Rabu, 04 Desember 2019

Dari Mata Seorang Penggerak


Adakah yang ingat beberapa waktu lalu pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat viral di berbagai lini sosial media mengenai Hari Guru Nasional 2019? Dalam pidatonya Pak Menteri mengatakan dengan lugas bagaimana sebuah regulasi dapat menghalangi para guru untuk bertindak. Dan di akhir dari tulisan padat itu, ia menyebut guru adalah penggerak. Dari gurulah sebuah perubahan. Dan Nadiem percaya bahwa dengan gerakan-gerakan itu kapal besar bernama Indonesia itu dapat ikut bergerak.

Tak dapat dipungkiri memang keberadaan guru adalah ujung tombak bagi pendidikan Indonesia. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, bukan hanya pada pelajaran semata, sudah seharusnya guru mampu membentuk para murid yang ada di sekolahnya untuk bersikap dan bertindak. Termasuk pada Pancasila. Menyadari hal itu, lima ratus orang guru dikumpulkan jadi satu di Shangri-La Hotel Surabaya pada 29 November 2019 hingga 2 Desember 2019 oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila untuk duduk bersama dalam tajuk Persamuhan Nasiona Pendidik Pancasila. Dengan latar belakang guru agama, sejarah, hingga seni budaya, guru-guru tersebut diberi bekal oleh para narasumber untuk turut serta menjadi para pendidik Pancasila dan mengaplikasikannya ke ranah ajar masing-masing.
Semua tumpah ruah.
Lima ratus guru hadir. (Dok. Pribadi)
Saya pun bertemu dengan Pak Tri. Beliau adalah seorang pengajar di SMPN 1 Kenduruan Jawa Timur yang juga menjadi teman sekamar saya. Pada suatu waktu, saat senjang, kami bercerita benyak hal tentang Pancasila. Obrolan di dalam kamar itu membuat saya sedikit tersentak.

“Pancasila sekarang sudah tidak seperti dulu,” Pak Tri berujar saat kami membahas tentang kegiatan yang kami jalani.

Saya menegakkan duduk. “Memang dulu bagaimana, Pak?”

“Di pemerintahan dahulu, Pancasila benar-benar jadi perekat. Ia selalu ada di dalam kehidupan warga negara. Termasuk diajarkan ke para siswa. Namun sekarang, semuanya seolah memudar.”

Saya terdiam.

“Ya, mungkin berbeda kebijakan maka berbeda juga prioritasnya, ya. Makanya, ketika tahu ada acara ini, saya antusias untuk ikut. Ini artinya pemerintah memang serius untuk menjadikan Pancasila kembali berjaya. Dan saya juga merasa tersanjung sebab guru-guru dilibatkan dalam prosesnya. Ini adalah kemajuan di tengah krisis ideologi seperti sekarang.”
Pak Tri bersama teman-temannya. (Dok. Pribadi)
Saya mengulas senyum tipis. Percakapan dengan Pak Tri adalah salah satu percakapan yang paling saya suka saat ikut  berkegiatan kemarin. Dan seperti katanya di acara persamuhan ini para guru dilibatkan bukan hanya sebagai pendengar namun sebagai penggerak. Beragam materi diberikan oleh para narasumber untuk memperkaya arti dari Pancasila itu sendiri. Sebut saja Ibu Risma, walikota Surabaya. Di hari kedua ia datang, saya sudah terkesima.
Ibu Risma memberikan pandangan mengenai kebijakannya. (Dok. Pribadi)
Beliau berkisah banyak bagaimana kebijakan-kebijakan yang ia buat itu didasari oleh pengamalan nilai-nilai Pancasila. Bagi Beliau, Pancasila mengajarkan kita untuk bersikap terhadap apapun yang ada. Contohnya saja pada saat kebijakan tentang taman yang banyak dicibir semua orang, Ibu Risma tahu bahwa kebijakannya itu sudah benar. Ia ingin membangkitkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab lewat taman-taman yang ia dirikan. Dari taman-taman itu, kesenjangan orang tua, remaja bahkan anak anak diminimalisir hingga menciptakan interaksi bagi sesama. Satu kata yang saya ingat dari Ibu Risma bahwa “Jika kita mencintai Indonesia kita tidak akan tega menyakitinya.”
Lakon bersama Sujiwo Tejo. (Dok. Pribadi)
Ya kata-kata itu buat suasana makin gemuruh sekaligus membuat saya merinding. Nggak hanya sampai di sana pemateri selanjutnya Budayawan Sudjiwo Tejo pun memberi insight banyak tentang ‘Apakah Pancasila Ada?’. Lewat tutur kisahnya ia kembali mempertanyakan hal paling penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Beliau membuat saya dan guru-guru yang hadir mempertanyakan satu-satunya pertanyaan yang ada: jika Pancasila ada, bagaimana seharusnya kita?

Pak Sujiwo Tedjo mengakhiri sesinya yang khidmat dengan tepuk tangan. Dan untuk bberapa kali syair, lagu, dan perkataan yang Beliau beri membuatku merinding. Ia mampu menyentuh sukma saya—mungkin pula guru-guru. Dan semuanya jadi terpagu.

Selanjutnya Gabriel, salah satu ikon Pancasila dan tanah Papua mengambil alih. Ia menyampaikan pandangannya bahwa di Papua, Pancasila adalah yang utama. Pancasila adalah darah daging mereka. Ia juga menyampaikan bagi para guru pelajaran Pancasila amat penting. Yang paling utama adalah bagaimana guru seharusnya mampu mengamalkan terlebih dahulu Pancasila baru mengajarkannya ke para murid. Sebab, guru seharusnya menjadi contoh anak didiknya. Hal ini tentu menampar para guru. Gaby memberikan banyak pandangan baru bagaimana seorang murid berkaca terhadap apa yang diberikan oleh gurunya. Dan diskusi setelah itu pun menghangat.
Gaby salah satu dari ikon Pancasila. (Dok. Pribadi)
Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila kemarin adalah bukti bahwa guru memiliki kapasitas besar untuk melakukan perubahan. Jika sekarang keyakinan akan Pancasila di hati banyak orang itu memudar guru sudah seharusnya menyuburkan kembali benih-benih Pancasila itu di hati anak didiknya. Pembekalan demi pembekalan kemarin adalah langkah awal guru-guru untuk bergerak. Melihat semua yang serius memahami dengan beragam pertanyaan yang menggetarkan hati saya yakin. Lima orang guru yang hadir adalah orang yang mampu jadi agen penggerak. Karena seperti kata Pak Tri, mereka adalah definisi pendidik Pancasila sesungguhnya.

Salam! (Dok. Pak Tri)


Latest
Next Post

post written by:

0 comments: