Rabu, 13 November 2019

Seru! Cobain Liburan Bareng Pigijo di Yogyakarta!



Bagi yang telah mengikuti media sosialku, beberapa hari ke belakang, aku sibuk membagikan postingan kegiatanku ‘liburan’. Yap setelah terpilih jadi salah satu pemenang #IteneraryContest yang diadalkan oleh travel agen daring Pigijo, akhirnya aku dapat menyambangi kampung halamanku: Yogyakarta.

Seperti yang kubilang sebelumnya, Yogyakarta adalah sebuah tempat yang memiliki ruang tersendiri di hatiku. Sedari kecil, aku sering sekali mudik ke daerah ini sebab kakek dan nenek tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Ya, meski di Jawa Tengah, namun tetap liburannya lebih dekat ke Yogyakarta. Jadilah, ketika tahu aku akan singgah kembali ke sini, hatiku langsung girang.

Hal pertama yang kulakukan tentu menyusun jadwal. Aku memutuskan untuk hinggap di daerah ini hanya selama tiga hari. Pertimbangan kesibukanku ditambah hal lain mempengaruhi durasiku menetap. Dan kurasa tiga hari adalah waktu yang cukup untuk melakukan itu semua. Namun, di sinilah pertanyaannya muncul: mau ke mana? Tentu tempat wajib seperti Candi Borobudur pasti kukunjungi mengingat setiap kali ke Yogyakarta pasti tempat itu kusinggahi. Namun, selebihnya aku tidak ada pikiran apapun. Ini adalah kali pertama aku merasakan ‘liburan mendadak’ ditambah kali kedua ‘liburan sendirian’.

Dan akhirnya, aku pun memutuskan untuk menyewa seorang travel assistant dari Pigijo. Plus rental mobil. Dua opsi ini kupilih mengingat waktuku yang singkat di Yogyakarta dan kemudahan akses ke manapun  yang aku mau. Jadilah, di aplikasi Pigijo, banyak pilihan TA yang mumpuni. Setelah lama memilih, pilihanku jatuh ke Mas Ghaufar. Kami pun dihubungkan oleh Pigijo lalu bertukar sapa lewat media tukar pesan. Dan kamipun akhirnya sepakat untuk bertemu di bandara.

Jika hari pertama aku hanya ingin mengunjungi Candi Borobudur dan tempat hits di sekitaran Magelang, hari kedua aku lebih memilih untuk mengambil paket langsung dari Pigijo. Ya One Day Tour Yogyakarta ke Prambanan, Lava Tour, dan Museum Ulen Sentuni kupilih sebab aku sama sekali belum pernah mengunjungi ketiganya. Eh, Prambanan pernah dulu sewaktu ramai. Jadilah hari kedua aku tidak ingin bersusah payah sebab semua sudah ditanggung oleh paket tur termasuk tiket masuk obyek wisata, makan dua kali, hingga tur guide dan transportasi. Mudah bukan?


BIKIN JANTUNGAN

Pesawatku terbang dari Palembang pukul 8.20. Dan menurut perkiraan pilot, pesawat kami akan tiba pukul 9.50 dengan waktu tempuh satu setengah jam. Dan sesuai jadwal itu, aku dan TA-ku sudah menyusun jadwal ingin ke mana saja. Namun, manusia hanya bisa berencana, bukan? Berkat lalu lintas udara yang tinggi, aku baru bisa mendarat hampir pukul sebelas. Satu jam lebih di udara kota Yogyakarta bikin jantungan!

Jadilah, setelah landing, aku langsung menemui Mas Ghaufar. Ia adalah TA yang juga seorang mahasiswa di Yogyakarta. Dan untuk mengisi waktu, ia bekerja sambilan jadi pemandu wisata. Bersama Mas Ghaufar dan mobil sewaanku (yang diambil sebelumnya oleh Mas Ghaufar di rental) kami langsung memelesat menuju Magelang. Karena siang tiba, sebelum menuju tempat utama yaitu Candi Borobudur, kami mengisi tenaga di tempat makan rekomendasi Mas Ghaufar. Hasilnya, sop kacang merah dan iga ditambah gorengan habis aku lahap. Top deh!


Setengah tiga sore, kami baru beranjak ke Borobudur. Meski sudah sering kali ke tempat ini, namun bagiku Candi Borobudur selalu menjadi tempat yang magis. Aku tidak pernah bosan mengunjungi 10 Bali Baru yang dicanangkan pemerintah Indonesia ini. Bagiku, Candi Borobudur memiliki cerita yang yang ada di sela reliefnya. Pun dengan suasana yang elok memanjakan mata. Sayang, saat kami ke sana, mendung sedang datang. Alhasil fotoku gelap semua.


Selanjutnya, Mas Ghaufar mulai bertanya: aku mau ke mana. Dengan mantap, ia memberiku dua pilihan: Puthuk Setumbu atau Bukit Rhema. Dalam jadwal yang kami buat, keduanya seharusnya dapat kami kunjungi secara bertahap. Namun tampaknya semesta tidak mendukung. Awan gelap mulai menutup. Jadilah, aku pun memilih Bukit Rhema sebagai tujuanku.

Mobil kami melaju cepat menyusuri jalanan kampung. Selama perjalanan itu kami berdua bercerita banyak. Tentang jalan-jalan, obyek wisata, hingga Yogyakarta. Semuanya mengalir lancar tanpa hambatan apa-apa. Setibanya di Bukit Rhema, perjuanganku dimulai. Ternyata. Harus. Jalan. Menanjak. Gila! Dari Borobudur sudah lelah ditambah menanjak ke Bukit Rhema. Lengkap sudah.
Jadilah yang seharusnya ke Bukit Rhema bisa dicapai dalam 15 menit, aku memerlukan waktu yang cukup lama. Dan selama itu, Mas Ghaufar setia menunggu. Hahaha. Dan setibanya di atas, waktu menunjukkan pukul lima sore. Aku pun langsung berfoto di tempat ikonik film AADC 2. Setelah masuk ke dalam pun aku baru tahu. INI. BUKAN. GEREJA. AYAM! Ya, aku salah sangka! Ini berbentuk merpati. Aku jadi ketawa sendiri.


Kami pun kemudian menuju ke lantai dua. Sayangnya, karena sudah sore, ruang doa yang ada di bawah tanah ditutup. Kami pun santai sejenak di kafe lantai dua, menikmati singkong gratis ditambah semilir angin petang. Namun tetap, awan kelabu menerjang. Setelah puas, kami beranjak menuju kepala sang merpati. Ternyata, kami harus melewati kurang lebih lima tangga untuk mencapai puncak! Yak, menanjak lagi! Kaki rasanya udah pengin patah. Namun demi melihat tempat hits kekinian, semua dilakukan!

Nah, tur kami berhenti setelah dua tempat itu. Mas Ghaufar mengantarku kembali ke hotel ketika malam menjelang. Ya, meski hanya dapat dua tempat dari seabrek jadwal yang kami buat, namun aku sama sekali tidak menyesal. Ditemani seorang pemandu wisata ternyata berguna juga bagi orang yang jalan sendirian! Rekomen!


MENYUSURI MASA LALU

Setelah puas berkeliling kemarin, kali ini hari kedua aku ditemani Mas Lucas. Dari pket yang kubeli di Pigijo, aku menghubungi Mas Lucas dan janjian untuk bertemu di hotelku pukul delapan. Meski badan rasanya sakit semua, namun hari ini aku excited. Ini adalah kali pertama aku bakalan ikut Lava Tour. Kata orang-orang sih, hal ini sangat menyenangkan.

Tepat pukul delapan, Mas Lucas sudah anteng di depan hotel. Kami pun bertukar sapa. Berbeda dengan Mas Ghaufar yang seumuran sehingga bisa membahas apa saja, aku dan Mas Lucas mengobrol banyak tentang sejarah dan wisata Yogyakarta! Bahkan, Mas Lucas mengajakku ke candi-candi yang tidak ada di paket tur yang diberikan! Senang!

Pemberhentian tur ini paling utama di Candi Prambanan. Setelah memberikan karcis, Mas Lucas kemudian menyuruhku untuk ke dalam. Ya, aku. Sendirian. Jadilah, bersama orang-orang yang berlibur ke sana, aku menyusuri satu per satu candi hindu terbesar di Indonesia ini. Dan lagi-lagi aku takjub. Bagaimana sih orang di masa lalu bisa membangun bangunan seindah ini? Aku sampai tak habis pikir. Aku menyusuri Candi Prambanan kurang lebih dua jam dan menemukan Mas Lucas di pintu keluar. Dan tibalah, yang aku tunggu-tunggu! LAVA TOUR!

Eitsss... Mas Lucas nampaknya belum puas. Ia mengajakku terlebih dahulu ke Candi Kembar. Beliau bercerita banyak bagaimana candi ini jadi saksi awal kemahsyuran tanah Jawa, simbol dua agama hidup berdampingan dengan aman. Aku pun tidak menolak. Tambahan bonus yang menyenangkan!
Barulah setelah puas berkeliling, kami akhirnya menuju kaki merapi. Jadi, menurut info yang kubaca, lava tour ini adalah perjalanan menggunakan jeep untuk menyusuri bekas-bekas lava dan lahar letusan Gunung Merapi beberapa tahun silam. Wisata ini diadakan untuk mengingatkan betapa dahsyatnya pengaruh bencana itu terhadap alam sekitar. Wah! Aku semakin penasaran!

Setibanya di lokasi, aku tidak langsung naik Jeep. Aku lebih memilih mendinginkan badan terlebih dahulu di kedai kopi merapi, mencicipi Signature Kopi Arang yang terkenal itu. Setelah makan siang, barulah aku diberikan ke Pak Kumis. Beliau adalah supir Jeep-ku sekaligus pemandu. Bersama Pak Kumis, aku mendengar banyak kisah. Tentang Merapi dan mimpi-mimpi.

Tujuan pertama Lava Tour adalah Museum Mini. Tempat ini memberikan pengalaman yang pahit bagiku. Di sini, berbagai barang peninggalan erupsi merapi dahulu terlihat mulai dari bangkai binatang yang tinggal tulang-belulang hingga peralatan rumah tangga yang meleleh. Ini menggambarkan bagaimana dulu saat erupsi, panas yang diterima itu dapat membumihanguskan perkampungan ini. Aku pun jadi teringat kakek dan nenek yang dulu berdua menghadapi bencana ini. :(

Di tempat kedua, ada bongkahan batu besar di pinggir jurang tinggi yang menyerupai wajah manusia tersaji. Batu Alien, mereka menyebutnya. Batu ini merupakan material yang terbawa dari atas gunung yang melewati sungai-sungai di samping tebing. Namun, karena bentuk sungainya berbelok, material-material itu lalu menghujani wilayah Batu Alien sehingga membuat gundukan bukit batu yang gersang. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan saat orang-orang berlindung dari serangan ini.

Di tempat terakhir, Bunker, satu kisah menyedihkan terjadi. Bunker ini dulunya dibuat sebagai perlindungan saat adanya bencana awan panas. Namun, saat erupsi tahun 2010 lalu lahar dingin yang menyergap. Dua orang terjebak di dalam dengan muntahan Merapi yang dahsyat. Alhasil keduanya tak bisa diselamatkan. Kadang cerita-cerita seperti inilah yang membuatku bergidik. Lewat tur yang seperti ini aku akhirnya menyadar bahwa alam maha dahsyat mengubah semuanya. Dan lewat Merapi alam mulai berbenah.

Aku menyelesaikan tur pukul 4 sore dan langsung menuju Museum Ulen. Aku sama sekali tidak ada bayangan ini museum tentang apa. Di internetpun informasi dan gambarnya minim. Barulah setelah masuk museum aku tahu, tempat ini adalah museum swasta yang menjelaskan tentang dinasti mataram: Keraton Yogyakarta dan Solo. Semuanya tersaji lengkap. Ditemani pemandu, selama satu jam kita akan dibawa berkeliling melihat silsilah keluarga, peninggalan sejarah, hingga minum jamu awet muda. Sayangnya, di museum ini kami sama sekali tidak boleh berfoto. Tapi, isi seru banget!

Setelah selesai, Mas Lucas pun mengajakku makan sebagai penutup tur. Bakmi Pak Pele dipilih setelah kurang lebih satu jam turun dari wilayah atas ke perkotaan. Apalagi di alun-alun utara Mas Lucas mengajakku lesehan sambil melihat serabut oranye di langit. Menenangkan sekali!

Hari itu ditutup dengan Mas Lucas kembali mengantarku ke hotel. Dan selama perjalanan itu kembali aku merasa bahwa aku sama sekali tidak menyesal mengambil trip ini. Dua hari di Yogya membuka mataku akan banyak hal. Aku pun dapat merasakan pengalaman baru lewat tur-tur yang diberikan pun dengan teman baru yang jadi kawan seperjalanan.

Terima kasih Pigijo untuk dua hari yang menyenangkan!

Cheers!


Senin, 04 November 2019

Melekat Tanpa Sekat


Pernah nggak sih kalian bertanya-tanya: apa sih arti ke-Indonesia-an bagi kalian? Untukku sendiri selama aku hidup aku sama sekali tidak pernah memikirkan jawabannya. Hidup di kota besar dengan keadaan yang nyaman membuatku tidak berusaha mencari apa arti ke-Indonesia-an bagiku sendiri. Maksudku apa-apa ada. Mudah dijangkau lewat apa saja. Satu-satunya jawaban yang kupunya adalah Indonesia sebagai negara tempatku menetap.

Akan tetapi kemarin (26 – 30 November 2019) anggapan itu berubah drastis. Ternyata ke-Indonesia-an itu dapat berwujud banyak hal. Kadang ia berwujud lagu-lagu kebangsaan yang dinyanyikan berbarengan dengan semua orang dari Sabang hingga Merauke. Lain waktu ia berwujud lenggak-lenggok sang penari yang bergerak diiringi musik-musik khas daerah di tanah air. Bahkan secara sederhana ke-Indonesia-an itu berwujud percakapan-percakapan kecil di meja makan bundar kala pagi siang hingga petang menjelang.

Semua itu terjalin begitu saja saat acara Persamuhan Nasional dengan tajuk Pekan Bakti Bangsa. Beragam orang dari beragam latar belakang, suku, agama dan ras berkumpul bersama selama lima hari untuk menjawab bagaimana ke-Indonesia-an mereka melalui isu-isu yang diberikan. Tak ada sekat yang melekat. Kami berkumpul bersama untuk berdialog, berdiskusi, hingga merumuskan bersama solusi mengenai isu-isu kebangsaan.



CERITA-CERITA TENTANG INDONESIA

Di sana pula aku menemui Naga. Ia adalah seorang mahasiswa dari Kalimantan Selatan yang vokal terhadap isu-isu krusial kebangsaan. Naga adalah perwakilan anak muda yang semangat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila agar dapat diterima bagi seluruh warga negara. Sebagai seorang perempuan dan minoritas, ia berjuang bagaimana semua dapat menerima segala perbedaan dalam pandangan yang sama. Tanpa membeda-bedakan satu hal pun.

“Sekarang orang-orang sibuk mencari celah perbedaan, Bang!” Ia bercerita kepadaku ketika kami bertemu. “Padahal seharusnya perbedaan yang menyatukan, bukan?”

Kata-kata itu merasuk di pikiranku. Di tempatnya perbedaan itu kentara terasa. Apalagi dengan penampilannya yang tomboi membuat mata yang memandang menjadi jengah. Stereotip itu yang ingin ia ubah. Dan di sinilah tempatnya.

Aku pun menemui anak SMA yang menjadi pionir Festival 28 Bahasa. Bayangkan, umur yang belum tujuh belas ia sudah membuat festival yang menyajikan keberagaman bahasa yang ada di seluruh Indonesia. Festival itu diadakan di pinggiran sawah sebuah kampung kecil yang tak banyak orang berlalu-lalang. Namun semangat juangnya mampu mengatasi segala rintangan dan membuat pesta rakyat yang sarat akan budaya bangsa.

Kami bercerita banyak tentang bagaimana ia ingin memberikan mimpi-mimpi lain bagi anak-anak di kampungnya untuk terus belajar. Baginya, festival itu bukan hanya bagian dari semarak saja namun jauh lebih dari pada itu ia ingin dengan festival ini ia memberi langkah kecil bagi orang-orang untuk menghormati keberagaman. Dan itu membuatku tertegun lama.

Lain waktu, ketika makan siang menjelang aku duduk semeja dengan kontingen dari Kediri. Ia berkisah banyak mengenai Kampung Inggris. Dengan mata yang berapi-api ia dengan bangga bilang bahwa kampungnya adalah yang terdepan. Pionir kampung bahasa kekinian. Namun itu tidak bertahan lama. Masalah demi masalah muncul yang salah satunya adalah pihak-pihak yang mengambil keuntungan atas kampung mereka. Kisah itu bergulir menjadi miris. Orang-orang asli yang membangun kampung menjadi tersingkir. Tak ada lagi ruang bagi mereka untuk menjamah. Kapitalis menyerang. Dan selama itu pula ia merasa bahwa semua ini salah.

Dan puncaknya, ia tidak menyerah. Dengan sekuat tenaga yang masih ia punya ia kembali membangun kampungnya. Bersama warga lain ia menciptakan kampung-kampung Inggris baru. Tujuannya sederhana. Ia ingin memberi ruang bagi para anak bangsa yang benar-benar ingin belajar dan maju dengan harga yang terjangkau dan tidak berpura-pura. Dan hingga sekarang, agar usahanya terdengar, ia pun ikut persamuhan.

Banyak sekali cerita yang bergulir. Dan semakin aku mendengar selama lima hari berada di sana, tak henti-hentinya bulu kudukku merinding. Ternyata terlepas dari apapun masalahnya. Ke-Indonesia-an itu ada. Di hati orang-orang yang mempercayainya.



PARADE BUDAYA, KEKAYAAN NYATA

“Dug! Dug!”

Bunyi itu semakin keras terdengar. Ritmenya pun semakin lama semakin kencang. Di tengah acara persamuhan kemarin, parade budaya terbesar yang aku pernah lihat hadir nyata di hadapan. Bermula dari perayaan sumpah pemuda, parade budaya tak henti-hentinya tersaji indah. Tepat tanggal 28 Oktober 2019, para peserta persamuhan nasional berkumpul bersama di tepi pantai Anyer. Masing-masing dari mereka mengenakan pakaian khas daerah beraneka rupa yang menambah semarak hari itu.



“Dug! Dug!”

Pukulan itu kembali terdengar. Rampak Bedug adalah penanda pesta sudah dimulai. Kala itu, nyanyian lagu Indonesia raya terdengar melantun indah oleh seluruh peserta dari pangkal hingga ujung Indonesia. Tak hanya itu, iringan jimbe yang dibawa peserta pun beritme sama dengan beduk yang dipukul. Seirama dengan itu, orang-orang mulai menari. Semua bergembira tanpa mengenal siapa.

Kemeriahan berlanjut ke Festival Beduk di titik 0 kilometer Anyer. Di tempat ini, kembali festival budaya di gelar. Dengan saksi mercusuar yang kokoh, satu per satu kesenian ditampilkan. Dan yang menjadi penggembira adalah hadirnya Gilang Ramadhan. Bersama penabuh beduk lain, mereka memberikan pengalaman mendengar yang apik dan menyegarkan telinga. Sangat cocok dengan latar senja.




Tak hanya sampai di situ, parade budaya tak hentinya pun membuat suasana semakin panas di malam penutupan. Berbagai kesenian khas daerah bersatu padu jadi satu. Sebut saja drama tarian hingga seni rupa menghiasi malam penutupan yang indah. Semua berbaur tanpa sekat yang melekat. Yang ada hanya kegembiraan.



Secara garis besar, Persamuhan Nasional 2019 adalah sebuah forum ke-Indonesia-an bagi para hadirin yang datang. Di sana isu-isu krusial pembakti kampung dibabat habis hingga jadi rumusan yang bersifat rekomendasi ke pemerintah yang berwenang. Pun sebagai layar terbuka kesenian Indonesia yang kaya dan beragam. Lewat acara ini aku pun tahu bahwa menjadi Indonesia itu mudah: melihat ke dalam di sendiri apa yang telah kau lakukan untuk negaramu tercinta.

Cheers! Hal itu terjalSemu