Dari Buyung Upik Hingga Tolak Angin, Jamu Menjadi Andalan Pertolongan Pertama Pada Keluarga (P3K)!




Saat kecil, ada satu rutinitas yang selalu saya ingat dengan jelas: suara teriakan "Jamu... Jamu..." dari seorang tukang jamu yang lewat di depan rumah dengan sepeda birunya. Suara perempuan paruh baya tersebut setiap seminggu tiga kali sudah menjadi panggilan yang akrab di telinga saya dan keluarga.

Saya ingat betul, mama selalu keluar rumah dan memanggil “Bibik Jamu” tersebut. Pesanannya selalu sama : jamu beras kencur untuk satu keluarga. Rasa pahit yang khas bercampur dengan manisnya gula menjadi sesuatu yang, meski awalnya sulit diterima lidah anak kecil, lama-lama menjadi rasa yang familiar dan menetap lama di memori saya bahkan hingga saat ini. Mama selalu berkata bahwa jamu itu baik untuk kesehatan dan itu yang selalu ia tekankan ketika ada dari saya atau saudara lainnya yang enggan meminumnya.

Selain beras kencur, ada satu lagi jamu yang menjadi favorit saya dan saudara-saudara: jamu Buyung Upik, tepatnya rasa stroberi. Berbeda dengan beras kencur, jamu ini rasanya lebih manis dan menyenangkan, cocok untuk anak-anak seperti saya dan saudara-saudara saya. Biasanya, jamu ini kami minum ketika kami sudah merasa enggan minum jamu beras kencur. Mama akan memberikan jamu Buyung Upik untuk tetap memastikan kami meminum jamu.

Jamu Buyung Upik Strawberry

Kebiasaan ini terus berlangsung sampai menjelang saya masuk SMP. Tukang jamu dengan sepeda birunya tetap setia lewat di depan rumah, dan suara "Jamu... Jamu..." tetap menggema di telinga kami. Perkara jamu bukanlah sesuatu yang asing bagi saya; ia telah menjadi bagian dari rutinitas dan kenangan masa kecil yang tak terlupakan.

 

Sejarah dan Tradisi Jamu di Indonesia

Saya mungkin jadi salah satu yang beruntung sebab saya telah dikenalkan dengan jamu sedari kecil. Latar belakang mama sebagai orang Magelang dan kebiasaannya meminum jamu bersama kakek nenek dibawanya ke kami di Palembang. Meskipun begitu, ternyata banyak pula yang tidak mengetahui apa itu jamu. Kebanyakan malah kurang familiar dan hanya mengetahui bahwa jamu = ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Dan itu sama sekali tidak sepenuhnya salah.

Berbicara mengenai jamu, dikutip dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, jamu memiliki dua asal istilah. Pertama merupakan gabungan dari kata Jawa dan Ngramu yang berarti ramuan yang dibuat oleh orang Jawa. Ada pula istilah lain dari Jawa Kuno : Djampi yang berarti metode untuk penyembukan dengan menggunakan ramuan herbal.

Jamu sendiri dipercaya telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram dan berkembang hingga saat ini dan menjadi sebuah tradisi turun temurun yang terus dijaga. Selain itu juga, jamu pun memiliki banyak jenis tergantung dari bahan baku yang digunakan. Data dari Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) yang dilakukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa terdapat 32.013 ramuan obat tradisional, dan 2.848 spesies tumbuhan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu tradisional). Jadi tidak mengherankan jika jamu menjadi salah satu Warisan Budaya Takbenda yang ditetapkan oleh UNESCO.

 

Manfaat Jamu untuk Kesehatan Keluarga

Sebagai minuman herbal warisan Indonesia, sudah pasti jamu memiliki banyak manfaat kesehatan khususnya bagi keluarga Indonesia. Nah, ini dia beragam manfaat dari jamu:

·       Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Beberapa jenis jamu berasal dari rempah-rempah alami dan memiliki kandungan anti inflamasi yang dapat mengurangi peradangan.

·       Meningkatkan Nafsu Makan

Khususnya bagi anak-anak, rempah seperti temulawak populer untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan membantu kesehatan pencernaan.

·       Melawan Radikal Bebas

Banyak rempah-rempah seperti kunyit yang menjadi dasar pembuatan jamu memilki kandungan antioksidan yang penting untuk melawan efek radikal bebas.

·       Menjaga Stamina Tubuh

Rempah seperti jahe mengandung banyak magnesium dan vitamin C yang dapat mengatasi pegal-pegal karena kelelahan.

 

Jamu Sebagai Pertolongan Pertama Pada Keluarga (P3K)

Dengan melihat banyak manfaat yang ada di jamu, selain menjadi kenangan masa kecil, saat ini jamu juga menjadi bagian penting dari pertolongan pertama di keluarga kami. Saat masuk angin, yang pertama dicari adalah jamu tolak angin. Dengan rasanya yang hangat dan khas, jamu menjadi andalan keluarga untuk mengatasi gejala masuk angin, seperti kembung, mual, dan meriang. Efeknya yang cepat membuat kami selalu menyediakan tolak angin di rumah sebagai bagian dari kotak P3K keluarga.

Favorit Saat Ini

Tidak hanya itu, ketika ingin menyegarkan tubuh setelah hari yang melelahkan atau sekadar ingin menjaga kesehatan, keluarga kami biasa mampir ke toko jamu. Di sana, kami bisa memilih berbagai macam jamu sesuai kebutuhan, dari yang berkhasiat untuk menambah stamina hingga yang berguna untuk relaksasi. Kebiasaan ini menjadikan jamu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup kami, memastikan kami selalu dalam kondisi terbaik.

Jadi, mengkonsumsi jamu sebetulnya bukan hanya tentang menjaga kesehatan. Akan tetapi jamu juga menjadi budaya dan tradisi bangsa yang perlu dilestarikan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar