Senin, 29 Desember 2014

[Blogtour] #3CeritaCinta - Bunuh Diri Paling Parah

Pernahkah kau membunuh dirimu sendiri saat sedang jatuh cinta? 

Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Kau mungkin lebih sering mendengar tentang orang-orang yang patah hati dan memutuskan untuk bunuh diri. Tapi jatuh cinta? Pernahkah kau mendengarnya? Pernahkah kau mengalaminya?
 
Jika kau tanyakan padaku tentang pertanyaan itu, aku akan menjawabmu dengan satu jawaban tegas: pernah. Bahkan mungkin setiap kali aku memutuskan untuk jatuh cinta, setiap kali juga aku siap untuk membunuh diriku sendiri. Dan tentu saja, aku berani bertaruh, kau pernah mengalaminya—bunuh diri itu. Entah sadar atau tidak. Entah kau anggap atau tidak.
 
Bunuh diriku yang paling parah terjadi baru-baru ini. Tentang seorang gadis yang memiliki tawa seriang lonceng angin. Kenangan itu menyeruak seperti aroma tanah setelah dibuahi hujan. Gadis itu, orang yang membuatku jatuh cinta untuk kali pertama. Aku jatuh cinta dari caranya memandangku, gayanya saat berbicara padaku, bahkan saat tawa riangnya mengalir bak sakura musim semi. Akan tetapi, satu hal yang kusesali, ia belum sempat kumiliki karena telah menjadi milik yang lain.
 
Aku bertemu dengannya saat hari pertama masuk kuliah.Dan semenjak hari itu, aku dan dia menjadi dekat. Kami sering berbagi. Apapun itu. Makanan, sontekkan, tawa, atau kesedihan--kalau ini dia yang lebih sering. Bahkan orang-orang di sekitar kami pun melihat kami sudah sangat dekat.
 
Aku ingat, suatu hari, ia pernah menanyakan sesuatu padaku. Hari itu, hari yang biasa. Kami duduk berdua di sudut kelas.

“Bagaimana rasanya jatuh cinta?” ia bertanya.
 
Saat itu, aku hanya menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung. Asal kau tahu, dadaku sudah bergemuruh sejak ia mengeluarkan kata-kata.
 
“Tampaknya aku sedang jatuh cinta,” ucapnya lagi. Kali ini ia memandangiku lekat dengan manik mata yang berbinar.
 
Sungguh, aku gugup bukan kepalang. “Jatuh cinta, ya?” tanyaku balik sembari menenangkan debaran jantung yang semakin lama semakin memburu. “Rasanya seperti dunia milik berdua.”
 
Klise. Tapi begitulah yang kurasakan. Saat bersamanya, aku tak butuh apa-apa lagi. Aku tak butuh siapa-siapa lagi.
 
Aku mengembuskan napasku cepat. “Ngomong-ngomong, dengan siapa kau jatuh cinta?” tanyaku lagi. Penasaran dan ingin tahu. Aku?
 
“Yang jelas bukan denganmu,” ia menukas lalu tertawa kembali. Jantungku mendadak berhenti. Tawa loncengnya tak terdengar lagi.
 
Aku mati. Bunuh diri karena mencintai. Patah hati. Sesederhana itu.
 
Dan bagaimana rasanya patah hati? Bagiku, rasanya seperti tenggelam ke dalam lautan yang dalam, yang entah seberapa dalam dasarnya. Rasanya sakit, sesak, kehabisan napas. Seperti bunuh diri, bukan? Mungkin. Akan tetapi, ajaibnya, saat telah sampai di dasar, kita masih dapat selamat dan memutuskan kembali berenang di lautan,
 
Karena, setiap yang jatuh cinta pasti akan merasakan hati yang patah. Cepat atau lambat. Jatuh cinta tak ubahnya seperti permainan waktu tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Pertemuan dan perpisahan. Semua itu berujung pada satu hal pasti: patah hati.

Pernahkah kau sadar bahwa saat sedang jatuh cinta, kau telah membuka hati  luas-luas untuk luka? Luka-luka yang menjelma wujud tentang rindu menjadi sendu. Tentang kesenangan berubah jadi kenangan. Atau tentang setia yang berujung penantian. Tentang perubahan. Tentang penyesalan.
 
Tiga hari lalu, aku membaca buku terbaru Bara ‘Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.” Di dalam buku ini, aku merasakan aroma yang familier dengan kisahku tentang patah hati. Buku ini membuat kita melihat bagaimana cinta dapat membunuhmu pelan-pelan. Bagaimana rasa yang kau anggap penuh warna ternyata bermuara kepada satu warna hitam yang pekat: patah hati. Bagaimana rasa itu menggerogotimu lalu kau akan berpikir semua hal yang kau lakukan ternyata sia-sia belaka. 

 
Bara meramu cerita-cerita yang membicarakan soal cinta namun tidak seindah yang kau bayangkan. Kau akan lihat saat ketika kita jatuh cinta, kita akan membunuh identitas kita sendiri. Sang malaikat yang membunuh dirinya untuk menjadi manusia. Perempuan-perempuan patah hati yang lebih memilih jadi meriam di pinggir sungai atau  pohon di pinggir jalan. Bara menuliskannya dengan analogi yang seolah-olah bicara bahwa ‘jika kau sudah jatuh cinta, bersiaplah, kapan pun waktunya, kau akan tetap berujung dengan membunuh dirimu sendiri karena patah hati’. Tentu bunuh diri di sini adalah analogi yang menegaskan bahwa tak selamanya jatuh cinta itu manis. Pasti ada pahit. 

Ketika menutup buku itu, saat itulah aku sadar. Ketika aku mencintai, aku harus siap untuk patah hati.

Jadi, pertanyaannya adalah:

Masih beranikah aku—dan kau—jatuh cinta?

***
Kau sudah tahu rasanya patah hati bagiku. Sekarang, menurutmu, bagaimana rasanya patah hati?

Tulis di kolom komentar beserta akun twitter kalian. Dan akan ada satu eksemplar buku terbaru Bara ‘Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri’ untuk kalian bagi yang beruntung.

Jawaban paling lama ditunggu hingga pukul 21.00. Selamat #BunuhDiri.

***

 *diikutkan dalam #Blogtour #3CeritaCinta Gagasmedia 


Rabu, 17 Desember 2014

[Cerpen] Cinta yang Salah
  CINTA YANG SALAH
Rafandha

“Ini adalah kue gemblong. Bukan kue getas.”
“Rendi, ini kue getas. Sepanjang yang kutahu, dan sepanjang hidupku, nama kue itu tidak pernah berubah. GETAS.”
Aku melihat Rana menggembungkan pipinya lalu meniup kue—yang masih kami perdebatkan namanya itu—di tangannya. Sudahkah kukatakan bahwa ia tampak lucu dan menggemaskan ketika melakukan itu?
“Dulu, Ibu sering membuat ini saat aku masih kecil. Ini dari tepung terigu, kan?”
Aku mengangguk lalu menyambar cepat kue yang telah dingin itu dari tangannya. Ia menatapku dengan tatapan—apa—yang—sedang—kaulakukan tapi kubalas dengan cengiran kuda.
Ia mengambil lagi kue yang ada di meja lalu menjauhkan sedikit tempat duduknya dariku. “Tetapi, setahuku kue getas itu dibalur gula pasir, bukan gula merah.”
Aku menoyor kepalanya cepat. “Sudah kubilang, kan, ini adalah kue gemblong. Di Jakarta memang begini bentuknya,” ucapku.
“Tapi, apapun jenis gulanya, ini kue yang sama, kok. Bentuknya sama, bahannya juga sama,” ujarnya tak memedulikan perkataanku, “sama seperti cinta, bukan?” lanjutnya lalu mengerling ke arahku.
Aku terkesiap. Debaran di dadaku kembali datang tanpa permisi.
“Cinta yang benar dan cinta yang salah bagaimanapun ia tetap dalam wadah yang sama: cinta,” jelasnya lagi.
Aku mengambil teh hangat yang tersaji di meja lalu menyesap dalam. Debaran itu masih saja terus ada. Kulihat matanya menerawang ke langit-langit kota Jakarta yang samar karena kabut asap. Saat ini, kami berdua duduk di pinggiran jalan—sesuatu yang sering kami lakukan sewaktu kuliah. Dan tadi pagi, ia meneleponku untuk melakukan hal yang sama lagi.
“Tak ada namanya cinta yang benar dan cinta yang salah,” sahutku. Ia lalu beralih menatapku. Kedua mata kami bertemu.
“Maksudmu?”
Aku mengangkat bahu lalu menaruh kembali cangkir teh yang berada di tanganku ke meja. “Menurutku, yang ada hanya cara mencintainya yang benar atau salah.”
Ia terdiam.
“Cinta itu tetaplah satu. Hanya saja terkadang setiap individu yang melabelkannya ini itu. Padahal, tujuan dari cinta bukankah harusnya membahagiakan?”
Ia kembali terdiam. Aku menghela napas. Deru kendaraan mengisi kekosongan di antara kami berdua.
“Kemarin, aku melihat ia datang kembali. Hmm. Anto?”
“Andre,” Rana menjawab cepat.
Aku tersenyum. “Ya, Andre. Saat itu kalian berdua ada di kafe, kan? Aku kebetulan berada di sana. Dan kau tahu kejadian selanjutnya,” ucapku.
Aku tak perlu menceritakan padanya terhadap apa yang aku lihat kemarin. Bagaimana laki-laki itu berteriak mempermalukan wanita itu di hadapan umum. Bagaimana tangan kasar laki-laki itu mendarat mulus di pipi Rana. Dan bagaimana Rana menangis namun aku tak bisa berbuat apa-apa.
Tubuhnya bergetar. “Tapi aku mencintainya, Ren. Cinta. Sangat cinta. Cinta yang salah, huh?” desahnya berat.
“Kau hanya merasa bahwa kau mencintainya, Rana. Jika kau benar mencintainya, maka kau mencintainya dengan cara yang salah. Itu bukan cinta. Membiarkannya menyakitimu—”
Aku geram. Tanganku mengepal. Ada sesak di dalam dada yang sedari tadi melesak ingin keluar.
“Aku harus apa?” tanyanya lagi. Ada isakan yang tertahan di sana.
“Lupakan ia. Cintai dengan cara yang benar. Kau tahu, apapun namanya, mau gemblong atau getas, semuanya itu ada untuk dinikmati,” ujarku lagi. Kali ini kuucapkan dengan nada serius agar ia mengerti.
Kulihat ia menyeka air mata yang turun perlahan dari sudut matanya.
“Berjanjilah, Rana. Berjanjilah padaku. Berjanjilah pada sahabatmu—” aku menelan ludah, “sahabatmu ini.”
Ia menaikkan kepalanya dan sekali lagi kedua mata kami bertemu. Dalam satu tarikan napas, ia berujar mantap, “Aku berjanji!”
Aku terkekeh geli melihat air mukanya. Masih saja menggemaskan.
“Sekarang, lupakan itu. Mari kembali makan!” sahutnya antusias lalu kembali mengambil kue itu.
Aku pun ikut-ikutan.
“Eh, Ren. Bagaimana cara mencintai yang benar?” tanyanya lagi sambil beralih menatapku.
Aku menghela napas lalu mengembuskannya. “Seperti caraku mencintaimu.”
*

Diikutkan dalam tantangan #RabuMenulis Gagasmedia.