Senin, 11 Desember 2017

SEHARI BERSAMA HIV/AIDS

Bagaimana jika seorang guru membalaskan dendamnya padamu dengan menyuntikkan darah suaminya yang terinfeksi HIV pada susu yang kau minum ketika awal kelas dimulai? Dan seiring penjelasan sang guru, kau akhirnya tahu kenyataannya. Apa yang kau rasakan?

Ini adalah kisah dari salah satu film favorit saya: Confession. Film asal negara sakura ini menjadi perwakilan Jepang dalam seleksi penghargaan Academy Awards beberapa tahun silam. Gabungan antara drama, thriller yang cantik, ditambah ketegangan sepajang film sukses menyihir saya ketika awal menonton. Namun, bukan itu yang ingin saya bahas sekarang, melainkan nasib salah satu tokohnya.




Diceritakan setelah meminum ‘susu HIV’ tersebut, Naoki berdiam diri saja di rumah. Semua salah di matanya. Ia tidak ingin mandi, makan, maupun melakukan kegiatan lain. Yang ia lakukan adalah mengurung diri. Ia tidak ingin apa yang ia lakukan bisa menulari orang tuanya. Miris bukan? Ibunya punsama. Melihat Naoki yang seperti itu, ia berusaha menghiburnya. Namun kelakuan Naoki membuat ia semakin merasa tertekan. Dan pada akhirnya...... tonton sendiri dong.

Nah, kenapa saya berbicara panjang lebar tentang film tersebut? Saya tiba-tiba teringat begitu saja ketika menghadiri acara workshop bloger #SayaBerani #SayaSehat yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan Senin (4/12) lalu di Hotel Exelton. Workshop ini digelar sebagai bagian dari perayaan hari AIDS sedunia setiap tanggal 1 Desember. Hari itu, saya sudah bersemangat datang pagi-pagi untuk ikut workshop. Lebih-lebih karena panitia bilang ada tes kesehatan gratis yang tersedia di sana.  

But anyway, setelah proses registrasi selesai, akhirnya acara dimulai kurang lebih pukul sembilan. Ada tiga pembicara utama Bapak  Indra Rizon, SKM M.Kes selaku Kepala Hubungan Media dan Lembaga Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Ibu dr. Endang Budi Hastuti selaku Kasubdit HIV AIDS dan PIMS Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung (PPML) Kemenkes RI, dan Bapak Feri Yanuar, SKM, MKes selaku Kabag P2P Dinkes Prov Sumsel, Feri Yanuar, SKM, MKes. Selain itu ada juga Mbak Ayu, seorang ODHA produktif yang membagi kisahnya.

PERILAKUMU PENYAKITMU?

Pada sesi pertama pemaparan dari Kemenkes RI, ada satu hal yang sangat digarisbawahi: banyak penyakit saat ini ada berdasarkan perilaku kita sendiri. Penyakit seperti jantung dan diabetes sangat mungkin menjangkiti tubuh kita karena gaya hidup kita yang tidak sehat. Bahkan, HIV/AIDS pun demikian. Saya pun tercengang ketika tahu ada 240.000-an kasus HIV yang ada di Indonesia yang artinya sekitar 40.000-an terjangkit HIV per tahun.



Pergeseran tren pola penyakit ini tentunya disadari pemerintah loh. Nah, untuk itulah pemerintah meluncurkan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Inti dari program ini sih untuk mengajak semua elemen bangsa meningkatkan kualitas hidup melalui tindakan-tindakan agar tercipta masyarakat yang memiliki gaya hidup yang lebih sehat.

Fokus Germas  (Sumber Kemenkes)

Cara melakukan hidup sehat itu cukup mudah seperti beraktivitas fisik, makan buah dan sayur (i tried but i’ll try again), dan yang paling penting: jangan takut untuk tes kesehatan minimal 6 bulan sekali! Dengan pemeriksaan berkala, penyakit yang menjangkiti bisa diketahui secara lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan semenjak dini. Sejujurnya sih gaya hidup saya memang nggak terlalu bagus. Ketika mendapatkan materi tentang ini, saya jadi banyak ‘sadar diri’. Semoga ke depannya bisa melaksanakannya. AAMIIN!

HIV/AIDS (BUKAN) MOMOK

Balik ke masalah HIV/AIDS, sesi kedua ini, workshop membahasnya lebih dalam. Ibu Endang menuturkan tentang virus ini kepada kami. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kasus HIV di Indonesia yang tercatat lebih dari 240.000 dan kebanyakan diidap oleh laki-laki. Bahkan, virus ini sudah mulai merajalela di kaum remaja, loh! Hal ini karena remaja masih cenderung rentan dengan emosinya, faktor keluarga, lingkungan yang nggak kondusif, bahkan juga perkembangan teknologi. Persis Naoki.



Namun yang berbeda, Ibu Endang bilang bahwa pengidap HIV bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Kita nggak bisa membedakan orang-orang dengan virus HIV dengan mata telanjang. Kita bisa hidup berdampingan dengan mereka. Dan asal kalian tahu, HIV juga nggak mudah menular loh. Cara penularannya terbatas! Hoax-hoax yang beredar di masyarakat selama ini seperti HIV menular lewat gigitan nyamuk, tusuk gigi, atau hal-hal remeh lainnya ternyata sama sekali nggak benar.


Penularan terbatas. (Sumber Kemenkes)



Ingat! (Sumber Kemenkes)


Dan satu lagi, HIV ADA OBATNYA! *pukpuk Naoki* Terapi ARV memungkinkan penderita HIV/AIDS memiliki jangka hidup yang lebih panjang bahkan produktif ASAL DIMINUM TERATUR. ARV menekan jumlah virus yang ada di dalam tubuh penderita sehingga mau nggak mau harus diminum selama ia hidup. Dan sampai saat ini, pemerntah masih menjamin penyediaan obat ARV loh. :_)

Saya jadi berpikir, jika Naoki dan ibunya dalam film Confession di atas tahu mengenai fakta-fakta ini, mungkin akhir dari ceritanya bakal berubah. HIV/AIDS bukanlah hal yang menakutkan seperti stigma masyarakat dulu. Bahkan, HIV kini ada obatnya!

Hidup dengan HIV?

Siapa bilang hidup dengan HIV adalah lonceng hukuman mati bagi penderitanya? Ternyata nggak kok. Saya menyaksikan sendiri Mbak Ayu, seorang aktivis sekaligus penderita HIV dapat menjalani hidupnya dengan amat sangat normal. Beliau mendapatkan virus itu dari almarhum suaminya beberapa tahun silam dan hingga saat ini, dengan pengobatan yang tepat, ia terlihat sehat tanpa kurang sedikitpun. Bahkan ia yang juga aktif menulis blog ini sudah menikah dengan seorang pria yang bukan pengidap HIV.

Kok bisa?

Seperti yang dibilang tadi, jika kita tahu lebih dalam tentang virus ini, semunya dapat diperhitungkan, kok. Mbak Ayu membuktikannya. Ia berbagi cerita bagaimana dulu ia tidak mengetahui apa-apa tentang HIV/AIDS, lalu hanya bisa mengurung diri seperti tokoh Naoki. Namun, ia tidak menyerah. Ia lalu bangkit dan hingga sekarang, voila... SHE’S ALRIGHT! Ia juga berbagi kisah bagaimana stigma masyarakat kadang membuatnya terluka. Tapi, ia lebih memilih untuk membalasnya dengan karya dan data. Hal yang sama pun dilakukan oleh ODHA lainnya, Mas Antonio Blanca. Bahkan kisah hidup Mas Antonio dibikin film sampai ke luar negeri! Hebat bukan?



Satu hari terasa amat singkat senin kemarin. Saya banyak sekali mendapat informasi-informasi baru. Paradigma-paradigma saya tentang HIV dulu terkikis oleh kebenaran-kebenaran baru. Jika dalam film Confession akhirnya cukup tragis, bukankah saatnya jika kita lebih sadar tentang HIV ini, akhir dari kisahnya bisa kita tentukan sendiri? #SayaBeraniSayaSehat




Latest
Next Post

post written by:

0 komentar: