Pesona Pangkalpinang yang Mengejutkanku!




Ada rindu yang tak terjamah, 
dan sebuah janji di Bumi Serumpun Sebalai. 
Saat rintik datang menirai, 
Dan tentang aku yang akan 'pulang'.
Bagi sebagian orang, perihal liburan bersama keluarga adalah perkara mudah yang bisa diputuskan kapan saja. Tinggal klik, menyesuaikan tanggal, langsung cus pergi. Tapi, bagi kami, liburan semacam ini adalah barang yang mewah. Selain karena jumlah anggota keluarga yang cukup banyak (enam orang!), menyediakan waktu untuk berlibur juga cukup sulit.
Tapi, entah mengapa, akhir tahun lalu, sebuah ajakan spontan berujung pada sebuah liburan yang sama sekali tidak direncanakan.
Berawal dari kantor Mama dan Om (mereka kerja di kantor yang sama) yang mengadakan rapat akhir tahun di Pangkalpinang, jadilah keluargaku dan keluarga Om berinisiatif menghabiskan akhir tahun di kota tersebut. Rencana dadakan ini disambut meriah. Maklum, jika dihitung pakai jari, satu tangan cukup mendeskripsikan kapan kami terakhir jalan-jalan. Adik yang kuliah di Bandung pun rela menyusul kami ke Pangkalpinang demi liburan ini. Itenary pun mulai disusun.
Tapi, pertanyaannya adalah: ada apa di Pangkalpinang?
Yang aku tahu, Pangkalpinang adalah ibukota provinsi Bangka Belitung. Dan jika kita berbicara tentang potensi wisata Bangka Belitung, orang-orang akan menjawab pulau Belitung sebagai surganya. Bahkan, jika dibandingkan dengan daerah di pulau yang sama, Pangkal Pinang kalah pamor dengan Sungai Liat.
Jadi, makhluk awam seperti aku skeptis saat diajak liburan ke Pangkalpinang. Namun, karena ini adalah momen yang amat jarang buat keluarga, maka akhirnya aku ikut juga.
Sejujurnya, aku tidak mencari apa saja yang ada di Pangkalpinang. Sampai hari keberangkatan pun, aku tidak memasang ekspektasi apa-apa.
Tapi ternyata, aku salah. Pangkalpinang surprised me!
Aku dan rombongan berangkat pagi-pagi dari Palembang menuju Pangkalpinang dan hanya menghabiskan 30 menit waktu tempuh. Pertama kali menginjakkan kaki di bandara, aku bisa bilang bahwa Pangkalpinang seperti kota kecil. Jauh berbeda dengan bandara yang ada di Palembang. Ditemani cuaca yang terik, kami bergerak menuju hotel untuk sekadar melepas lelah sejenak sebelum mulai menjelajahi kota ini.

Siap berangkat ke Pangkalpinang (Dokumentasi Pribadi)


Setelah meletakkan semua barang bawaan. Kami beserta rombongan teman kerja kantor Mama mulai bersiap pergi. Karena jam menunjukkan pukul satu siang lebih, maka diputuskan bahwa rombongan akan makan siang bersama terlebih dahulu. Berbekal informasi dari supir kami tentang restoran yang wajib dikunjungi di Pangkalpinang, maka akhirnya kami menuju Resto Seafood Adox.
Tampak depan Resto Seafood Mr. Adox (Dokumentasi Pribadi)

Seperti namanya, restoran ini sebagian besar menyajikan makanan olahan laut yang amat segar. Terletak di pusat kota, di sebelah kiri persimpangan kantor gubernur Bangka Belitung. Jika kalian ingin mengunjungi restoran ini, silakan ketik di google maps. Resto ini sudah tercantum di sana beserta arah yang jelas. Makanan yang disajikan enak dan porsinya besar! Tempatnya pun luas sehingga nyaman buat kami yang datang satu rombongan! :p

Bersama Adik yang baru sampai Bandung (Dokumentasi Pribadi)

Bersama sebagian rombongan (Dokumentasi Pribadi)

Sehabis perut yang kekenyangan karena makan hidangan yang tersaji, kami akhirnya beranjak. Mulanya, banyak yang mengusulkan kami kembali ke hotel karena berpendapat bahwa Pangkalpinang tidak ada apa-apanya. Benar saja, rombongan kami akhirnya berpisah. Ada yang kembali ke hotel, ada yang langsung menuju Sungai Liat, dan akhirnya tibalah rombongan keluarga kami.
Ada gejolak tak biasa yang tercipta. Mama bilang bahwa kami sebaiknya pulang lagi ke hotel karena sudah pukul tiga sore. Seketika itu juga terjadi perbincangan serius.
“Kita ke hotel aja,” kata Mama sambil memandangi kami berempat—aku dan adik-adikku.
“Tapi, Ma. Masa sudah jauh-jauh ke Bangka mainnya cuma ke hotel?”
“Besok, kita baru jalan-jalan ke Sungai Liat. Hari ini istirahat saja di hotel.”
Ada nada kecewa dari aku dan adik-adikku. Tanteku pun tampaknya setuju dengan usul Mama.
“Ke Pantai aja, Bu!” Suara asing terdengar. Seketika kami semua menoleh dan mendapati supir taksi kami berbicara.
Apa? Pantai?
Itu adalah jerit suara hati ketika pertama kali mendengar kata pantai. Harap maklum, aku sama sekali belum pernah pergi ke pantai. Haha!
“Pasir Padi, Bu,” lanjutnya. “Sebelumnya kita bisa lewat BBG. Kan satu arah.”
“BBG?”
“Bangka Botanical Garden. Tempat hits kekinian, Bu.”
Berbekal secuil informasi dan dua kata ‘hits kekinian’, aku cepat-cepat mengiakan.
“Iya, Ma. Ke situ aja. Ya, kan?” Aku menoleh mencari dukungan.
Untunglah aku mendapat dukungan lebih banyak dari yang aku kira. Muahahaha.
Jadi, dimulailah perjalanan kami menuju Pasir Padi. Sepanjang perjalanan, supir kami bercerita tentang pariwisata Pangkalpinang.
“Orang-orang banyak yang nggak ngeh sama potensi Pangkalpinang. Kebanyakan jika main ke Bangka Belitung, mereka pergi ke tempat laskar pelangi. Bahkan, kalau ke pulau Bangka, mereka lebih memilih ke Sungai Liat karena wisata pantainya.”
Persis seperti yang kupikir pada awalnya.
“Tapi, banyak loh tempat wisata di Pangkalpinang,” lanjutnya sambil terus menyetir. “Kalau hobi sama perkembangan timah di Bangka Belitung, boleh berkunjung ke Museum Timah. Di sana kalian bisa lihat-lihat proses tambang timah di sini. Kalau hobi sama laut, bisa ke Pulau Lampu. Saya sih mau saja ajak kalian ke sana. Tapi sudah sore.”
“Di Pulau Lampu memangnya ada apa, Pak?” Adikku yang paling kecil bertanya.
“Ada menara mercusuar yang bisa kalian naiki. Pantainya juga bagus. Gak kalah sama yang ada di Sungai Liat,” jelasnya. “Nah, yang mau kita kunjungi ini, Bangka Botanical Garden dulunya lahan timah tapi berhasil dihidupkan lagi jadi tempat wisata. Pokoknya nanti lihat sendiri.”
Bersamaan dengan itu, mobil kami memasuki sebuah kompleks hijau. Di depannya ada semacam rumah-rumah tanaman yang banyak sekali. Semakin ke dalam, ada deretan pohon-pohon yang tegak berdiri dengan rapi sepanjang sisi jalan, membuat suasana yang adem sekaligus menyegarkan. Mobil kami pun akhirnya menepi di salah satu pondokan di pinggiran danau.
Jalan di BBG (Dokumentasi Pribadi)

Jika tidak diberitahu supir kami tadi, aku sama sekali tidak menyangka bahwa lahan ini merupakan eks tambang timah. Maksudku, lihat saja pohon-pohonnya. Ada juga beberapa kuda yang ada di bagian lain tempat ini. Belum lagi tanaman-tanaman yang kulihat di depan tadi. Ini sungguh di luar ekspektasiku bahwa Pangkalpinang memiliki tempat seperti ini. Belum lagi suasana yang sejuk sangat pas buat mengisi sore.
Salah satu sudut Bangka Botanical Garden (Dokumen Pribadi)

Si Adik mau masuk pondokan (Dokumentasi Pribadi)

Sayangnya, kami tidak menghabiskan banyak waktu di sini. Mobil kami langsung menuju tempat yang berhasil menggelitik telingaku tadi: PANTAI PASIR PADI! Yey!
Tak butuh waktu lama bagi kami menuju pantai pasir padi, Dan ketika sampai.... lagi-lagi, ini mengejutkanku!
Panorama Pantai Pasir Padi (Dokumentasi Pribadi)


Hamparan pasir putih di bibir pantai sangat kontras dengan birunya air laut dan langit. Di kejauhan, terlihat tumpukan batu besar pemecah ombak yang membuat suasana pantai semakin eksotis. Pohon-pohon yang teduh tersebar di pinggiran yang berfungsi sebagai tempat istirahat wisatawan. Dan untuk itu.... aku beserta adik dan sepupuku langsung nyebur!

Pesisir Pantai Pasir Padi (Dokumentasi Pribadi)
Deburan Ombak (Dokumentasi Pribadi)

Seperti tidak ada hari esok, kami saling menyipratkan air. Hal ini karena kami memang belum pernah mengenal pantai sebelumnya. Haha!
Skuads (Dokumentasi Pribadi)
Pantai Pasir Padi saat itu cukup sepi. Karena kami datang saat bulan Desember akhir yang mana musim hujan, maka kondisi pantai saat itu sedang pasang. Memang pantai kelihatan agak kotor, tapi bagiku ini sudah amat sangat bagus. Melihat birunya laut Pangkalpinang yang langsung menuju samudera, menikmati pasir putih yang lembut dan menggelitik jari-jari kaki, atau sekadar duduk-duduk santai sambil minum es kelapa muda membuat kami bahagia. Ya karena bahagia itu sederhana.
Tapi, kesenangan kami tidak berlangsung lama. Langit mendadak gelap. Dan perlahan, hujan mulai turun. Kami pun buru-buru kembali ke dalam mobil dengan persaan kecewa. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan berat hati, kami meninggalkan Pantai Pasir Padi. Ternyata tak jauh dari sana, ada sebuah klenteng yang amat bagus di pinggir pantai. Menyesal dua kali. :(
Untuk mengobati kekecewaan, supir kami akhirnya berbicara lagi.
“Hujan gini makan otak-otak, Bu!”
Sejujurnya, di Palembang ada juga panganan itu, Terbuat dari ikan dan biaa di makan bersama cuko. Jadi, itu tidak membuatku cukup tertarik.
“Di Palembang juga ada, Pak!”
Supir kami tersenyum. “Otak-otak Bangka itu beda. Dimakan dengan semacam sambal. Saya pernah makan yang ada di Palembang, tapi saya berani jamin otak-otak Bangka ini lebih enak!”
Mama pun mengamini.
Akhirnya, kami menuju tempat makan bernama Otak-Otak Amoi. Ketika sampai di sana, suasana amat penuh. Otak-otak yang tersisa pun hanya sedikit. Alhasil, kami kembali menelan kekecewaan dan terpaksa kembali menuju hotel.
Selama perjalanan ke hotel, aku mulai berpikir. Ternyata, Pangkalpinang bukan hanya sebuah kota pusat pemerintahan, Banyak sekali potensi wisata yang baru aku tahu hari ini. Mungkin sekarang aku menelan kekecewaan karena tidak berhasil sepenuhnya menikmati semua potensi wisata tersebut. Tapi, kekecewaan ini membuatku berjanji akan satu hal: aku akan kembali menyusuri kota ini. Pasti.

Janji ^,^v (Dokumentasi Pribadi)

Tips:
1. Pergilah saat musim kemarau datang. Selain karena cuacanya pas untuk bermain dan mengunjungi banyak tempat, air laut di pasir padi pun lebih sedikit (surut). Sebagai perbandingan, temanku yang datang sekitar bulan Juli mengunjungi pantai pasir padi dan mendapati hamparan pasir yang luas di bibir pantai.
2. Bila ingin suasana pantai yang berbeda, kalian bisa mengunjungi pasir padi mulai sore hari. Selain bisa melihat matahari terbenam, malamnya kalian bisa menikmati angin laut yang menerpa lembut wajah kalian sambil duduk santai menikmati pantulan cahaya bulan. Jika kalian beruntung, biasanya ada semacam festival musik yang diadakan di pinggir pantai. Info ini aku dapati dari pemandu wisata yang mengantarkan kami ke sini!
3. Kata supir kami juga, jika ke BBG enaknya pagi hari. Kita bisa menaiki kuda, memerah susu, atau bersantai di kae yang ada di depannya.
4. Cobalah menyusun itenari lengkap, ya. Agar nggak kecewa seperti aku. :p

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #PesonaPangkalPinang dari @BITREAD_ID, Pemerintah Pangkalpinang, dan GNFI

2 komentar:

  1. Pangkal Pinang ternyata keren ya, banyak wisata ngehits yang layak untuk di kunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha. Iya. Yuk #Explore #PesonaPangkalPinang! Aku aja baru tahu setelah berkunjung. Pengin balik lagi ke sini! :)

      Hapus