Partitur Sumbang


Dentingan piano itu mengalun indah lalu masuk ke telingaku. Perlahan aku terbangun.  Dimana aku, tanyaku pada nurani. Aku melihat sekeliling. Di ruangan bercat putih itu terdapat meja-meja yang melingkar bewarna merah dikelilingi dengan kursi berwarna senada. Di atas meja-meja itu aku melihat bunga mawar putih, kesukaanku, merekah indah dibalut dengan vas kristal putih yang mengkilap diterpa lampu ruangan. Aku takjub, keindahan seperti ini yang selama ini aku inginkan. 

Alunan piano itu semakin kencang terdengar. Aku sibuk mencari-cari darimana suara indah itu berasal. Aku terpaku, diam tak bergerak. Aku mendapati sosok itu, pria yang selama ini... aku rindukan. Dia bermain piano dalam balutan jas hitam yang sangat berbeda, menurutku. Selama ini, yang aku tahu, dia tidak pernah serapi itu. Bahkan untuk pesta prom dahulu, 2 tahun lalu, dia hanya mengenakan kaus oblong dengan jeans yang penuh dengan sobekan tidak beraturan. Berbeda, semakin mempesona, aku kagum. Perlahan aku duduk sambil tersenyum, menikmati senandungnya saat itu. Irama yang dimainkannya yang semula pelan lalu berangsur semakin cepat. Cepat. Semakin cepat. Semakin cepat. Lalu berhenti di sebuah partitur sumbang. Dia berdiri. Aku pun ikut beranjak dari tempat dudukku. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum. Benarkah dia.. tersenyum? kataku tidak yakin. Lalu dia membuang mukanya dan berjalan menjauh ke arah belakang panggung itu.

"Tunggu.." perintahku.

Dia berhenti. Hanya berhenti tanpa menoleh lagi.

"Mainkan lagi.." mohonku padanya.

Dia menggeleng. 

"Jadi, kamu hanya bisa sampai di sini? Tidak ingin "bermain" lagi?"

"Tidak." ucapnya pendek.

"Mengapa?"

"Bukankah percuma? Memainkan melodinya pun, seberapa sering aku mengulang, akan selalu sumbang di satu bagian itu. Selalu."

"Dimana?" tanyaku penasaran.

"Di bagian akhirnya. Aku sudah lelah meraba-raba bagian akhir lagu ini, lagu kita." jawabnya datar.

"Bukankah kamu pemusik hebat? Hal seperti ini pasti.. mudah. Kamu hanya cukup kembali, improvisasi lagunya, dan temukan akhir yang pas. Bukan begitu?"

"Tidak. Aku tidak bisa."

"Kenapa? Kamu tidak ingin berusaha? Membiarkan terus seperti itu?"

"Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa merusak nada-nada itu. Nada-nada itu sudah jadi milik orang lain."

"Kau tidak akan merusaknya. Kembalilah."

"Benarkah itu yang ada di dalam hatimu?" tanyamu murung.

"Ya, aku memintamu kembali." jawabku mantap.

Seseorang mengetuk pintu bewarna hitam di belakangku. Aku lihat seorang pria berjalan dengan langkah tegap menghampiriku. Aku kenal dia, seseorang yang sudah satu tahun ini bersamaku, ya sejak tidak ada kamu. 

"Benarkah? Benarkah? Benarkah?" ulangmu penuh ragu memecah keheninganku.

Aku ragu. Aku menoleh ke samping, mendapati pria yang tadi datang tersenyum. Dia seolah.. memberikanku kebebasan untuk memilih. Aku bergeming, tak bergerak. Bingung melanda. Dua-duanya penting, pikirku. Hanya satu pembeda, satu orang dari masa lalu, sementara yang lain siap mantap ke masa depan. Galau.

Aku menarik nafas dalam. Dan dengan mantap aku berujar, "Jangan kembali lagi. Aku sudah mempunyai kehidupan di sini."

"Hah. Sudah ku duga. Lagu ini tidak akan pernah selesai." Dan kamu meninggalkan pijakan tempatmu berdiri. 

Aku hanya bisa terpaku. Tidak tahu apa yang telah aku perbuat. Aku menyakiti hatinya. Aku menyakiti perasaannya. Pikiran itu terus menyeruak. Badanku lemas, seperti kehilangan keseimbangan. Dan aku jatuh, di lantai keramik berwarna merah.

***

Aku terbangun dari tidur lelapku. Rasa hangat menyelimuti dari sebuah jaket usang berwarna keabuan. Aku menangis. Mengapa? Mengapa di saat aku sudah berjalan sendirian justru kau kembali datang? Membawa sebuah senyuman, membawa kata-kata penuh harapan? Mengapa? Mengapa kau hadir di saat aku sudah memiliki sebuah pilihan? Dan aku harus memilih. Aku akan tetap tegak berdiri di atas pendirianku. Bagiku kamu hanya masa lalu.

Mengapa? 
Mengapa kamu datang justru pada saat yang tidak tepat?
Mengapa... Kamu datang terlambat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar