Rabu, 15 Juli 2015

[CeriteraJuli] - Cerita tentang Kupu-Kupu dan Gelembung Soda

Promp keempat yang diberikan oleh @kampungfiksi adalah Romantis. Awalnya aku bingung mau bikin ceritanya gimana. Tapi, akhirnya bikin ini. Semoga masih sesuai sama cerita awal. :")
Selamat menikmati. ^^

*
Gambar diambil dari sini
*

#4 Cerita tentang Kupu-Kupu dan Gelembung Soda

Rae

Kata film Forest Gump, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.” Film itu sudah kutonton puluhan kali bersama Bunda, tapi aku masih tetap suka. Kini, aku mengerti maksud dari perkataan Forest Gump tersebut. Hidup selalu penuh dengan kejutan. Dan kejutan kali ini datang dari laki-laki ‘beruntung’ bernama Kaisar Anggala.

Jadi, dia tadi rela memberi payung hitamnya padaku. Catat! Memberi! Sementara ia tadi dengan sukarela tanpa paksaan apapun (ini penting!) berlari sendiri menembus hujan yang deras setengah mati. Di tanganku, payung itu masih menutup. Aku membuka pengaitnya yang berada di samping pegangan lalu voilaaaa... payung hitam terbuka.
Kaisar adalah penyelamat. Aku dan kameraku. Dan dalam hati aku berterima kasih.
Ketika aku baru saja hendak menerobos hujan, tiba-tiba saja seseorang ikut masuk ke dalam payungku. Sontak aku menoleh dan mendapati Bintara berdiri dengan napas terengah.
“Aku ikut, ya.”
Aku melongo. “Apa?”
Bintara menoleh ke arahku kemudian tersenyum. “Aku ikut sampai parkiran.”
Bagai tersihir, aku hanya bisa mengangguk.
Ia mengambil gagang payung yang kupegang. “Biar aku saja,” ucapnya dengan nada yang berat. “Karena kau sedikit... hmm... kecil, jika kita berjalan, tampaknya aku harus menunduk.”
Mukaku memerah. Memang sih aku nggak tinggi-tinggi amat. Akan tetapi, aku juga nggak pendek-pendek amat. Kalau kata artikel yang pernah kubaca di sebuah majalah, tinggiku ini proporsional buat dijadiin pacar! Eh!
Aku menyamakan irama berjalanku dengannya. Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya diam canggung. Aku baru mengenal Bintara—atau biasa anak Gema lain memanggilnya dengan panggilan Bi—sekitar lima jam yang lalu. Selama di dalam ruangan Gema tadi pun, aku kebanyakan berbicara dengan Siska, Angga, dan Beno sedangkan Bintara kebanyakan berbicara dengan Kai. Jadi, ketika dihadapkan dengan keadaan romantis seperti saat ini, aku jadi bingung membuka obrolan.
Sebentar, romantis? Aku menggeleng cepat mengusir pikiran itu.
“Pulang ke mana, Rae?”
Aku tersentak sedikit mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Kudongakkan kepalaku ke atas dan kulihat ia sedang menatapku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat jelas wajahnya. Alisnya tebal dengan mata yang cenderung kecil di balik kacamata perseginya. Pipinya tirus. Bibirnya pun kecil dengan hidung yang menurutku cukup mancung. Rambutnya setengah basah, terlihat dari beberapa tetes air yang masih bersarang di sana.
Aku tertegun.
“Rae?”
“Eh, iya. Apa, Bi?” tanyaku balik dengan gugup.
Bintara kembali tersenyum. “Pulang ke mana?”
Aku berusaha menenangkan gemuruh yang tiba-tiba melanda, yang entah berasal dari mana. “Kompleks Sejahtera,” jawabku cepat. “Beberapa blok dari sini.”
Ia menaik-turunkan kepalanya. “Mau aku antar sekalian?”
“Apa?” Satu kata itu sukses meluncur begitu saja.
“Mau aku antar sekalian?” ulangnya lagi. “Aku bawa mobil. Dan kita juga searah. Biar cepat sampai. Lagian, kasihan lihat kamu basah.”
Langkahnya berhenti. Aku ikut-ikutan berhenti. Belum sempat aku jawab, ia sudah membuka pintu samping mobilnya lalu mempersilakan aku untuk masuk.
Beberapa saat kemudian, mobil melaju.
*
“Jadi, bagaimana hari pertamamu masuk Gema?” Bintara bertanya di balik kemudi mobil di sela-sela macet yang menerjang ibukota. Banjir sudah menggenang di mana-mana, membuat kendaraan kami hanya berjalan tersendat.
“Lumayan,” jawabku.
Ia membunyikan klakson mobilnya sekali ketika ada motor yang tiba-tiba memotong jalan sebelum kembali melanjutkan percakapan.
“Semoga betah, ya,” ujarnya lagi.
Aku menarik ujung bibirku. “Pastilah. Ini adalah impianku sejak setahun yang lalu.”
“Kenapa mau masuk Gema?”
Apa ini? Semacam wawancara lagi? Mendadak aku keringat dingin.
“Dulu, Ayah dan Bunda adalah jurnalis kampus,” aku mulai bercerita. “Kata Bunda, jadi seorang jurnalis itu adalah amanah. Tentang cara kita bisa mengungkap kebenaran. Bunda masih sering cerita sampai sekarang masa-masa ia dulu. Dan itu yang buat aku tertarik untuk ikut memulai.”
“Jadi karena ikatan keluarga?”
Mau tidak mau aku mengiakan.
Hening kembali tercipta. Bintara menyalakan radio di mobilnya. Lagu Somewhere Over Rainbow mengalun mengisi kekosongan. Sesungguhnya aku benci keadaan ini. Maksudku, ada seorang Bintara yang sedang menyetir di sampingku, seorang
“Haus, nggak?”
Aku mengernyitkan dahi. Kok tiba-tiba ke haus, sih?
Bintara memberhentikan mobilnya di persimpangan lampu merah kemudian membuka kaca jendela. Seekor kupu-kupu berwarna kuning masuk melalui jendela yang terbuka. Melihat ada pedagang kinuman, ia membeli dua kaleng soda dingin lalu memberikan satu kepadaku.
“Terima kasih, Bi” ucapku setelah menerimanya. Sejujurnya, aku nggak haus-haus amat. Tapi, ya bolehlah.
Setelah membayar, lampu berubah hijau. Setelah simpang ini, rumahku akan terlihat. Dalam hati, ada sesal yang melingkupiku. Rasa sesal mengapa momen ‘romantis’ ini berlalu begitu saja tanpa ada kata-kata yang berarti.
“Tahu nggak kalau kupu-kupu itu nggak bisa terbang kalau lagi hujan?” Tiba-tiba Bintara kembali bersuara.
Aku menggeleng kemudian membuka kaleng sodaku dan meminumnya. Selama enam belas tahun aku hidup, baru satu kali ini kudengar ada anggapan begitu.
Bintara ikut-ikutan minum. Tiga tegukan, kuyakin kaleng itu setengah terisi.
Ia menjawab, “Itu karena butir-butir air hujan membuat sayapnya basah jadi nggak bisa terbang.”
“Padahal, bukan kupu-kupu namanya kalau nggak terbang, ya?”
Oke, itu adalah ucapan melantur.
Bintara kembali tersenyum. “Sama seperti minuman bersoda, tanpa soda hanya jadi minuman biasa. Sebenarnya kita nggak menikmati rasanya, kita menikmati sensasi gelembung sodanya yang menggelitik di lidah. Betul, kan?”
Sebentar, sekarang lagi ngomongin apa, sih? Kupu-kupu dan gelembung soda?
“Jadi jurnalis juga demikian,” Bintara kembali melanjutkan. “Seperti kupu-kupu yang memiliki sayap, senjata utama jurnalis itu bukan pena atau kata-kata, tapi logika dan fakta. Namun, logika dan fakta juga nggak menarik untuk dibicarakan, bukan? Untuk itulah kita perlu sedikit gelembung soda. Biar buat orang tertarik. Biar beritanya jadi menggelitik.”
Baru kusadari Bintara bisa se-charming ini.
Mobil laki-laki itu masuk ke dalam kompleks perumahanku, bahkan aku sendiri tidak menyadarinya sebelum akhirnya ia berkata, “Di bagian mana?”
Aku terkejut. “Belok kiri. Dua rumah dari kanan.” Aku memberinya arah rumahku.
“Oke.”
Aku membenarkan posisi dudukku. Tanganku sudah berada di sabuk pengaman, bersiap untuk melepas.
Bintara memutar kemudi mobilnya untuk berbelok. Dan berhenti kemudian.
“Terima kasih, ya, Bi,” kataku sambil melepaskan sabuk pengaman.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia menyambar payung hitam pemberian Kai tadi yang terletak di kursi belakang. Dengan cepat, ia membuka pintunya lalu berjalan menuju pintuku. Ia membukanya.
“Silakan.”
Aku tersanjung akan sikapnya. Kalau kata Rini sih, seperti drama-drama Korea.
“Makasih banyak, ya.”
Anytime.”
Ia memberikan payungnya ke tanganku. Setelah itu, ia berlari menuju pintu mobilnya. Klakson berbunyi sekali lagi.
Perlahan namun pasti, mobilnya menjauh, meninggalkanku dengan senyum yang teduh.

*
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: