Rabu, 17 Desember 2014

[Cerpen] Cinta yang Salah
  CINTA YANG SALAH
Rafandha

“Ini adalah kue gemblong. Bukan kue getas.”
“Rendi, ini kue getas. Sepanjang yang kutahu, dan sepanjang hidupku, nama kue itu tidak pernah berubah. GETAS.”
Aku melihat Rana menggembungkan pipinya lalu meniup kue—yang masih kami perdebatkan namanya itu—di tangannya. Sudahkah kukatakan bahwa ia tampak lucu dan menggemaskan ketika melakukan itu?
“Dulu, Ibu sering membuat ini saat aku masih kecil. Ini dari tepung terigu, kan?”
Aku mengangguk lalu menyambar cepat kue yang telah dingin itu dari tangannya. Ia menatapku dengan tatapan—apa—yang—sedang—kaulakukan tapi kubalas dengan cengiran kuda.
Ia mengambil lagi kue yang ada di meja lalu menjauhkan sedikit tempat duduknya dariku. “Tetapi, setahuku kue getas itu dibalur gula pasir, bukan gula merah.”
Aku menoyor kepalanya cepat. “Sudah kubilang, kan, ini adalah kue gemblong. Di Jakarta memang begini bentuknya,” ucapku.
“Tapi, apapun jenis gulanya, ini kue yang sama, kok. Bentuknya sama, bahannya juga sama,” ujarnya tak memedulikan perkataanku, “sama seperti cinta, bukan?” lanjutnya lalu mengerling ke arahku.
Aku terkesiap. Debaran di dadaku kembali datang tanpa permisi.
“Cinta yang benar dan cinta yang salah bagaimanapun ia tetap dalam wadah yang sama: cinta,” jelasnya lagi.
Aku mengambil teh hangat yang tersaji di meja lalu menyesap dalam. Debaran itu masih saja terus ada. Kulihat matanya menerawang ke langit-langit kota Jakarta yang samar karena kabut asap. Saat ini, kami berdua duduk di pinggiran jalan—sesuatu yang sering kami lakukan sewaktu kuliah. Dan tadi pagi, ia meneleponku untuk melakukan hal yang sama lagi.
“Tak ada namanya cinta yang benar dan cinta yang salah,” sahutku. Ia lalu beralih menatapku. Kedua mata kami bertemu.
“Maksudmu?”
Aku mengangkat bahu lalu menaruh kembali cangkir teh yang berada di tanganku ke meja. “Menurutku, yang ada hanya cara mencintainya yang benar atau salah.”
Ia terdiam.
“Cinta itu tetaplah satu. Hanya saja terkadang setiap individu yang melabelkannya ini itu. Padahal, tujuan dari cinta bukankah harusnya membahagiakan?”
Ia kembali terdiam. Aku menghela napas. Deru kendaraan mengisi kekosongan di antara kami berdua.
“Kemarin, aku melihat ia datang kembali. Hmm. Anto?”
“Andre,” Rana menjawab cepat.
Aku tersenyum. “Ya, Andre. Saat itu kalian berdua ada di kafe, kan? Aku kebetulan berada di sana. Dan kau tahu kejadian selanjutnya,” ucapku.
Aku tak perlu menceritakan padanya terhadap apa yang aku lihat kemarin. Bagaimana laki-laki itu berteriak mempermalukan wanita itu di hadapan umum. Bagaimana tangan kasar laki-laki itu mendarat mulus di pipi Rana. Dan bagaimana Rana menangis namun aku tak bisa berbuat apa-apa.
Tubuhnya bergetar. “Tapi aku mencintainya, Ren. Cinta. Sangat cinta. Cinta yang salah, huh?” desahnya berat.
“Kau hanya merasa bahwa kau mencintainya, Rana. Jika kau benar mencintainya, maka kau mencintainya dengan cara yang salah. Itu bukan cinta. Membiarkannya menyakitimu—”
Aku geram. Tanganku mengepal. Ada sesak di dalam dada yang sedari tadi melesak ingin keluar.
“Aku harus apa?” tanyanya lagi. Ada isakan yang tertahan di sana.
“Lupakan ia. Cintai dengan cara yang benar. Kau tahu, apapun namanya, mau gemblong atau getas, semuanya itu ada untuk dinikmati,” ujarku lagi. Kali ini kuucapkan dengan nada serius agar ia mengerti.
Kulihat ia menyeka air mata yang turun perlahan dari sudut matanya.
“Berjanjilah, Rana. Berjanjilah padaku. Berjanjilah pada sahabatmu—” aku menelan ludah, “sahabatmu ini.”
Ia menaikkan kepalanya dan sekali lagi kedua mata kami bertemu. Dalam satu tarikan napas, ia berujar mantap, “Aku berjanji!”
Aku terkekeh geli melihat air mukanya. Masih saja menggemaskan.
“Sekarang, lupakan itu. Mari kembali makan!” sahutnya antusias lalu kembali mengambil kue itu.
Aku pun ikut-ikutan.
“Eh, Ren. Bagaimana cara mencintai yang benar?” tanyanya lagi sambil beralih menatapku.
Aku menghela napas lalu mengembuskannya. “Seperti caraku mencintaimu.”
*

Diikutkan dalam tantangan #RabuMenulis Gagasmedia.

Senin, 15 Desember 2014

[Cerpen] Cecap Rasa - #GASHariIbu
CECAP
Rafandha

Ibu selalu bilang bahwa hidup tak ubahnya seperti sebungkus rujak yang biasa ia jual. Kadang, kita akan mengambil buah yang sangat asam. Tapi, setelahnya, kita akan mendapatkan buah yang manis dicecap. Begitu seterusnya sampai semuanya habis dimakan. Ibu percaya, hidup selalu akan ada dalam siklus yang seperti itu. Kadang sedih, kadang gembira. Akan tetapi, tetap saja nikmat untuk dijalani.
Aku masih ingat saat ibu bilang hal tersebut. Di suatu senja yang mendung, saat kami berdua duduk-duduk di teras dan mengupas kulit embem untuk ibu jualan esok paginya. Saat itu, aku—seorang gadis tujuh belas tahun—hanya bisa mengangkat alis lalu bertanya, “Jika Ibu mengibaratkan hidup seperti itu, kenapa nggak semuanya dibuat manis aja?”
Ibu berdeham. “Kadang, kita butuh rasa asam untuk menetralkan rasa di lidah.”
“Tapi, kalo manis semua kan jadinya enak? Gak perlu susah-susah mencecap suatu hal yang rasanya masam?”
Mendengarku berbicara seperti itu, ibu malah menarik ujung-ujung bibirnya lebar, tersenyum sedangkan aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal karena bingung.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” ujarnya sambil tetap tersenyum.
Aku pun membalas dengan anggukan.
Sementara, tanda tanya itu tetap ada di kepala.
*