[Review] Hibiscus - Agnes Arina

Judul Buku       : Hibiscus; samaran, misteri, dan balas dendam
Penulis            : Agnes Arina
Penerbit          : Bentang Pustaka
Cetakan          : Pertama
Tebal Buku      : 252 hlm
Tanggal Terbit  : Oktober 2013
ISBN               : 978-602-7888-87-6

Blurb :
Bali gempar. Pierre Villeneuve, wisatawan asal Perancis, ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel mewah. Tangannya menggenggam bunga sepatu dan tak ada yang bisa memecahkan arti dari bunga itu.

Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata, adalah pemandu yang mengantar Pierre dan keluarganya keliling Bali pada hari naas itu. Bagas gusar. Rasa keadilannya terpancing.

Kini yang bergerak bukan Bagas si pemandu wisata, tapi Detektif Bagaskara. Meski dengan mempertaruhkan misi dan samarannya, dia bertekad mengungkap kasus pembunuhan ini sampai tuntas. Semakin dia menyelidik, semakin dia menemukan banyak korban lain.

Dia kini harus mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari si pembunuh sebelum jatuh korban berikutnya. Bagas sadar kini dia dikejar oleh waktu, tanggung jawab dan kematian.


Angin segar! Buku ini seumpama mata air bagi pecinta serial detektif. Akhirnya ada penulis Indonesia yang membuat novel detektif seperti ini. 

Hibiscus adalah sebuah novel yang bercerita tentang sebuah kasus pembunuhan seorang wartawan asal Perancis. Kita akan dikenalkan dengan sosok Bagaskara, seorang detektif Indonesia yang tengah menyamar untuk mengusut kasus pencurian kayu. Tapi, sayang, turis yang ditanganinya ditemukan meninggal.

Membaca buku ini pada bab-bab awal layaknya cerita detektif sungguhan. Kita akan dibawa menyelami latar belakang masing-masing tokoh, konfliknya dengan korban, dan pada akhirnya hal itu yang akan memunculkan motif. Kita juga akan mengenal sosok Bagaskara, sang pemandu wisata. Kita seolah dihadapkan dengan segerombol pedagang ikan dengan dagangannya masing-masing. Tokoh-tokoh dengan kepentingan masing-masing.

Memasuki sepertiga bagian novel, saat kasus terjadi, kita akan dibawa menebak siapa pelakunya. Menurutku, penulis cukup berhasil memainkan logika pembaca. Penulis mampu mengarahkan siapa yang menjadi seolah-olah pelakunya. 

Namun sayang, ending yang disajikan dalam novel ini melempem. Aku menantikan sebuah akhir yang sangat luar biasa, apalagi menilai dari banyaknya tertuduh pelaku pembunuhan. Tetapi, semua hal itu tidak kudapatkan. Malah, proses penangkapan, motif pelaku sesungguhnya, kurang kuat menurutku. Hal ini yang membuat cerita ini hanya ada di tahap, "Oh. Gitu."

Hibiscus dalam novel ini juga tidak terlalu dominan. Bahkan cenderung terlupakan. Aku berharap bahwa Hibiscus akan menjadi satu pesan penting untuk kasus pembunuhan. Tapi, nyatanya, Hibiscus hanya sekadar pemanis belaka.

Terlepas dari itu, aku senang. Unsur lokalitas dari novel ini begitu kental. Lagipula, jarang penulis menulis tentang cerita detektif semacam ini. Sangat direkomendasikan untuk dibaca, apalagi untuk orang-orang yang sangat suka cerita detektif. Baca dan silakan menebak sendiri pelakunya! Cheers! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar