan tekad yang kuat, hanya satu tujuan kami. RUMAH.

Tak kusangka, perjalanan menuju rumah sangat berliku. Awalnya, aku dan adikku mengambil motor di parkiran dan menuju pintu gerbang di dekat RSS. Setelah keluar dari sana, astagfirullah. Jalanan banjir setinggi lutut. Aku, yang mengendarai sco*py takut dan cemas. Aku juga memikirkan nasib adikku yang membawa motor sendiri. Di tengah kebingunganku, ada seorang bapak-bapak berjas hujan kuning, -sebut saja Pak Ku- Pak Ku ini kemudian menceritakan keadaan jalan saat itu. Jadilah aku makin bimbang. Aku ingin menelpon orang tuaku, tapi penyakitnya, pulsaku habis. Jadilah, aku hanya terdiam dengan adikku tanpa berani masuk ke jalanan. Pak Ku bercerita bahwa banjir sangat besar. Mustahil motor dapat lewat. Ya, aku pun melihat banyak motor jadi korban, tidak bisa hidup (re : mogok). Bahkan mobil pun ada ! Keadaan itu terus statis hingga waktu menunjukkan pukul 22.30. Papaku kemudian menelepon dan mengatakan bahwa aku dan adikku harus menembus banjir saat itu. 

Berbekal pengarahan dari orang tuaku, perlahan aku melajukan motorku. Adikku berada di belakangku. Perlahan-lahan terus melaju. Hingga akhirnya, alhamdulillah, aku selamat. Adikku juga. Kami tidak mogok. Yeeee. kegembiraanku itu ternyata terlalu dini. Ku lihat genangan air kembali ada dan ini lebih tinggi. Berbekal rasa percaya diri karena telah berhasil melewati yang pertama, ku pacu motorku. Adikku tetap berada di belakang. Satu meter, dua meter tidak terjadi apa-apa. Tiga meter, gas yang ku pacu melemah. Empat meter, motorku mati. Gawat ! Aku menoleh ke belakang, motor adikku masih hidup. Ku suruh dia melaju duluan ke tempat tidak ada genangan air. Motorku lalu ku matikan mesinnya, aku turun dan... ya mendorongnya. Sekuat tenaga aku mendorongnya dan pertengahan saat aku mendorong, sandal yang ku pakai putus talinya. Aku yang tidak ingin terganggu, melepaskan saja sandal itu. Huhhh. Padahal sandal itu kenang-kenangan dari Jogja. -,- Aku pun kembali mendorong motorku hingga aku berhasil. Namun, masalahnya, bagaimana aku bisa menghidupkan motor ini? -,-

Pada akhirnya, ada seorang bapak -anggap saja Mbah Ik- memberikan aku tips-tips untuk menghidupkan kembali. Setelah itu, aku melakukan sama seperti yang disuruhnya dan akhirnya... HIDUP ! Motorku hidup. TERIMA KASIH MBAH IK ! TERIMA KASIH ! :'D

Setelah hidup, aku dan adikku bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Ya, kau tahu, aku tidak lagi menggunakan sendal. Aku, bertelanjang kaki. Malu sih nggak. Yang penting pulang. :p lalu, Aku telah mengambil rute untuk lewat Sapta Marga, terus tembus ke Leki Pali. Namun, tidak semudah diatas kertas.

Pertengahan jalan sapta marga kami dihadang banjir. Setelah mendengar bahwa tidak terlalu dalam, kami pun maju. Dan tepat di 2 persimpangan, kami bingung. Kata bapak-bapak disitu, jika kami lurus, banjirnya sepinggang. Jika kami belok, banjirnya selutut, namun akan terjebak banjir 2 kali lagi. Kami bingung. Aku bingung. Aku kira penderitaanku berhenti sampai disana. Ternyata...

Dalam kebingunganku tersebut, terdapatlah seorang kakek-kakek yang mengenakan peci berwarna putih. Kakek tersebut -sebut saja Kek Ki- mengatakan kepada pengendara di depanku untuk mengambil jalan memutar. Aku yang mendengar itu lantas bertanya, lewat mana. Kata Kek Ki kami diharuskan lewat jalan disamping masjid. Aku yang tidak tahu jalan hanya mengikuti pengendara di depanku. Dan ternyata aku dan adikku melewati lagi banjir yang tadi telah kami lewati. Tak apalah, pikirku. Yang pasti aku ingin pulang cepat ke rumah. Namun, setelah lumayan jauh aku ikuti motor di depanku, aku baru sadar bahwa itu bukan pengendara yang diberikan jalan oleh Kek Ki. Aku pun kembali galau. Dan dalam kegalauanku, aku memutuskan untuk kembali ke tempat tadi. Dan, kau tahu, aku harus kembali melewati banjir tadi. -,-

Setelah kembali ke tempat semula, aku menunggu keputusan pengendara motor lain. Dan dari situ aku melihat pengendara yang sama nasibnya denganku -Kak Ku- Dia belum pulang ke rumah sejak hujan lebat tadi. Jadilah, aku dan dia berbincang dengannya kemana jalan terbaik untuk pulang. Di tengah perbincangan kami, salah satu warga sekitar menyuruh kami untuk melewati saja banjir tersebut karena tidak terlalu dalam. Lama berpikir dan melihat adikku yang sudah sangat kedinginan, aku menerima usul tersebut. Perlahan aku mulai melajukan motorku. Tepat di tengah genangan air, aku lihat ada kilau sinar berulang kali mengarah padaku dan pengendara lainnya. Dan kau tahu, cahaya itu berasal dari sebuah kamera. Sayup-sayup aku dengar, WARTAWAN DATANG MELIPUT ! haduh sempat-sempatnya, pikirku. Jadilah aku tetap melajukan kendaraanku hingga batas akhir genangan tersebut.

Setelah melewatinya, aku merasa lega, karena memang jarak rumahku tidak jauh lagi. Aku dan adikku lalu melaju lurus ke depan. Dan kau tahu, kami berhenti. Apa yang menghadang kami? Ya, banjir lagi !

Melihat itu, aku terdiam sejenak. Dan kemudian aku ingat jalan rumah teman-temanku. Aku ambil jalan memutar, dan aku menuju rumah temanku. Pertama rumah Sulistiani, aku lewat situ, kedua rumah Meiza Pratiwi. Lewat lorong kecil di depan rumahnya, aku pun langsung menuju lekipali. Dan ternyata di leki pali tidak banjir. Aku bersyukur. Perjalananku dan adikku ternyata lancar setelah itu dan akhirnya kami bisa mencapai rumah pukul +- 00.00. :)